Bangku Taman

Bangku Taman
Serpihan Roti di Tanganmu


__ADS_3

Serpihan Roti di Tanganmu


Andai rindu bisa dibungkus, entah berapa juta paper bag yang dibutuhkan, untuk membungkus rinduku padamu, Laras.


“Ada apa? Apa yang terjadi?”


Ardi mengangkat bahunya, matanya masih penuh selidiki mengarah ke dalam rumah Citra.


“Entahlah, sudah tak terlihat apa-apa.” Kata Ardi dengan alis berkerut.


Kami  bersitatap, tak mungkin kembali masuk, setelah melewati pintu gerbang. Pun tak ada lagi seruan Santi yang terdengar. Sekarang hanya tergantung pada Agung untuk mengetahui keadaan Citra. Apa yang sebenarnya tengah terjadi?


“Kau sabar dulu, Gie! Aku akan minta tolong nenek untuk dapat alasan bertemu dengan Citra nanti malam.” Agung menepuk pundakku, menenangkan,  ketika aku sudah duduk diatas motor.


“Setidaknya, kita pernah mencoba.” Hibur Ardi pula.


Aku mengangguk dan mencoba menyembunyikan resah dari mataku.


“Aku bergantung padamu, Gung. Makasih sebelumnya, ya. Semoga Citra baik-baik saja. Kami pamit dulu …” Balasku. 


“Oke. Hati-hati!”


“Bye!” Ardi mengepalkan tangannya yang disambut dengan kepalan tangan pula. Dua kepalan bertemu sebagai tanda perpisahan. Kutinggalkan rumah Citra dengan pertanyaan yang semakin menggunung.  Ada apa dengan Citra?


Dengan kecepatan delapan puluh kilo meter per jam kulajukan motorku kembali.  Ardi membiarkanku dalam diam, tak ada suara yang terdengar diantara kami dalam perjalanan.


Di tengah perjalanan kuarahkan motorku memasuki  halaman sebuah masjid di pinggir jalan. Waktu ashar sudah tiba beberapa saat yang lalu.


“Sholat dulu, Ar. Habis itu antar aku ke taman, nanti kau boleh pulang duluan.” Kataku sambil memarkir motor.


“Oke!”


Ardi mengikuti dari belakang, aku bergegas mengambil air wudhu, membiarkan wajahku terbasuh sempurna dengan air mengalir. Mencoba merasukkan sejuk ke dalam pori-pori, hingga membawa kesejukan yang sama pada hati. Kami masih bisa mengikuti jamaah pada dua rakaat terakhir, kemudian menambah dua rakaat setelah Imam mengucapkan salam.


Kulihat jam yang menggantung di dinding masjid, masih menunjuk angka 4 sore lebih tiga menit. Masih ada waktu, untuk berjumpa denganmu, Laras. Aku berjanji padamu untuk  membawakan sekerat roti hari ini.


“Apakah kau akan ke bangku taman itu?” tanya Ardi ketika kami kembali melaju, kali ini sedikit santai, hingga suaranya terdengar jelas.


“Ya!”


“Apakah kau akan bertemu dengannya?”


“Ya! Tentu saja!”


“Gie!”


“Apa?”

__ADS_1


Ardi terdiam, kulihat roman wajahnya terlihat sendu memantul dari kaca spion yang klulirik.


“Tak apa …” jawabnya kemudian.  


Kuarahkan motorku langsung ke taman kota. Dari kejahuan sudah nampak keceriaan teriakan anak-anak.  Berlarian, bermain permaian yang disediakan disana. Ah, Ghifa, maafin Ayah.  Tak kuajak kau kesini, sore ini. Pelan kebelokkan matic hitam menuju tempat parkir yang tersedia.  Sebuah tempat yang dibuat menjorok beberapa meter dari tepi jalan dengan batas trotoar di pinggir taman.


“Gie!” Panggil Ardi ketika aku menyerahkan helmku untuk juga dibawa pulang.


“Ada apa?” 


Kuambil tas dada dari bagasi motor. Ada sekerat roti yang sudah kusiapkan berada di dalamnya, lalu kuslempangkan sembari menatap wajah Ardi yang masih mematung. Pemuda gondrong itu  terlihat bingung untuk menyampaikan sesuatu.


“Sudah sore, kalau Ghifa nanyain, aku jawabnya apa?” Ucap Ardi akhirnya. 


Kupandang jauh ke langit barat, lembanyung terbentang diantara awan kelabu. 


“Aku hanya punya waktu sebentar Ar. Tolong bilang ke Ghifa, aku masih bertemu Bunda, dia akan marah karena takkuajak hari ini, tapi dia akan menyambutku dengan ceria menanti ceritaku.”


“Gie!”


“Waktuku terbatas untuk bertemu dengan Laras, Ar. Kau tahu itu, tolong.”


Kulihat Ardi menatapku dengan pandangan sayu, bahunya terangkat seakan menarik nafas lebih dalam.


“Baiklah …” ujarnya.


“Oke, aku nanti jalan kaki saja, tidak usah disusul!” teriakku sambil berjalan cepat meninggalkan Ardi yang masih termangu. 


“Cipukkk,” lidahku kelu, wajahmu terlihat cerah dengan senyummu yang selalu mengembang mendamaikan. Sebagian merpati-merpati itu hinggap di bangku taman. Kau menoleh ke arahku dengan mata lentikmu yang berbinar.


“Cupikkk, kemarilah.”


Aku duduk di sampingmu, terpana memperhatikan tanganmu yang terulur, dan tertawa ketika merpati-merpati itu terpeleset tak bisa hinggap disana.


“Cupikkk, dimana Ghifa?” 


Kali ini kau menghadap kearahku, tetap dengan senyuman.


“Maaf, aku tidak mengajaknya hari ini, sayang. Aku baru saja dari rumah Citra,” ceritaku.


“Oh ya, bagaimana kabar Mama Citra, Cupikkk?” tanyamu dengan antusias dan nada menggoda.


“Ia akan menikah besok Sabtu.” Jawabku datar.


“Alhamdulillah, senangnya, jadi besok lagi Ghifa akan selalu dapat bertemu dengan mamanya…” serumu dengan gembira.


'Ahh kau, Laras. Mengapa lugumu tak juga berkurang?''

__ADS_1


“Bukan dengan aku, sayang. Tapi dengan Anton, teman kuliahnya dulu!” kataku sedikit kesal.


Suka sekali penghuni hatiku ini menggodaku untuk mengajak hati yang lain menemaninya. Padahal itu hal yang sulit bagiku!


“Apa? Mengapa bisa?”


Mulutmu terbuka, bibirmu seakan mengambang di udara, matamu menatapku dengan penuh selidik. Habis itu, seperti yang kuduga, bibirmu terkatup tanpa senyum. Begitulah jika kau marah.


“Kau apakan Mama Citra, Cupikkk!” sentakmu cemberut seperti Ghifa jika sedang ngambeg dan merajuk.


“Tidak aku apa-apakan, kok, sayang ... swear deh,” elakku.


“Lalu mengapa Mama Citra tidak menikah denganmu, Cupikkk? Cupik mau, Ghifa sedih?” berondongmu, seperti halnya Ghifa, kau panggil Citra dengan Mama Citra.


“Bukan begitu, sayang. Aku belum berpikir ke arah sana. Jadi ketika orang tua Citra bertanya padaku, ‘Mas Gie, tidak keberatan kan jika Citra menikah dengan Anton?’ kujawab saja tidak, begitu …”


“Cupikkk … ahhh, mengapa Cupikk jawab tidak?!” 


Kuberikan dadaku, ketika tanganmu berayun memukul kesal. Dingin menghentak berulang, kurengkuh dirimu dalam pelukku. Kutahu kau kecewa, kau menyanyangi Citra sebagaimana Ghifa juga menyanyanginya. Tapi maafkan, jika hatiku belum sedekat itu.  Justru pintu hati ini baru saja akan kubuka, ketika kusadar Citra akan segera pergi dari kehidupan kita.


“Maafkan, aku Cipukk, aku tak tahu waktu ternyata berlalu begitu cepat.”


Kau mendongak menatapku, memandang lekat di kedua bola mataku. Kutahu kau sedang mencari resah yang tersembunyi.


“Kau sedang bingung, Cupikkk?”


Kujawab dengan senyuman, kau pasti akan merasakan apa yang aku rasakan tanpa aku ceritakan. Kulihat dirimu tersenyum kembali.


“Kutahu kau akan memperbaiki semuanya, berjuanglah Cupikk.” Aku mengangguk. Kau selalu dapat membuat hatiku kembali damai, mendukung dan menguatkan langkahku.


“Kau tahu apa yang kubawa?”


Matamu berbinar, selalu begitu jika tak sabar menunggu surprise  yang kubawakan untukmu.


“Apa Cupikkk?”


Kukeluarkan sekerat roti dari dalam tas dadaku.


“Yeaaa … remahan roti untuk merpati!” sorakmu ceria, aku tertawa bahagia.


Tak kupedulikan orang-orang yang menjauh dari tempat kita duduk, biarkan saja mereka keheranan atau kasihan, tak begitu kuperhatikan roman wajahnya.


Kulemparkan remahan roti ke arah merpati yang telah menunggu di sekitar bangku taman, makhluk-makluk kecil itu berkerumun mematuk dengan gesitnya.


“Cipukkk, ulurkan tanganmu.” Bisikku sepenuh hati.


Kau menurut, kembali kauulurkan tanganmu ke depan. Begitu juga, diriku, kuulurkan tanganku di bawah tanganmu yang terulur.  Di atas telapakku terdapat remahan roti yang tersisa, dua ekor merpati terbang dan hinggap disana. Mereka memandang ke arah kami, mengerling memiring miringkan kepalanya, kemudian mematuki remahan roti yang ada.

__ADS_1


Kau tertawa, aku pun tertawa. Berharap waktu berhenti disitu, namun senja tetaplah berlalu.


.......…....


__ADS_2