
Pertemuan
"Jadilah seperti bunga yang mengharumkan bahkan kepada tangan yang telah menghancurkannya" (Ali Bin Abi Thalib)
Mobil putih meluncur membelah jalanan lenggang. Deretan sepeda dikayuh baik berlawanan maupun searah jalan, kami temui sepanjang jalan. Minggu pagi, banyak clcying club yang memanfaatkan waktu libur ini dengan melakukan kegiatannya bersama. Terlihat berbagai macam sepeda yang digunakan. Ada pula komunitas sepeda onthel dengan seragam surjan lurik yang dikenakan, bersepeda dengan gagah diatas sepeda-sepeda tua yang terawat dan terlihat berwibawa.
Kubiarkan saja, suara berisik di bangku belakang, ada saja yang diobrolkan Kunthi. Tak henti suaranya mengoceh bagai burung jalak sehabis makan ulat. Ghifa sempat terkekeh-kekeh mendengar banyolan yang menggodanya. Lidya tampak ikut pula menanggapi.
Siapa gadis itu sebenarnya? Datang tak diundang, pulang menunggu disuruh pergi. Sebenarnya dia jaelangkung atau Kunthilanak sih?
“Mas Gie, kenal sama Anton berapa lama emang?” tiba-tiba pertanyaan Kunthi ditujukan padaku.
Kulirik Ardi yang tengah memegang kemudi dan sedang menahan tawanya. Aku mengdengkus.
“Belum lama, emang kenapa?”
“Itu dia pertanyaan berikutnya, Mas Gie! Kenapa Anton punya niat jahat sama mas Gie. Kok Anton takut banget kecolongan, coba pikir! Emang mbak Citra itu pacar mas Gie, ya?”
Kunthi nyerocos tak terkendali. Kelihatannya kampas rem mulutnya memang sudah habis, hingga nyelonong menabrak batas privacy.
“Kepo!”
“Ini masalah serius, Mas. Yang dilakukan kemaren adalah tindakan pidana, lho!”
Aku tak menjawab, tapi Kunthi ternyata ingin berpidato.
“Dengar ini mas, ada kasus seorang paman menculik keponakannya sendiri, nah meskipun pihak keluarga sudah mencabut laporannya tetap saja pihak kepolisian melanjutkan proses." lanjutnya kemudian,
"Menurut seorang Penyuluh Hukum, Dalam hal ini, kasus penculikan yang dilakukan oleh siapapun meskipun yang melakukan perbuatan tersebut adalah pamannya sendiri tetap melanggar hukum, sesuai dengan pasal 328 KUHP yang memenuhi unsur unsur tindak pidana."
Aku masih diam, Kunthi pun tetap bersemangat.
"Penculikan adalah tindak kejahatan delik umum, meskipun pihak keluarga telah memaafkan atas tindakan hukum tersebut polisi tetap memproses perkara atau kasus karena hal tersebut adalah tugas dan kewajiban aparat penegak hukum yang mewakili negara."
Pidato Kunthi masih berlanjut.
"Dan, meskipun pihak keluarga telah memaafkan dan mencabut perkaranya bukan berarti telah menghapus tindak pidana yang telah dilakukan oleh pamannya yang telah memenuhi unsur-unsur tindak pidana tersebut."
"Proses hukum tetap berjalan sepanjang telah memenui delik-delik dalam KUHP tentang tindak pidana penculikan. Yang bersangkutan sulit untuk bebas dari jeratan hukum karena sudah masuk laporan polisi dan ditindak lanjuti mulai dari penyelidikan sampai penyidikan."
Kami masih mendengarkan, tak ada yang mencoba menyela. Bahkan Ghifa pun asyik memperhatikan Kunthi.
__ADS_1
"Kasus hukum yang sudah diproses oleh polisi dan telah dilimpahkan ke Kejaksaan tidak bisa di SP3kan, kecuali dapat dipertimbangkan yang menyangkut kepentingan masyarakat umum secara luas demi keamanan negara."
"Dalam hal ini kasus tersebut diatas murni kejahatan tindak pidana yang sesuai dengan KUHP dan undang-undang SPPA No.11 Th 2012 bahwa anak yang menjadi korban tindak pidana.”
Kulihat gadis kepo bermata coklat itu dari kaca spion. Suara Kunthi berapi-rapi dengan menatap layar HP, mungkin dia sedang membaca hasil googlingnya. Kali ini Ardi tak bisa menahan tawa ia tergelak lepas sesaat. Kemudian kembali serius.
“Sebenarnya benar juga dia.” Gumamnya, sepelan mungkin agar hanya aku yang bisa mendengar.
Aku mendelik, Ardi mulai berpihak pada Kunthi, sementara Lidya hanya tersenyum memperhatikan Ghifa yang melongo memperhatikan Kunthi dengan raut kebingungan.
“Terimakasih Kunthi atas berita yang dibacakan. Tapi aku belum membuat laporan tentang penculikan anak. Jadi Polisi tidak bisa memproses atas kasus yang tidak ada.” Jawabku santai. Tapi Kunthi tak mau menyerah.
“Bagaimana kalau dilaporkan saja Mas, Gie! Biar jadi pelajaran!” sungut Kunthi terlihat geram.
“Sudahlah, yang penting Ghifa selamat, itu yang penting kata Ibu. Kau dengar sendiri kemarin, kan?”
Kunthi terdiam, lalu mengalihkan pandanganya ke arah Ghifa yang masih menatapnya.
“Baaa!”
“Hihihi …” Ghifa kembali terkekeh, karena terkejut. Kedua tangan mungilnya menutup mulutnya, tak rapat.
Apa mau Kunthi sebenarnya? Seenak saja dia masuk, mencampuri kehidupanku, tanpa permisi lagi. Hufff!
Dengan sengaja Ardi membawa mobil Honda jazznya memasuki gerbang sebelah kanan, dan memarkirkannya disana. Ternyata sebuah mobil warna merah sudah terlebih dulu berada di depannya.
Aku segera keluar dari mobil bersamaan dengan Ardi, masih terdengar suara Kunthi di bangku belakang.
“Ini rumah Mbak Citra?” tanya Kunthi dengan suara keras,
“Iya, ayo keluar…” jawab Lidya.
Kubuka pintu belakang untuk membantu Ghifa keluar dari mobil, tapi Kunthi nyelonong dengan kata-katanya.
“Wah, mas Gie baik sekali mau membukakan pintu untukku ...” mata coklatnya berbinar.
“Bukan untukmu, gadis Kepo! Tapi untuk anakku, Ghifa.” Sahutku cepat tanpa senyum.
Tapi justru gadis itu malah tertawa terbahak-bahak.
“Santuy, Mas Gie! Kenapa jadi sewot? Ayo Ghifa.”
__ADS_1
“Mama Citra …” Kugendong Ghifa. Gadis kecil berambut ikal itu kemudian merangkulkan lengannya di leherku.
“Ayok kita temui mama Citra…” ucapku lembut sambil membelai rambut ikalnya.
Ghifa mengangguk kuat. Kunthi menatap ke arah kami dengan mulut terbuka.
“Mama? Jadi Mbak Citra itu, mamanya Ghifa?” gumamnya pelan. Dan kubiarkan dia kebingungan sendiri.
Ardi berjalan mendahului menuju rumah induk, sementara kami menunggu di pendopo yang masih tertata dua meja bundar dengan kursi berbungkus kain putih berpita biru di sekeliling meja itu. Panggung pelaminan masih tak berubah, belum dibongkar. Mungkin menunggu satu dua hari bersamaan dengan membongkar tenda. Kuhela nafasku yang terasa berat.
Bertepatan dengan itu kembali kulihat Lik Miah yang tengah masuk dari arah samping kiri pendopo. Dengan tergopoh perempuan bertubuh gempal yang lincah itu menemui kami.
“Eh Mas yang datang kemarin dulu sama Mas Agung itu, kan? Temannya Mbak Citra? Kenapa kemarin ndak kelihatan, Mas?” sambutnya ramai, kemudian menyalami kami satu per satu dan mempersilahkan kami duduk.
“Iya, Lik …” jawab Ardi kembali berbalik.
“Silakan duduk dulu, ya Mas, Mbak saya panggilkan Mbak Citra.”
“Terima kasih buk.” Jawab Lidya dan Kunthi.
Sambil mengumbar senyum bersahabat Lik Miah segera masuk ke rumah induk. Beberapa ibu terlihat berdatangan dan berjalan menuju sisi samping kiri bangunan. Di daerah ini masih berlaku budaya 'rewang', sebelum dan sesudah acara hajatan. Ibu-ibu akan membantu menyiapkan segala uba rampe hajatan serta akan kembali membantu merapikan rumah hingga seperti sedia kala.
Tak berapa lama, terlihat kedua orang beriringan keluar dari rumah induk. Citra terlihat sangat kurus, matanya cekung dan menghitam bagai mata panda. Pipinya nampak tirus, dan wajahnya masih terlihat pucat. Gadis itu berjalan disamping Anton yang terlihat mengerutkan alisnya begitu melihat kedatangan kami.
Aku beranjak dari dudukku, Ghifa menoleh ke arah Citra, gadis kecil itu menggeliat turun dari gendonganku. Citra membelalak, matanya terlihat berbinar. Ia segera berlari menghambur, ditepisnya dengan keras ketika lenganya sempat ditahan oleh Anton.
“Mama Citra! Mama Citra! Mama Citra!” Seru Ghifa begitu gembira sambil berlari merentangkan lengannya.
“Ghifa cantik!” sahut Citra dengan berurai air mata. Dibawanya Ghifa dalam dekapannya, erat.
“Citra!” bentak Anton spontan, mukanya memancarkan ketidaksukaan.
Tiba-tiba saja gemuruh di dadaku tak lagi bisa dibendung, tanganku mengepal begitu saja. Aku melangkah ke arah Anton dengan cepat, dan…
Bugg!
...……....
__ADS_1