
Hilang Kontak
Jika saja bahagia bisa ditawar tanpa luka. Mungkin aku akan lebih berani mengambil keputusan.
"Gie!"
Ardi berseru dari atas maticnya yang melaju memasuki gerbang. Kuhentikan aktivitasku merawat bunga mawar kesukaanmu, kuncup kuncup merah mulai menyembul diantara hijaunya daun.
Tanggal merah selain hari Minggu, biasa kita isi dengan saling berkunjung. Ardi menghentikan motornya pelan di depan tangga menuju teras. Memastikan Lidya bersama bayinya turun dengan sempurna, kemudian bergegas menghampiriku. Sementara Lidya berjalan menuju dalam rumah. Masih kudengar ucapan salamnya yang kemudian disambut teriakan histeris Ghifa yang kegirangan.
"Gie! Kau benar-benar ya!"
Solotnya galak, wajahnya terlihat kesal.
"Apaan sih?"
"Tidak peka! Kenapa Citra kaubiarkan menikah dengan orang lain?"
Aku terkesiap, bagaimana berita itu langsung sampai ke tempat Ardi? Bukankah baru dua hari kemarin aku datang ke rumah Citra memenuhi undangan orang tuanya?
"Apa maksudmu, Ar?"
"Kau tak kasihan dengan Citra? He?"
Kuhela nafasku, lalu duduk di bongkahan kursi di bawah pohon mangga.
"Justru aku peduli dengannya, maka aku membebaskannya, Ar."
"Kau keterlaluan, Gie. Apa maksudmu dengan membebaskan? Apa kau pikir hatinya kemudian bebas menerima semua hati yang ingin bersinggah? Naif sekali dirimu, Gie!"
Aku terhenyak. Ardi menatapku dengan pandangan prihatin.
"Aku tahu, Laras masih bersemayam di hatimu, tapi apakah kau tahu, bahwa dirimu sudah bersemayam di hati Citra sejak SMA?"
"Jangan terlalu melebihkan, Ar, aku hargai empatimu. Tapi Citra berhak mendapatkan yang lebih baik dariku."
Ardi menghembuskan nafasnya pelan. Menepuk pundakku dan nada bicaranya mulai melunak.
"Ar, kaulah yang terbaik untuk Citra menurutnya."
Aku membisu, dadaku terasa perih, penegasan orang tua Citra kemarin kembali terngiang.
Apakah keputusan ku justru menghancurkan hati Citra?
"Apa yang diceritakan Citra padamu, Ar?"
Kubalas menatap pemuda gondrong di hadapanku. Citra dan Ardi memang dekat sejak SMA, mereka mengikuti kegiatan ekstra yang sama, Seni Theatre. Sementara aku lebih senang di eskul basket dan pecinta alam.
"Bukan dari Citra."
Aku menunggu.
"Agung yang meneleponku, kaget dia. Kenapa undangan yang disebar tidak atas namamu?"
"Jadi selama ini, kalian bersengkolkol menjodohkan aku dengan Citra?" geramku tiba-tiba.
"Eits, tahan emosimu! Aahhh, bagaimana menjelaskan kepadamu, dasar culun!"
__ADS_1
"Enak saja, ngatain aku culun! Emang kamu tidak?!"
Glek
"Dasar konyol!"
"Jelaskan padaku sekarang!"
Kutatap Ardi dengan mulut terkatup. Rasa bersalah yang sempat menggelitik, kini berbaur dengan emosi yang tak berdasar. Melesat begitu saja.
Ardi melirikku, pandanganya terlihat sangat kesal, tangannya terulur mengambil es lemon tea yang belum sempat kuminum.
"Stop! Jangan minum lemon teaku!"
Terlambat isi gelas panjang itu telah terkuras habis.
"Dasar kau pengganggu, sepagi ini kusiapkan untuk melepas lelah, malah kauhabiskan!"
"Panas!"
"Alasan!"
"Bener!"
"Dah, sekarang jelaskan!" sungutku.
Ardi mengusap rambut gondrongnya, melirikku jenggah, bibirnya masih cemberut. Kubalas dengan bibir terkatup rapat.
"Maaf ya, Gie. Tapi sebenarnya Citra serius padamu."
"Ngaco!"
"Dia sayang Ghifa tanpa pamrih!" protesku.
"Justru itu! Dia tak pernah menunjukkan perasaanya. Dia tak ingin mencampur ketulusan sayang untuk Ghifa dan cintanya untukmu."
Aku benar-benar jengkel, sejak pulang dari rumah Citra kemarin, hatiku menjadi galau. Lebih keki lagi, Ibu justru tersenyum-senyum melihat tingkahku. Sementara sampai saat ini aku masih menanggung rasa bersalah. Aku harus bicara dengan Citra, tapi bagaimana caranya?
"Ar, aku tidak tahu apa yang sebenarnya aku rasakan pada Citra, tapi yang jelas aku butuh bicara dengan Citra."
Ardi mengeryitkan alisnya.
"Aku belum mendengar keputusan dari Citra, Aku merasa Pak Cipto memutuskan untuk menyebar undangan itu setelah mendengar keputusanku," Kataku sambil menunduk.
Ardi meninju bahuku.
"Apa yang kauputuskan?"
Kutatap mata Ardi yang mendelik ke arahku. Seperti seorang kakak yang memarahi adiknya.
"Pak Cipto bertanya, Apakah aku belum ingin menikah lagi? Kujawab saja, masalah itu belum terlintas di pikiranku. Akhirnya Beliau bertanya lagi padaku, Jadi Mas Gielang tidak keberatan jika Citra menikah dengan Anto, kan?"
Kuceritakan juga peristiwa saat gerimis turun, saat itu.
"Gie! Terus kau jawab apa?"
"Menurutmu?"
__ADS_1
"Shit!"
"Memangnya apa yang harus kukatakan? Tidak mungkin aku katakan keberatan kan?"
"Dassaarrr!"
Ardi menggaruk-garuk rambutnya ikalnya yang gondrong, kemudian mengacak-ngacak rambut cepakku yang hitam legam.
"Lepaskan, apa-apaan kau Ar!"
"Gielang lalu, untuk apa kau ingin bertemu Citra?"
Kupalingkan wajahku dari muka seramnya. Menatap kuncup-kuncup mawar yang berayun disapa kupu warna warni.
"Aku ingin tahu apakah dia bahagia dengan keputusan itu, Ar. Apakah dia memang mengharapkan pernikahannya dengan Anton."
Suara Ardi memelan, dimainkannya gawai dengan kedua tangannya, dibolak balik secara asal.
"Kau sudah coba hubungi?"
Aku mengangguk.
"Aku hilang kontak. Dua hari ini tidak terlihat online. Biasanya dia kirim pesan bertanya tentang Ghifa. Tapi sejak sore itu, tak ada pesan lagi darinya. Bahkan wanya terakhir terlihat di hari aku datang kesana."
Ardi terdiam, Ia sibuk berpikir.
"Sebentar Ar, kalau wa Citra tidak aktif, bagaimana Agung tahu update informasi tentang Citra?"
Selidikku curiga.
"Coba aku hubungi Agung."
Ardi berkata pelan. Memencet gawainya pada satu nomor kontak. Terdengar beberapa kali nada panggil. Tapi tak ada yang mengangkat. Dicobanya lagi beberapa kali, tapi hasilnya sama.
Aku mulai tak sabar, lalu beranjak menuju ke dalam rumah, dengan membawa gelas kosong bekas lemon tea yang tak jadi kunikmati.
"Kemana Gie?"
Tanya Ardi yang masih berusaha menghubungi Agung.
"Ambil minum, mau lagi?" ledekku tanpa menoleh.
Ardi tak menjawab, wajahnya tampak fokus pada panggilan yang dia buat.Tapi kulihat bayangannya mengikuti langkahku. Aku langsung menuju dapur. Sementara Ardi baru sampai ruang tengah, kembali keluar ketika nada hubung berhenti diganti dengan sahutan di seberang.
Kulewati Ibu dan Lidya yang tengah bercanda dengan Ghifa dan Adam di ruang tengah. Lidya mengangguk sambil tersenyum sepintas, sebelum kembali menggoda Adam yang terkekeh menghentak hentakan kakinya. Ghifa kegirangan, meloncat-loncat sambil bertepuk tangan.
Dan Ibu. Ibu melirikku dengan pandangan kocak, penuh sindiran. Kelihatannya Ibu merasakan keresahanku dua hari ini. Beliau tak bertanya maupun tak berkomentar. Hanya senyam senyum penuh arti ketika melihatku sedikit salah tingkah.
Aku tak coba hiraukan, kutuangkan teh untuk kembali membuat lemon tea. Bik Nah menawarkan bantuan, kuminta untuk membuatkan minuman untuk Ardi. Segera pula Bik Nah mengeksekusinya dengan lincah. Segelas kopi hitam dengan campuran susu, tersaji di atas meja makan.
"Gie!"
Seru Ardi yang tiba-tiba saja sudah sampai di pintu penghubung ruang tengah menuju dapur, ketika kumasukkan irisan lemon ke dalam gelasku.
"Hem, ada apa?"
Kutatap wajahnya, ada sesuatu yang ingin segara disampaikan
__ADS_1
"Cepat! Kau harus tahu ini, Agung memberi informasi tentang Citra!"
......