
Prasaan takaruan masih menghantuiku, Aku mencoba untuk mengontrol diriku ini, agar dapat kembali menemukan jalan kelauranya. Aku dapat berpandapat bahwa " bagaimana aku bisa menjadi pengusaha sukses kalau menghadapi ayahnya seherlin saja takut dan bergemetar, seperti di kejar kejar sama hantu saja, Apa lagi nanti harus berbicara di puluhan para pemegang saham nanti ". Aku mencoba mengambil napas dalam dalam, ini adalah cara untuk mengambil alih kembali kepercayaan diri, secara perlahan aku keluarkan dan aku coba langkah pertama ku ke depan pintu yang seperti pintu rumah holor saja, namun setelah aku coba untuk melangkahkan kakiku seakan akan kaki ku ini di ikat kepada sebuah beja yang berat saja, tapi aku paksaankan kakiku ini supaya bisa sampai di pintu rumah itu, sesampai di depan pintu tiba tiba keringat mengalir dari atas kepalaku, airnya mengalir seperti pancuran air saja, aku coba menggerakan tanganku untuk mengetuk pintu namun tanganku ini seakan akan memikul beban seratus kilo gram saja. Pas aku ketuk pintu di pikiranku tiba tiba muncul kalau nanti pas ada di belakang pintu adalah ayahnya sherlin tiba tiba ia memberikan aku beberapa pertanyaan yang membingungkan dan jika aku tidak bisa menjawabnya dan ayahnya sherlin langsung bersiap siap menembakku dengan AWM dan mengarahkan tepat pada tengah tengah dahi aku, aku langsung mengambil ancang ancang untuk kabur, namun waktu seakan akan membenciku, tak sempat untuk kabur aku langsung memejamkan mataku dab berharap seseoarng tidak, seperti di film film kartun itu.
Namun setelah aku mendengarkan suara yang ada di depanku, rasa gerogi pun hilang tanpa sebab,
" aku mengenal suara ini, dimana pun itu, suara ini tidak aneh di telingaku " kataku yang masih memejamkan mataku.
Suara kecil itu malah menertawaiku.
"hahahahhahhahah"
" ya.. amun kamu ini kenapa" ujar suara kecil itu...
" seperti melihat hantu saja kamu, menutup matamu"
Tunggu tunggu aku kenal dengan suara ini, suara ini tidak lain adalah sherlin pacarku, aku malu setelah membuka mataku, malu setengah mati bro....., bayangkan saja oleh kalian kalau datang ke rumah pacar kalian janganlah kalian menutup mata kalian jika kalian tidak ingin malu sepertu ku, aku langsung menanyakan kepadanya,
" Yay, itu.... itu..."
" itu itu itu apa "
" itu yang kemaren.."
" ouh... soal rencana penyambutan bukan"
__ADS_1
" bukan.., bukan yang itu... tapi yang kemaren yay"
" iya.., yang kemaren apa sih... kan kamu bicara kepadaku tuh banyak bukan satu doank"
" soal ayahmuuuuuu... itu ih.."
" ih.. kok gitu sih..."
" bukanya gitu sih.. "
" emang kamu ada perlu apa sama ayahku"
" aku ingin menanyakan sesuatu"
sulit sekali bro kalau berhadapan dengan cewe, semuanya itu harus jelas dan detail,
" ini soal rencanaku itu"
"ouh... soal itu yah"
see cewe membalasnya dengan singkat sekali tanpa ada penjelasan apapun itu, kalau soal menanyakan sesuatu harus dengan detail dan panjang dan kalau menjawabnya singkat dan pendek, emang kalua cewe selalu benar...
Aku langsung masuk ke dalam rumah dan disuruh menunggu, karna ayahnya sedang keluar, kalau aku tau ayahnya gak ada dirumah aku langsung masuk saja dari tadi tanpa harus menutup mataku segala dan mendapatkan tertawaan sherlin kataku dalam hati, aku membayangkan, jika suatu saat nanti aku sudah menjadi suaminya sherlin pasti bakalan di pasang fotoku di depan sana dan bersandingan dengan keluarganya, cukup gagah bukan.
__ADS_1
Hampir setengah jam saja aku menunggu ayahnya dan pada akhirnya ayahnya pulang dan kerumah dan langsung memasang muka yang sangat menakutkan sekali, aku langsung menciut setelah melihat kedatangan ayahnya, ayahnya langsung duduk di depanku, duduk dengan gaya yang siap mengintrograsi saja, banyak sekali hal hal yang di pikirkan di benak ku, mulai dari siap menaparku, mencerocos sperti karbit, dan menanyakan hal hal yang diluar dugaanku.
aku langsung saja menanyakan apa yang sebenarnya aku datang kesini.
" pak aku... aku..."
" aku aku apa, bicara yang jelas"
" sebenarnya maksud kedatangku kesini, aku ingin meminta solusi pa "
" solusi apa? solusi untuk melamar bukan anak muda" nada yang membentak namun detail langsung pada akarnya.
" bukan soal itu pa.." balasan yang lembut dari mulutku, nada balasan yang mencerminkan aku bahwa aku lagi ketakutan,
" lalu apa, anak muda"
" aku ingin membuka sebuah cabang baru, namun aku masih ragu ragu"
" bagus sekali, kamu anak muda, "
" jika kamu ingin membuka sebuah cabang baru kamh harus siap dan berani untuk terjungkal lagi"
jawaban yang cukup singkat, namun memiliki arti yang lebih.
__ADS_1