
Esok harinya aku dan sherlin pergi kembali ke kota. Aku pun tidak lupa berpamitan ke keluargaku dan aku akan menunggu mereka di Jakarta nanti, meskipun pedih untuk meninggalkan kampung ini karna terselip memori masa kecilku disini. aku berkata kepada keluargaku suatu saat nanti aku akan kembali lagi kesini dan tidak lupa untuk memberikan oleh oleh.
Singkat cerita aku pun sampai di kota. tempat yang sibuk telah menanti kedatanganku, kota yang memberikan sebuah harapan kepada anak muda desa ini, kota yang mengajarkan bahwa jalan sukses tak semudah itu, kota yang memberikan cinta sejati ku ini benar benar telah menantikanku. Aku pun tidak lupa membawa oleh oleh untuk para karyawanku, meskipun aku tidak berpergian jauh tapi aku harus memberikannya, sebagai tanda terima kasihku karna telah menjaga barku.
Ke esokan harinya. aku kembali ke barku. sesampai disana aku melihat situasi yang sangat membuatku bahagia. bar yang ku tinggalkan selama tiga hari ini benar benar berubah meski cuman sebentar tapi tempat ini benar benar memberikan perubahan. melonjaknya konsumen di barku ini benar benar membuat daya tarik sebuah media stasiun tv nasional, aku pun tidak menyangka bahwa barku yang kecil ini benar benar membuat stasiun tv mau meliputnya, jelas aku gugup sekali saat di wawancara barusan, aku takut salah berkata kata di media, karna bukan hanya satu orang saja yang melihatnya tapi seluruh Indonesia melihatnya, jadi aku takut ada kesalah dalam perkataanku, terutama ini adalah salah satu saingan di dalam dunia bisnis dan aku takut ada yang tersinggung jadi aku berkata kata aku meminta sherlin untuk menemaniku.
Setelah wawancara barusan. aku pergi ke bandara untuk mengantarkan orangtuaku berangkat ke tanah suci, diperjalanan menuju bandara rasa senang di campuri rasa sedihpun terbalut menjadi satu, rasa ini benar benar membuatku tau bagaimana rasanya membahagiakan orangtuaku, meskipun aku tidak memberikan kemewahan untuk orang tuaku tapi ini benar benar melebihinya, terselip kata kata jika kita ingin memberikan kebahagiaan kepada orang tua tidak perlu yang mewah mewah, cukup melihat kita sukses orangtua pun sudah merasa bahagia.
Jam keberangkatan pesawat orangtuaku telah tiba, aku merasakan kesedihan yang datang menghampiriku sudah terasa, meski aku tau bahwa orang tua hanya akan pergi satu bulan saja dan akan kembali lagi kesini, tapi sebagaimana pun perasaan seorang anak tidak dapat di bohongi begitu saja. aku pun memeluk mereka dengan erat sekali, rasa tidak ingin kehilangan mereka semakin menggebu gebu. suasana di bandara Soekarno-Hatta internasional ini di penuhi dengan rasa kerinduan.
__ADS_1
setelah keberangkatan orangtua ku, aku mengajak keluargaku untuk mengunjungi barku dan sekaligus mengenalkan mereka kepada orang tua sherlin, meski terbilang cukup cepat tapi aku harus mengambil langkah serius agar aku tidak dapat kehilanganya. sesampai disana, aku pun menunjukan kepada keluargaku barku ini, meski bar kecil tapi aku percaya bahwa suatu saat nanti bar ini bakalan menjadi bar yang di Indonesia dan kebetulan sekali sherlin pun sudah tiba disini dan aku memberitahukan kepadanya bahwa aku bakal datang ke rumahnya sekaligus ingin bersilaturahmi dengan keluarganya. dia pun terkejut mendengarkannya karna ini adalah berita yang sangat mendadak sekali, dia pun minta ijin kepadaku untuk memberitahukan kepada orangtuanya bahwa aku akan datang kerumahnya.
Bibiku merasa sangat senang sekali dengan kemajuanku, dan di mengatakan kepada.
"bahwa aku tidak sia sia mempercayakan tempat ini kepadamu" ujar bibiku semabari tersenyum kepadaku
" Ya bibi cuman bisa mendoakan saja dari rumah dan tidak membantu apa pun, bibi senang sekali melihatmu sukses seperti ini".
Perkataan bibiku barusan membuat hati ku tergoyahkan lagi, jelas aku belum bisa memberikan apapun kepadanya dan jika bukan tanpa bantuan bibiku saat itu aku pasti tetap menjadi budak orang orang China itu. aku pun mengajak mereka untuk makan makan di restoran sebelum pergi ke rumah sherlin, karna aku tau kalau bibiku belum makan.
__ADS_1
sesampai di restoran aku pun meminta ijin kepada bibiku untuk meminang seorang wanita, meski ini terdengar cepat sekali tapi aku harus melakukan langkah ini dan tidak boleh melewati langkah langkah yang telah ku susun itu,
"bukan kah itu terlalu cepat rid," ujar bibiku
"engga teh, aku sudah memikirkan dengan matang matang kok" ujarku
"ya tapikan masih panjang rid.., kamu tidak boleh melangkah terlalu cepat"
"tidak terlalu cepat teh, tapi ini sudah menjadi keyakinan ku"
"baiklah kalau itu mau mu bibi tidak bisa melarangnya"
Setelah pembicaraan itu berlangsung aku pun mengajarkan keponakanku ke toko mainan dan membelikannya satu untuk nya.
__ADS_1
Hingga akhirnya aku pun berangkat kerumahnya, perasaan gugup menemui keluarganya terasa sekali, aku takut jika orangtuany tidak menerimaku, waktu perjalanan ini terasa sangat cepat sekali, yang biasanya aku mengantarkan sherlin pulang kerumahnya waktu itu terasa sangat lama tapi sekarang mengapa sangat cepat sekali, apakah ini pertanda bahwa aku akan mati, ehhhhhh kenapa aku berpikir seperti itu, tidak baik berbicara begitu ujarku dalam hati. sesampai dirumahnya perasaan gugup ini semakin besar hingga aku akan gila dengan kegugupan ku ini, bukan aku yang memintanya untuk datang kesini tapi kenapa aku malah begini