Bangku Taman

Bangku Taman
Menghitung Detik


__ADS_3

Menghitung Detik


Menghitung detik, bagaikan ketukan air yang jatuh merembes dari sela ranting pada daun. Tes, tes. Adakah bisa ditarik mundur, ketika hitungan justru melaju cepat, meluncur bagai menuruni lintasan roller coaster?


Dua gang setelah kesibukan di rumah Citra yang besar. Kutemukan rumah dengan halaman luas yang ditutup paving di bagian jalur utama menuju bangunan. Di kiri kanan paving hamparan rumput jepang menghijau rata. Sejuk. Bunga-bunga perdu tumbuh di pinggiran pagar dan rumput yang datar mengikuti tinggi tanah. Tertata rapi.


Aku langsung meluncur di lintasan paving. Menghentikannya tepat di depan teras rumah yang berhias banyak tanaman di pot gantung.


“Hallo Bro!” Agung menyapa, menuruni  teras dengan sedikit berlari. Ardi melepas helmnya kemudian saling berpeluk menepuk pundak.


“Wahh tambah gendut saja, kau!” ledek Ardi yang hanya disambut tawa oleh Agung yang bertubuh sedikit gempal. Sebenarnya gendutnya tak seberapa sih, hanya karena tingginya  sekitar 157 cm, maka Agung terkesan lebih lebar dariku maupun Ardi.


“Hallo, Gie, bagaimana kabar cinta lu?”


“Hahaha, jangan kau goda dia, Gung. Kasihanlah…”


Agung mendorong punggungku untuk melangkah ke arah teras, setelah kulepaskan helmku. Tawanya masih lebar.


“Kau bilang apa, Ar?” sungutku kesal.


“Hahaha, benar juga, baru sensi tinggi!”


Huhh! Kelihatannya mereka senang punya bahan untuk meledekku. Awas, ya!


Kududuk di kursi rotan yang berada di tengah teras. Agung dan Ardi mengambil kursi lain yang melingkari meja. Di tengahnya, terdapat meja bundar, diatasnya terdapat teko berisi bongkahan potongan-potongan es yang berenang di air berwana hijau, dari aromanya tercium wangi melon. Di sekitar teko terdapat tiga gelas yang masih tengkurap. Agung sepertinya memang sengaja menyiapkan minuman itu sebelum kami datang.


“Bagaimana kabar keluargamu, Gung? Tak kau ajak pulang kah?” tanya Ardi setelah kami duduk.


“Tidaklah, ibunya anak-anak kan juga harus kerja. Tak bisa sembarangan ambil cuti.”


“Berapa hari rencana disini?” sahutku.


“Satu minggu, ada beberapa klien yang harus kutemui beberapa hari kedepan.”


“Terus gimana nih  rencana teman-teman, kapan ke rumah Citra?” tanya Ardi, sembari menuang syrup lemonnya ke dalam satu gelas dan segera meneguknya.


“Nah, itu dia!” seru Agung.


Aku diam, ketika Agung menatapku dengan serius. Apalagi ketika Ardi juga melakukan hal yang sama. Aku merasa terhakimi dengan pandangan mereka.


“Gie? Kamu serius mau melepaskan Citra untuk Anton?”

__ADS_1


Aku tergugu, mencoba merangkai kata untuk menjawab pertanyaan yang selalu menohok.


“Bukan begitu, Gung. Selama ini memang tidak ada hubungan apapun antara Citra dan Gielang.”


Ardi angkat bicara.


“Nggak ada hubungan gimana, maksud lu? Bukankah 3 tahun ini perhatian Citra full kepada Gielang? Tiap kali pasang status, ia selalu bersama Ghifa, anakmu kan Gie? Emang kau nggak ada rasa sama, Citra, Gie?” berondong Agung.


“Aku … aku …”


Sial! Kenapa lidahku tiba-tiba jadi kelu, kutarik nafas panjang. Mengapa masalah perasaan ini menjadi begitu sulit? Tentu saja rasa bersalah berbeda dengan rasa cinta, bukan?


“Kau tidak punya rasa sama Citra, Gie?”


Pertanyaan yang diulang, Agung kembali mendesakku. 


“Rasa itu tak bisa dipaksakan, Gung.  Jangan menekan Gielang dengan pertanyaan itu,”


Ujar Ardi, sambil melirikku.


“Begini, Gung,  Justru karena masalah itu aku pingin bantuanmu.” Jawabku datar.


“Apa? Kau minta aku gagalin pernikahan Citra dan Anton, begitu?” kata Agung santai sambil terkekeh.


Sahutku ragu, siap menerima gertakan dari kedua pemuda di hadapanku.


“Gielang, Gielang, kamu itu dari SMA tak pernah berubah!” sentil Agung. “Culun!” lanjutnya.


“Aku dah bilang itu, Gung.” Sahut Ardi.


Aku garuk-garuk kepalaku, beberapa saat ini sering kulakukan untuk membuang kikuk.


“Dengar. Citra itu cintanya sama lu! Perkara lu nggak merasa, itu urusan lu, Gie!”


“Itu yang ingin kutahu, Gung. Aku ingin bicara langsung dengan Citra. Aku merasa dijebak untuk mengambil keputusan, yang ternyata membuat Citra harus berada di situasi ini. Aku ingin minta maaf.”


Agung mengusap kedua wajahnya.


“Aku sudah tahu kejadian saat kau datang memenuhi undangan orang tua Citra.”


Agung meninju bahuku.

__ADS_1


“Citra menceritakannya semua, dan dia tak menyalahkanmu.”


“Jadi benar, jika pernikahan Citra dan Anton memang menunggu keputusanku saat itu?” 


Kutatap wajah serba tebal  Agung di hadapanku, alis tebal, bibir tebal, hidung tebal. Dan pemuda itu mengangguk.


“Ya, Allah ….”


Kami terdiam, kurebahkan punggungku. Tiba-tiba saja aku merasa membawa beban yang sangat berat. Jika saja bisa kuhitung detik dengan berjalan mundur, tentu saja aku akan mencari waktu berbicara dengan Citra dulu sebelum dengan orang tuanya. Cerobohku! Mengapa aku tidak tanya Citra sebelum hari itu?


“Bisakah kau bantu aku bertemu dengan Citra? Aku ingin minta maaf. Terlepas dari bagaimana persaanku terhadap Citra.  Tetapi, jika keputusan ini tidak seperti yang dia harapkan, dan dia tak merasa bahagia, maka seumur hidupku aku akan merasa bersalah.” Ujarku.


Kutatap kedua wajah di hadapanku dengan serius. Aku memang tidak sedang main-main. Ruang hatiku memang hanya untukmu, Laras. Tetapi melukai hati perempuan lain bukan hal yang ingin kulalukan. Dan itu alasan aku tidak pernah memberi harapan, tidak memberikan perhatian lebih pada perempuan lain.  Entah itu pada Wulan yang selalu dijodohkan Sapto untukku, ataupun Citra yang telah sangat baik menemaniku di masa-masa awal bersama Ghifa.


“Sulit untuk bertemu dengan Citra saat ini, Gie. Anton memerintahkan kerabatnya untuk selalu menemani Citra. Ya, semacam dipingit? Em, semacam itulah. Bahkan semua komunikasi harus melewati orang lain. Citra tidak memegang gawai, HPnya dipegang Anton. Apalagi hari H tinggal 3 hari lagi.“


Aku terkesiap, begitu juga Ardi.


“3 hari lagi, Maksudmu? Pernikahannya kan akhir bulan ini, Gung? Bukankah itu 10 hari lagi?” tanya Ardi.


“Itu resepsi keduanya, sobat! Akad nikahnya besok Sabtu!” kata Agung,


“Jadi undangan yang dikirim di grup itu?” Ardi memandangku dengan pandangan kasihan.  Wajahnya terlihat kesal.


“Aku juga kaget. Tapi memang Anton tidak mengundang kita dan teman-teman di hari Akad Nikah. Dia mengundang kita di resepsi kedua, khusus untuk teman-teman angkatan Anton maupun Citra. Begitu penjelasan Ayah Citra waktu itu, ketika aku sempat bertanya. Jadi besok itu adalah tamu kedua orang tua mereka.” 


Agung menjelaskan, Ardi mendengkkus kesal dan Aku tercenung. 


“Gara-gara Anton, rencana kita tidak berjalan mulus, Ar!” umpat Agung  dengan geram.


“Rencana apa?”


Kulayangkan pandangan menatap tajam kearah Ardi dan Agung.


“Ya, mendekatkan lu dengan Citra lah, Gie.  Sayang Anton tangguh juga dia, tak mau melepaskan Citra sedetik pun, aku tahu itu sejak waktu kuliah dulu.” Balas Agung cuek.


“Maaf, ya Gie!” timpal Ardi.


Aku tersenyum, mencoba mengerti dan berpikir tenang. Kemudian kutatap mata kedua sahabat di depanku, bergantian.


“Tolong bantu aku bertemu Citra. Aku sungguh ingin minta maaf sebelum akad nikah itu dilangsungkan. Agar tidak ada ganjalan di hatiku maupun di hati Citra setelahnya. Bagaimana kalau kita kesana saja sekarang?” pintaku.

__ADS_1


“Sekarang?!”


...……...


__ADS_2