
Abah dan Ummah
Jalan memang tak selalu mulus, tapi kita diberi cara untuk memilih dan menghindar, hingga kita tetap bisa berjalan sampai tujuan.
Selepas subuh, Ibu dan Bik Nah sudah menyiapkan semua bekal yang mau dibawa ke rumah Abah dan Ummah di Bantul. Long weekend ini, beliau berdua menghendaki Ghifa berlibur di rumah Abah dan Ummah. Tentu saja, aku tak bisa menolak.
Agung juga belum memberikan kabar tentang Citra. Chatku semalam padanya belum dijawab. Yang bisa kulakukan sekarang hanya memberi kabar pada Ardi tentang agendaku hari ini, dan menunggu.
Kubuka wa Ardi, on.
[ Ar, kami mau ke tempat Abah dan Ummah]
[Sekarang, Gie?]
[Iya, langsung tolak. Jadi biar agak banyak waktu, kami berangkat pagi]
[Ohhh, oke. Lalu, Citra?]
[Aku sudah tanya Agung tentang kabar Citra sejak semalam. Tapi belum ada jawaban]
Lanjutku mengetik pesan.
[Tolong jika ada kabar tentangnya, kabari ya…]
[Oke]
[Trims]
Kututup gawaiku kemudian kumasukkan ke saku kemeja. Beberapa barang yang telah siap mulai kubawa keluar dan kumasukkan ke bagasi mobil.
Ghifa sedang asyik mendekap boneka beruangnya, beberapa hari ini gadis kecil kita nampak lesu, Laras. Beberapa kali dia menanyakan Mama Citra. Tak heran, sudah hampir dua minggu dia tak berjumpa. Biasanya paling lama dua hari sekali, Citra akan datang. Menemaninya bermain, membacakan cerita bergambar hingga ia terlelap saat tidur siangnya. Aku lebih sering tak berjumpa dengan Citra, hanya cerita yang kudapat dari bibir mungil Ghifa.
Dan saat ini, aku belum bisa menjelaskan, jika nanti ke depan Mama Citranya akan jarang bertandan lagi.
“Aya?”
“Ya, sayang?”
Kurengkuh gadis kecilku dalam gendongan. Ketika Ibu dan Bik Nah sudah berjalan keluar, tak ada lagi yang tertinggal.
“Mama Citra tidak ikut?”
Tanyanya penuh harap menatapku lekat, 'mengapa aku jadi grogi dipandang oleh Ghifa?'
“Tidak sayang … Mama Citra baru sibuk.” Ibu yang menjawab, sambil membuka pintu mobil.
“Sibuk?” mata bulat yang jernih itu masih lekat tak beralih dari wajahku.
“Iya, nanti kalau sudah tidak sibuk, kita hubungi ya,” rayuku.
Ghifa mengangguk tak semangat. Kubukakan pintu belakang untuknya, bik Nah sudah duduk di sisi satunya. Bantal mungil berbentuk hati di pangkuan Bik Nah siap untuk tempatnya bersandar. Ibu menatapku penuh arti ketika aku sudah memegang kemudi. Menepuk pundakku tanpa berkata apapun.
Selama perjalanan, Ghifa kembali tidur. Tak seperti biasanya, tak terdengar ocehannya yang penuh semangat, menanyakan segala hal yang dilihatnya dengan antusias. Aku mulai khawatir, sesaat tadi aku merasa tubuh Ghifa sedikit hangat.
“Besok pernikahan Citra, Gie?” tanya Ibu setelah beberapa lama. Kami baru saja melewati jembatan Congot, sebagai batas daerah propinsi.
__ADS_1
“Sabtu, Bu. Lusa,” jawabku pelan.
“Oh, bagaimana rencanamu, datang bersama Ibu dan Ghifa?”
Tawar Ibu datar, aku tahu Ibu mencoba bersikap senetral mungkin untuk menjaga perasaanku. Aku mengangguk.
“Sebaiknya begitu, Buk.”
“Bik Nah boleh ikut, Den?” tiba-tiba Bik Nah menyahut dari belakang dengan nada memohon. Aku dan Ibu tertawa ringan.
“Boleh … Bik, bagaimanapun juga Citra merupakan bagian dari keluarga kita. Ibu yakin, Citra juga mengharapkan kedatangan kita semua.”
“Terima kasih, Den. Bik Nah kangen sama mbak Citra,” kata Bik Nah tulus.
“Sama, Bik. Ghifa pasti juga kangen. Tiap hari nanyain terus, iya kan Gie?” Ibu kembali mengusap bahuku.
Aku hanya bisa mengangguk. Selebihnya aku hanya menjadi pendengar selama perjalanan, aku mencoba tetap fokus dengan laju di jalanan yang berangsur ramai. Hari mulai memancarkan cahaya terang. Dari spion atas, kulihat Ghifa terlihat mengusap matanya kemudian duduk termangu. Bik Nah memberikan susu untuknya, gadis kecil itu terlihat menyesapnya.
Perjalanan hampir dua jam, rumah Abah dan Ummah tak jauh lagi. Kuarahkan kemudi memasuki halaman sebuah rumah dengan dua buah manga di dekat pintu gerbangnya. Abah dan Ummah terlihat sudah menunggu di teras. Beliau berdua terlihat beranjak ketika mobil kami memasuki halaman.
“Assalamu’alaikum!”
“Waalaikumsalam….”
“Ghifa cantik…” Abah mencoba menggendong Ghifa, tapi gadis kecil itu menolak. Biasa seperti itu di awal pertemuan, jual mahal.
Ummah dan Ibu saling bertukar sapa. Bik Nah sibuk mengeluarkan oleh-oleh yang dibawa, sementara dua bocil menyambutku dengan ceria.
“Om Gielang!” Rinto dan Rani berebut mencium punggung tanganku, setelah sebelumnya melakukan hal yang sama pada Ibu dan Bik Nah. Kuraih Ghifa yang masih terlihat malas ke dalam gendongan. Rinto dan Rani mulai menggodanya , Mas Dikto dan Mbak Dewi terlihat menunggu sambil tersenyum lebar.
“Bagaimana kabarmu, Gie?” Mas Dikto memelukku dengan hangat, Mbak Dewi menepuk-nepuk bahuku.
“Alhamdulillah baik … mbak, mas,”
Kami melangkah menuju ke dalam rumah, Ibu sudah asyik berbincang dengan Abah dan Ummah di ruang tamu. Bik Nah mengikuti Mbak dewi ke dalam sambil membawakan bawaan. Aku duduk di teras depan yang lumayan luas, Ghifa masih mengelayutkan tangan mungilnya di leherku, sementara tangan yang lain mendekap boneka beruangnya.
“Ayook Main Ghifa!” ajak Rani, Rinto tersenyum lebar di sampingnya. Bola matanya berputar-putar menggoda Ghifa.
“Ghifa mau main?” tanyaku lembut.
Gadis kecil berambut ikal yang cantik di gendonganku ini tak menjawab. Dia menunduk, wajahnya tanpa senyum, matanya menatap tajam waspada.
“Kenapa sayang? Masih ngantuk ya?” sapa mas Dikto sambil mengusap rambut Ghifa. Ghifa menghindar membelalakkan matanya tak suka. Tapi sikap Ghifa justru membuat Mas Dikto dan kedua anaknya tertawa.
“Hahaha, Ghifa galak sekali!” Rinto anak usia tujuh tahun itu, terpingkal-pingkal melihat ayahnya kena lotot gadis sekecil Ghifa.
“Hihihi, Ghifa lucu …. Ihhhh!” Rani mencubit kedua pipi Ghifa dengan kedua tangannya, tak peduli dengan tatapan Ghifa yang masih galak.
“Cipikkkk…, main sama Kak Rinto dan Kak Rani ya…?” rayuku.
“Apa? Cipikkk?” Rinto tertawa semakin keras, kelihatannya ia semakin punya bahan untuk menggoda Ghifa. Mas Dikto bahkan sempat memecet hidungnya untuk tidak tertawa terlalu keras. Tapi Rani yang lebih tua dua tahun dari Rinto mengambil posisi yang lain.
“Cipikkk main sama kak Rani, yokkk…” bujuknya lembut. Ghifa memperhatikan kakak sepupunya.
“Kak Rani punya boneka kuda poni lhoo...” Mata Ghifa terlihat berbinar, dilepaskannya rangkulan tangannya di leherku.
__ADS_1
“Ayaa …”
“Ya, sayang. Ghifa mau bermain sama Kak Rani?” tanyaku dan Ghifa mengangguk pelan.
“Boleh…” kuturunkan Ghifa dari pangkuanku, kedua tangannya masih mendekap bonekanya. Tapi Rani tak kurang akal, ia mengulurkan tangannya menggandeng satu tangan Ghifa dan diajaknya turun ke halaman.
Di sisi sebelah kanan halaman, terdapat taman dengan kolam berbentuk lingkaran berdiameter dua meter dan air mancur di tengahnya. Di dekat kolam itu terdapat ayunan bulat, dan Rani mengajak Ghifa kesana.
“Kamu mau disini saja, boy?” ledek Mas Dikto sambil memencet kembali hidung Rinto yang mancung. Anak laki-laki kecil itu memanyunkan bibirnya kemudian berlari mengejar kakaknya dan Ghifa.
Aku tertawa pelan melihat wajahnya yang jengkel. Mas Dikto suka sekali ngerjain anak laki-lakinya itu.
“Gimana proyeknya Mas? Jalan pesat nih?” tanyaku sambil menyandarkan punggungku.
“Alhamdulillah … lumayan lah, bisnis property sedang berkembang pesat saat ini. Bagaimana pekerjaanmu, Gie?” Mas Dikto balik bertanya.
“Yah, biasalah Mas. Tahu sendiri lah, kami pegawai negeri hanya mengerjakan tugas sesuai tupoksi, kalau mau berinovasi yah di luar itu.”
“Syukuri saja, Gie. Yang penting kita bekerja dengan baik, Insha Allah akan kembali kepada kita dengan baik pula.”
“Aamiin ... iya, Mas.”
Mbak Dewi datang membawa banyak gelas berisi minuman hangat berwarna merah kecoklatan.
“Ayo diminum wedang uwuhnya, seger ini!”
“Terima kasih, Mbak.”
“Mana si cantik Ghifa?”
“Itu Mbak, main sama Rani dan Rinto …”
“Ooh, sudah mau diajak turun?”
Mbak Dewi melongok ke arah taman, wajahnya terlihat lega.
Drrttt
Drrttt
“Suara Hpmu itu, Gie?” Mas Dikto mengingatkan.
“Eh, iya. Maaf permisi, Mas.”
Kuambil gawai di saku kemejaku. Sejak berangkat tadi ternyata banyak pesan Ardi masuk yang belum kubaca dan beberapa kali panggilan tak terjawab dari Agung yang masuk.
Sebelum membaca pesan dari Ardi, kupencet nomor Agung. Satu kali dering, langsung diangkat di seberang, suara Agung langsung nyerocos tanpa salam.
“Gie, dimana kau?!”
“Ada apa, Gung?”
“Citra …”
...……....
__ADS_1