Bar Impian

Bar Impian
Ikhtisar 35 : Paradoks ke 2


__ADS_3

Setiap hari demi hari, selalu terbayang kenangan mimpiku yang takterkabulkan, mimpikh untuk menjelajahi dunia ini, dari asia ingin aku mulai dan di akhiri di amerika sana, mimpiku untuk menyatukan diri dan mempelajari gaya hidup mereka disana, tapi mimpiku ini selalu datang dan pergi begi cepat, sperti angin yang berhembus dan kembali hilang entang kemana, namun masih ada hembusan kecil yang kurasakan, seolah olah ia ingin memberikan intruksi untukku namun aku tidak peka dengan apa yang dia lakukan tersebut. Ibarat kata ide bagus selalu hilang dengan cepat dan kita tidak sempat menangkapnya dan menyentuhnya, hatiku ini merasakan kepedihan, ketika aku tidak bisa merealisasikan mimpi itu. Ingin sekali aku menjelajahi benua eropa sana dan singgah di benua afrika untuk memberikan kesih sayang dan membantu mereka, bukan demi mengejar citra maupun eksitensi hidup media, tapi aku ingin mereka juga merasakan apa yang rasakan saat ini, Setelah aku beranjak dari tanah afrika sana, aku juga ingin mendekatkan diriku dengan langit, bukan pergi keluar angkasa atau pun mati, tapi ingin mendaki puncak tertinggi bumi, yakni Everest, aku ingin merasakan apa itu dingin yang mampu menusuk hingga sampai ke tilang rusukku, dan mau berhadapan dengan ajalku sendiri, tapi itu semua akan terbayarkan, jika kita sampai di puncak sana. Setelah menemukan jati diriku yang sebenarnya, aku berencana, mengakhiri petualanganku ini di negara panutan dunia, negara yang hampir memegang perekonomian dunia, negara yang juga sangat berpengaruh sekali soal uang, yakni benua amerika, aku ingin memahami bagaimana mereka beraktifitas dan juga bagaimana mereka menjalani silaturahmi satu sama lain. Namun mimpiku ini hanyalah sebatas mimpi saja, mimpi yang tidak akan terkabulkan, percayalah kawan butuh uang yang banyak untuk menjelajahi dunia ini, Tapi aku bisa mengambulkan mimpi tersebut, setelah aku membaca sebuah novel kesukaanku tentang, mengejar mimpi yang mustahi untuk dikabul, mimpi tersebut mengajarkanku tentang, perjuangan, kegigihan dan juga tekad yang kuat, yang membuat aku berani mengambil tindakan yang sangat beresiko pada saat itu, maka aku menyebut ini dengan paradoksku yang ke dua.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=(●)\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Hari hari berikutnya, hampir sama seperti biasa, hari yang membosankan, menjalani rutinitas untuk bertahan hidup dan menentukan nasib di masa yang akan datang nanti, meski haru hari seprti ini membuatku bosan untuk menjalaninya, tapi apalah yang harus aku lakukan lagi, ini sudah menjadi daging di dalam tubuhku, dan aku harus bersemangat demi mengejar mimpiku, aku harus bersemangat mengejarnya meski itu menyakitkan hati kecilku ini, setiap pukul 4 sore, aku selalu menyempatkan waktuku untuk, beristirhat sebentar, duduk di pinggir sungai sambil melihat, matahari yang tengelam, yang terhalang oleh gedung gedung tinggi, sembari melihat suasana lampu lampu menyala serentak, tapi itu adalah akhir bagiku untuk menenangkan diri ini, aku sempat bertanya kepada matahari yang tengelam, " mengapa kau pergi dan menghilang" kata ku, tak butuh waktu yang lama, matahari tersebut menjawabnya" Apakah kau gila, anak muda" betaknya kepadaku, jelas aku heran setelah mendengarakan bentakanya, di dalam hatiku, mengapa ia membentaku dan kenapa aku berbicara dengan matahari, mungkin ini adalah imajinasiku saja, namun matahari tersebut mengatakan sesuatu kepadaku sebelum ia tengelam " nak..., dengarkanlah, mengapa aku harus pergi dari sini mengapa?," ujarnya, " ya karna kita butuh tidur, benarkan apakata aku" jawabanku, " bukan, anak muda, apakah kau lihat mereka, mereka yang pulang pergi dijalan, yang usai kerja seharian penuh, apakah kau tidak kasihan, anak muda...!?, lihatlah karyawanmu sendiri, mereka sudah lelah bekerja seharian penuh, kamu harus melihat mereka berjuang, yang rela mengorbankan masa masa mudanya, demi bertahan hidup di kota yang keras ini, itu mengapa aku tengalam, dan juga ingatlah, anak muda, Allah telah mengaturnya dan kita tidak bisa mengingkarinya, seperti manusia yang mudah sekali mengingkari apa kata allah, itu sendiri." Pernyataan tersebut, membuatku terpikir bahwa, aku telah mendapatkan sebuah pelajaran yang sangat berarti sekali dalam hidupku ini.

__ADS_1


Aku berbari di tempat tidurku, dan menatap langit langit kamarku, lalu aku bertanya, " apa yang harus aku lakukan nanti" pertanyaanku tersebut tak ada yang menjawabnya hingga aku bertiak teriak, hingga orang orang yang berada du pinggir kosanku heran, kenapa dengar orang itu apakah dia sudah gila. Hingga pada akhirnya aku pun pasrah dengan apa yang terjadi saat ini, " ya sudahlah jika tidak ada jawaban, lebih baik aku tidur saja".

__ADS_1


__ADS_2