Bar Impian

Bar Impian
ikhtisar 28 : melatih mental


__ADS_3

hingga pada akhirnya aku pun tiba di rumahnya, tiba-tiba perasaan ku sangat gerogi sekali, seakan-akan aku ingin mati di sana, di depan rumahnya, aku pun mencoba untuk mengontrol diriku dan dan menguasai kembali diriku, tapi semuanya hanyalah hasil belaka bukannya mengontrol diriku, tapi malah menambah grogiku, jujur aku tak sanggup, sampai-sampai aku tidak bisa bergerak sama sekali, aku cuman bisa diam saja seperti patung yang berada dalam Pancoran, akupun mencoba untuk mengembalikan jati diri ku ini agar aku dapat memberikan sebuah contoh pemimpin kepada ayahnya, tapi apakah aku akan bisa atau hanya sebuah khayalan saja di pikiran aku, sempat terpikir masa laluku, yang pernah gaga danl terjatuh ke dalam kegagalanku, sehingga tidak bisa kembali, aku pun pernah berada di dalam masa-masa sulit dan tidak ada yang menemani sama sekali hanya sendiri, memikul beban yang berat sekali, kegagalan itu membuatku berpikir kalau aku harus berubah. sekarang aku memiliki seseorang yang mau berbagi rasa sakit, orang yang mau menemaniku dari nol hingga sekarang.


meskipun barku baru dan tidak sesukses bar yang lain dan masih bisa dibilang kecil di dalam dunia industri, tapi aku yakin suatu saat nanti barku pasti akan menjadi nomor satu di negara ini. aku juga tidak berhenti berdoa kepada Tuhan, agar barku dapat menjadi terbesar di negara ini. aku juga ingin sekali menggapai mimpi ku, yang dulu pernah terlintas di kepalaku, meskipun itu hanyalah mimpi konyol, tapi mimpi itu bisa membuatku percaya diri, untuk menjadi sukses dan mengapai masa depan, sekarang mimpi itu sudah sangat dekat denganku, tapi aku tidak boleh berleha leha aku harus terus mengejar mimpi itu supaya menjadi sebuah target ku.


hingga pada akhirnya pintu rumah sherlin terbuka, keluarga sherlin sudah menyambut kedatangan kami , layaknya seperti seorang raja, yang masuk kedalam istananya, tapi sebaliknya dengan ku, aku takut sekali untuk melangkahkan kakiku, mentalku mulai mulai drop seperti mau pingsan dan mati. tapi aku harus melangkahkan kakiku ke dalam, meskipun di dalam diriku tidak mau, tapi aku harus melangkahKanya. karena aku harus menepati janjiku kepada sherlin, meskipun di dalam pikiran ku terterngiang-ngiang kalau keluarga sherlin tidak menerima ke datangan kedatangan keluarga aku dan tidak menimanya, karena kami keluarga yang tidak punya apa-apa, berbeda dengan Sherlin, keluarganya bisa dibilang punya segalanya, hingga aku terpikir sebuah kata-kata, yang di mana "jangan takut lah kamu melangkahkan kakimu ke depan, karena jika kamu takut melangkah kakimu ke depan, maka kamu tidak akan menggapai mimpimu" . teringat kata-kata itu aku pun langsung memberanikan diri masuk ke dalam, meskipun kaki dan tubuhku bergementar dan keluar air keringat di badanku, seperti sungai mengalir, tubuh bergemetar seperti gempa. aku pun mencoba untuk menahan nya tapi tidak bisa, hingga aku mau ngompol di celanaku, tapi jika itu terjadi maka aku akan malu seumur hidupku. hingga pada akhirnya, aku pun duduk di kursi bersama keluarganya dan berbincang-bincang dengan keluarga, bahkan aku tidak mendengar sama sekali mereka membicarakan apa, karena aku sudah digerogoti rasa maluku sendiri, rasa khawatirku yang semakin besar, hingga aku sulit untuk mendengarkan, aku terus berpikir di dalam diriku dan terus bertarung dengan diriku sendiri. memang terdengar sangat gila, tapi jika itu terjadi pada kalian, maka kalian juga akan melakukan hal yang sama seperti itu. Hingga pada suatu saat ayah sherlin bertanya kepadaku.


"nak apakah kamu benar yang bernama parid" ujarnya .


 


akupun cuman bisa menganggukan kepalaku. jujur saja sulit sekali untuk melontarkan kata\-kata kepada ayahnya, karena rasa grogiku yang sudah meluas di dalam tubuhku. Aku takut kalo ayahnya Sherlin tau pas kejadian aku mengajaknya ke kampung halaman, aku pun berpikir untuk mencari alasan untuk menjawabnya, tapi hal yang beda pun terjadi, pertanyaan selanjutnya dari ayah sherlin membuat grogi ku bertambah besar dan hingga mau mengambil seluruh diriku. Pertanyaan dari ayah sherlin kepadaku.

__ADS_1


 


"nak apakah kamu yang membuat sherlin berubah" ujarnya sambil melihat melotot tajam kepadaku. akupun takut, kalau aku menjawabnya, "Iya" maka aku akan langsung ditembak mati oleh ayahnya Sherlin. tapi aku tidak boleh berbohong, aku harus mengatakannya dengan jujur, karena kalau aku berbohong, maka sama saja aku datang ke sini tidak menepati janjiku, lantas aku menjawabnya dengan kata,


"iya..., iya... pak aku yang buat sherlin berubah, mohon maaf jika aku lancang" ujarku sambil menundukkan kepala karena tidak berani menatapnya.


namun jawaban dari ayahnya Sherlin, tiba-tiba membuatku berubah 360° penuh. setelah mendengar jawaban yang dilontarkan ayahnya Sherlin, lantas apakah jawaban dari ayahnya sherlin?. apakah itu sebuah kabar yang buruk atau kah kabar yang baik untukku. jawaban dari ayahnya sherlin adalah.


akupun merasa sangat lega, setelah mendengarkan jawaban itu, aku pun menjawabnya.


"pak semua yang bapa katakan salah pa, jujur saja pak aku tidak mengajarkannya sama sekali pa, dia lah yang mengajarkanku tentang arti kehidupan dan dia sendiri yang belajar bukannya aku yang mengajarkan"ujarku

__ADS_1


sebenarnya aku tidak ada niatan untuk merekrutnya saat pada waktu itu. tapi entah kenapa ia sendirilah yang datang kepadaku, menawarkan dirinya untuk bekerja kepadaku. meskipun kalau dibanding-bandingkan dengan tempat kerja yang gajinya lebih besar dari barku seperti cafe besar di kota ini yang gajihnya di atas standar. tapi dia malah datang ke barku yang belum tentu gajinya sebesar itu, bahka uang jajannya saja lebih besar dari gaji di barku. jujur saja waktu itu, jujur saja aku juga tidak mau dia kerja di barku yang kecil ini. meskipun saat itu aku ragu-ragu sekali untuk menerimanya, tapi aku kasihan melihatnya, dia bekerja di sini dan aku juga takut kalau iya masa depannya tidak bisa dicapai kali bekerja disini. tapi sebaliknya dengan adanya dia merubah bar kecil menjadi bar yang cukup besar dan juga jadi pacarku. ia juga memberikan semua ide yang pernah dia tahu dan juga mengenalkan temannya, yang membuat barku semakin besar. terutama barku terkenal di kalangan anak-anak.


walaupun begitu ayahnya sherlin tetap bangga kepadaku dan mengajakku untuk berjalan-jalan di taman rumahnya, sambil berbicara cara ke kepadaku. aku pun takut jika aku pergi keluar bersama ayahnya maka akan terjadi sesuatu, didalam diriku pun juga berkata


"ketika kamu pergi kesana dan kamu salah berkata atau menjawab pertanyaan Nya maka kamu akan mati dan kamu keluar dari rumah sini kamu sudah dibungkus dengan peti mati" ujar hatiku, akupun sempat terpikir ingin menolaknya. tapi suatu berbisik kepadaku


"jika suatu saat nanti kamu dalam posisi yang susah dan tidak ada yang membantunya dan jika ada yang membantunya maka orang itu ia, kamu pergi saja jangan dengarkan perkataan tadi dan juga kalau kamu bisa mendapatkan pembelajaran darinya"


sambil mengambil nafas dalam-dalam, aku pun pergi kelaur berasama ayah sherlin,


"pergi keluar rumah menuju ke tamannya dan ingin berbicara seperti kepada seorang pria tangguh" kata ayahnya.

__ADS_1


aku pun pergi keluar dengan hati yang pas pasan


__ADS_2