
Ghifa Diculik
Apakah yakin, rasa dengan penuh tekanan akan bertahan lama? Mengapa tak kau akui bahwa hati tak bisa dipenjara?
Kami kembali menjelang senja.
Sehabis makan siang, Ghifa tertidur nyenyak di kamar Rani. Badannya menghangat. Hingga ketika kami bersiap untuk kembali, Ghifa bertambah lesu.
Bik Nah hanya mengganti baju Ghifa setelah sebelumnya membauri seluruh badannya dengan minyak telon, sesudah melapnya dengan air hangat. Sesekali dipijitnya tangan dan kaki Ghifa.
Jika dibiarkan mandi, bisa jadi Ghifa akan lama bermain air dan membuat tubuhnya semakin demam.
Abah Ummah dan keluarga mbak Dewi dan mas Dikto berharap Ghifa menginap. Tapi kami menolak dengan halus, mungkin lain waktu.
Menjelang magrib, kami sampai di rumah. Sudah lewat 17.37, siluetmu pasti telah memudar. 'Maafkan aku, Laras, senja ini kita tak bisa berjumpa.'
Tubuh Ghifa masih lesu, wajah gadis kecil kita terlihat tak bersemangat. Bahkan selepas magrib Ghifa memintaku untuk mengendongnya, dan ia tidak mau turun, matanya tak segera mengatup. Aku tentu saja tak bisa meninggalkannya.
Sembari merengkuh Ghifa dengan satu lenganku, kubuka aplikasi whatsapp. Kucari nama Ardi dan mengirim pesan padanya.
[Ar, aku dah sampai. Bisakah kau kesini? Ghifa tidak bisa ditinggal ]
[Demam]
Sesaat kemudian, pesan Ardi masuk.
[Ok]
Kuletakkan gawaiku di atas rak buku. Kemudian kugunakan tangan kananku mengelus punggung Ghifa.
"Den, biar Bik Nah yang gendong ..." tawar Bik Nah sambil mendekat. Tapi tangan Ghifa semakin erat merangkul leherku.
"Ndak apa Bik, biar aku saja ..."
Bik Nah mengalah, kemudian kembali ke dapur merapikan barang barang bawaan disana.
"Panasnya, cucu Eyang, dikasih syrup penurun panas dulu, Gie?"
Usul Ibu, saat meraba dahi Ghifa.
"Boleh, Buk ..."
Ibu bergegas ke dapur mengambil syrup penurun panas. Sementara aku merayu Ghifa. Tidak sulit, karena Ghifa suka minum obat, apalagi syrup. Lidahnya selalu bisa menerima, meskipun sedikit pahit.
"Ghifa bobok ya?" rayuku setelah selesai memberikan syrup penurun panas padanya.
Ghifa menggeleng.
"Gendong, Ayaa ..." rengeknya lemas.
"Yaudah, Ghifa bobok di gendongan Ayah, ya?"
Kurasakan anggukan kecil, tanpa suara. Kepalanya, ia letakkan di pundak kiriku. Sementara aku berjalan pelan, mondar mandir menimang Ghifa, sambil mengelus-elus punggungnya.
"Assalamualaikum!"
Terdengar suara Ardi memberikan salam dari luar.
"Waalaikumsalam, masuk Ar!" Sahutku.
Ardi nampak menggunakan jaket hitam, rapat.
"Bagaimana Ghifa, Gie?"
Ardi mendekatiku yang masih tetap berdiri, berjalan di seputaran ruang tengah menina bobokan Ghifa. Diulurkan tangannya ke arah dahi Ghifa.
"Panas, Gie!"
Aku mengangguk.
__ADS_1
"Sudah minum syrup penurun panas, mudah mudahan segera turun panasnya."
Ardi menatapku resah, kemudian duduk di sofa. Aku pun melangkah menuju sofa di sampingnya kemudian duduk.
"Ayaaa gendong ..." rengek Ghifa lemah.
Aku meringis, kemudian kembali berdiri. Berjalan pelan sambil mengelus punggungnya.
"Ghifa tidak bisa ditinggal, Gie." ujar Ardi dengan nada prihatin.
"Bagaimana lagi, diajak Bik Nah pun tak mau."
Ardi mengerling.
"Sebenarnya Agung berharap kita bisa hadir malam ini, Gie. Beberapa teman juga datang ke rumah Citra untuk memberikan semangat padanya."
"Kau bilang Anton tak boleh membiarkanku bertemu dengan Citra, kenapa?"
"Itu dia maksudnya. Kalau kita banyak teman, kan ndak mungkin Anton melarang satu-satu."
Aku mengangguk. Jam di dinding sudah menunjuk angka delapan malam lebih lima belas menit, tapi Ghifa hanya memejamkan matanya, tidak tidur.
"Sayangnya, malam ini aku tak bisa, Ar."
"Iya, bagaimana lagi, keadaan belum berpihak. Aku sudah bilang Agung, kalau Ghifa sakit. Aku juga sudah mengirimkan fotomu barusan, Gie."
"Terima kasih, Ar. Eh mungkin tidak jika videocall?" usulku.
Ardi menatapku, kemudian segera mengetik di gawainya.
Kurasakan geliat Ghifa di pundakku.
"Ayaa ... Mama Citra mana? Kok nggak kesini?" rajuk Ghifa.
Gadis itu mengangkat kepalanya kemudian menatapku. Matanya sayu tapi belum terlihat mengantuk.
"Telepon Ayaaa..." pintanya.
Aku menghela nafas, kukerlingkan mataku ke arah Ardi. Dengan berat, pemuda gondrong itu menggelengkan kepalanya.
"Tidak bisa, Gie. Agung sudah disana. Tapi hanya teman-teman cewek yang boleh masuk. "
"Siapa? Bisa minta tolong mereka kan?" kejarku.
"Sebentar!"
Ardi mulai mengetik lagi. Tidak mungkin menghubungi Agung lewat telepon, itu akan membuat Santi yang menjaga Citra menjadi curiga.
Beberapa menit berlalu. Balasan dari Agung masuk ke gawai Ardi.
"Anton brengsek!" spontan Ardi mengumpat. Kemudian tertawa kesal menggaruk-garuk kepalanya.
"Ada apa?"
"Jam Malam, Gie!"
"Hemmm?"
"Sudah hampir jam sembilan, tidak ada yang boleh menengok."
Aku tercenung. Kutatap Ardi dengan dagu mengeras. Tanganku masih membelai rambut dan punggung Ghifa.
"Mengapa aku merasa, Anton memenjarakan Citra, Ar?"
Ardi mengangkat bahunya.
"Besok hari yang sulit, Gie. Buatmu dan Citra. Siapkan dirimu sejak pagi!"
Aku tidak terlalu pikirkan arah pembicaraan Ardi. Ghifa masih belum mau diturunkan, meski tak lagi merengek ketika kuajak duduk di sofa, masih di pangkuanku. Lengan kecilnya masih merangkul leherku erat, ketika akan kubaringkan.
__ADS_1
Kubiarkan beberapa saat seperti itu, sampai peluhnya menghiasi dahi. Panasnya berangsur turun.
***
Sabtu yang ditunggu, tentunya oleh Anton bukan aku. Sampai semalaman tidak ada yang bisa kulakukan. Citra dijaga ketat, bukan hanya oleh pengawal Anton tapi juga oleh keluarganya.
Ghifa demam. Semalaman berkali kali dia terbangun dari tidurnya, nama Citra selalu disebutnya. "Bunda, Mama Citra, Bunda..., Mama Citra, Bunda..."
'Apakah gadis kecilku ini tengah rindu? Hampir dua minggu sudah dia tak berjumpa dengan Citra. Hampir tiap hari pula ia merengek bermain ke tempat Citra.
Apa yang bisa kulakukan?
Agak lemas, kalau saja aku berjanji berjanji untuk siap sepagi mungkin hari ini, mungkin aku biarkan tubuhku untuk istirahat lebih lama sehabis sholat subuh tadi. Capek dan pegal kurasakan. Kepalaku sedikit pening, semoga lambungku tak meronta, dan typusku baik-baik saja.
Aku bergegas, mengguyur tubuhku dengan air hangat yang keluar dari shower. Hujamam air hangat itu sedikit banyak membuat tubuhku kembali segar.
"Ghifa ..."
Kucari gadis kecilku di dua ruang favoritnya, setelah kusiap dan rapi. Di kamarnya atau di ruang tengah. Tapi gadis berambut ikal itu tak kujumpai. Kulirik ke arah ruang makan dan dapur. Tak juga ada Bik Nah.
"Ghifaa ..."
"Tadi Ghifa minta jalan ke rumah Adam, Gie. Sambil disuapin bubur Bik Nah, tadi." sahut Ibu. Diperhatikannya aku yang sudah rapi.
"Berangkat pagi?" tanya Ibu.
"Rencananya begitu, Buk. Menghormati prosesinya."
"Yaudah, ibu siap-siap dulu."
Aku mengangguk. Kucoba menghubungi Ardi.
[Ar, Ghifa disitu? ]
[Tidak]
[Mungkin baru perjalanan, kabari kalau Ghifa sampai]
[Oke, eh jam berapa berangkat ke rumah Citra?]
Tak segera kujawab. Ini pelik, apakah aku akan bertahan mengikuti proses disana? Chat Ardi kembali masuk.
[Sebelum ijab kabul, Gie]
[Aku sudah siap ini, Ar. Tapi, jangan berpikir konyol, aku tidak tega membuat malu keluarga besar Citra dan Anton]
[Ah kau!]
[Ghifa sudah sampai belum?] kelitku.
[Belum, aku dan Adam sudah di luar menunggunya, ini]
Aku mulai resah. Tiba-tiba saja rasa itu muncul.
[Ya sudah, aku susul saja]
Aku bergegas menuju garasi mengambil motor matic dan melajukannya keluar halaman.
Rumah Ardi tak jauh, harusnya jika tidak mampir-mampir, Ghifa sudah sampai disana.
Baru saja kulewati satu gang, sebuah mobil sedan warna kuning terlihat memutar arah dari depan. Kupelankan laju motorku.
Deg. Jantungku seakan berhenti.
Di kaca kursi belakang kulihat Bik Nah dan Ghifa menempelkan wajahnya di kaca mobil sambil mengetuk-ngetukkan tangannya. Samar sayup terdengar suara Ghifa memanggil.
"Ayaaa..."
...........
__ADS_1