
Menjaring Waktu
Andai saja waktu bisa kujaring, maka akan kumasukkan semua moment terindah, dan kuperbaiki semua peristiwa, saat, kusalah langkah.
Ardi segera menarik kursi makan dan duduk disana dengan serius. Bik Nah menyodorkan cangkir kopi susu yang mengepul di hadapan pemuda grondong itu.
“Kopinya, Mas Ardi.”
“Makasih Bik Nah.”
“Sama-sama, Mas. Bik Nah tinggal dulu,”
Pamit Bik Nah setelah meletakkan sepiring brownies pandan di dekat cangkir Ardi. Aku menarik kursi di hadapan Ardi kemudian menatapnya dengan posisi menunggu. Ardi menghirup wangi kopi yang terhidang, meletakkannya kembali. Lalu fokus memandang ke arahku.
“Agung kemarin ke rumah Citra, kamu ingat kan Neneknya tetanggaan dengan keluarga Citra.”
Kuteguk lemonteaku, sembari menunggu.
“Agung bilang, HP Citra disita Anton!”
“Apa? Mengapa begitu? Jangan terlalu didramatisirlah Ar,” sungutku.
“Kamu tuh ya, ini kata Agung bukan aku yang mengada-ngada!”
“Oke, terus? Mengapa Anton melakukan itu?”
“Katanya sih, agar Citra fokus pada pernikahan ini, Gie.”
Aku terdiam. Memainkan embun pada gelas panjangku.
“Tahu nggak?”
“Nggak, apa?”
“Makanya dengerin dulu!”
“Iyaaa, cepat aku menunggu ini, jangan dipotong-potong!”
“Bawel!”
“Huhhh!”
“Ayaaa ….”
Kumenoleh kea rah suara, Ghifa datang sambil berlari kecil.
“Ya, Cipikkk?”
“Kok Mama Citra ndak kesini, Yaaa?” tanya Ghifa sembari meraih lenganku. Kuangkat gadis kecilku keatas pangkuan. Wajahnya butuh jawaban, menatapku dengan pandangan penuh.
“Emmm, mungkin Mama Citra baru sibuk, sayang.” Hiburku.
“Oohhh, kita main ke Mama Citra saja, Aya!” usulnya riang, binar matanya bercahaya, diangguk-anggukkan kepalanya dengan kuat hingga rambut ikalnya bergoyang ke atas dan kebawah.
“Besok ya, Ayah tanya dulu sama Mama Citra,”
“Yeeee! Benar ya, Yaaa!” sorak Ghifa sambil merasuk turun dari pangkuan, aku mengangguk. Ghifa kemudian bersiap berlari kembali ke ruang tengah, baru satu langkah ia berbalik.
“Sama Adam juga , ya Ayaa…” rengeknya.
__ADS_1
“Iyaaa…”
“Yeee … yeee …!”
Teriakan riang Ghifa memecah senyap. Ardi terkekeh di hadapanku.
“Rasain kau! Bagaimana kau menghubungi Citra?” ledek Ardi.
“Kau jangan membuatku tambah bersalah Ar, teruskan apa yang di ceritakan Anton!” pintaku.
Ardi meminum kopi susunya seteguk. Kemudian ia kembali bercerita.
“Cerita Citra pada Agung. Anton ingin tidak ada yang dipikirkan Citra kecuali pernikahannya, jadi sekarang Citra sama sekali tidak bisa berkomunikasi dengan teman-teman. Kau tahu undangan yang sekarang sudah disebar itu, sebenarnya sudah Anton buat sebulan sebelumnya. Hanya Citra masih menolak, itu alasan orang tua Citra ingin bertemu denganmu, Gie. Tapi kemudian Citra tidak bisa lagi berdalih, setelah itu.”
Jelas aku tercenung.
“Jadi benar, kenaifanku membuat Citra tak bisa mempunyai pendapatnya sendiri saat ini?”
“Begitulah, pernikahan ini juga sangat berbau perjodohan, kedua orang tua mereka menguatkan untuk segera dilangsungkan. “
“Tapi mengapa?”
“Mengapa apanya?”
“Mengapa Citra tidak mengatakan tidak, jika dia memang tidak suka?”
“Tanya sendiri, kalau itu hanya Citra yang bisa menjawab!”
“Bantu aku, Ar. Selama tiga tahun ini aku tidak pernah membicarakan apapun persoalan rasa dengan Citra, tapi melepaskannya pergi. rasanya akan menjadi berat, apalagi Ghifa ....”
“Selalu, selalu saja kesadaran itu muncul menjelang perpisahan.” Ledek Ardi sembari menghabiskan minuman di cangkirnya.
“Aku hanya tidak ingin, sikap konyolku menjadi sebab dari ketidakbahagiaan seseorang.”
“Aku coba minta tolong Agung, bisa tidak mengatur pertemuan kalian.”
Kubiarkan Ardi kembali menyibukkan diri dengan gawainya. Sementara, embun yang menggantung di gelasku telah tuntas habis terbawa udara panas.
***
Sorenya Ardi mengajakku menemui Anton di tempat yang sudah dijanjikan. Awalnya aku menolak, sore adalah waktuku untuk bertemu denganmu, Laras. Harus ada sedikit nego waktu, hingga aku masih bisa berjumpa hari ini denganmu sebelum petang usai.
Sementara, Ghifa tak mau berpisah dengan Adam, hingga ia mengekor ketika Lidya dan Ardi mohon diri. Aku menitipkannya pada Lidya, anak itu tetap akan merontak, jika kemauannya dilarang. Jadilah saat ini Ghifaku menghabiskan waktu bobok siangnya di samping Adam, bayi laki-laki Lidya yang tumbuh subur. Ketika aku datang hendak menjemputnya.
“Ayok, kita berangkat sekarang!”
“Ghifa?”
“Tidur … tenang, dia aman disini.”
Aku melirik ke ruang tengah. Kasur busa dengan ketebalan 30 cm terhampar di depan rak berisi TV layar datar yang lebar. Ghifa tengak meringkuk merangkul guling berbentuk ulat berwarna hijau. Posisi tidurnya menghadap ke arah Adam yang tidur dengan tangan dan kaki terlentang. Dua Ballta yang menggemaskan.
“Dik…”
Panggil Ardi dengan nada sedang. Dari dalam kamar, kulihat Lidya keluar masih menggunakan mukena.
“Ya, Mas? Jadi berangkat sekarang?”
Ardi mengangguk sambil merapatkan jaket warna hitamnya. Kedua lenganya berkerut rapat menutup pergelangan.
__ADS_1
“Iya, Dik. kita janjian jam dua di rumah neneknya Agung.”
“Yaudah, hati-hati, salam buat Agung dan Citra kalau ketemu.” Kata Lidya sambil melemparkan pandangan ke arahku.
“Siiiaaap!”
Sahutku mengacungkan jempol, lalu melangkah mendahului keluar. Masih kudengar Ardi berpamitan dengan Lidya.
“Berangkat dulu ya.”
Kulihat dari sudut mataku, Ardi mengulurkan tangan yang disambut Lidya dengan mencium punggung tangannya. Kemudian pemuda gondrong itu membalas dengan mengecup kening Lidya. Dasar! Jadi ingat ketika kebiasaan itu pula yang menjadi rutinitasku ketika kau masih ada Laras, ah seperti baru kemarin saja kejadian-kejadian manis itu kita lewati.
“Asaalamua’alaikum!”
Ardi duduk di boncengan, melambaikan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya menepuk pundakku untuk siap berangkat.
“Waalaikumsalam!”
Lambaian tangan Lidya mengantar kepergian kami.
Matic hitamku melaju. Beruntung awan kelabu sesekali beriring menutup terik mentari. Angin pun berhembus di sepanjang perjalanan, hingga kami begitu menikmati, terbenan dengan pikiran masing-masing.
Sengaja kuarahkan roda duaku menyusuri jalan alternatif penghubung antar kecamatan. Membelah jalan beraspal di tengah sawah di siang hari dengan kecepatan sedang. Tak perlu terburu, waktu tempuh hanya berkisar 20 menit dengan kecepatan rata-rata.
“Dimana letak rumah Nenek Agung?”
Tanyaku ketika sudah mulai memasuki pusat kecamatan, tepatnya ketika berhenti di lampu merah. Rumah Citra hanya beberapa meter dari situ, dengan mengambil arah ke kanan dari perempatan.
“Kamu belum pernah kesana, ya?”
Aku menggeleng.
“Oh, iya waktu itu, ketika ada acara di tempat Nenek Agung, kau memang tidak ikut.”
“He em. Waktu itu aku sedang mengantar Ibu ke Jakarta,”
“Ya, ya. Dari rumah Citra lurus saja. Jarak dua gang, rumah besar dengan halaman yang luas. Dulu sih warna cat rumahnya hijau muda kombinasi dengan hijau tua dan putih. Entah sekarang.”
Seru Ardi di telingaku, mencoba mengalahkan suara truk yang melaju ketika lampu merah berubah warna menjadi hijau.
Kubelokkan laju motorku belok ke kanan. Hatiku berdesir, beberapa meter ke depan rumah Citra akan terlewati. Terlihat kendaraan keluar dari gerbang rumah Citra. Aku terpaku.
“Lurus, terus Gie! Jangan berhenti!” sentak Ardi, ketika tarikan gasku mulai mengendor.
“Iyaaa ….” sahutku jengkel.
Tak urung sudut mataku liar mencari tahu. Di rumah Citra terlihat tenda telah tegak terpasang, melebar menjadi sayap di kiri kanan pendopo, begitu juga dengan bagian depannya. Sementara di dua pintu gerbang telah dihias dengan berdirinya pisang raja di kedua sisinya. Pisang itu masih terbungkus karung berwarna putih. Sementara jauh di dalam, dekorasi pelaminan tengah dihias.
“Awas, Gie! Jangan meleng!” sentak Ardi kembali.
Motorku berjalan miring karena pandanganku tak fokus ke depan, untungnya aku sempat memutar stang menghindari selokan di pinggir jalan.
“Lurus! Dua gang lagi!” perintah pemuda berambut gondrong di belakangku tanpa peduli apa yang sedang kupikirkan.
'Bukankah masih seminggu lagi? Mengapa persiapannya seakan sudah mendekati H-3? Jangan-jangan?'
... …….....
__ADS_1