Bangku Taman

Bangku Taman
CITRA


__ADS_3

CITRA 


Ini tentang kisah yang harus berliku diantara tikungan yang tak bersahabat dan berpihak. Pilihan bukan lagi menjadi hak kita, mau atau tidak, jalan yang dilewati hanyalah maju ke depan. Karena pijakan yang sudah terlewat telah runtuh menghujam.


“Citra, Gie!”


“Ada apa dengan Citra, Gung?”


“Citra …”


Tuttt


Tuttt


Putus? Kusambungkan lagi nomor Agung, tak ada respon. Sinyal mental, atau low bat? Kubuka chat Ardi yang belum terbaca. Dahiku berkerut, gerahamku menjadi kaku, dadaku terasa sesak.


“Ayaa…”


Tiba-tiba suara Ghifa memanggil dan berlari ke arahku, spontan kuletakkan gawaiku di atas meja.


“Ada apa sayang?”


“Ikut sini, Ayaa!”


Aku menurut, mengikuti langkah kecilnya kembali ke arah taman.


“Ayunan, Ayaa…”


“Ayokkk…”


Kuangkat Ghifa dan kududukkan di ayunan bulat yang ada di samping kolam.  Rinto duduk di depannya, tak kulihat keberadaan Rani. Kedua anak itu berayun berhadap-hadapan. Rani berlari dari arah dalam sambil membawa boneka kuda poni, rupanya gadis kecil itu sempat masuk ke dalam rumah, saat aku menerima telepon dari Agung.


“Ayun! Ayun! Ayun, Ayaaa!” pintanya sembari memamerkan gigi putihnya yang berderet.


“Hahaha …” Rinto ikut tertawa.


“Iyaaa, Ghifa, Kak Rinto, senang?”


“Senang, Om!”


Ghifa mengangguk kuat,  aku ikut tersenyum melihatnya mulai ceria. Tapi mata bulat itu, seperti menyimpan sesuatu. Sendu.


“Kak Rani saja yang ayun, ya adik kecil,” bujuk Rani lembut sambil memberikan boneka kuda poninya. 


Sekarang kedua tangan Ghifa mendekap dua boneka. Ghifa menatap Rani kemudian menoleh kepadaku.


“Ghifa sama Kak Rani?” Ghifa hanya melirik tapi kemudian tersenyum dan mengangguk.  Kuusap rambut anak-anak itu sebelum pamit kepada mereka untuk kembali ke teras.


“Ayo diminum, Gie. Keburu dingin nanti,” sambut mas Dikto begitu aku kembali duduk di bangku kayu  besar yang berada di teras rumah Abah dan Ummah.


“Iya, Mas.” Kuteguk wedang uwuh yang disajikan Mbak Dewi.  Terasa manis pedas, jahenya terasa menghangatkan, aroma cengkehnya membuat dadaku menjadi lapang. Mas Dikto juga menyeruput dari gelasnya. Kuletakkan gelasku yang tinggal separo, kemudian kubuka kembali gawaiku. Belum semua chat Ardi kubaca tadi, ketika Ghifa menarik tanganku.


[Gie, ada kabar dari Agung]


[Semalam ia belum bisa bertemu dengan Citra]


[Anton masih disana]


[Tadi pagi, Agung kembali]

__ADS_1


[Ternyata Citra…]


Slaap


Layar gawaiku menghitam, baterai habis. Ceroboh! Mengapa semalam kubiarkan Hp tergeletak tanpa di charger? Di saat genting seperti ini, akhirnya harus menunggu benda pipih itu kembali bertenaga.


“Maaf, Mas Dikto, bisa ikut charg?”


“Oh, ya mana Hpnya, Mas chargkan.” 


Kuberikan gawaiku yang kemudian dibawa Mas Dikto ke dalam. Aku beranjak melihat ke tempat Ghifa bermain. Udara pagi masih terasa sejuk, mentari masih berada di sudut tiga puluh derajat. Menelusup diantara  rimbun daun mangga, jatuh sebagai bayang yang lembut. 


Tak berapa lama Mas Dikto kembali sembari membawa  dua piring buah mangga yang sudah dipotong dadu. 


“Mangga nih, Gie. Panen dari pohon di depan, ayo diicipin!”


“Ya, Mas.” Sahutku.


Kemudian kupanggil anak-anak yang masih bersendau gurau sambil duduk di ayunan. Kulihat Rinto dan Rani tengah berlomba bercerita pada Ghifa, sehingga gadis kecil itu tak berhenti menarik bibirnya.  'Ah, seandainya kau lihat ini, kau pasti akan sangat bahagia, Laras. Gadis kecil kita sedang berada disini, di rumah, dimana kau lahir dan tumbuh besar.'


“Anak-anak, ada yang mau mangga? Sini dulu yok!”


Rani, Rinto dan Ghifa menoleh. Mereka seperti berembug sebelum menentukan untuk berhenti bermain sebentar. Rani membantu Ghifa turun dari ayunan, membawakan satu bonekanya kemudian mengandeng tangan Ghifa. Rinto mengikuti dari belakang.


Kuraih Ghifa dalam gendonganku kemudian kuajak duduk di bangku kayu.  Rani dan Rinto sudah terlebih dulu duduk disana setelah sebelumnya membasuh tangan mereka di air kran yang berada di dekat bunga perdu. Mereka  asyik minum air putih yang sudah disiapkan oleh Mbak Dewi.


“Ghifa mau?” tawarku sembari mengambilkan potongan mangga pada piring kecil dengan tusuk gigi untuk mengambilnya. Gadis berambut ikalku mengangguk.


“Haa…” 


Ghifa membuka mulutnya ketika kumenyuapinya.


“Manis kan dik…” Rani tersenyum dengan mulutnya masih mengunyah.


Mas Dikto pun ikut terkekeh, kami menikmati mangga harum manis itu sampai tandas tak tersisa. Kubiarkan waktu ini berjalan untuk Ghifa, senyumnya yang mengembang cukup sebagai penawar murungnya beberapa hari ini. Setidaknya, semenjak di rumah ini Ghifa tak bertanya tentang Mama Citra.


Keseruan bertambah ketika Ibu keluar bersama Ummah, Abah di belakang beliau berdua.  Kemudian sibuk saling menggoda, Ghifa berkali terkekeh. Rinto pandai melucu, Mas Dikto menggodanya dengan gemas,  dan Rani begitu lembut menanggapi. 'Ah, Laras. Aku kembali teringat dirimu. Keluarga yang begitu hangat, inikah yang membuatmu selalu dapat tersenyum dengan tulus?'


Ibu duduk di sampingku, Abah dan Ummah mengapit Rani dan Rinto.  Teras yang cukup luas untuk bercengkerama.


Drrt


Drtt


Suara gawai ibu berbunyi, Ibu mengambilnya dan menyerahkannya kepadaku setelah melihat nomor panggilan di layar. 


“Dari Ardi, Gie. Terima dulu!” perintah Ibu sambil mengambil Ghifa dari pangkuanku, untuk duduk sendiri. Aku beranjak menjauh di sisi teras yang lain sebelum kuterima panggilan dari Ardi.


“Gie!”


“Slow, Ar. Maaf Hpku mati. Ada apa?”


“Citra sakit!”


Deg.


Aku terdiam, menata debar jantungku yang tiba-tiba menderu.


“Sa – kit?”

__ADS_1


“Waktu itu, Citra drop. Tensi turun dratis. Anton melarangnya dibawa ke rumah sakit!”


“Apa!? Apa maksud Anton?”


“Begitulah, Anton meminta Citra tetap dirawat di rumah. Dokter pribadi Anton yang langsung menangani.”


Kusandarkan bahu kiriku pada tembok di dekat jendela.


“Kau tahu apa penyebabnya? Mengapa Citra sampai drop?”


“Kata Agung, beberapa hari sejak undangan disebar Citra susah makan. Kelihatannya sifat posesif Anton justru membuat Citra tertekan.”


Terdengar dengkusan kesal Ardi.


“Mengapa orang tua Citra tak bersikap?”


“Aku kurang tahu tentang itu, Gie.”


Kami terdiam.


Pikiranku melayang, tak tenang.


“Yang jelas, Citra masih dalam keadaan sakit sekarang, Gie!”


“Apakah, pernikahan mereka akan diundur?”


“Tidak ada pembicaraan ke arah situ. Tapi Anton lebih memperketat penjagaan kata Agung.”


“Berarti, Citra tidak bisa dijenguk?”


“Tidak olehmu!”


“Maksudnya?”


Kudengar lagi helaan nafas di seberang


“Anton memperbolehkan Citra bertemu beberapa teman. Itu saran dari dokternya, agar Citra tidak semakin tertekan. Tapi aku rasa, kau tetap akan dilarang untuk bertemu dengannya sebelum akad nikah berlangsung.”


“Mengapa? Apakah Anton menyampaikan sesuatu tentangku?”


“Yah, begitulah…”


“Apa itu, Ar?”


Diam. Tidak ada jawaban dari Ardi. 'Apa-apaan ini? Jadi Citra sakit? Sebenarnya apa yang dilakukan Anton kepada Citra? Ahh … '


“Apa kata Agung, Ar? Agung kan yang memberimu informasi?”


Ardi tak menjawab.


“Ar?” seruku meminta jawaban.


“Nanti saja, setelah kau pulang. Yang penting kamu sudah tahu keadaan Citra sekarang.”


“Ardi?” protesku.


“Aku tutup dulu, dah kau tenang saja. Kami juga masih memantau keadaan.”


Klik.

__ADS_1


Telepon diputus.


.............


__ADS_2