Beautiful Boy (Suamiku Pria Cantik)

Beautiful Boy (Suamiku Pria Cantik)
Bab 32


__ADS_3

Malam ini adalah malam yang menegangkan untuk Samuel, karena malam ini ia akan bertemu lagi dengan calon papa mertuanya, yaitu planet Pluto yang terkenal menyebalkan. Meskipun begitu, sebagai calon suami dari putri planet Pluto Samuel harus menjadi calon menantu idaman untuknya. Dan undangan makan malam ini adalah sebuah sinyal kuat dari sang calon mertua untuknya.


Samuel sudah bersiap, ia terlihat sangat tampan dan gagah. Ibunya tersenyum bahagia karena putra satu-satunya itu kini sudah tumbuh menjadi seorang pria yang luar biasa. Ia sangat bangga, karena putranya itu adalah seorang pria yang baik dan juga sopan. Ia juga bangga karena berkat kegigihannya dalam bekerja, ia bisa mewujudkan impiannya sedikit demi sedikit berkat kerja kerasnya.


"Bagaimana menurutmu, Bu. Apa aku terlihat tampan?" tanya Samuel pada Rima ibunya.


"Kau sangat tampan sayang, putra Ibu memang sangat tampan," ucapnya sambil memegangi bahu Samuel yang kokoh.


"Ahh, aku jadi malu. Jantungku juga berdegup dengan kencang, Bu. Ini pasti karena aku sangat gugup,"


"Jangan gugup, bersikaplah biasa saja. Karena jika kau gugup kau akan melakukan kesalahan nanti,"


"Benar juga, baiklah kalau begitu aku pamit dulu Bum Doakan anakmu ini agar selalu mendapatkan restu dari Tuan Pluto," ucap Samuel.


"Bukannya, calon mertuamu itu namanya Venus?" tanya Rima, karena waktu itu putranya mengatakan jika Zia adalah putri dari Venus. Pemilik dari Galaxy Group, perusahaan yang ia bangun dan ia rintis sendiri saat itu.


"Iya, tapi tidak tahu kenapa orang-orang memanggilnya Pluto,"


"Oh, tidak apa-apa justru kalau panggilannya komet akan sangat aneh," ucap Rima sambil tertawa. Diiringi tawa Samuel, ternyata ibunya ini senang bercanda juga, pikirnya.


"Ibu benar, ya sudah kalau begitu aku pergi dulu. Doakan anakmu ini ya Bu,"


"Selalu sayang, lain kali ajak calon menantu Ibu kemari ya,"


"Iya baiklah, Ibu pasti suka padanya. Karena dia sangat cantik dan juga baik," Rima pun tersenyum dan kemudian ia pun mengantarkan anaknya ke depan rumah untuk pergi ke rumah calon istrinya.


*


*


*

__ADS_1


Sampailah Samuel di kediaman Venus, ia sudah membawa karangan bunga yang sangat cantik. Yang ia bawa dan akan ia berikan untuk Zia.


Jantungnya mendadak berdegup kencang, jika ia membayangkan akan bertemu dengan kekasih hatinya. Gadis cantik, dan lucu serta sangat baik itu. Mampu mengambil hati Samuel dengan begitu mudahnya.


Suara bel rumah pun berbunyi, Zia yang sedang membantu Alma menyiapkan makanan pun langsung berlari menuju ke depan rumah. Karena itu pasti Samuel, kekasihnya yang telah datang.


Venus yang melihat putrinya sangat senang itu, hanya menggelengkan kepalanya. Ia merasa heran jika anak kesayangannya akan sebucin itu, pada asisten suami keponakannya itu.


"Lihatlah anakmu itu, dia sampai tergila-gila pada asisten pria cantik itu," ucap Venus pada Alma.


"Biarkan saja, lagi pula Samy itu anak yang baik. Aku suka padanya," ucap Alma, sambil menata piring-piring di meja makan.


"Apa kau bilang! Kau suka pada calon menantumu sendiri! Astaga Alma, suamimu ini masih sangat tampan dan juga masih muda, kenapa kau malah menyukai brondong itu!" sewot Venus pada Alma.


"Apa penyakit gilamu itu kambuh! Maksudku bukan begitu Pluto, apa otakmu itu pindah ke paha! Sampai-sampai aku tidak paham dengan ucapanku!" sentak Alma kesal pada suaminya ini, yang jika penyakit gilanya kambuh hanya akan membuat tekanan darah Alma naik turun.


"Aku paham, maksudnya kau itu menyukai tangkai muda kan? Ayo mengaku!"


"Apalagi itu tangkai muda? Otakmu benar-benar harus aku bedah! Aku penasaran apa isi dalam otakmu itu!"


"Mana aku tahu, ungkapan itu kau sendiri yang membuatnya!"


Baru saja, Venus akan menjawab kata-kata Istrinya itu. Sang putri kesayangan sudah menggandeng mesra kekasihnya, dan kemudian tersenyum manis ke arahnya.


Venus langsung mendelik pada Istrinya itu, "Jangan senyum padanya sayang. Suamimu ada di sini, kau tahu kan kalau suamimu ini pencemburu!" ucap Venus menyebalkan.


"Dasar gila!" gumam Alma.


"Papa perlihatkan wajah yang enak dipandang, karena sebentar lagi kita akan makan," ucap Zia pada Venus.


"Kau akan makan nasi, bukan memakan wajah Papamu Zi!"

__ADS_1


"Maaf ya Sam, Papa memang selalu begitu," ucap Zia pada Samuel.


"Iya tidak apa-apa," jawab Samuel tersenyum pada Zia yang terlihat sangat cantik malam ini. Hingga Samuel terhipnotis oleh penampilannya, dan terus memandangnya dengan pandangan intens. Tanpa menyadari jika planet Pluto sedang mengeluarkan Bintang berekornya untuk menyerang Samuel. Namun, itu tak akan Alma biarkan. Ia tak mau jika suaminya itu mengganggu keromantisan sang putri.


"Hei kalian berdua ...!"


"Kalian ini sangat romantis," potong Alma, membuat Venus kesal saja.


"Jangan kau apa-apakan putriku dulu. Cepatlah menikah agar kalian tak hanya pandang-pandangan saja. Mataku gatal melihatnya!"


Alma dan Zia pun tersenyum, ucapan Venus memang terkesan jutek tapi sebenarnya dalam ucapannya itu ia ingin jika Samuel dan Alma bisa menikah secepatnya.


"Terima kasih Pah," ucap Zia menghampiri Venus dan memeluknya. Begitu pun dengan Alma yang juga memeluk suaminya.


"Terima kasih sayang, nanti malam aku akan memberikan hadiah untukmu," bisik Alma.


"Oke aku tunggu," bisik Venus juga, karena mereka tidak mau ucapan mereka berdua terdengar oleh anak dan juga calon menantunya.


Samuel pun tersenyum bahagia, akhirnya sebentar lagi ia akan menikah dengan kekasihnya, yang sangat ia cintai.


Di malam yang sama tapi di tempat yang berbeda, Jupiter dan Moza pun kini sedang maka malam berdua di rumahnya. Terasa sangat sepi suasana di rumah itu sejak Jizzy menikah. Tapi apa boleh buat, karena cepat atau lambat, hal itu pasti akan terjadi.


"Kak Jupi, kenapa kita tidak undang saja Jizzy dan juga Zavier untuk makan malam di sini. Agar kita tidak kesepian," Moza mencoba memberikan penjelasan usul pada suaminya ini. Sepertinya sejak menikah, Jizzy dan Zavier jarang sekali berkunjung ke rumahnya. Itu karena mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


"Aku tidak melarang, tapi kau tahu sendiri jika menantu kita itu makhluk langka. Kau tahu kan bagaimana dia, Zavier adalah orang yang sangat protektif,"


"Benar juga ya, menantu kita kan aneh," jawab Moza sambil tertawa membayangkan sikap Zavier yang sudah seperti makhluk karbol anti kuman.


"Sebaiknya kau tanyakan dulu pada Jizzy, apa yang suaminya makan agar kita bisa menyiapkannya," usul Jupiter, karena ia sangat tahu jika menantunya itu sangat pemilih dalam makan.


"Benar juga, tapi aku penasaran selama ini anak ayam itu makan apa ya?" Moza malah jadi tertawa gara-gara menantunya itu.

__ADS_1


"Aku tidak tahu, mungkin ia makan sabun batangan dengan saus pasta gigi. Atau mungkin juga ia makan sampo dengan taburan detergen," jawab Jupiter asal, hingga membuat tawa Moza semakin pecah saja.


"Kalau begitu besok aku akan meminta pelayan untuk memasak karbol dengan ekstra pewangi," timpal Moza di tengah-tengah tawanya.


__ADS_2