Bangku Taman

Bangku Taman
Melepaskan Dan Mengawali


__ADS_3

Melepaskan dan Mengawali


Ketika tiba saatnya untuk melepaskan, maka bersiaplah pula untuk mengawali langkah, karena ketika nafas masih mengalir, kehidupan akan terus bergulir.


“Dia?”


Aku sedikit mengerling, kuusap rambutku ke belakang.


“Ya, gadis itu cantik dan lucu, Gie.” Kata Citra masih memperhatikan Kunthi yang masih bersitegang dengan Anton, sementara terlihat Pak Cipto dan Bu Cipto berada di tengah mereka.


“Aku tidak tahu siapa dia, Cit. Dia menabrakku saat aku tergesa mengejar bumblebee yang membawa Ghifa.”


“Bumblebee? Hahaha Maksudmu mobil Santi?”


“Iya …”


Lalu meluncurlah sudah kisah ketegangan yang terjadi kemarin. Sport jantung seharian ketika melakukan pengejaran terhadap mobil kuning dan kekhawatiran akan keselamatan Ghifa. Hingga keterlibatan Kunthi yang begitu saja. Tentu saja kuuraikan dengan nada datar, agar tak ada emosi yang terbangun. Bagaimanapun, aku harus mendukung Citra untuk awal langkahnya, bukan dengan memulai dari ketidakpercayaan.


“Dia memaksa ikut ketika mas Lutfi sudah mengirim titik koordinat keberadaan Bumblebee. Begitulah Cit, seenaknya saja sampai dia bertemu dengan Santi. Aku tidak bisa lagi murka, posisiku sudah diambil alih oleh gadis itu. Dia marah dan berdebat dengan Santi dari tempat aku bertemu dengan Ghifa, sampai tiba di rumah. Bahkan ketika Iptu Risma datang pun, mereka masih saja bertengkar. Dan tadi pagi, tiba-tiba saja dia nylonong lagi dan memaksa untuk ikut kesini.”


Citra kembali terkekeh sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, masih asyik memperhatikan Kunthi. Hatiku menjadi terang, kelam yang bergelayut akhir-akhir ini berangsur menghilang. Aku merasa lega, melihat tawa mengembang menghiasi wajah Citra. Meski cekung mata panda, dan pipinya yang tirus menceritakan kenyataan yang lain. Kuharap semua akan membaik, meski ku belum rela melepaskannya dalam keadaan seperti ini. Tak ada lagi yang bisa kulakukan, kecuali berjalan mengawasinya dari jauh. Karena disampingnya sudah ada Anton yang telah berjanji untuk menjaganya.


“Itu yang diharapkan Anton, Aku sibuk menyelamatkan Ghifa hingga aku tak bisa berkutik. Anton takut aku nekat mengagalkan proses pernikahanmu.” Kataku dengan terkekeh.


Citra menatapku,sesaat terbelalak kemudian dengan cepat tersenyum.


“Maafkan Anton, ya, Gie … Mungkin egonya akan menahannya untuk mengatakan ini, tapi aku mewakili suamiku untuk meminta maaf atas segala kekonyolan yang dibuatnya padamu.” Kata Citra tegas namun lembut.


“Tenang saja, Aku sudah memaafkannya semenjak Ibu mengatakan untuk tidak memperpanjang kasus ini, Cit.” 


“Ibu …” suara Citra tercekat.


“Mainlah bersama Anton jika kau sempat, Cit. Ibu pasti akan sangat bahagia menyambutmu.”


Citra menunduk, kulihat pundaknya lembut terangkat. Entah helaan nafas atau isak yang tertahan. Tapi ketika kepalanya kembali mendongak ia membuang tatapannya dari wajahku.


“Terima kasih, Gie.”


Aku mengangguk, meski Citra tak melihatku, aku yakin dia merasakan itu. Diam sesaat di antara kami. Jadi seperti ini rasanya melepaskan sesuatu yang mengganjal. Sesak yang mendera menjadi lapang, tapi nyeri terasa pada bekas yang ditinggalkan. 


***


Hening selama perjalanan. Kami mohon pamit pada keluarga Pak Cipto, setelah kedatangan beberapa tamu lain yang juga baru bisa hadir hari itu. Termasuk Santi. Bu Cipto memaksa kami menikmati hidangan makan siang terlebih dahulu, meski kami menolak dengan halus. Tapi Ghifa berada dalam gendongan Citra dan tak akan dilepas sebelum kami menyelesaikan permintaannya. 


Jika menuruti Ghifa, ia sempat merajuk tak mau pulang. Entah apa yang dibisikkan Kunthi kepadanya, hingga gadis kecil berambut ikal itu membelalak dan mengangguk kuat ketika kuajak berpamitan. Apa pula yang disampaikan Kunthi ketika merangkul dan mendekatkan bibirnya ke telinga Santi. Hingga gadis berjerawat dengan rambut yang dikucir ekor kuda itu hanya menurut. Sempat kulihat Santi mendekati Citra memeluk dengan erat dengan sedikit mata berkaca, tangan Citra mengelus punggungnya dan melempar senyum. Santi juga mencium tangan Pak Cipto dan Bu Cipto dengan takzim dan menyampaikan sesuatu, hingga wajah kedua orang tua Citra yang sebelumnya tegang itu kembali melunak.


Juga, aku tak tahu apa yang telah dikatakan Kunthi kepada Anton. Hingga pemuda berambut lurus dengan mata sedikit sipit itu mendatangiku dengan sikap gentlenya. Dan menyerahkan kedua pipinya atau badannya untuk siap menerima pukulanku kembali, jika itu dapat membuatku memaafkannya. Jelas yang kulakukan justru merengkuhnya dalam pelukanku. Dan membisikkan kata ancaman untuk menjaga Citra dengan baik, atau aku akan merebutnya dengan paksa. Dan Anton tersenyum, berulang kali menyampaikan permintaan maaf dan terima kasihnya.

__ADS_1


Dan pada akhirnya kami melambaikan tangan dengan lega, pada keluarga baru Anton dan Citra.


Namun hening masih mewarnai perjalanan pulang. Ardi mengemudikan si putih dengan pelan, kulihat dari spion, di bangku belakang, Lidya mendekap Adam yang menikmati tidur siangnya, Ghifa merebahkan kepalanya di pangkuan Kunthi. Dan Kunthi?


Kutepuk jidatku. Pantesan sepi, Kunthi tengah menyandarkan kepalanya di bantal tekuk sembari memejamkan matanya yang berbulu panjang dan lentik. Wajahnya terlihat terlelap sempurna, ternyata tukang molor juga dia. 


Kudengar Ardi terkekeh. Melirikku dengan santai.


“Kenapa?”


“Pantes sepi, tidak ada petasan yang meledak ledak.” Ujarku. Terdengar suara Lidya yang cekikikan disambut Ardi yang terbahak


“Hihihi … kau kangen dengar suaranya, Gie?” tanya Lidya dari jok belakang.


“Hahaha … bener nih!” goda Ardi.


“Ngaco! Suara Kunthilanak itu maksudmu?” sengitku.


“Siapa lagi?” Ardi terkekeh, melirikku dengan sudut matanya. Aku mendengkus kesal, tapi segera kuserbu dengan penasaranku.


“Serius nih, Ar. Apa yang terjadi tadi ketika aku sedang bicara dengan Citra?”


“Ndak terjadi apa-apa … emang kenapa?” jawab Ardi santai.


“Beneran? Maksudku apa yang kalian bicarakan, kau lihat Anton tadi membuka dirinya, melepas kecurigaannya dalam waktu cepat.”


“Yah, begitulah …”


We were young


Posters on the wall


Praying we're the ones


That the teacher wouldn't call


We would stare at each other


'Cause we were always in trouble


And all the cool kids


Did their own thing


I was on the outside


Always looking in

__ADS_1


Yeah, I was there but I wasn't


They never really cared if I wasn't


We all need that someone


Who gets you like no one else


Right when you need it the most


We all need a soul to rely on


A shoulder to cry on


A friend through the highs and the lows


I'm not gonna make it alone


La la la la la la


La la la la la alone


I'm not gonna make it alone


La la la la la la


La la la la la alone


Then I saw your face


Your forgivin' eyes


Looking back at me


From the other side


Like you understood me


And I'm never letting you go, oh


We all need that someone


Who gets…


“Aku tak kan sendirian …”


...….....

__ADS_1


Hai sobat semua, maafkan ya, jika beberapa hari ini jarang up.


Terima kasih atas dukungannya selalu kepada Gie dan Kunthi, baik like, koment dan votenya semoga kebaikan senantiasa menyertai kita semua, Aamiin 💖💖💖


__ADS_2