
MENGEJAR RINAI PELANGI
Jika engkau telah menguasai musuhmu, maafkanlah mereka, karena perbuatan itu adalah syukur kepada keberhasilan yg telah kau peroleh. (Ali Bin Abi Thalib)
...Rinai turun mengeja kata...
...Dari awan gelap yang bergelayut manja...
...Syahdu, sendu atau duka?...
...Tergantung hatimu ingin memaknai...
...Jika harapmu tinggalah kenangan...
...Apakah kenangan akan menjadi harapanmu?...
Kuusap rambutku, mencoba menghilangkan resah disana. Tentu saja tak bisa, bukankah resah hati hanya akan terkikis dengan ketenangan dalam bersikap? Bukan pada rambut yang diusap?
“Mas, penculiknya sudah ketemu ya?”
Tiba-tiba gadis itu lebih mendekat padaku dan membulatkan dua bola matanya yang ternyata indah.
Sebentar, indah? Dua pupil dengan iris mata coklat besar menghias cekungan dibawah deretan bulu alis yang tebal dan hampir menyatu di pangkal hidungnya yang bertulang tinggi. Sayangnya mataku belum mau bersahabat dengannya. Maka kujawab pertanyaanya dengan membuang mukaku dari tatapannya.
Kulanjutkan pembicaraan seriusku dengan Mas Lutfi yang masih terhubung lewat jaringan seluler.
“Menurut Mas Lutfi, apa yang harus kulakukan?”
Tanyaku menyerah, menyikapi kenyataan yang ada. Kurasa Mas Lutfi akan lebih tahu cara mengatasi masalah ini.
“Aku akan minta bantuan temanku di situ untuk ikut menyelidiki,” jawab Mas Lutfi.
“Tapi mas, aku ingin kasus ini diselidiki dengan tertutup dulu.” Pintaku.
“Tenang saja, Gie. Aku tahu maksudmu, aku mencium motif tersendiri disini. Aku akan minta Iptu Risma untuk membantumu.”
Aku terdiam, menimbang sesuatu sambil kutoleh Ibu dan Ardi yang menatapku dengan tegang.
“Iptu Risma?”
“Aku akan kirim nomor kontaknya,”
“Baiklah, Mas.”
“Gie, tetaplah tenang. Lebih baik kau cepat bergerak, aku akan kirim titik koordinat bumblebee. Perlu kau ketahui, keberadaan nomor penculik berada di arah yang berlawanan, maka biarkan Iptu Risma menyelesaikan sisanya.”
“Ya, Mas. Terima kasih.”
Sambungan terputus, sebuah kontak dikirim dan kusimpan cepat. Aku beranjak dari dudukku.
“Bagaimana, Gie?”
“Ayo kita berangkat, Ar! Bawa si Hitam, kau yang bawa ya, kunci dirak buku.”
“Oke, siaap.”
“Ibu bagaimana, Gie?” cegah Ibu pada pundakku, pelupuk matanya kembali berair.
“Ibu berada di rumah saja, ya. Saya sudah beritahu Lidya untuk segera kesini menemani Ibu,” hibur Ardi. Ibu hanya mengangguk pasrah.
Ardi bergegas masuk ke dalam rumah, sesaat kemudian terdengar deru halus mobil keluar dari garasi. Sementara itu terlihat Lidya datang bersama Eyang Sukma dan Adam di gendongan. Suasana menjadi riuh dengan suara Eyang yang melengking.
__ADS_1
“Gimana to ini kejadiannya to jeng, jeng ….” Serbu Eyang Sukma begitu turun dari boncengan Lidya. Meski sudah sepuh, Eyang Sukma terlihat gesit. Ibu menyambutnya dengan mata berkaca-kaca.
“Sabar, Eyang, Ibu …” Lidya menenangkan sembari mengambil Adam dari gendongan Eyang Sukma.
“Ibu menunggu di dalam saja, ya, aku akan selalu memberi informasi tenatng Ghifa, Ibu tenang saja.” kataku sembari mengenggam tangan Ibu.
Ibu mengangguk, membiarkan Eyang mengandeng tangannya masuk ke dalam rumah. Sementara Lidya masih menunggu keberangkatan kami.
“Titip Ibu dulu, ya, Lid.”
“Tenang saja, aku akan menunggu disini sampai kalian kembali.”
“Terima kasih.”
“Semoga Ghifa segera ditemukan …” kata Lidya kembali.
Aku mengangguk kuat seperti Ghifa ketika setuju terhadap suatu hal, lalu segera kulangkahkan kakiku menuruni tangga teras menuju mobil yang dikemudikan Ardi.
Di balik jendela depan, pemuda gondrong itu melongok mengacungkan jempolnya ke arah Lidya yang dibalas dengan jempol pula. Aneh, tapi aku tak perlu kepo dengan kebiasaan suami istri itu, mereka sah-sah saja pakai cara mereka untuk berkomunikasi, kan? Seperti kita, Laras.
“Aku ikut ya, Mas!” gadis itu ternyata belum berhenti untuk merusuh. Dengan santainya ia duduk di bangku belakang dengan nyamannya.
“Siapa yang suruh?!” sentakku.
“Saya sendiri, Mas.” Jawabnya santuy.
Sontak gerahamku bergelutuk, mataku kembali melotot ke arahnya. Entah sudah berapa kali dalam sepagi ini. Mata ini harus menatap dengan kesal dan marah. Tapi gadis itu hanya nyengir kuda dan mengacungkan kedua jarinya.
“Sudahlah, biarin saja, nanti kita tinggal saja disana!” sahut Ardi.
“Huhhh!” dengkusku.
“Hihihi ….” Terdengar tawa cekikikan di bangku belakang.
“Iya, Mas. Peace! Ayo, jalan!” jawabnya tanpa beban.
Ardi tak lagi bisa berkata-kata, ia jalankan mobil hitam ini keluar halaman. Kulihat tangannya masih sempat melambai pada Lidya yang masih menanti di teras.
Derrttt
Kulihat gawaiku kemudian kulihat notifikasi lokasi yang dikirim Mas Lutfi, sebagai titik koordinat terakhir bumblebee terdeteksi.
“Kita menuju pegunungan, Ar. Lokasi yang diberikan Mas Lutfi hampir menuju daerah perbatasan.” Ucapku.
“Oke.”
Tanpa banyak cakap mobil melaju dengan kecepatan sedang di jalan yang mulai ramai, hilir mudik kendaraan mulai memenuhi ruas jalan.
Lokasi yang ditunjuk membawa kami meninggalkan jalur utama, menuju jalur antar kecamatan yang berada di pinggiran kota. Butuh waktu hampir satu jam untuk mencapai lokasi yang ditinjukkan.
Setelah pertigaan, akhirnya kami meninggalkan jalan propinsi dan melaju di jalan kabupaten yang tak semulus sebelumnya. Beberapa lubang di jalan membuat Ardi beberapa kali mengurangi kecepatan dan membelokkkan roda untuk menghindar.
Drrttt
[Bagaimana? Sudah Jalan?]
[Sudah, Mas]
[Oke, Iptu Risma juga sudah meluncur ke lokasi dimana nomor itu terdeteksi]
[Terimakasih, Mas]
__ADS_1
[Nanti Iptu Risma akan menghubungi nomormu jika ada perkembangan]
[Ya, Mas]
Selepas melewati jembatan besar, Ardi mengarahkan mobil ke jalanan yang mulai berkelok dan menanjak secara bertahap. Meski begitu, jalanan yang dilewati lebih halus, karena masuk sebagai jalan propinsi. Tetapi karena kelokan yang dekat, kecepatan mobilpun terbatas.
Awan yang sejak tadi bergelayut mulai mengurai rinai. Hingga Ardi harus menghidupkan penyeka kaca, agar air tak memburamkan penglihatan. Jauh di timur masih terlihat semburat mentari naik, akankah sinarnya mampu menyapa rinai menjadi pelangi?
Drrrttt
Drrrttt
Agung calling.
“Gie? Kamu sebenarnya dimana, to?” solot Agung dengan nada harap.
Aku menghela nafas, kupalingkan wajahku ke arah Ardi yang melirikku dengan pandangan prihatin.
“Maafkan aku, Gung.”
“Akad barusan berlangsung, Gie …”
Nada suara Agung sangat pelan. Aku termenung, mengatup dalam diam hingga beberapa saat. Terbayang di pelupuk mataku Citra dan Anton tengah bersanding mengikat janji suci. Apakah, senyum Citra akan mengembang seperti ketika ia bermain bersama Ghifa? Ah, Ghifa … dimanakah engkau, gadis kecilku? Semoga penculik itu tak berbuat jahat padamu dan Bik Inah.
“Gie ..., Gie …?!”
“Eh, iya, Gung …”
“Kau baik-baik saja? Ada masalah apa, sebenarnya?”
Agung bertanya dengan penuh kekhawatiran. Sementara kudengar gaung pembawa acara di belakangnya. Ardi tetap memutar kemudi mengikuti kelokan , google map mengarahkan sesuai jalur yang hanya satu-satunya. Tidak ada perempatan di jalan ini, yang ada hanyalah simpangan menuju tanjakan yang lebih tinggi.
“Ya, Gung. Aku …, aku …”
Lidahku kelu, terbata-bata kehilangan kata.
“Sudahlah, Gie. Setelah ini, Aku akan segera ke rumahmu!”
Tuuuttt
Telepon ditutup.
Tentang Citra, aku tak lagi bisa berbuat apa-apa kali ini. Apakah dia merasa bahagia? Apakah dia menerima Anton sepenuh hatinya? Apakah dia benar-benar sudah melupakan kebersamaannya bersama Ghifa? Bahkan sampai detik inipun aku tak tahu bagaimana perasaanya sesungguhnya.
“Gie?” Ardi meminta penjelasan.
“Citra dan Anton, Ar … mereka sudah …”
Teeettt
Teeetttt
“Awas, Mas!” tiba-tiba gadis yang duduk di belakang berseru lantang. Ardi memutar kemudi cepat, menjaga roda berada di jalurnya tanpa menerjang marka jalan yang tak terputus, sebelum bamper truk dari arah depan yang menikung menyentuh moncong mobil.
“Fokus, Mas!”
“Kau! Bisa tenang tidak?” bentakku sambil menoleh ke arah belakang dengan kesal. Tapi gadis itu ternyata bandel, tak perduli dengan bentakanku. Telunjukknya mengarah ke depan dengan mata terbelalak.
“Lihat itu mas, di depan!”
............
__ADS_1