
Didalam Arena mulai mencekam dengan kondisi banyaknya peserta yang tidak sadarkan diri dan darah hasil pertarungan. Semua penonton yang menyaksikan itu tidak menunjukan belas kasih sedikitpun, Mereka hanya menikmati pertandingan itu sebagai hiburan semata. Pembawa acara turut menyumbang keseruan dalam arena dengan kata-katanya yang menggebu-gebu.
Dimata para senior yang sudah melewati masa itu juga terlihat biasa saja, karena memang ini perlu dilakukan untuk membentuk karakter yang kuat dari para calon prajurit.
Tapi, berbeda dengan mereka yang sedang bertarung didalam arena, mereka harus membiasakan diri dalam situasi apapun. Darah, Ketakutan, Teman, dan haus akan kemenangan menjadi pelajaran yang baru bagi mereka saat ini.
Teman-teman Ito termasuk Vivi merasa terguncang dengan keadaan Ito yang mendapat luka Serius dibagian punggungnya dan darah itu mengalir begitu cepat. Vivi yang saat itu memeluk Ito, hanya memikirkan satu hal dibenaknya yaitu MEMBUNUH!
"Lioness cepat bunuh dia!"
Vivi dengan amarah memerintahkan Roh singanya untuk menyerang Rega.
"Beraninya kauuuu!!!!" Mato yang geram dengan Rega mengambil posisi untuk melepaskan Anak panahnya.
Tim gabungan yang juga kesal dengan keadaan saat itu melesat untuk menghajar Rega.
Rega yang menyadari bahaya yang datang kepada, mengambil sebuah Crystal dari dalam sakunya, Crystal itu berwana keunguan dengan 2 sisi yang runcing.
Rega menghancurkan Crystal yang berada digenggamannya dan aura Ki yang meningkat dengan deras itu bisa dilihat oleh mata mereka yang menyaksikan.
Semua serangan mereka tidak mempan karena aura yang dikeluarkan dari Rega. Mereka mundur untuk melihat situasi terlebih dahulu.
"Woaaaaaaa aura apa itu, bagaimana bisa dia mengeluarkan aura seperti itu?" tanya Gon
"Aku tidak tau, setelah dia menghancurkan Crystal aneh itu, aura Ki nya meningkat pesat" Gen memberitahu apa yang dia lihat saat ia menyerang Rega.
Semua penonton yang melihat itu pun terkejut, Aura itu seperti meluap tanpa batas. Vivi yang melihat aura itu terlihat gusar karena mengetahui jenis Crystal itu.
"Crystal Pembangkit Ki, hmpphh hanya orang bodoh yang menggunakan Crystal itu"
Vivi mengangkat tangannya kearah Rega, sebuah aura hitam mengumpul diujung jarinya.
•Weakness•
Vivi mengeluarkan sebuah kutukan untuk Rega. Rega yang sejak tadi diselimuti oleh aura Ki yang hebat merasa tubuhnya melemah terkena kutukan hitam dari Vivi.
"Sialannnn Warlock sialaaannnnn, Kutukan apa ini!" Rega yang kesal terkena kutukan itu.
"Itu salah satu kemampuan kelas kami, kutukan itu akan menurunkan pertahanan mu sementara, Bersiaplah untuk mati... Lioness!"
Roh Singa itu berlari sekali lagi kearah Rega, kali ini keadaan Rega benar benar gawat. Singa itu benar benar mengeluarkan cakarnya lebih panjang dibanding sebelumnya. Matanya seperti melihat kematian sudah memghampirnya.
Tetapi didetik-detik akhir, para Komandan menghentikan pertandingan karena dinilai sudah sangat membahayakan.
"Berhenti!"
Komandan Stein berdiri memberikan perintah menghentikan pertandingan. "Sudah cukup, hentikan"
semua peserta menghentikan pertarungan itu, kekecewaan penonton yang tidak bisa dibendung lagi membuat kericuhan di arena.
"ahhhh bagaimana ini, ko di hentikan"
"Heiiii apa maksudnya ini?"
"Wuuuuuu!!!!!!!!"
"Diaammmmm!!!!!!!!!"
Pembawa acara yang mencoba menenangkan penonton berteriak menggunakan pengeras suara. Penonton yang merasakan sakit ditelinga menutup telinganya dan terdiam.
"mari dengarkan maksud Komandan Stein menghentikan pertandingan ini"
Stein yang berjalan keujung balkon untuk melihat peserta yang masih berdiri.
"Aku umumkan bagi peserta yang masih berdiri di arena, dinyatakan sebagai pemenang"
"Apa?" Gon terkejut dengan apa yang dinyatakan komandan Stein.
__ADS_1
"Ehh? Gon apa aku tidak salah mendengar?" Mathew yang juga tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"untuk Tim medis cepat berikan pertolongan pertama untuk peserta yang tidak sadarkan diri dan untuk yang masih berdiri temui kami di Ruang penyerahan hadiah"
Para tim medis yang memasuki arena mulai menghampiri peserta yang tergeletak diarena.
"Cepat bantu pindahkan peserta ke ruang medis, beri mereka sihir penyembuhan"
Tim medis terlihat satu persatu menggotong peserta dengan tandu keruang medis, salah satu tim mesis menghampiri Vivi yang sedang memeluk Ito.
"tolong serahkan dia pada tim medis"
Vivi yang sudah menyerahkan Ito pada tim medis melihat ketangannya yang dilumuri oleh darah Ito. Tim Ito yang lain mendekati Vivi dan berterimakasih kepadanya karena sudah melindungi Ito. Mereka menatap geram kearah Rega yang tersenyum puas karena sudah melukai Ito. Rega hanya mengacuhkan mereka setelah itu pergi keruang Hadiah.
Lena yang merasa penasaran dengan perkataan Vivi saat dipertandingan itu menanyakan hal itu padanya.
"apa kau mengenal Ito?"
Vivi hanya mengacuhkan pertanyaan Lena dan beranjak pergi dari arena dengan timnya.
Tim gabungan merasa ada yang aneh, mereka dinyatakan menang namun terlihat tidak senang, muka mereka terlihat kesal, masam dan sedih dengan yang menimpa Ito.
"Sudahlah Jangan bersedih Ito, yang bodoh itu adalah orang yang kuat. dia akan baik-baik saja" Gen yang menyemangati mereka yang lain.
"ayo kita ke ruangan hadiah menemui para komandan dan Raja" ajakan Gon
Mereka berjalan meninggalkan arena dengan wajah yang tidak terlihat senang. Mathew yang melihat keadaan arena tersadar akan suatu hal yang baru ia sadari.
[ehhhh pantas saja tidak ada yang duduk dibarisan itu!"
Barisan yang awalnya diduduki oleh tim Ito diawal pertandingan Hancur karena pertarungan antar peserta.
*******************
Diruang Hadiah para komandan berdiri dibelakang Raja. Didepan mereka sudah hadir para pemenang dari turnamen peringkat. Penampilan mereka sungguh lusuh dan penuh dengan luka goresan. Raja yang melakukan pidato untuk menyambut para pemenang terlihat begitu beribawa, para komandan yang terlihat kuat menatap generasi baru yang kelak akan membawa kerajaan pada kedaimaian.
Setelah Pidato selesai diutarakan oleh Raja, komandan Stein maju dan memberikan arahan kepada pemenang.
"Komandan, mengapa kau menghentikan pertarungan?" Gon yang masih belum bisa menerima dengan keputusan Komandan Stein, memberikan sebuah pertanyaan kepadanya.
"Karena pertarungan sudah bukan untuk menentukan peringkat, tetapi sudah menjadi ajang saling membunuh"
Gon yang mendengar itu terdiam karena sudah tidak bisa menyangkalnya, karena dia juga merasa ingin untuk membunuh Rega saat itu. Komandan Stein yang merasa sudah tidak ada urusan lagi diruangan itu meninggalkan ruangan bersama raja dan komandan yang lain.
Disaat berjalan menuju pintu keluar, Stein menoleh menatap Vivi dan mengerutkan dahinya.
[Roh yang sangat mengerikan, saat ia mengeluarkan kemampuan aslinya, aku merasakan sebuah ancaman]
setelah raja dan para komandan keluar dari ruangan itu. para pendamping ruang hadiah menggantikan mereka untuk mengantar kedalam. mereka para peserta yang berhak masuk kedalam ruangan itu dibuat takjub dengan apa yang mereka lihat.
Perisai, pedang, tongkat, busur, Jirah terlihat begitu hebat dengat aura Ki yang menyelimuti peralatan itu.
"Woaahahahhaha Peralatannya sangat hebat disini" Mathew yang merasa takjub
"Hoi Mathew, pilihlah dengan benar"
Gon dengan santai memilih peralatan diruang kelas Tank, disaat yang sama dia melirik kearah Rega yang sedang memilih peralatan juga, ada rasa ingin menikamnya dari belakang, namun dia menahan diri untuk melakukan itu. Disaat ia sedang melihat dan mencari peralatan yang berada disana, ia menemukan sebuah Pedang tangan satu dengan pegangan berwarna Emas dan ada permata biru yang berada dilehernya. ia mencoba pedang itu dan ia merasakan sebuah energi yang hebat.
[hm? pedang ini sangat hebat, aku bisa meningkatkan serangan ku setelah melakukan Counter]
Disaat ia melirik kearah Rega, dia melihat Rega mengambil sebuah Jirah berwarna Hitam dengan motif emas yang menghiasi jirah itu.
*********
Mato yang berjalan kearah ruangan Pemanah merasa ada aura aneh pada Busur yang ia lihat, Busur itu berwarna Hijau dengan motif tumbuhan dengan senar yang bening. Matanya menunjukan sebuah ketertarikan, ia memegang busur itu dan mencoba menarik senar itu.
[Sepertinya aku menemukan sobat yang hebat]
__ADS_1
**********
Lena yang berada diruangan penyihir kelas elemen menemukan sebuah Bola kristal sihir berwarna merah.
[Eh bola macam apa ini? aku merasakan energi yang sangat melimpah, tetapi apa kegunaannya?]
Disaat ia merasa bingung dengan kegunaan bola itu, secara tidak sengaja ia melihat tongkat sihirnya memiliki sebuah Crystal yang berada diujung tongkatnya.
[Eh apa jangan jangan?]
************
Gen yang berada diruangan kelas Berseker. sedang bingung mencari sesuatu yang cocok dengannya, ia mencari dari Box ke box yang ada diruangan itu. namun disaat ia sedang bingung memilih, dia melihat sebuah pedang besar yang ditutupi debu berada di box paling belakan dan tertutup oleh peralatan yang lain. Ia memegang pedang itu, pedang itu berwarna hitam dengan motif tulisan berwarna merah.
[Hoooooo sepertinya pedang ini cocok dengan ku]
**************
Diruangan kelas Warlock Vivi sedang membaca Buku sihir berwarna hitam.
"Vivi apa kau sudah menemukan apa yang kau inginkan?" tanya temannya.
"yaa sepertinya aku sudah menemukannya"
***********
para peserta keluar dari ruangan yang besar itu, mereka menatap satu sama lain dan memamerkan apa yang mereka bawa. Rega dan Vivi berjalan melewati mereka begitu saja.
"Kau tidak ingin melihat Ito?" Lena yang melihat Vivi melawatinya berbicara dengannya.
Vivi yang terhenti dengan ucapan Lena, menoleh kearahnya.
"aku akan menjenguknya lain kali"
Vivi meninggalkan mereka bersama timnya. Tim gabungan itu mengunjungi Ito diruang medis, namun pada saat itu Ito masih tidak sadarkan diri. seorang medis yang menangani Ito berkata kalau Ito memiliki luka yang dalam pada punggung dan memiliki retakan pada tangan Kirinya karena menerima serangan tanpa Howl.
Mato yang melihat kearah kakanya merasa sedih, Lena yang mencoba menenangkan Mato hanya bisa tersenyum sambil memegang pundaknya. setelah mereka sudah cukup melihat Ito, mereka meninggalkan ruang Medis, namun hanya Lena yang masih menatap Ito di ruangan itu.
"Lena ayo kita pergi" ajakan dari Gen
"Kalian duluan lah, aku masih ingin melihatnya"
Lena yang terlihat tegar itu baru bisa menunjukan wajah sedihnya setelah yang lain meninggalkan ruangan.
*************
-Beberapa Waktu lalu sebelum Turnamen Peringkat-
Dipadang rumput yang luas, terlihat mayat yang begitu banyak berserakan disana. Leis dan Regan yang berhasil memenangkan pertarungan itu merasa lega dan bisa melepas tawanya, jirah mereka sangat rusak dan mendapat kerugian korban yang tidak sedikit. Leis yang berjalan mendekat kearah Regan menanyakan mengapa ia bisa sampai dikejar oleh bangsa beast hingga sampai perbatasan. Regan yang berhutang cerita kepada Leis setelah pertarungan ini, memasang wajah serius.
"Raja Hyena.. Raja Hyena muncul ditempat aku melakukan ekspedisi"
"apa? Raja Hyena? bukankah dia berada dipedalaman utara bersama Raja yang lain?"
"aku tidak tau, sepertinya mereka ingin memperluas wilayah dengan mengirim raja Hyena"
Leis bergetar mendengar pernyataan itu, ia merasa harus melaporkan ini kepada militer, ia bertanya kembali kepada Regan mengenai kekuatan Raja hyena.
"Raja hyena sangat licik. ia membuat ku jatuh keperangkap dan terkepung oleh pasukannya, tim ku dihabisi dan dipaksa mundur"
"Kita harus kembali melaporkan kejadian ini"
"yah kau benar, tetapi sebelum itu kita harus membersihkan sisa bangsa barbar itu yang kabur, jika tidak mungkin saja mereka akan membahayakan dilain hari"
"cih, baiklah kita akan berpatroli sebelum kembali"
Sisa orang yang berhasil selamat dari pertarungan itu melakukan patroli dengan berjalan kaki karena kuda-kuda mereka juga ikut terbunuh saat pertempuran. Regan yang melakukan tugasnya harus rela melewatkan pertandingan Gon yang akan diadakan beberapa minggu lagi.
__ADS_1
[maafkan aku Gon, aku tidak bisa melihat kau bertanding]
mereka mulai berjalan memutari sekitar dan memasuki hutan.