Bangku Taman

Bangku Taman
Ketika Dua Hati Bicara


__ADS_3

Ketika Dua Hati Bicara


Jika duka tak bermuara, maka jangan biarkan terurai, merambah menyusup di sela sendi. Setidaknya, semasih mentari belum membuatnya menguap, ia tak akan membuat nyeri mendera.


Aku mengambil duduk berhadapan dengan Citra. Wajahnya masih terlihat tegang dan geram. Mengetahui kenyataan yang terjadi beberapa hari dalam persiapan pernikahannnya membuat wajahnya kelam. Tapi tak lama, wajahnya kembali datar.


“Jadi apa yang terjadi Gie?” desaknya tak sabar.


Wajah Citra dengan mata cekungnya menatapku, tapi kemudian dialihkannya pandangan ke arah meja Pak Cipto yang terlihat ramai, meski samar apa yang dibahas disana, tapi terlihat Anton jadi bulan-bulanan Kunthi. Gadis itu, apakah tidak faham apa yang dilakukan sudah terlalu masuk ke ranah pribadi? Kelihatannya setelah hari ini selesai, dia perlu mendapatkan penataran tentang menjaga hati.


“Citra,”


Citra kembali menoleh padaku, sedikit mengeryit.


“Ya, Gie?”


“Maafkan aku, Cit”


Citra mengembangkan senyumnya padaku, senyum yang penuh pengertian.


“Untuk apa?”


Kutatap bulat matanya yang menghitam, kemudian kuhela nafasku. Ya, Untuk apa? Untuk ketidak pekaanku? Untuk keangkuhanku? Akan kekonyolan dan kebodohanku? Atau tentang keegoisanku? Yang semuanya pun pengakuan itu tidak akan mengubah apapun, seperti yang dikatakan Anton, Citra adalah istri sahnya. Apa yang aku harapkan dari semua ini? Masih perlukah aku lakukan?


“Untuk yang sudah terjadi padamu, Cit. Aku minta maaf jika jawabanku waktu itu kepada Bapak dan Ibu membuatmu terpaksa menerima Anton.”


Citra menarik bibirnya kembali, hingga memperlihatkan binar di mata lelahnya.


“Aku sungguh minta maaf, jika karena itu rencana Anton untuk meminangmu kemudian mulus tanpa kendala. Aku tidak menyangka sebelumnya bahwa ternyata kau sudah berproses dan menunggu keputusanku sebagai penentu.”


Kataku perlahan  namun penuh percaya diri dengan asusimku. Bagaimanapun hal yang kusampaikan baru sekedar dugaan yang membuatku terbebani dan merasa sangat bersalah.


“Apakah kau berpikir begitu, Gie?” Citra menatapku dengan penuh selidik, dan aku mengangguk.


“Apakah dugaanku salah, Cit. Aku sungguh merasa bersalah jika itu yang sesungguhnya terjadi, Aku sudah mencoba menemuimu, tapi Santi dan Anton tak memperbolehkannya. Bahkan ketika kau jatuh sakit? Aku benar-benar tersiksa. Aku tidak ingin kau menderita dengan keputusan yang sudah diambil, Cit.”


Citra mengangguk-angguk kemudian ucapnya padaku .

__ADS_1


“Terima kasih, kau peduli tentang itu.”


“Kau tidak marah padaku?”


“Untuk apa marah? Ini bukan salahmu, Gie, dengar, terima kasih kau masih peduli padaku. Sebenarnya aku sudah melepaskan harapanku sehari sebelum kau datang menemui Bapak dan Ibu.”


Aku tersentak, ingin segera kucerca dengan pertanyaan yang meledak, tapi aku memilih untuk tenang, dan menanti kelanjutan cerita Citra.


“Maksudmu, Cit? Kau sudah menerima Anton sebelumnya?”


Citra kembali mengangguk.


“Baiklah, Gie. Jujur aku menaruh rasa padamu sejak SMA dulu. Begitu juga Anton padaku, Bapak dan Ibu adalah teman bisnis Papa Mama Anton. Kami sudah saling kenal sejak kecil, bahkan dia memaksa untuk dapat sekolah di jurusan yang sama denganku waktu kuliah. Aku hargai perasaanya padaku, Gie.”


Ucapan Citra terhenti sebentar, pelan menghela nafas, tapi nadanya sangat datar. Mungkinkah Citra sudah menyiapkan dirinya jauh hari untuk bersikap setenang ini?


“Aku sempat berusaha memperjuangkan hatiku, Gie. Di awal ketika kita bertemu di pernikahan Ardi dan Lidya waktu itu. Tapi berjalannya waktu bersama Ghifa, keinginan itu tersisih dengan sendirinya. Ada yang lebih kuat mendesak di sisi hatiku, mungkin itu yang disebut rasa sayang untuk Ghifa. Apalagi setelah aku mengenal Laras lebih jauh.”


“Cit?” tak bisa kututupi, bahwa aku merasa kaget.


“Ya, Gie, aku pernah beberapa kali mengobrol dengan Laras, maaf aku tak pernah ijin dan bercerita padamu tentang itu.”


“Hemm ya, Laras sempat kecewa ketika tahu Kau akan menikah dengan Anton.”


Citra tertawa pelan, sesaat dia tercenung.


“Gie, terima kasih ya, karena selama tiga tahun ini mengijinkan aku dekat dengan Ghifa dan keluargamu. Kau tahu, Gie, itu membuatku mempunyai pandangan yang lebih terbuka.”


“Tidak Cit, aku yang harusnya berterima kasih padamu karena selama tumbuh kembang Ghifa kau berada di sampingnya dengan tulus. Maafkan, Aku sungguh menyesal, tak menghargai keberadaanmu sejak awal.” Pintaku tulus. 


“Sudahlah, Gie. Kurasa benar kata orang bijak, bahwa cinta itu memang tidak bisa dipaksakan, tapi justru bisa ditumbuhkan.”


Aku mengeryit, mencoba memahami apa kata hati Citra, wanita ayu di hadapanku ini bicara dengan tenang, tidak ada pendar emosi. Aku merasakan ketulusan dan kerelaannya menjalani waktu.


“Memang tidak semua orang bisa melakukannya, apalagi jika egois masih bersemayam di dalam jiwa. Apalagi bagi mereka yang menjunjung kemurnian cinta pertama. Tapi kenyataanya, keadaan tidak selalu berpihak pada harapan kita. Gie, bagiku kemudian, dicintai adalah awal yang baik untuk menumbuhkan cinta, dan itu yang saat ini akan kulakukan.”


Sesaat kutatap mata Citra, ada harapan penuh disana, aku menjadi sangat malu atas ketegarannya.

__ADS_1


“Dan itu keputusan yang aku ambil dalam hatiku, sebelum kau bertemu dengan Bapak dan Ibu saat itu. Meski sempat juga kurasakan kekecewaan, tapi jawabanmu waktu itu sudah aku duga sebelumnya, hingga dengan mudah kubujuk hatiku untuk kembali melihat ke depan.”


Aku tertunduk, teringat keluguanku yang keterlaluan, kejujuranku yang tanpa beban, padahal menggores luka. Untungnya, ternyata Citra telah menyiapkan obat penyembuh sebelumnya.


“Ini sudah garis yang ditentukan untukku, Gie. Dan lagi banyak kebahagiaan yang akan dirasakan oleh keluarga Anton dan keluargaku jika aku mengambil keputusan ini. Jadi mengapa tidak kulakukan? Lagipula, sekali lagi aku sudah memantapkan hatiku, bahwa Cinta bisa ditumbuhkan, seperti halnya Cintaku pada Ghifa, aku yakin bisa melakukannya pada Anton.”


Suara Citra yang mengalun tanpa tekanan sama sekali, mampu menampar wajah dan hatiku secara bersamaan.  Mungkin inilah yang kau maksudkan, Laras? Semua bisa diperjuangkan, bahkan Cinta pun dapat ditumbuhkan?


“Aku melihatnya Cit,”


“Melihatnya?”


“Ya, Cinta Anton padamu, hingga ketakutan akan kehilangan dirimu membuatnya over posesif. Itu yang membuatku tidak mengambil tindakan lebih terhadap apa yang telah dilakukannya. Hanya saja, aku perlu pastikan kau tidak lagi mengalami tekanan batin setelah ini.”


Citra melebarkan senyumnya.


“Dan …”


"Dan?"


“Dan, kau tidak boleh sakit lagi, Cit. Kau harus berjanji padaku, jika ada persoalan yang terjadi di kemudian hari nanti, kau tidak boleh pendam sendiri…”


Kata-kataku terputus, ketika Citra menyahut cepat.


“Terima kasih, Gie, … asal kau tetap perbolehkan aku datang untuk Ghifa, karena hal itu membuat semangatku selalu terjaga” 


“Tentu saja, Cit. Alhamdulillah, semoga dipermudah, segala pengorbananmu mendapat balasan yang setimpal, Cit.”


“Hahaha, jangan menyebut ini sebuah pengorbanan, Gie. Tapi sebutlah sebagai perjuangan, bukankah membahagiakan banyak orang adalah sebuah usaha untuk membuat kita juga bahagia?” 


Aku mengangguk, terasa lega di sudut hatiku. Kuhargai ketulusan Citra untuk berdamai dengan jalan yang dipilihkan untuknya oleh penulis skenario kehidupan. Aku harus banyak belajar darinya dalam memaknai bahagia. 


Hening sesaat diantara kami, hanya riuh suara Kunthi di meja sebelah, membuatku dan Citra harus menoleh kepadanya. Kulihat Citra terkekeh.


“Siapa dia, Gie?”


...……....

__ADS_1


 


__ADS_2