
Terhalang Penjaga
Meski ruang itu terhampar luas, tapi tak selalu terasa lapang. Ketika rasa terhimpit duka, perih akan terasa.
“Sekarang?!”
“Kau yakin, Gie?!”
“Lu tidak akan mencoba menggagalkan, pernikahan Citra dan Anton, kan?!”
“Kau tidak sedang emosi, Kan Gie?!”
Cercaan pertanyaan dari Ardi dan Agung hanya kutanggapi dengan senyum terkulum.
“Aku hanya ingin bicara, sobat. Biarkan Citra menjalani awal kehidupan barunya dengan hati lega tanpa beban. Aku harus sampaikan permohonan maafku secara langsung.”
Aku beranjak dari dudukku.
“Kalian yang mencoba menjodohkanku, tapi membiarkanku tak bersikap. Sekarang kalian harus temani aku menyelesaikan semua ini!”
Kataku tegas.
“Shit!”
“Kau, jangan nekat, Gie!”
“Aku tidak nekat, aku tak mau menunda masalah lagi. Meski ini terlambat sekalipun akan kuhadapi, yang penting tidak ada masalah yang mengikuti di kemudian hari.”
Agung dan Ardi terpana, peluhku menetes karena resahku. Jantungku berdetak lebih keras, Laras. Benar katamu aku harus mulai membuka diri untuk Ghifa. Sebenarnya tak hanya Agung dan Ardi yang memikirkan kebahagiaanku. Tapi berulang kali kau coba buka mataku. Kau sering menanyakan Citra ketika setiap kali kita bertemu di setiap petang. Bagaimana bisa, kau buka ruang untuk bersama rasa yang lain, Laras?
“Baiklah, Ayo!”
Aku bergegas menuju Matic hitamku tanpa bicara lagi. Sementara Agung berlari kecil ke bangunan samping, dan tak lama kemudian ia sudah keluar dengan mengendarai matic mungilnya.
“Kau yakin, Gie?”
Ardi masih menanyakan keyakinanku.
“Aku tak ingin menghukum diriku lebih berat lagi, Ar.” Jawabku pasti.
__ADS_1
Ardi menepuk kedua pundakku dari belakang.
“Aku akan mendukungmu! Jangan lagi tenggelam dalam duka, Gie. Aku tak mau kau bersedih lagi!”
Kata Ardi penuh tekanan. Agung menggerakkan dagunya mengajak kami untuk segera berangkat.
“Ayo, bro!”
Agung melajukan motornya di depan, kembali kearah darimana kami datang. Tentu saja kembali melewati kedua gang yang tidak begitu kuperhatikan. Kompleks perkampungan yang rapi dengan jajaran bunga cantik manis warna-warni di sepanjang pinggiran jalan. Gerbang setiap gang dicat dengan warna cerah, hingga terkesan ceria. Kemudian laju kami kembali ke jalan utama sebelum sampai di depan rumah Citra. Kami sengaja memakirkan kendaraan di luar gerbang.
Semua sudah siap. Kesibukan terlihat di sisi kiri pendopo. Jalur itu sesekali ramai dengan ibu-ibu dan juga gadis-gadis, membawa kardus-kardus yang dibungkus dengan kain segiempat untuk mempermudah menjijingnya. Sebagian menggunakan sepeda motor, sebagian yang lain jalan kaki. Tradisi ater-ater makanan masih dilakukan oleh keluarga Citra, bukan hanya sekedar menyebar undangan.
Agung menghentikan salah satu Ibu yang kebetulan baru saja kembali.
“Lik Miah!”
“Eh, mas Agung, Ada apa?”
“Bisa minta tolong, Lik?”
“Mau ketemu Mbak Citra? Nanti tak sampaikan sama Bu Cipto, ayo duduk dulu Mas. Monggo monggo, duduk dulu,”
Sambut Ibu yang dipanggil Agung dengan Lik Miah, ramah. Lalu bergegas menuju ke dalam rumah.
Nuansa serba putih dengan kombinasi biru laut menjadi warna dominan. Dari kain penutup kursi yang berwarna putih dengan variasi pita belakang berwarna biru, hingga kain penutup atap tenda dengan rumbai bagai gulungan lampu besar juga putih dan biru. Termasuk hiasan dari bunga bunga yang diatur di setiap sudut.
Terus terang, hatiku gamang, seperti tak berpijak. Teringat kembali moment yang pernah juga aku lewati 5-6 tahun yang lalu, bersamamu, Laras. Meski tak semewah yang sekarang terhampar di hadapanku, tapi senyummu merekah, tersipu dalam kesahajaan. Hatiku saat itu terasa begitu sejuk, seakan berada di bawah air terjun yang mengalir dengan riangnya.
“Gawat! Lihat disana, itu kerabat Anton yang jadi bodyguard Citra!”
Agung mengarahkan dagunya pada seorang gadis yang tiba-tiba saja menyembul dari balik panggung pelaminan. Nampak jelas matanya menyelidik ke arah kami, kemudian sibuk memainkan jempolnya di layar gawai. Sementara Citra tak kunjung keluar.
Dari sisi yang lain Lik Miah membawa napan berisi tiga gelas panjang dan dua piring penuh berisi kue-kue. Langkahnya cepat menuju tempat kami duduk menunggu.
“Ayo, Mas diminum dulu.” Kata Lik Miah sembari menurunkan gelas berisi teh panas dari napan. “Bapa dan Ibu sedang tidak di rumah, tapi kalau Mbak Citra ada, tadi Lik Miah sudah bilang sama mbak Santi, tunggu dulu ya, Mas. Paling sebentar lagi juga keluar.” Penjelasan Lik Miah panjang.
“Mbak Santi yang itu, Lik?” tanya Ardi berlagak lugu, tapi nada bicaranya terdengar kesal. Telunjukknya mengarah pada gadis yang menatap kami seperti melihat hama. Sontak pandangan Lik Miah mengikuti telunjuk Ardi.
“Lhah, hemmm. Itu anak, ada tamu kok dibiarkan saja!” Lik Miah mengumpat jengkel. “Dah, Mas monggo diminum dulu, tak panggilke lagi, tenang saja. Kemarin juga ada tamu mbak-mbak ada 5 orang kalau tak salah, eh dicuekin juga sama mbak Santi itu. Kasihan Mbak Citra, kan? Mosok menemui temannya saja tidak boleh? Keterlaluan!” gerutu Lik Miah, kemudian terlihat menghampiri gadis yang bernama Santi.
__ADS_1
Terlihat dari tempatku duduk, Lik Miah sedang beradu mulut dengan Mbak Santi yang tengah mengajukan argumennya pula. Kelihatannya bukan hanya sekali ini, Lik Miah berurusan dengan gadis itu, terlihat dari roman muka dan gerakan tangannya. Perdebatan mereka hanya terdengar samar dari kami menunggu.
“Lik Miah itu masih kerabat jauh keluarga Citra,” Ujar Agung.
“Pantesan, berani juga. Jadi ikut jengkel dengan sikap Santi,” balas Ardi.
Kubuka tutup gelas stenlis, panasnya menjalar di ujung jari. Kepulan uap air kemudian melesat seakan mencari jalan kebebasan setelah sebelumnya terkungkung.
“Itu kerabat Anton, sejak diputuskan ya, dia langsung menjadi penjaga Citra. Apa sebenarnya yang ditakutkan Anton?” kata Agung dengan tekanan di kalimat akhir dan melayangkan lirikan sudut matanya ke arahku.
“Mengapa sampai overprotected seperti itu?”sahut Ardi.
“Entahlah…”
Aku hanya diam, mengambil gelas teh yang sudah kubuka tutupnya, dan mulai menyesap isinya. Manis, berbaur dengan rasa teh yang kental, legit. Beberapa menit kemudian, Lik Miah kembali tergopoh ke arah kami. Wajahnyanya ditekuk.
“Sabar ya Mas, kata Mbak Santi, Mbak Citra tidak boleh menerima tamu pria sembarangan. Terutama yang bernama Mas Gie. Katanya mas Anton takut. Aeng-aeng saja! Wong Mas Agung dan teman-temannya ganteng-ganteng gini lho ya, tidak ada yang menakutkan, kok takut!”
Cerocos Lik Miah jengkel.
“Huhhh! Memangnya wajah mas Gie itu seperti apa tho, kok sampai membuat Mas Anton takut? Lagian ini kan yang dicari Mbak Citra to? Bukan Mas Anton, Biarin Mas Anton takut, yang penting mbak Citra tidak, selesai. Wong mau ketemu temannya kok ndak boleh, jiannn mbak Santi dan mas Anton, iki lho aeng-aeng ae. Dah disekecakke dulu yo Mas, nunggu dulu. Tak tinggal ke dalam.” Pamit Lik Miah setelah melepaskan semua gerundelannya yang panjang lebar.
Agung dan Ardi serentak menatapku. Kubalas dengan tegukan teh, yang menjalar hangat di tenggorokan. Sementara Santi masih mengawasi kami dari kejauhan.
“Mau nunggu sampai, kapan ini?” tanya Ardi.
“Sebentar lagi, sepuluh menit sampai lima belas menit lagi, kalau tak ada yang menemui, ya kita pamit.” Sahut Agung.
Beberapa saat kemudian, gadis yang disebut Mbak Santi itu menghampiri.
“Mas-mas mau ketemu Mbak Citra ya?”
“Iya mbak, Mbak Citranya sedang ngapain?” tanya Ardi.
“Maaf ya, Mas. Mbak Citranya masih istirahat,” alih Santi.
Agung ingin membuka suara, tapi tertahan. Ketika sebuah sapaan lantang kami dengar.
“Wooiii, Agung!”
__ADS_1
Disana, dari arah gerbang kanan, Anton berjalan cepat menuju ke arah kami.
...….....