Bar Impian

Bar Impian
Ikhtisar 29 : pembelajaran


__ADS_3

di depan halaman rumah, ayahnya bercerita tentang pengalamanya selama di dunia bisnisnya, jelas ini menjadi keuntungan buatku dan juga bisa belajar dari pengalamannya, beliau pun menceritakan tentang awal mulanya beliau terjun ke dunia bisnis. Jelas katanya kalau dia tidak ada sama sekali niatan untuk terjun ke dunia ini, beliau pun juga pernah mengalami kejadian yang aku alami selama ini dan kata beliau juga kegagalannya jauh lebih sakit dari kegagalanku, aku pun terpikir, bagaimana kegagalan beliau pada waktu itu dan bagaimana beliau dapat berdiri kembali.


Pada waktu itu ayahnya sherlin hanya seorang penjual mainan saja, dan juga ayahnya sherlin berjualan tidak sepertiku, dimana ayahnya sherlin berjualan dengan berjalan kaki dan mengangkat barang jualanya berkilo kilo meter jauhnya. Demi mendapatkan uang lima puluh ribu saja harus berjalan 3 km, jelas ini membuatku merinding mendengarkanya dan juga kalau ada di posisiku pasti aku tidak akan kuat sekali. Tapi yang anehnya bukannya menyerah tapi beliau tetap melanjutkannya, dan pada suatu saat beliau sempat tertipu oleh seseorang yang memborong semua dagangannya, dan ayahnya sherlin sempat berhenti berjualan mainan, karna ayahnya takut kalau tertipu kembali. ayahnya sherlin memutuskan untuk berjualan baju saja dan pada saat itu juga ayahnya sherlin pun meminjam uang ke teman temannya untuk modalnya berjulan, dan dari situlah pintu kesuksesan beliau terbuka dan hingga Samapi sekarang beliau sudah memiliki sebuah tempat industri pembuatan baju yang berada di Jakarta dan juga memiliki sebuah cabang di kota Bandung.


Aku pun dapat mengambil sebuah pengalam dari ayahnya sherlin tentang usaha dan kerja keras yang tidak akan menghianati hasil. Setelah itu ayahnya sherlin ingin mendengarkan bagaimana perjalananku selama ini. Jelas ini membuatku sangat gugup sekali, dan aku juga malu untuk membicarakan, Aku pun cuman bisa menjawab pertanyaan barusan dengan kata "ya pa, perjalananku tidak serumit bapa, yang berusaha dari nol hingga sekarang". tetapi ayahnya sehrlin berbicara " katakan saja apa yang kau alami".


aku pun menceritakan pengalamanku kepada ayahnya, sambil menahan rasa gugupku, setelah selesai menceritakannya, ayahnya sherlin salut kepadaku dan mengatakan


" nak...., kamu hebat sekali, "


"apanya yang hebat pak "


"ya... kamu sudah mau berusaha saja, sudah hebat "


" emangnya kenapa pak"


" ya anak anak, seusiamu mana mungkin mau berkeja keras dan tetap pada komitmenya"


setelah mendengarkan perkataannya barusan, aku pun merasa sangat bangga sekali karna aku bisa melawan rasa malasku dan mau mengejar cita citaku.

__ADS_1


Setalah itu, aku pun dan ayahnya kembali masuk kedalam rumah dan kembali duduk di kursi, setalah itu ayahnya sherlin mengatakan kepadaku


"nak apakah kamu mau melamar anakku"


mendengarkan perkataan barusan membuatku kaget dan bagaimana dia tau maksud kedatanganku kesini, aku pun menjawabnya


"iya pak, aku ingin melamarnya"


"benar apa yang aku pikirkan " dengan muka datar


"Jika kamu ingin melamar anakku, maka aku tidak akan banyak banyak berpikir kesana kesini, karna aku tau kalau kamu pasti bisa membahagiakannya, jadi aku akan menerimanya"


perkataan barusan merubah suasan rumahnya sherlin menjadi terdiam, aku juga kaget ketika mendengarkanya


"iya benar nak,,,," sambil tersenyum


"makasih pak atas restunya, aku janji tidak akan menyakiti anak bapa dan berusaha keras untuk membahagiakannya"


"etssss.... tapi jika kamu sampai membuat anakku menangis maka peluru pistol yang berada di dinding itu akan berada di kepala mu ingat"

__ADS_1


"iya pak...., aku berjanji"


Setelah itu, kami pun pamit pergi karna hari sudah menjelang malam, aku pun berpamitan dengan sherlin dan mengatakan kalau besok aku akan menjemputnya. Hingga akhirnya kami pun sampai di barku dan keluarga ku berpamitan untuk pulang kembali ke kampung


"rid... teteh pamit pergi yah"


"teh... kenpa pulang begitu cepat, tidur saja disini dulu"


"ya rid.... kalau teteh tidur disini siapa yang akan menjaga rumah di kampung"


"tapi teh...."


"udah teteh, pulang dulu yah,, nanti kalau ada waktu teteh janji akan main kesini"


"iya teh, hati hati yah di jalan"


"iya rid... kami juga hati hati yah disini dan juga jangan lupa untuk ibadah tepat waktu dan jangan sampai lupa untuk berdoa"


"iya teh aku tidak lupa itu"

__ADS_1


Setelah itu keluarga ku pergi pulang dan aku pun bersedih kembali dan tidak terasa sekali waktu bersamanya, Tidak terasa sekali waktu berjalan dengan cepat keluargaku kembali pulang ke kampung.


Aku pun melihat barku yang masih ramai, sambil melamun kejadian yang barusan saja terjadi itu terasa seperti mimpi saja tapi ini benar benar nyata terjadi, Tetapi aku mendapat pembelajaran yang sangat berharga sekali dari kejadian tadi, untuk membuat diri ku lebih baik dan mulai menjadi sebuah kegagalan menjadi teman bukanya musuh Karana musuh yang sebenarnya ialah diriku sendiri.


__ADS_2