Beast Clan Invasion

Beast Clan Invasion
Malam yang Merah


__ADS_3

"hahahahha” Suara anak – anak yang tertawa gembira berlarian meninggalkan desa yang tentram, mereka berlari melewati diantara gandum yang mengelilingi desa tersebut..


“Hai cepatlah kalian atau aku tinggal hahahah..” suara anak laki – laki dengan rambut hitam yang begitu ceria berlari di depan teman – temannya.


“Ito.... tunggu kami, kau terlalu semangat berlari” salah satu anak berambut ikal berteriak sambil berlari terengah–engah. tapi Ito tidak mengihiraukan perkataan temannya.


“hahahahaha kejar aku... dasar kalian payah”


[Perkenalkan aku Ito Keverius anak dari desa Hiro bagian Utara kerajaan Rozok. Siang menjelang sore, aku beserta adik dan teman – teman ku ingin bermain ke peternakan milik keluarga kami diluar desa]


“ka... tunggu aku...." teriak anak berambut hitam lurus dengan ikat kepala...


[dia Mato adik ku.. kemana pun aku pergi dia pasti akan mengikuti ku kemana saja]


Tidak terasa mereka sudah berlari jauh meninggalkan desa, terlihat dari kejauhan sebuah ladang perternakan yang luas dengan pagar kayu yang mengelilinginya serta beberapa hewan perternakan sedang dilepas di ladang tersebut..


*kling Kling....


Moooo~~~” suara sapi dan lonceng di ladang tersebut membuat suasana di ladang tersebut begitu nyaman..


Disudut ladang terdapat kandang hewan yang lumayan besar, seorang pria berpakaian layaknya petani membawa garpu jerami keluar dari kandang tersebut..


“Ayah...” teriakan Ito memanggil.


Pria berpakain petani itu segera melambaikan tangannya kepada sekumpulan anak–anak yang berlari menghampiri ladang miliknya...


“hai kalian cepat bantu ayah mengurus ternak”..


“Ok ayah, baik paman”


Ito dan teman-temannya menjawab dengan gembira..


Mooo~~~


[Sapi – sapi yang sedang kuberikan makan ini tingginya melebihi diriku dan teman – teman ku. Aku senang ke ladang ayah karena bisa bermain dengan hewan – hewan disini.]


Saat semua sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing, anak berambut ikal terdiam memandangi ** sapi yang ada didepannya


“aaaaaaa aku ingin memegang ** sapi ini, apakah benar ** ini akan mengeluarkan susu, hei Ito?” gumam seorang anak berambut ikal orange


“hhmm aku tak tahu Gen, bagaimana kalo kau coba saja?”


“Ok” tanpa berfikir panjang Gen seger memegang ** sapi itu dan memerasnya...


Mooooo~ Mooooo~~~~ sapi itu mengerang dan mengibas – ngibaskan ekornya kesana kemari.


“waaaaaa” Gen yang terkejut karena ekor sapi itu terjungkal kebelang, wajahnya sangat lucu dan memerah.


“hahahahahah” Ito tertawa terpingkal-pingkal setelah melihat Gen yang terjungkal itu.


Disudut ladang seorang gadis yang sedang memberikan makan kuda, berteriak kepada Ito.


“Horaa.... Ito jangan mengerjai Gen”


nada Lembut namun tegas dengan wajah manisnya ia memberikan peringatan kepada Ito, Ito yang mendengar teriakan dari gadis itu berhenti tertawa dan memberikan ekspresi yang muram...


“cihh Lena, aku hanya bercanda saja”


[Gen dan Lena adalah teman ku dari kecil, mereka yang selalu menemani ku kemana saja.. memang banyak anak di desa kami. Tetapi aku lebih merasa nyaman bermain dengan mereka.]

__ADS_1


“Mato ayo kesini.....” Lena berteriak memanggil Mato yang jauh diseberang kandang kuda. Mato yang sedang asik membaca buku ditumpukan jerami menjawab tanpa menoleh kearah Lena.


“nanti saja... aku sedang membaca buku yang baru ku dapat pagi ini”


Mato yang tidak menyadari kalau Ito sedang mengendap-ngendap kebelakangnya. *slapppppanpa* Ito merebut buku yang sedang dibaca oleh mato.


“Ka!! Balikin”


“ayolah Mato kita bermain dan mengurus hewan ternak ayah”


“Aku tidak tertarik.. aku lebih suka membaca buku...” Mato menolak ajakan Ito dengan raut wajah yang sedikit jengkel karena tingkah laku Ito.


“cihhhh Mato ga asik” Ito mengembalikan buku Mato kepadanya dan beranjak pergi darisana.


Hari sudah mulai memerah menandakan hari sudah mulai sore.. burung-burung bergerombolan mulai menjadi penghias di langit – langit senja. ayah Ito yang baru saja menyelesaikan pekerjaanya berteriak kepada anak- anak itu.


“hai kalian, ayo kita pulang kerumah”


“aaaa aku masih ingin bermain”


“aku juga masih ingin membaca buku yah”


“kami juga akan pulang jika Ito dan Mato selesai”


Serentak mereka menjawab dengan kompak untuk menolak ajakan pulang bersama ayah Ito. mendengar perkataan mereka yang masih ingin bermain ayah Ito tersenyum dan pasrah saja.


“baiklah, kalau begitu ayah pulang ke desa duluan.. kalian jangan terlalu lama bermain”


“Baik paman/ayah!”


setelah mereka puas bermain, mereka akhirnya memutuskan untuk pulang.


Ditengah perjalanan pulang Ito dan kawan-kawannya bertemu dengan kawanan anak yang lain.


“hei Ito, kau masih berani bertemu dengan ku?”


Ito yang mengetahui sosok anak berbadan besar itu berteriak menjawab pertanyaannya dengan wajah serius.


“aku tidak takut bertemu dengan mu Rega!”


Raut wajah Rega berubah menjadi kekesalan terhadapnya. ia berlari menghampiri Ito dan tanpa sadar pandangan ito sudah menghadap atas dan melihat Rega sudah mendudukinya sambil memukulnya berkali – kali.


“Ito!!” teriak kawan-kawannya melihat Ito dipukuli tanpa perlawanan. Gen dan Mato berlari menghampiri mereka berdua dan berhasil melerai keduanya.


“kau lihat saja Ito, aku akan membuat mu tidak berani lagi menentang ku!”


[Dia Rega anak kepala desa yang sok ngatur.. aku tidak suka dengannya karena sifatnya yang begitu tamak dan sok jagoan.. anak – anak lain ingin berteman dengannya karena ayahnya kepala desa. Itu lah mengapa teman ku hanya Gen, Lena dan adik ku.]


Setelah kejadian tadi kami mengurungi niat kami untuk pulang ke desa dan berhenti di sungai dekat dengan ladang milik ayah.


“Ito coba lihat lukamu” Lena bertanya sambil memegang mukanya, Muka Ito penuh dengan luka lebam.


“ka kau tidak apa-apa?" Mato yang merasa khawatir dengan luka Ito terlihat gelisah, Ito hanya bisa terdiam dengan keadaan nya sekarang. sedangkan Gen sejak tadi hanya mondar-mandir dijalan meluapkan kekesalannya.


“dasar Rega lihat saja kalau ketemu lagi dengan ku akan ku hajar dia”


Ito yang melihat kegelisahan teman-temannya tersenyum dan mencairkan suasana.


“ayolah kawan kawan ini hanya luka memar”

__ADS_1


Gen yang berhenti dari rasa marahnya menghampiri Ito yang sedang duduk di pinggir sungai.


“ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, dia sudah keterlaluan”


“tetapi Gen, bagaimana kita melawannya? Rega memiliki badan yang besar dan dia memiliki banyak teman”


“kita harus mencobanya Ito..”


Lena yang sejak tadi melihat kearah desa, memotong pembicaraan mereka.


“ehmmm teman – teman, maaf mengganggu rencana pembalasan dendam kalian.. tetapi ada asap dari arah desa kita”


mereka menolehkan pandangan kearah yang ditunjukan oleh Lena. Mereka terkejut melihat kepulan asap dari desa mereka.


“apa yang terjadi?” Mato terkejut, matanya bergetar melihat kejadian yang ia lihat.


mereka berlari kearah desa dengan perasaan cemas akan keluarga Mereka. Ito yang berlari dengan kencangnya berharap kalau itu bukan hal yang serius.


[apa yang terjadi? kumohon.. semoga saja bukan hal yang gawat]


Dari kejauhan mereka melihat desa sudah terbakar, mereka lebih terkejut saat melihat makhluk yang ada disana... badannya begitu besar dan menakutkan.. sejenis ras kucing besar.. seperti singa, harimau, macan kumbang, jaguar dan lain – lain namun mereka bisa berdiri dengan dua kaki.


[apa yang terjadi? Darimana mereka berasal? Makhluk apa ini? Mengapa mereka bisa seperti itu?] pertanyaan demi pertanyaan Ito lontarkan dalam hatinya, namun ia tetap tidak menemukan jawabannya.


Penduduk desa yang berlarian kesana kemari menghindari serangan dari makhluk barbar itu terlihat putus asa, mereka diburu dan dipotong dengan sadis. Rumah - rumah terbakar karena ulah makhluk barbar ini. hal yang membuat Ito dan kawan-kawannya terkejut disaat makhluk itu memakan penduduk desa dengan sadis, mereka mencabik-cabik tubuh korbannya dan memakannya dengan lahap.


“ayaahhhh,,,Ibuuuuuuu!!!!!!!!” Ito yang melihat kejadian itu membuatnya tambah panik, ia berteriak dan berlari kearah rumahnya.


“kita harus kerumah masing – masing” Mato memberikan saran kepada teman-temannya.


akhirnya mereka berpencar, Ito dan mato berlari kerumah mereka dan berharap ayah dan ibunya baik – baik saja...


[aku mohon ayah dan ibu... ku harap kalian baik – baik saja] hati Ito berbicara dalam ke khawatiran.


Namun ternyata harapan Ito tidak didengar oleh dewa...


mereka melihat Ibunya sedang disantap dengan badan yang sudah terpotong – potong.. dengan raut wajah yang ketakutan dan air mata yang membasahi pipinya... disaat mereka terpaku dengan kejadian yang menimpa ibu mereka. dari kejauhan mereka mendengan seorang pria berteriak kepada mereka.


“Ito, Mato....larilahhhhh!!!!!!


itu Suara ayah mereka dengan nada yang khawatir memerintahkan untuk lari dari sana.. namun mereka berdua tidak bisa berbuat apa – apa, Ito dan Mato hanya mematung melihat ibu mereka disantap, suara ayahnya hanya angin lewat bagi mereka saat itu.


disaat Ito dan Mato terpaku dengan apa yang terjadi dengan ibu mereka... salah satu makhluk itu mendekati ayah mereka yang sedang merangkak dan mencakar pala ayahnya dengan cakar besar yang ia miliki... kepala ayahnya terpental ke depan kaki Mato dan disaat itu jiwa mereka terasa sedang dirusak oleh pemandangan ini.


“aarrghhhhhhhhh.................................” Teriakan dan tatapan putus asa mereka saat melihat kepala dari seorang yang mereka cintai sudah tidak berada pada semestinya


Mato yang tersungkur dan terpukul memegang kepala ayahnya dengan tangannya yang gemetar...


setelah memenggal kepala ayahnya, makhluk itu menghampiri Ito dan Mato, Mato yang masih memegang kepala ayahnya tidak bisa berbuat apa – apa.


Ito dengan kemarahan dan rasa sedih bergerak sendiri maju menghampiri makhluk itu..


Namun disaat yang tepat paman Korslet, ayah Lena lari menghampiri Ito dan menggendong mereka berdua...


Ito meronta–ronta saat paman korslet membawanya lari namun dia tidak bisa melakukan apa – apa..


Paman korslet menaikan mereka berdua ke kereta kuda bersama Gen, Lena dan Ibunya, paman korslet segera mengendarai kuda itu dan membawa mereka jauh dari desa bersama penduduk yang selamat...


Dari kejauhan Ito melihat desanya yang tentram dan nyaman.. dipenuhi asap hitam dan api yang menyala di malam hari... bewarna merah namun merah yang membawa keputusasaan bagi negeri ini..

__ADS_1


Disampingnya Mato masih menunduk kaku.. dengan memegang kepala ayahnya, Ito hanya bisa terdiam tak percaya didalam kereta kuda bersama teman-temannya.. Ito menoleh melihat Gen yang menangis dan ia menyadari arti itu bahwa ibu dan ayahnya tidak selamat. Lena yang mencoba berbicara pada teman-temannya untuk mencairkan suasana, namun suaranya hanya angin lewat bagi mereka sekarang ini...


Dalam hati Ito, [aku bersumpah akan balas dendam pada mahkluk keparat itu] dengan wajah yang penuh kebencian dan sakit hati.


__ADS_2