
Kelopak Flamboyan Merah
Jika kau berani jatuh cinta, maka kau pasti mampu untuk menahan rindu.
“Waalaikumsalam … Cupikkk.” Sambutmu lembut.
Aku duduk dengan santai di samping Ghifa. Menatapmu dengan rintih rinduku. Senyummu melebar, sesekali kaulirik Kunthi dengan tatapan kocak.
Ghifa masih seru menceritakan semua yang baru saja terjadi dengan kalimat yang cepat. Seakan ingin ia tumpahkan segera kekesalannya pada Ghilman dalam sekali hitungan.
“Ghilman? Apakah dia …” Kau menatapku menunggu kepastian, dan aku mengangguk.
“Iya, anak itu.” Jawabku singkat.
Kau kembali tersenyum lalu mengulurkan jemarimu yang kusambut dengan penuh. Dingin terasa, menyeruak sampai di ulu hati.
Kutahu kau ingin menguatkanku, tapi bagaimanapun juga kilatan kisah itu akan selalu terbayang.
“Apakah dia Kunthi?”
Kau coba mengalihkan sedihku. Aku kembali mengangguk, lalu menoleh ke arah Kunthi yang masih berdiri terpekur dengan alis berkerut. Gadis itu mungkin sedang bergulat mencari jawaban dari pertanyaanya yang belum kujawab.
Tak ada kisah yang terlewat, kita berjanji untuk berada di samping Ghifa, bersama. Melihatnya tumbuh dewasa dan mandiri. Hingga setiap waktu yang kujalani kukisahkan padamu. Hingga kau dapat menebak dengan mudah, gadis di hadapan kita sekarang adalah Kunthi.
“Mas Gie, ngomong sama siapa?” tanya gadis beriris mata coklat terang itu sedikit bergetar.
Ghifa ikut menoleh menatap Kunthi, rupanya beberapa saat tadi saking asyiknya bertemu dengan siluet bundanya, ia melupakan ada Kunthi yang masih mematung.
“Tante Kunthi …” gumam Ghifa sembari menatapmu, kemudian berbalik menatapku, diraihnya leherku agar lebih mendekat dan menunduk ke arahnya.
Kemudian Gadis kecil itu berbisik.
“Tante Kunthi tidak lihat Bunda, Ayaaa?”
“Tidak sayang …”jawabku sambil mengerling, dan seperti biasa Ghifa akan membalasnya dengan memutar kedua bola matanya untuk menyatakan tanda mengerti, ‘I see’.
“Ohh.”
“Ada apa, Ghifa?” tanya Kunthi semakin penasaran
“Tidak apa-apa kok Tante,” sahut Ghifa sambil memainkan kakinya yang menggantung di bangku taman.
“Oh, kirain…”
“Kirain apa?” sahutku.
Khunti menoleh ke kanan dan ke kiri. Beberapa pengunjung taman sebagian memperhatikan, mereka hanya sesaat mengerutkan kening, kemudian lewat begitu saja melanjutkan langkah. Semua menemukan keasyikannya sendiri di taman.
“Saya pikir tadi, Mas Gie dan Ghifa sedang berbicara dengan sesuatu yang tak terlihat.” Kata Kunthi sedikit pelan, apakah takut didengar orang yang mulai banyak berlalu lalang?
“Kamu tidak takut?”
“Takut sih … tapi aku toh tak bisa melihatnya, jadi ndak masalah kan bagiku.” Jawab Kunthi dengan logat cueknya.
Meski begitu, tatapan matanya masih menyapu bersih bangku taman dan sekitar pohon flamboyan seakan sedang mencari sesuatu.
Kau tertawa renyah, memperhatikan tingkah Kunthi. Ghifa memintamu untuk sedikit menunduk.
“Bunda …”
“Ya cipikkk sayang …”
__ADS_1
Sahutmu sembari membelai pucuk kepala Ghifa. Gadis kecil kita terkekeh, menutup mulut dengan kedua tangan mungilnya.
“Dingin … bunda.” Seru Ghifa kegirangan ketika kecupan mendarat di keningnya.
“Kenalkan Bunda, dia tante Kunthi …” kata Ghifa tetap dengan terkikik, seperti hal yang lucu menyebut nama gadis itu.
“Hihihi namanya lucu, Kunthi …., Kunthi siapa Cupikkk?”
Aku mengerling, kugaruk kepalaku dan kau tertawa.
“Kau pasti belum tahu!” tebakmu telak.
Dan aku merenges, bagaimana akan tahu, aku tak pernah tanya, Dan dia menyebutkan namanya waktu itu saat Iptu Risma datang ke rumah. Itupun langsung didebat oleh Santi. Aku tak punya keinginan untuk tahu lebih jauh. Jadi …
“Tanyakan sekarang Cupikkk ….”
Aku merengut dengan malas, entahlah meski hanya dengan siluetmu, aku pun masih bisa bermanja.
“Untuk apa?”
“Siapa tahu itu hanya nama panggilannya, bukan nama aslinya, hayoo gimana dongg…” aku mendengkus. Mengapa harus ribet soal nama?
“Siapa namamu?”
Kunthi menoleh ke arahku, lalu menepuk jidatnya dengan tangan kiri.
“Yang lengkap.” Sergahku sebelum dia membuka mulut untuk menjawab.
Kembali gadis itu menepuk jidatnya, kali ini dengan kedua tangannya. Kemudian membuka kedua lengannya ke samping dengan kedua telapak tangan tengadah ke atas.
“Kenapa baru tanya sekarang, Mas Gie?” sesalnya.
Aku hanya mengangkat bahuku.
“Bunda Ghifa?” pekiknya tak percaya.
Ghifa mengangguk dengan kuat, hingga dagunya hampir menyentuh syal ungu yang melilit di lehernya.
Kunthi menarik nafas seakan ingin bersiap-siap untuk menyanyikan sebuah lagu. Tapi yang keluar dari mulutnya adalah kalimat sapaan.
“Okey! Emm … Mbak Laras, hai … kenalkan aku Kunthi Dhaneswari,” ucap Kunthi sambil melambaikan tangannya ke beberapa arah sembari melemparkan pandangan searah lambaian tangannya yang mengayun. Senyumnya melebar menampakkan deretan gigi mentimunnya.
“Hai … hai, mbak ….dimana?”
“Hihihihi ….”
Kau dan Ghifa kompak terkekeh melihat tingkah Kunthi yang kocak.
Setelah sekian tahun keberadaanmu, hanya Kunthi yang menerima penghlihatan kami tentangmu. Apakah gadis itu mencoba menghargai, atau sekedar main-main dan menganggap tingkahku dan Ghifa halu dan konyol?
“Bilang sama Tante, Cipikk… bunda disini.” Bisikmu lembut.
“Tanteee…. “
“Ya, Ghifa cantik?”
Kunthi menghentikan aksi melambainya kemudian tertahan menatap Ghifa.
“Bunda disini …” tunjuk Ghifa dengan pandangan matanya mengarah ke wajah bundanya.
Kunthi menatap ruang kosong di bangku taman tepat di sisi kiri Ghifa. Kemudian melemparkan senyumnya dengan percaya diri.
__ADS_1
“Hai mbak Laras, salam kenal. Maaf, kemarin dulu tak sengaja menabrak Mas Gielang,”
Kulihat matamu berbinar penuh haru, menatap Kunthi. Kemudian menoleh padaku dengan tatapan lembutmu yang menyejukkan.
“Gadis baik yang lucu …” bisikmu tersenyum ceria.
“Apa? Kau minta aku untuk mengatakan itu Cipukk?” protesku
Kau kembali terkekeh, suka sekali melihatku cemberut. Kemudian kau menggeleng lembut.
“Sampaikan terima kasihku, Cupikkk,”
“Hufff…”
Kuhela nafas. Ah sore ini kurasa detik bergerak begitu cepat. Waktuku berbagi kisah denganmu harus terbagi dengan proses perkenalan ini, karena kehadirannya. Padahal insiden tinju Ghifa sudah mengurai detik pula.
“Ada apa, Mas Gie?” desak Kunthi cepat, tahu saja kalau aku sedang menyiapkan kata-kata untuknya.
“Istriku berterimakasih padamu, Kunthi Da.. da… siapa?”
“Kunthi Dhaneswari, mas Gie!”
“Iyaa … Kunthi …terimakasih.”
“Untuk apa mas Gie?”
Aku terdiam sesaat, menoleh padamu, kemudian mengulang apa yang kau katakan untuk Kunthi.
“Karena sudah peduli pada Ghifa.”
Kunthi tersenyum lebar mendengar jawabanku, kemudian kembali menatap bangku kosong di samping Ghifa dan mulai nerocos tak terbendung.
“Sama-sama mbak Laras. Tahu ndak mbak, aku tuh anak bungsu tidak punya adik, sejak kecil aku merengek pada Papa Mama untuk memberikan aku adik, tapi tetap saja tidak dikasih, jadi waktu ketemu Ghifa yang cantik, aku senang sekali, seperti bertemu boneka Barbie yang hidup … hihihi …”
“Hihihi ….”
“Mengapa kau dipanggil Kunthi, bukan Danesh atau Wari?” tanyaku lagi atas permintaanmu.
Kunthi mengindikkan bahunya.
“Mana aku tahu, kan orang lain yang manggil. Mungkin lebih keren dipanggil Kunthi, entahlah …”jawabnya santai. Dasar gadis aneh.
Kelopak flamboyan merah jatuh tepat di pangkuan Ghifa, membuatku mendongak. Langit memerah berangsur kelam. Kulirik jam tanganku, 17.37 tinggal 5 menit lagi.
“Cupikkk … pulanglah ….”
Aku terdiam, kelopak merah bunga flamboyan kembali jatuh dibuai angin. Kali ini Kunthi asyik mengejarnya.
“Cipikkk, sudah petang, Eyang pasti menunggu.” Katamu sembari merengkuh Ghifa dalam pelukmu.
Kurengkuh pula dirimu dalam pelukku. Selalu berat melepasnya, tapi waktu tak mau menunggu. Kau gelitik wajah Ghifa hingga ia berseru kegirangan,
“Dingin … dingin … hihihi dingin, Bunda.”
“Sampai jumpa besok sayang …”
Aku tertunduk, selalu ada goresan baru di samping goresan yang mengering setiap melihat siluetmu memudar dibawa senja. Pasti ada akan duka di mata Ghifa jika itu dilihatnya, maka kau selalu memintaku mengajaknya pulang sebelum itu terjadi.
Begitu pula senja ini.
...……...
__ADS_1