
Air terjun yang berada di hutan Bloom merupakan salah satu air terjun yang terdapat pada kerajaan Rozok, Sungai terusan dari air terjun itu terkenal deras dan memiliki arus bawah air. Aku terjatuh dari atas sana karena tidak ada cara lain lagi untuk menghilangkan jejak, aku sudah lelah dan berharap sungai deras ini membawa ku ke suatu tempat.
Bodohnya aku, aku lupa kalau arus sungai disini sangat deras. Aku sudah mencoba untuk menggapai permukaan tetapi tubuh ku sudah tidak sanggup untuk berenang melawan arus ini, pandangan ku mulai kabur... sepertinya aku akan pingsan.
*Byurr...*
Diakhir kesadaran ku yang hampir hilang, ada seseorang yang masuk kedalam air dan menarik ku keatas permukaan. tubuh ku ia letakan menyender di sebuah pohon, kesadaran ku saat itu masih belum jelas karena kehilangan banyak darah dan kelelahan setelah terombang ambing sejak malam.
Ia sepertinya mengatakan sesuatu, tetapi suaranya sangat samar dan tidak tertangkap jelas ditelinga ku. aku menghiraukannya dan mencoba untuk beristirahat sejenak.
Aku membuka mataku dan melihat kelangit-langit, langit-langit itu terbuat dari kayu yang disusun dengan rapih, aku menoleh kesana kemari untuk melihat isi dalam rumah ini... ternyata rumah ini sangat sederhana, hanya memiliki beberapa barang penting, seperti meja kecil, tungku, lemari dan sebuah kotak besar. Seorang pria yang kurasa berumur 40 tahun dengan jenggot tipis mengenakan sebuah kaos lusuh biasa, masuk kedalam rumah dan menanyai keadaan ku :
"Hei nak, apa kau baik baik saja?"
Aku mencoba untuk bangun dari tidur, tetapi rasa sakit yang ada pada perut bagian kiri membuat ku meringis kesakitan, aku tak mengerti mengapa rasa sakit ini amat menyiksa? apa karena panah itu dialiri sebuah Ki dan itu berdampak lebih pada tubuh ku?
"Hei, hei!! kau tak usah memaksakan diri.. aku menemukan mu terombang ambing di sungai dekat desa ku, apa kau baik baik saja?"
Tanpa menoleh kearahnya, aku bertanya satu hal yang tidak berkaitan dengan pertanyaannya
"ahh dimana aku?"
"Kau berada di Desa Hagane dibagian timur kerajaan"
Aku terkejut dengan perkataan paman itu, berarti seharian ini aku terbawa arus ketempat yang lumayan jauh. tetapi aku sedikit lega dengan ini, karena kerajaan tidak akan menyangka kalau aku berada disini.
Aku merasa tubuhku masih lemah, untuk berdiri saja aku harus bersusah payah.
"Biar ku bantu.."
"ahh tidak perlu...aku bisa sendiri paman.."
Setelah aku menolak bantuannya dengan halus, Aku mencoba berjalan keluar rumah untuk melihat keadaan desa ini, terik matahari memaksa ku untuk memalingkan pandangan karena menyilaukan. Desa itu seperti desa pada umum lainnya, penduduknya berprofesi sebagai petani dan itu mengingatkan ku dengan desa Hiro.
"wahhh.. pak Kobe, apa itu pemuda yang kau selamatkan tadi?"
"ahh, iya dia orangnya"
Setelah perempuan tua itu berbicara dengan paman ini, aku akhirnya mengetahui siapa nama orang yang telah menyelamatkan hidup ku.
Aku segera menoleh kearah kebelakang untuk berterimakasih padanya.
"aa... aku Ito, terimakasih sudah menolong ku "
dan aku pun membungkuk kepada perempuan tua yang menyapa kami tadi.
aku mencoba untuk ramah kepada orang yang telah menyelamatkan ku ini, tetapi dia hanya melihat ku dengan mimik wajah yang bingung tanpa mengeluarkan satu kata pun. aku terheran dengan keheningan sesaat ini, apa aku salah ngomong?
Setelah keheningan itu, akhirnya dia mulai memperkenalkan diri kepada ku.
__ADS_1
"ahh... aku Kobe, maaf tadi aku terdiam sesaat, kau sungguh mirip dengan mendiang anak ku"
"ahhh... hahahaha"
aku menanggapinya dengan tawa yang setengah hati, setelah itu aku juga memperkenalkan diri kepada penduduk desa yang saat itu sedang beraktivitas disana, mereka menyambut ku dengan sangat ramah dan sekali lagi mengingatkan ku pada suasana didesa Hiro.
"apa kau seorang petualang?"
Beberapa anak kecil berlarian menghampiri ku tiba-tiba dan mereka sepertinya begitu tertarik saat melihat ku untuk pertama kali.
"ahh... bisa dibilang begitu-- hehehe"
Aku tersenyum kecut saat menanggapi pertanyaan mereka, sepertinya aku sudah lupa bagaimana cara untuk bercengkrama dengan orang banyak terutama anak-anak.
"lalu..lalu mengapa badan mu dipenuhi luka dan perban?"
ahhh... aku mulai risih dengan pertanyaan ini, tetapi ntah mengapa seperti ada suatu kehangatan yang membuat ku nyaman saat berada dilingkungan ini.
"ayoo!!! sudahlah kalian!! jangan mendesaknya dengan pertanyaan"
"haaaaaaa..... padahal kami ingin tau seperti apa seorang petualang itu"
Para anak kecil itu terlihat kecewa setelah diperingati oleh paman Kobe, aku merasa ditolong dua kali olehnya... selain karena malas menanggapi banyak pertanyaan.. pala ku juga sedikit pusing karena luka ini.
Aku berjalan mengelilingi desa ditemani oleh paman Kobe yang mengikuti ku dari belakang. Aku menikmati perjalanan ku mengitari desa yang nyaman ini, tubuh ku seperti terlahir kembali saat angin sejuk berhasil menembus pori-pori tubuh, Aku sempat berfikir kalau suasana desa ini bisa saja membuat ku untuk berhenti pada ambisi ku selama ini.
Aku terlena dengan kenyaman yang dibuat oleh desa ini sampai tidak terasa kalau aku sudah lama menulusuri jalan, perjalanan ku terhenti diatas bukit dengan deretan batu nisan yang menghiasi bukit itu.
Aku menoleh kearah paman Kobe yang memberitahuku tiba-tiba mengenai batu nisan itu
"apa karena penyerangan itu?"
"ya, kau benar!!! saat itu memang sangat mengerikan, tetapi mereka berhasil dikalahkan dan dipukul mundur-"
Aku tidak menanyakan lebih lanjut mengenai sejarah pada desa ini, setidaknya desa ini berhasil selamat.. tidak seperti desa ku yang hancur tanpa sisa.
Hari sudah mulai petang dengan langit yang mulai menunjukan gradasi merah dan kuning, Aku rasa ini waktunya untuk kembali ke desa dan memulihkan tubuhku. aku kembali ke rumah Paman Kobe, lalu Aku segera duduk perlahan dilantai menghadap meja kecil untuk sesi makan malam.
"malam ini kita akan makan banyak, tadi penduduk desa memberikan berbagai bahan makanan untuk menyambut kedatangan mu"
Aku terkesima dengan kebaikan penduduk didesa ini, mereka sampai repot-repot mengirimkan bahan makanan untuk orang asing seperti ku.
Paman Kobe mulai memasak bahan makanan itu, ia menuangkan hasil olahan makanan itu ke sebuah mangkuk dan memberikannya padaku.
Makanan itu sungguh enak, setidaknya lebih enak dari makanan yang selama ini aku makan dihutan.
Dalam keheningan dan suara lahap makan ku, paman kobe berhenti makan dan menatap mangkuknya dengan mimik wajah yang sedih.
"Aku merasa senang karena malam ini, aku tidak makan sendirian lagi setelah ditinggal mati keluarga ku.."
__ADS_1
Aku berhenti makan sejenak dan menatap kearah paman Kobe.
"ahhh maaf, apa aku mengganggu makan mu?"
"Ah tidak.. tidak.. aku berhenti karena ingin bersimpati pada mu, bisa kau ceritakan apa yang terjadi?"
"Waktu itu desa kami tentram seperti biasanya dengan aktivitas-aktivitas yang sudah biasa dilakukan. Sebenarnya kami sudah diberikan himbauan oleh utusan kerajaan untuk mengungsi ke Ibu kota karena ada bangsa hewan buas yang berkeliaran, tetapi kami menganggap itu sebagai angin lewat setelah pihak kerajaan berkata kalau mereka sudah menyebarkan prajurit militer keseluruh utara dan membuat sebuah pos penjaga"
Tubuhnya mulai bergetar karena seperti menahan pilu, aku hanya bisa terdiam mendengarkan ceritanya sambil mencuri sesendok makan. ia sudah mulai tenang dan melanjutkan ceritanya.
"Kami terus terlarut dalam kedamain yang semu ini, disuatu malam kami melihat sinyal api dari arah pos penjaga.. dan tidak lama dari sinyal itu.. gemuruh hewan buas menyerang desa kami, mereka itu seper---"
Entah mengapa paman Kobe menghentikan ceritanya, aku sempat berfikir kalau dia bercerita sambil menahan rasa sakit dalam benaknya dan aku mengerti perasaan itu karena aku juga mengalami hal mengerikan yang sama.
"ahh maaf sekali lagi, aku izin keluar sebentar"
Paman Kobe meninggalkan ku di meja makan, Cerita dan kesedihan yang ditunjukan oleh paman kobe membuat napsu makan ku menghilang. Aku memutuskan untuk beristirahat dan membaringkan tubuh ku dengan perlahan ke kasur.
Malam semakin larut, aku masih terjaga menunggu kepulangan Paman Kobe. Aku mulai manaruh curiga mengapa ia tidak kunjung pulang? apa ada suatu hal yang membuat dirinya pulang terlambat? Rasa khawatir ini menggerakan tubuh lemah ku untuk keluar mencarinya, tetapi saat aku ingin keluar rumah.. suara yang lantang terdengar dari arah luar.
"Apa kalian melihat orang ini?"
"tidak! kami tidak pernah melihat pemuda ini sebelumnya!!!"
"kami tidak percaya!!! cepat geladah rumah satu persatu, ada kemungkinan ia ada disini!!"
Sial!! itu prajurit kerajaan.. aku segera bersembunyi didalam rumah paman Kobe, aku pun juga sudah siap untuk menghadapi skema yang buruk, aku melihat-lihat ke setiap sudut ruangan untuk mencari sebuah senjata apa saja yang bisa aku pakai, mengingat semua senjata ku hanyut terbawa sungai.
Prajurit itu mengumpulkan para penduduk desa disatu titik, mereka menarik paksa pemilik rumah untuk keluar. Aku masih dalam keadaan bingung, memikirkan bagaimana cara untuk lolos dari sini.
Dalam kebingungan yang menyelimuti ku, aku mendengar sebuah ketukan dari belakang bilik rumah ini, aku menghampiri arah ketukan itu dan ternyata itu paman Kobe.. ia ternyata membuat sebuah celah dibalik rumahnya untuk melarikan diri.
"Ito cepat ikuti aku!!"
tanpa pikir panjang aku segera keluar lewat pintu rahasia itu dan mengikuti paman Kobe berlari masuk kedalam hutan, ia berlari seperti sudah mengetahui seluk beluk hutan itu.
Sepertinya aku dan paman Kobe sudah berlari jauh dari desa dan kami memutuskan untuk berhenti karena merasa sudah aman. Hutan itu sangat gelap, Sinar bulan sampai tidak bisa menerangi kedalamnya karena pepohonan disekitar kami sangat lebat.
Aku memegangi perut kiri ku yang terluka karena sepertinya luka ku terbuka lagi. Aku mencoba untuk melakukan teknik pernafasan agar mengurangi rasa sakit, tetapi nafas ku tersenggal-senggal karena kelelahan yang membuat teknik pernafasan ku terganggu.
"Paman Kobe sepertinya aku---"
Aku berbicara sambil mempunggungi Paman Kobe.
*Brak*
Sebelum aku menyelesaikan perkataan ku, tiba-tiba sebuah benda tumpul menghantam tengkuk ku. karena hantaman keras itu pandangan ku mulai buyar dan perlahan menghitam.
********
__ADS_1
NOTE : Merasa aneh ga bacanya? ini pake POV 1 hehhehee kritik saran yoooo
Btw POV 1 ane gunain buat beberapa bab kedepannya ya.. karena lagi mau lebih ke sudut pandang personal tokoh aja