Bangku Taman

Bangku Taman
Kejujuran Yang Menyakitkan


__ADS_3

Kejujuran Yang Menyakitkan


Jujurlah meski itu menyakitkan, karena mengawali sesuatu dengan kebohongan hanya akan melahirkan kebohongan kebohongan baru.


Pak Cipto berpandangan  sesaat dengan Bu Cipto sebelum kemudian meneruskan pertanyaannya. Aku menunggu mencoba setenang mungkin, meski ada desiran yang tiba-tiba datang di dada, ketika kulihat wajah Citra tak seceria biasanya.


“Menurut mas Gie, Bagaimana kalau Citra menikah dengan Anton?”


Aku tersenyum mencoba menetralisir rasa.


“Menurut saya itu semua tergantung Citra Pak, karena Citra yang lebih tahu tentang sifat dan tabiat Anton. Bukankah dia teman satu jurusan? Kalau saya sendiri, maaf saya belum bisa menilai kelebihan maupun kekurangan Anton.”


Pak dan Bu Cipto terlihat menarik nafas berat. Aku merasa ada sesuatu yang belum disampaikan oleh beliau, ketika kulihat Bu Cipto mengedipkan matanya untuk menguatkan kearah Pak Cipto. Sementara Citra semakin menunduk, memainkan tunik peach yang dipakainya dengan celana jeans berwana abu.


“Mas Gie, Anton itu sebenarnya anak dari teman bisnis Bapak. Keluarga kami memang dekat, apalagi ketika banyak proyek-proyek Infrastruktur yang melibatkan jasa kami sebagai penyedia bahan baku. Kami kemudian sering bekerjasama. Nah, ternyata Nak Anton itu sudah lama menyukai Citra, bahkan dari semasa kuliah dulu, dia sudah sempat mengungkapkan isi hatinya. Tapi Mas Gielang tahu kan Citra seperti apa?”


Aku tersenyum simpul, sebenarnya aku juga belum tahu bagaimana sesungguhnya Citra. Dia datang di kehidupanku dan Ghifa begitu saja. Sejak Ghifa masih bayi, ia sering datang ke rumah, entah ada aku ataupun tidak, ia tak peduli. Karena yang menjadi perhatiannya adalah Ghifa, menurutku, sehingga aku tak perlu berpikir yang terlalu jauh. Aku sudah sangat beruntung, Ghifa tumbuh kembang bersamanya. Dan ternyata waktu berlalu begitu cepat, tiga tahun sudah dan aku belum mengenal Citra, apakah ini yang dikatakan Ibu padaku? Tidak peka?


Pak Cipto menyesap wedang jahenya kembali, kemudian lanjutnya;


“Nah, niat Nak Anton untuk menjadikan Citra pendamping hidupnya diutarakan lagi, bukan hanya pada Citra, tapi dia melamar langsung pada Ibu dan Bapak. Mas Gie, tahu apa jawaban Citra?”


“Apa, Pak?”


“Citra tidak mau berpisah dengan Ghifa.”


Aku tersentak. Tiba-tiba rasa bersalah itu merasuki jiwaku, apakah aku yang menjadi penyebab, hingga rasa saling terikat antara Citra dan Ghifa sudah begitu kuat? Kutatap Citra, tapi sama sekali dia tak mau mendongak. Aku menjadi resah.


“Maaf, apakah Citra belum memberikan jawaban apapun pada Anton, Pak?”


Pak Cipto menggeleng.


“Ini yang ingin kutanyakan padamu, Mas Gielang. Menurutmu bagaimana?”


Aku sungguh tak bisa berkutik, tak mau berpisah dengan Ghifa apakah itu sama artinya dengan tak mau menjauh dariku? Konyol! Bagaimana bisa aku tak memperdulikan semua ini?


“Maafkan saya Pak, Buk. Ini semua kembali pada Citra. Kapan saja Citra mau pintu terbuka untuknya bertemu dengan Ghifa. Jangan karena kami, Citra mempertaruhkan kebahagiaanya sendiri.”


Kuucapkan dengan sangat pelan dan hati-hati.  Aku tak mau kata-kata yang kusampaikan semakin membuat suasana menjadi bertambah kikuk.

__ADS_1


“Apakah Mas Gie, belum ingin menikah lagi?”


Deg.


Aku sontak mendongak, kedua orang tua di hadapanku menatapku ingin segera mengetahui kebenarannya.


“Maafkan saya, hal itu belum pernah terlintas dalam pikiran saya. E, e…”


Tiba-tiba lidahku menjadi kelu. Kulihat raut kecewa di mata Pak Cipto dan Bu Cipto, tapi dengan bijaknya beliau berdua kembali tersenyum.


“Citra pernah bercerita tentang Mas Gielang yang begitu mencintai istrinya, sehingga tidak pernah kepikiran untuk menikah lagi. Meskipun Istri Mas Gielang sudah tiada, tapi seakan-akan masih ada.  Maka dari itu, kami sebagai orang tua meminta Citra untuk mempertimbangkan pinangan Anton. Mas Gielang tidak keberatan, to?”


Glek. Suara Pak Cipto penuh tekanan.


Keberatan? Apa hakku? Apakah Citra mengajukan syarat ini untuk dapat menerima Anton? Apakah ini yang dimaksudkan Anton, untuk melepaskan Citra untuknya? Tapi kembali, apa hakku?


“Nggih, Pak, Buk. Jika itu keputusan yang terbaik untuk Citra saya sangat mendukung. Saya minta maaf, jika saya dan Ghifa merepotkan bapak, Ibu dan Citra selama ini.”


Kata-kataku seakan berat terucap, tapi keraguan hanya akan menambah runcing masalah. Maka kuputuskan untuk menyampaikan apa adanya meski itu akan sangat menyakitkan.


“Oooh tidak, Mas Gielang. Citra dari dulu suka anak kecil, dia kan ragil. Jadi ketika dapat cerita dari Agung, Mas Gielang ingat Nak Agung kan?”


“Nah itu! Nak Agung yang bercerita tentang kisah mas Gielang, akhirnya ya seperti yang telah terjadi. Citra menyayangi Ghifa tanpa pamrih.”


Aku menunduk, berpikir ulang apakah keputusan yang aku ambil sudah tepat?


“Jika sudah tidak ada masalah lagi, Insha Allah pernikahan Citra dan Anton akan dilaksanakan dalam bulan ini, Mas Gielang. Karena semua persiapan sudah selesai dari minggu kemarin. Itu yang sebenarnya kami mau sampaikan kepada mas Gielang, agar tidak terjadi ganjalan di kemudian hari.”


Aku kembali terkesiap, 'jadi semua ini hanya untuk memastikan aku tidak menjadi penghalang?'' Sudut pandangku menangkap Citra yang membisu. Tak urung aku harus menjawab.


“Nggih Pak, semoga Citra berbahagia bersama Anton. Tenang, saja Cit. Kalian nanti masih bebas kok bermain bersama Ghifa,” selorohku.


Citra mendongak, menatapku lurus, memberikan senyumnya, tapi mengapa kulihat begitu getir? Tak juga kudengar suaranya sepatah katapun, selama aku berbincang dengan kedua orang tuanya. 'Ada apakah? Apakah aku menyakiti hatinya?'' Sementara Pak dan Bu Cipto terlihat bernafas lega. Tangan kiri Bu Cipto merengkuh pundak Citra membawanya ke dalam pelukan.


“Terima kasih, Mas Gielang atas pengertian dan dukungannya, semoga pernikahan Citra dan Anton besok berjalan lancar. Dibantu lho, ya…”


Bu Cipto menatapku dengan penuh harap.


“Aamiin … Insha Allah, Buk. Siap apapun yang perlu saya bantu,”

__ADS_1


Gerimis masih jatuh, angin basah menerpa tubuhku hingga dingin yang kurasa. Sebuah mobil memasuki halaman dari pintu gerbang kanan, berhenti di samping pendopo. Kulihat seseorang dengan kaos berwarna orange dan jeans berwarna hitam keluar dari mobil, sambil menenteng bungkusan,


“Nah, Itu Nak Anton. Ditunggu ini lho …” Bu Cipto berdiri menyambut orang itu yang ternyata Anton. 


“Assalamualaikum Buk, ini sedikit oleh-oleh.” Salam takzim Anton sembari memberikan bungkusan yang dibawanya. Dengan kedua mata sipitnya ia menatapku penuh selidik.


“Terima kasih, ya Nak Anton. Citra … sini nduk," panggil Bu Cipto.


Citra menoleh enggan.


“Iya, Buk.”


“Yok, ke belakang dulu …” ajak Bu Cipto lagi. Citra menurut.


Anton kemudian duduk di samping Pak Cipto, yang kemudian menepuk-nepuk pundaknya dengan lega.


“Sudah selesai persiapannya to Nak Anton?  Tinggal menyebar undangan!”


Anton sontak kaget, menatapku kemudian Pak Cipto bergantian.


“Citra sudah sepakat, Pak?”


Pak Cipto mengangguk.


“Terima kasih, terima kasih Pak!” Anton mencium punggung tangan Pak Cipto, kelegaan dan kebahagiaan terpancar kuat di wajahnya.


“Terima kasih, Gie. Berkatmu, pernikahan kami akan segera berlangsung. Bantu ya, semoga lancar!”


Anton mengulurkan tangannya ke arahku, kusambut dengan hangat.


“Selamat ya, Ton!”


Tawa ceria mewarnai wajah-wajah yang sesaat tadi tegang. Aku terhenyak, kesadaran itu datang belakangan. Sepanjang yang kuingat tak ada sepatah katapun persetujuan yang keluar dari mulut Citra. Selama pembicaraan tadi, yang ditanyakan adalah persetujuanku. Tiba-tiba aku menjadi sangat merasa bersalah pada Citra, bagaimana sebenarnya perasaan dan keinginannya?


Ahhh, rintik gerimis masih enggan untuk berhenti, 'apakah gerimis yang sama juga jatuh di Bangku Taman, Laras?''


……


 

__ADS_1


__ADS_2