
Sebuah ikatan yang menyatukan kedua insan, bersumpah menjalani hidup, baik susah maupun senang. Belajar berberbagi rasa satu sama lain, melangkah kejenjang yang lebih serius, demi menjadi seorang pria sejati, ikatan pernikahan ini aku, mulai melangkah ke tahap yang selanjutnya. Sekarang aku, tidak lagi memikirkan diri sendiri, tapi sekarang aku, harus bisa memikirkan oranglain dan membawanya ke jalan yang benar, sekarang juga aku, secara resmi menjadi seorang pempin hidup dan aku, juga akan merasakan bagaimana ayahku dulu dalam menghadapi masalah terbesar dalam hidupnya, yaitu keluarga sendiri. Aku, tidak bisa terus bersikap egois, aku, harus bisa bersikap seperti seorang pria.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\={ ○ }\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari ini, aku, mengawali hidupku yang baru, yang biasanya, aku, hidup sendiri disini ( kosanku ) sekarang ada seseorang yang menemaniku, bangun tidur aku, sudah disiapkan dengan aroma masakan yang langsung masuk ke hidungku, sarapan yang biasanya sendiri dan sekarang aku, ditemani sembari berbincang di meja makan, berangkat kerja, aku bersamanya, jelas perbedaan ini sangat berasa sekali, kami memamerkan kemesraan dimanapun kami berada, meski terdengar sangat alay sekali tapi aku, yakin jika kalau pasangan pengantin baru pasti melakukan hal yang sama, seperti yang kami lakukan ini.
Dua bulan berlalu, kami masih melakukan hal yamg sama tanpa ada berubah sedikitpun, atmosfir pengatin baru masih melekat, melakukan hal rutinitas masih seperti biasa, aku sebagai pemilik bar dan istriku sebagai HRD barku, ini peningkatan level yang ku berikan kepadanya, sebagai apresiasi baginya yang sudah bekerja dengan keras, meski dia sudah memegang setatus sebagai istri yang mempunyai bar, tapi iya menolaknya dan ia, ingin tetap seperti biasa saat ia, belum menjadi istriku.
Di hari yang amat special, aku, memberikan sebuah kejutan kepadanya, setelah usia pulang kerja, aku, menyuruhnya untuk menutup matanya dan mengikutiku, aku, membawanya ke suatu tempat yang sudah aku, rencanakan sebelum aku, memutuskan untuk menikah dengannya dan ini juga menjadi suatu kewajiban bagiku, jika aku, sudah menikah. Hingga kami sampai di tempat yang sepecial ini, aku, membukakam kain yang di ikat di matanya, dan menyuruhnya agar jangan membuka matanya sampai aku, menyuruhnya untuk membukanya.
" jangan dibuka dulu yahh sayang sebelum aku, mengatakannya " Kataku yang membayangkan bagaimana ekspersinya.
" Iiih.. apa sihh, aku jadi ga sabar dehh, mau melihat, apa yang kamu berikan kepadaku" Wajah penasaran yang di campuri dengan senang di mukanya.
__ADS_1
" Pasti kamu, bakalan senang dehh, setelah melihatnya.."
" dari tadi bilang begitu " Mulai ngegas
" Sabar dulu sayangg, sebentar lagi " Aku mencoba menenangkanya.
"Baillah"
Setalah ia, membukakan matanya, alahkah terkejutnya ia setelah melihat apa yang ada di depanya,
" Sa.sa...sayang, apa ini" Sherlin, terkejut apa yang ia lihat,
" Ini adalah kado pernikahan kita sayang" Ujarku.
__ADS_1
" Siapa yang memberikan ini sayang, apa ayahku"
" bukanlah, ini bukan dari ayahmu tapi ini dark diriku sendiri "
" sejak kapan kamu, membeli sebuah rumah dan juga ini rumah yang cukup besar"
" hehehheh... sebelum pernikahan kita, aku sudah menabung sejak dulu, dan juga sudah lama juga aku membelinya, tapi aku malas untuk meningalinya sayang"
wajah sherlin masih bingung, setalah melihat sebuah rumah yang cukup besar
" Dari pada bengong kek gitu, mending kita masuk saja kedalam yahh"
kami pun masuk kedalam rumah ini dan juga di dalam masih ada kejutan yang masih menanti.
__ADS_1