Bangku Taman

Bangku Taman
The Bumblebee


__ADS_3

The Bumblebee


Jika dihadapkan padamu dua pilihan, apa yang akan kaugunakan sebagai dasar menentukan pilihan? Harapan atau Kenangan?


“Ghiffaaa! Tunggu! Berhenti!”


Panik, kuputar maticku mengejar  the bumblebee yang melaju kencang di pagi sepi.


“Berhenti!” teriakku parau.


“Ghifaaa!”


Ciittt.


“Awasss!”


Brukk!


Dug.


Aku terhempas  di trotoar. Sebuah motor menabrak bagian depan motorku hingga terdorong menepi. Peganganku goyah, terlepas dan ambruk. Aku refleks terlontar, dalam hitungan detik kucoba teknik jatuhan, mencoba mengurangi cedera yang mungkin terjadi.


“Arggh!”


Bahu kiriku menjadi tumpuhan jatuh, terasa nyeri. Masih sempat kulihat ekor si sedan kuning meluncur membelah jalanan menuju jalur utama, kuingat kuat nomor pada plat mobilnya sebelum hilang di tikungan.


“Ghifaaa!”


Bergegas kumencoba berdiri, pengendara motor yang menabrakku mendekat dengan wajah gusar.


“Ma – af, Mas.”


Seorang gadis berkerudung misty blush dengan canggung membantuku berdiri.


“Arggh!” ternyata kaki kiriku agak terkilir, benturan yang terjadi terasa sakit.


“Ma-af, Mas. Saya tidak sengaja …” ucap gadis itu terbata-bata, ketakutan terpancar di raut mukanya. Sementara mataku terasa berkaca-kaca. 'Ghifa, apa yang akan mereka lakukan padamu, Nak? Siapa mereka?'


“Sakit ya, Mas? Kok nangis?” Gadis itu tetap memegang lenganku, kulirik dia dengan satu kali lototan. Segera dilepaskan tangannya. Aku kembali duduk di pinggir trotoar, meluruskan kaki kiriku. Jalanan sepi, hatiku yang gundah.


“Maaf…” 


Gadis itu kemudian berlari mendirikan motorku yang terjatuh dengan posisi miring. Untung tak terseret. 


“Maaf Mas, masih bisa naik motor, atau…”


Suara gadis itu terhenti. Aku tak perdulikan, pikiranku kacau. Kuambil gawaiku di saku celana, dan dengan cepat kupencet nomor milik Ardi.  Gadis yang menabrakku masih berdiri dengan kikuk di samping motor dan menatapku dengan cemas.


Satu kali dering, sambungan terhubung.


“Ar, Ghi-ghi-fa diculik!” ucapku gagap, menahan isak.


“Apa?” teriakan Ardi menghatam telingaku


“Aku ditabrak motor!”


Sambungku sambil melirik ke arah gadis yang memakai kulot moca dengan kaos senada yang masih tertunduk menunggu.


“Apa? Gie? Dimana kau?” seru Ardi dengan nada gusar.


Tuuttt

__ADS_1


Kuputus sambungan telepon, lalu ku share lokasi tempatku berada melalui whatsapp ke nonor Ardi.


Kemudian kuscroll nomor kontak, search pencarian satu nomor, ‘Mas Lutfi’. Saudara sepupuku itu bekerja di kepolisian. Tidak semua keluarga tahu di bagian apa Mas Lutfi berkecimpung. Yang kutahu dia lebih sering melepas baju seragamnya, maka tentu saja ia bukan di bagian Lalu Lintas. Dan sekarang hanya mas Lutfi dalam pikiranku untuk membantu mencari keberadaan the bumblebee.


Dadaku terasa sangat berat, nafasku sesak. Aku tidak mungkin mengejar tanpa arah, pikiranku berkelana memikirkan Ghifa dan Bik Nah yang berada di mobil berwarna kuning yang sekarang entah melaju kemana.


“Assalamu’alaikum, Gie, apa kabarmu?”


Suara di seberang menyapa dengan  suara yang penuh wibawa.


“Wa-a’lai-kum-salam, mas Lutfi…” jawabku terbata.


“Gie? Kau baik-baik saja?” terdengar Mas Lutfi bertanya dengan nada cepat. Aku yakin dia merasakan aku sedang dalam masalah besar.


“To-long, Mas. Ghifaa di-culik!”


“Apa? Gie?”


Tuutt.


Kuputus telepon, dan kusambung dengan mengirim pesan.


Aku tak tahan lagi. Suaraku habis untuk menahan tangis, tak lagi bisa bicara. Dan akhirnya pecah juga. Aku tak peduli, kubiarkan air mataku lepas. Kutulis pesan dengan cepat.


“Mas, kok nangis lagi…, apa yang sakit mas, ke rumah sakit saja ya…”


Gadis itu berjongkok di hadapanku dengan khawatir. Namun  takkuhiraukan.


[Tolong, cari mobil sedan  Cevrolet  warna kuning, Mas]


[Ghifaa dibawa mobil itu bersama Bik Nah]


[Siaap! Tenang Gie]


[Segera kuhubungi!]


Kutergugu, duduk di pinggir trotoar, kubenamkan wajahku diatas lutut. ‘Ghifa, Laras. Entah apa yang diinginkan orang-orang itu, apa salah Ghifa? Atau, apa salahku pada mereka?’


“Mas, Maaf … ya ...” suara gadis itu terdengar dekat. Aku mendongak, ternyata dia tengah merunduk memperhatikan wajahku.  


“Mas mau ke rumah sakit? Saya akan bertanggung jawab!” ucapnya cepat.


“Tidak.” Akhirnya kalimat pertama yang kuberikan padanya. Bahuku terasa sedkit nyeri ketika digerakkan. Sementara  itu kucoba putar-putar pergelangan kaki, mencari sisi yang mungkin terasa nyeri, mengembalikan kembali otot yang mungkin sempat kaget. Terasa ringan, tapi nyeri masih terasa. Kucoba untuk kembali berdiri, kutahan sakitku.


“Mas, jika masih sakit duduk dulu saja.” Cegah gadis itu.


Aku diam. Tak menjawab, gara-gara ditabrak olehnya, Aku tak bisa lagi mengejar bumblebee yang membawa Ghifaa entah kemana. Dari arah jalan komplek terlihat pemuda gondrong memacu motornya.


“Gie? Apa yang terjadi?” cerocos Ardi setelah memarkir maticnya di belakang  motorku.


Ardi mencek kaki dan tanganku yang sedikit kugantung.


“Ghi-fa, Ar …”


“Kau bilang tadi…”


Aku mengangguk.


“Aku melihat Ghifa dan Bik Nah mengetuk-getuk  kaca  dari dalam mobil, waktu aku mau menyusulnya ke rumahmu. A-ku su-dah mencoba mengejar. Tapi  malah ditabrak olehnya!” ceritaku dengan suara serak.


Ardi menoleh ke arah gadis itu, sesaat kemudian kembali menatapku.

__ADS_1


“Bagaimana ini? Siapa mereka? Kau? Aduh gimana ini, coba kulihat dulu lenganmu!”


Kuusap rambutku gusar.


“Kita harus segera lapor polisi, Gie!” kata Ardi sambil meraba bahu hingga pergelangan tangan. Kemudian memeriksa kaki kiriku yang kubiarkan lurus. Sedikit banyak ia faham bagaimana mengurut orang yang kesleo.


“Aku sudah bilang sama Mas Lutfi. Aku sempat menghapalkan nomor plat mobilnya.”


“Bagus! Sekarang obati dulu lukamu, bagaimana bisa berdiri kan?” tanyanya sambil menepuk kakiku.


Kucoba lagi berdiri, sudah lebih ringan dibandingkan tadi ketika awal jatuh. Telapak kakiku sudah bisa menapak.


“Mas …?”


“Apa?” serentak aku dan Ardi menjawab.


“Maafkan saya, apa yang bisa saya bantu?”  sedari tadi ternyata gadis itu masih menunggu.


Aku mendelik, mau marah tak bisa. Gadis itu sudah minta maaf dan seakan bersiap menanti hukuman. Mungkin juga dia sudah tahu kondisi yang sedang terjadi setelah mendengar percakapanku dengan Ardi. 


“Kau bisa membawa motor ini pulang, Gie?”


“Tangan kananku aman, kurasa aku bisa. Ghifa, Ar…”


Aku kembali goyah, Ardi segera merengkuhku mendekap dan mengelus punggungku. Aku tergugu, pikiranku benar-benar kacau.


“Kita pulang dulu, lalu kita akan cari Ghifa. Gie, kau harus tenang!”


“Aku sudah berjanji pada Laras untuk menjaga Ghifa, Ar. Aku sudah berjanji padanya … tapi,”


“Gie, dengarkan aku! Kita akan membawa kembali Ghifa, kau harus yakin itu!” Ardi memegang kepalaku dengan kedua tangannya, memaksaku menatap pada kedua bola mata hitamnya.


“Kau harus kuat!” kembali Ardi mengucapkan kata-kata itu dengan penuh tekanan. Kuhirup panjang nafasku memasukkan sepenuh yang aku bisa oksigen ke dalam dada, mengurai beban yang memberat dan menyesak.


“Mas …” suara gadis itu kembali menyela.


“Apa?” kembali aku dan Ardi menoleh ke arahnya.


“Aku akan mengantar motor mas pulang. Mas bisa memboceng Masnya, saya akan mengikuti dari belakang,” tawar gadis itu kembali.


“Baiklah kalau begitu,” sahut Ardi.


“Saya benar-benar minta maaf, Mas.  Saya akan membantu sebisa saya,” ucap gadis itu lagi.


Aku hanya diam. Ardi menuju motornya sembari memapahku yang sedikit tertatih, kemudian melajukan motornya pelan setelah aku duduk sempurna di boncengannya. Gadis itu mengikuti dari belakang. Untungnya motorku tak bermasalah, hanya tergores dan sedikit retak di sayap kiri. Tapi mesinnya masih berjalan normal.


Sesekali kulihat gawaiku di tengah perjalanan, berharap mas Lutfi menghubungi.


Drrttt


Drrrtt


Kuangkat  cepat, nomor tanpa nama? Terdengar suara serak di seberang.


“Jangan lapor polisi, aku pinjam anakmu sebentar!”


Tuut.


Tuut.


...….....

__ADS_1


__ADS_2