Bangku Taman

Bangku Taman
Hook and Jab, not Uppercut


__ADS_3

Hook and Jab, not Uppercut


Berilah ribuan kesempatan bagi musuhmu untuk bisa menjadi temanmu, namun jangan berikan satu kesempatan pun pada temanmu untuk menjadi musuhmu (Ali Bin Abi Thalib)


“Argg!”


“Yeaaaaahhh! Ayo hajar, Mas Gie! Jangan beri ampun!” 


Sekelebat bayangan kunti berdiri di belakangku berjarak lima langkah, terlihat dari pantulan kaca jendela panjang rumah induk. Gadis itu merentangkan kedua tangannya dan membuka kakinya sejajar dengan bahu, bajunya mengembang seperti kelelawar. Kurasa Kunthi mencoba menutupi tindakanku dari pandangan Ghifa. 


Anton mengusap pipi kiri, badannya  terdorong beberapa langkah, terhuyung, tak siap menerima pukulan. Untung tangannya masih bisa berpegang pada tiang pendopo yang tersambung dengan koridor,  tujuh meteran dari rumah induk.  


“Ini untuk airmata Ibuku yang tumpah kemarin, karenamu!” bentakku penuh tekanan. 


“Shit! Kau!” umpatnya. Gerahamnya mengeras matanya nyalang menatapku tajam, telunjuknya mengacung kaku. 


Kubalas tatapannya lurus menembus maniknya, bibirku mengatup rapat. Anton menyerbu dengan pukulan tangan kanan mengarah dari samping. Kutahan dengan membuka lengan kananku mendorongya dalam posisi membentuk sudut siku-siku, hingga tanganya terbuang ke samping. Kemudian kembali kulayangkan tangan kiriku pada tempat yang sama dengan jangkuan yang lebih pendek.


Buggg!


“Arrgghh!” Anton tersungkur, kaki kanannya tak bisa menahan beban tubuhnya ketika mendapatkan pukulan dariku. Tapi dengan cepat ia beranjak bangun, mukanya benar-benar merah kali ini. Kedua tangannya mengepal sangat kuat.


“Ini untuk Citra yang tertekan karena perlakuanmu!” ujarku lagi, pelan dengan penuh tekanan.


“Ciiih! Apa maksudmu?!” sahutnya cepat.


“Ayo mas Gie, patahkan saja kakinya, apa tangannya juga boleh! Hajar!” 


suara Kunti terdengar seperti bisikan, tapi tajam bagai ujung pedang. Mungkin memang dia tak ingin terdengar oleh yang lain. Sikapnya masih seperti tadi,  tuniknya bagai sayap kelelawar atau, seperti batman dengan jubahnya menutup kegelapan malam? Sebenarnya dia Kuntilanak atau batman, sih?


Aku tak ingin lagi melayangkan tinjuku. Aku hanya ingin Anton mengakui semua perbuatannya.


“Kau tidak perlu lagi berpura-pura, Anton!” langkahku tegap mendekatinya dengan lagak mengancam. Tentu saja tetap dengan kesiagaan, karena kulihat posisi Anton dalam keadaan siap menyerang.


“Ciihhh! Citra istriku, apa maumu, hah?!”


“Dengar Anton, aku melepaskan Citra seperti yang kau minta bukan untuk kau perlakukan seperti budak, semaumu sendiri!” ujarku geram.


“Hahaha, bukan lagi urusanmu, brengsek!” solot Anton dengan  bibirnya menyerigai.


Mukaku menegang, raut wajah Anton terlihat sangat menyebalkan. Lengkingan suara Kunthi kembali mencerca di belakang punggungku.

__ADS_1


“Berhenti berdebat, Mas Gie! Hajar saja! Urusan Polisi, aku yang nanggung!”


Apa? Ini cewek, ngotot sekali. Sebenarnya siapa yang punya urusan dengan Anton, dia atau aku?


“Kau hanyalah hama pengerat!” seru Anton.


Laki-laki itu kemudian kembali menyerangku dengan lebih tertata, beberapa pukulannya nyaris mengenai wajahku. Bukan hanya kepalan tangan yang melayang, Anton juga mengeluarkan tendangannya. Nampak sekali ambisinya untuk menghajarku. Kali ini aku hanya menangkisnya. Dua pukulan diawal tadi mengandung arti, tapi pukulan berikutnya hanya akan bernilai emosi.


“Gie,” suara Ardi menerobos rentangan tangan Kunthi.


“Jangan ikut campur, kau, Ar!” sentak Anton.


“Cukup, bukan untuk ini kami datang kesini!” Ardi mencoba melerai.


Aku melangkah mundur mengambil jarak, tapi Anton masih merasuk hingga kepalan tanganya justru hampir mengenai pipi Ardi yang menarik lenganku. Tinggal sekian mili, ketika kutangkap kepalan tangan Anton dengan telapak terbuka dan kudorong kedepan, nyeri kurasakan.


“Cihhh!” umpat Anton.


“Stop, ada apa ini?!” Pak Cipto yang baru saja keluar dari rumah induk terlihat tergopoh menghampiri kami. Kunthi segera berbalik menghadap kedatangan Pak Cipto, tangannya bersatu di belakan punggungnya. Kemudian dengan polosnya ia menunjuk ke arah Anton.


“Anton pak!”


Semua menatap ke arah Anton, kemudian berpaling ke arah  Kunthi. Hufff, bisakah gadis itu tidak ikut campur dulu masalah ini? 


“Maafkan kami, Pak.” Kuulurkan tanganku yang disambut dengan jabatan erat begitu juga dengan Ardi. 


“Ayo duduk dulu, Mas Gie. Tamu kok malah diajak berantem, to, ayo ... duduk, duduk.”


Pak Cipto membawa kami menuju kursi di sekeliling meja bundar. Disana Ghifa menunggu di atas pangkuan Citra, dan Adam, tertidur di pangkuan Lidya.


Wajah Citra terlihat bingung, namun matanya memancarkan duka. Aku menghela nafasku berat, sesak mencengkeram dadaku. Mata cekung perempuan yang sekarang berstatus istri Anton itu tak lagi ceria. 


“Ayaa …” Aku membalas panggilan Ghifa dengan tersenyum. Kulangkahkan kakiku untuk duduk di samping Ghifa berada, tapi gerakan Kunthi lebih cepat. Gadis itu menarik kursi di sebelah Citra dan duduk disana dengan santainya. Terpaksa aku mengambil kursi di sebelahnya untuk kududuki.


Kunthi menatap ke arahku sembari meringis. Dasar! Aku tak memberikan reaksi, kutunjukkan tampang datar padanya.


Pak Cipto mengangguk hormat pada Lidya, lalu menyuruh Anton duduk di kursi di sebelahnya.


“Mas Gie, sehat kan? Bagaimana kabar Ibu, juga sehat? Kenapa ndak pernah kelihatan? Kemarin juga ndak hadir, Bapak tunggu-tunggu lho,” tanya Pak Cipto beruntun dengan nada santai.


“Alhamdulillah sehat, Pak. Salam dari Ibu.”

__ADS_1


“Waalaikumsalam … Sebenarnya, bapak juga berharap Ibu Mas Gielang juga hadir kemarin.” 


Aku tertunduk sesaat, sebelum kemudian menatap tajam ke arah Anton yang tidak tenang duduknya.  Berkali-kali pandangannya tertuju ke arah Citra yang menjadi sangat pendiam menurutku. 


“Maaf, pak. Sebenarnya kemarin kami mau datang, tapi ada masalah …” suaraku terputus. Bimbang untuk menyampaikan kejadian sesungguhnya. Aku tak ingin orang tua Citra menjadi kepikiran karena ulah Anton yang baru saja sah menjadi menantunya.


“Masalah apa, Mas Gie, Mas Ardi?” desak Pak Cipto, pandangannya ia tujukan ke arah Ardi, ketika melihat mulutku hanya tertutup rapat.


“Emmm sudah selesai kok, Pak. Makanya kami datang kesini hari ini, bermaksud mengucapkan selamat atas pernikahan Anton dan Citra.” Jawab Ardi cepat.


“Oohh, Alhamdulillah kalau sudah selesai masalahnya. Terima kasih ya, mohon doanya teman-teman, agar pernikahan Anton dan Citra langgeng.”


"Aamiin ..."


Pak Anton menarik nafas lembut, raut wajahnya terlihat sedih.


“Sebenarnya Bapak masih kepikiran, Citra sering sakit-sakitan semenjak proses pernikahan ini berlangsung,” gumam Pak Cipto. 


“Biasalah, Pak. Mungkin kecapekan, kan memang banyak yang harus disiapkan.” Jawab Anton berdalih.


“Tapi Citra itu anakku yang paling jarang sakit, lho, Ton.” elak Pak Cipto.


“Citra baik-baik saja kok, Pak. Hanya rindu pada Ghifa.” Suara Citra menjadi penengah, senyumnya mengembang sambil mendekap Ghifa. Menempelkan pipi tirusnya pada pipi Ghifa yang gembil.


“Lha, kalau rindu Ghifa, kamu tinggal telepon Mas Gielang untuk ngantar ke sini, Citra. Tidak perlu sampai tekanan darahmu drop! Ya to, Mas Gie?”


“Iya, Pak.” 


Jawabku sambil mengangguk. Kulihat Ardi menatap Anton yang terlihat kikuk. Jadi selama ini Pak Cipto tidak tahu, kalau Citra tidak bisa berkomunikasi dengan teman-temannya karena HPnya disita oleh Anton?


“Nah, sekarang tenangkan pikiranmu, Meskipun sudah menjadi istri Anton, Citra masih boleh bermain bersama Ghifa, kan Mas Gie?” tanya Pak Cipto lagi.


“Tentu saja Pak. Ghifa juga rindu bertemu Citra.” Jawabku pasti.


“Bagus, terima kasih ya, nah sekarang jelaskan pada Bapak, apa masalah kalian berantem tadi?”


Aku tersentak, kulirik Ardi meminta pendapat lewat tatapan mata. Pak Cipto menatap kami satu per satu dan menunggu jawaban. Anton pun hanya terdiam. Wajah putihnya memerah. Dan suara kecil yang cempreng menguasai suasana.


“Mas Anton, menculik Ghifa, Pak!”


“Haaa?”

__ADS_1


.............


__ADS_2