
Pantai Jetis
'Kadang kita butuh sendiri, karena kesendirian membuka hati kita untuk mencerna arti kesepian'
“Lha kemana?”
Shit. Mengapa aku ditinggalin, kemana Ghifa pergi? Mengapa aku juga merasa hampa sendirian disini? Kunthi benar-benar sudah mulai mengusik posisiku sebagai tempat Ghifa bergantung. Tentu saja ini tak bisa kubiarkan.
Kuraih gawai mengirim pesan pada Ibu, menanyakan tujuan Ghifa tamasya hari ini. Beberapa saat kutunggu, balasan emot tertawa Ibu membuatku merasa kembali diledek. Untungnya tak lama, Ibu mennulis suatu tempat ‘Pantai Jetis’. Bingo!
Segera kubersiap, membereskan kegiatan merapikan ranting mawar yang baru saja kumulai. Mengambil jaket dari bahan denim berwarna navy, sekedar membungkus kaos oblong abu tuaku. Dan mengganti serandal rumahku dengan serandal gunung. Lalu menutup pintu teras samping dan depan, terakhir menuju garasi.
Di depan dua hitam aku terpaku, akhirnya kuambil roda duaku dan membawanya keluar.
[Bu, Gie nyusul Ghifa, ya] kutulis sebuah pesan pada Ibu yang masih di sekolah, meskipun hari Sabtu tidak libur karena masih 6 hari kerja.
[Iya, Gie … ] diikuti dengan emoti tertawa terbahak-bahak. Jangan-jangan Ibu sudah menduga hal ini bakalan terjadi.
Kupacu vario hitamku meluncur ke barat, setelah menutup pagar regol. Tak lupa sempat kukirim pesan pula pada Ardi, siapa tahu dia punya waktu untuk menyusul. Karena hari Sabtu seperti ini, gallery lukisnya penuh dengan pengunjung.
Perjalanan ke barat laut menyusul gadis kecil berambut ikal pun dimulai.
Entahlah, mengapa aku merasa cemburu dengan kedekatan Ghifa dan Kunthi. Gadis beriris mata coklat terang itu mampu membuat hatiku tak tenang. Nyatanya beberapa sifat keras kepala Kunthi mulai menular pada Ghifa. Perasaan ini berbeda dengan yang kurasakan, ketika Ghifa bersama Citra. Apakah karena aku tidak percaya pada Kunthi, atau …? Sejujurnya aku tak punya alasan yang tepat untuk melarang kedekatan mereka.
Melewati lahan persawahan yang cukup luas di saat matahari belum begitu tinggi membawa sepoi angin menembus jaketku yang terbuka. Hingga sampai di persimpangan jalan menuju arah Pantai Jatimalang dengan Dewa Rucinya, kuambil jalan menyeberang ke arah kanan mengikuti jalan Daendles.
Sepanjang jalan Daedles yang lapang dengan banyak jenis tanaman di kiri kanan jalan, kulajukan motorku dengan kecepatan sedang.
Meskipun mempunyai nama yang sama jalan Daendels, ternyata jalan ini keberadaannya telah jauh lebih dahulu dibandingkan jalur daendels yang berada di utara pulau Jawa yang merupakan peninggalan seorang Jenderal Belanda yang dikenal bengis oleh rakyat Indonesia.
Menariknya, jalan daendels selatan dahulu digunakan dimasa kerajaan sebagai jalur Urut Sewu. Hingga kemudian jalur tersebut digunakan oleh Pangeran Diponegoro untuk melakukan perang dan pertahanan di sekitar Bagelen Purworejo. Sehingga jalur selatan tersebut sempat dikenal sebagai Jalan Diponegoro.
__ADS_1
Pasca Perang Diponegoro, Bagelen dibagi menjadi empat wilayah yakni Kebumen, Ambal, Ledok, dan Kutoarjo. Pada masa tersebut, sekitar tahun 1883 wilayah Ambal dimana Jalur Diponegoro berada dikepalai oleh seorang Assistent-resident (semacam Walikota) yang bernama A.D. Daendels dengan seorang Regent pribumi bernama Raden Tumenggung Purbanegara. Nama A.D Daendels inilah kemudian yang dijadikan nama pengganti untuk jalur Diponegoro.
Meski A.D. Daendels (1838) sebagai Assistent Resident Ambal di pantai selatan tersebut lebih muda masanya dibanding dengan Herman Willem Daendels saat membangun Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan, De Grote Postweg di tahun 1808, akan tetapi jalan tersebut keberadaannya memang jauh lebih awal dibanding dengan jalan "Daendels" Utara.(1)
Hanya berkisar tak lebih dari 3 km dari perempatan jalan aku menyeberang tadi, terlihat gapura di kiri jalan yang mengarah pada Pantai Jetis dan pantai Ketawang.
Kubawa si Hitam memasuki gerbang wilayah pantai, hingga menjumpai tempat parkir yang lumayan luas berada di sisi kiri dan kanan bangunan semcam tugu bertulis Pantai Jetis yang berada di bawah rimbun cemara laut.
Pantai Jetis adalah sebuah pantai di pesisir selatan daerah Purworejo. Letaknya di desa Patutrejo, berada dalam wilayah kecamatan paling ujung barat laut kota pensiun, atau saat ini dikenal sebagai Kota Pejuang.
Wilayah ini berbatasan pula dengan wilayah Kabupaten Kebumen. Pantai ini termasuk dalam bagian pantai Ketawang yang dikenal terlebih dahulu sebagai tempat wisata pesisir yang ada di daerah Kecamatan Grabag. Letak pantai ini hanya berkisar 55 Km dari Kabupaten Wonosobo dan 63 Km dari Kota Jogyakarta.
Dulunya Pantai ini dikelola oleh sebuah perusahaan tambang karena kandungan pasir besinya. Setelah habis masa bakthinya di tahun 2007, maka perusahaan tersebut melakukan reklamasi lahan pada akhir masa operasional. Masyarakat ketika itu meminta kawasan pantai dihijaukan dengan ditanami cemara udang dan kelapa serta Lubang-lubang bekas tambang diratakan.
Ternyata selain cemara udang, di daerah tepian pantai Jetis juga ditanamani pohon pinus. Seiring berjalannya waktu masyarakat mulai berpikir bahwa Pantai tersebut bisa dikembangkan untuk pariwisata. Pelan-pelan kawasan itu dibangun, beberapa gazebo didirikan. Pengunjung datang sedikit-sedikit. Setelah itu, barulah perubahan ‘ekstrim’ dilakukan sekitar pertengahan tahun 2016. Mereka memikirkan konsep unik untuk mempercantik Pantai ini.
Dipakailah ide ‘Taman Payung Pantai Jetis’. Mereka mulai memasang ratusan payung di dahan cemara. Membuat beberapa spot untuk bersantai di bawah rimbunnya hutan cemara, arena bermain anak termasuk kolam renang buatan dengan air tawar, tempat selfie, gubuk istirahat di tepi pantai hingga beberapa gardu pandang setinggi kurang lebih enam meter.
Karena karakteristik ombak pantai selatan yang terkenal keganasannya dan besar pula, pengunjung dianjurkan untuk tidak berenang di laut. Meski begitu beberapa pengunjung masih diperbolehkan untuk sekedar membuat mainan pasir, asal sedikit jauh dari hempasan gelombang, bermain air, dan berlari di kejar ombak.
Sebagai gantinya banyak gazebo dibangun di bibir pantai untuk tempat pengunjung menikmati deburan air laut.
“Terima kasih, Mas.” Kata pemuda yang menangani parkir, ketika kumenolak uang kembalian dari nilai kertas retribusi parkir yang tertulis.
Aku hanya mengangguk, meletakkan helmku di jok motor. Belum banyak kendaraan yang terparkir disana. Hanya ada beberapa kendaraan roda dua, dan 4 mobil yang salah satunya adalah ‘Rubinson’ hitam milik Kunthi.
“Masih sepi, ya Mas?” tanyaku mengakhiri pandangan memutarku.
“Iya Mas, nanti menjelang sore biasanya semakin ramai sampai besok hari minggu,” sahut pemuda jangkung dengan wajah tirus itu.
“Oh … “
__ADS_1
“Mas kok, sendirian? Biasanya orang yang datang kesini kalau tidak dengan keluarga ya dengan pasangannya lho, Mas.” Kepo pemuda itu sambil memutar topi petnya ke arah belakang.
“Emang ndak boleh datang sendirian?” sungutku sedikit tersindir.
“Hahaha ya boleh to, Mas. Saya juga jaga parkiran ini sendirian, teman-teman yang lain datang paling jam10 nanti.” Hiburnya sambil menahan senyum, mungkin takut terlihat menyindirku lagi.
“Kadang sendirian itu mengayikkan, Mas.” Hiburku pula.
“Ah. Siapa bilang, Mas? Kalau sendirian itu ya kesepian!” protesnya tak setuju sambil mengumbar tawa yang tadi sudah ditahannya.
“Ah, terserahmulah, kalau begitu.” Sambutku dengan tawa masam pula, sembari meninggalkan tempat parkir.
“Okey Mas, silakan menikmati Pantai Jetis …” serunya mengiringi langkahku.
Sempat kuacungkan jempolku padanya sebelum lebih jauh kutelusuri deretan pinus bersanding dengan cemara laut, dimana ratusan payung warna warni digantung sepanjang jalan dalam satu jalur. Namun tak kutemui keberadaan Ghifa disana.
Langkahku berlanjut, mendaki gundukan pasir berselimut rumput sebelum menuju hantaran bibir pantai di sisi timur.
Beberapa orang terlihat tengah bermain dengan pasir dan mengejar riak yang singgah, lalu berbalik berlari ketika ombak bergulung kea rah mereka dan melambat di tepian pantai kembali. Tak juga kulihat gadis kecilku.
Mungkinkan di area barat? Langhku terhenti di dekat sebuah gubuk beratap anyaman daun kelapa. Apakah perlu aku naik terlebih dahulu ke gardu pandang agar aku bisa menyapu keseluruhan tempat ini untuk mencari keberadaan Ghifa?
Tapi sebelum itu kulakukan, sebuah tepukan pelan yang mengejutkan mendarat di bahuku.
“Mas Gie, cari siapa?”
...……...
1 https://www.goodnewsfromindonesia.id/2016/05/17/jalan-daendels-yang-ini-ternyata-dulu-digunakan-untuk-jalur-perjuangan-diponegoro
__ADS_1