
Jangan lupa tinggalkan jejak...
Vote+Comment+Love nya juga yaa!!!
Hope You Enjoy It...
Beautiful Revenge
©2020
Prolog
_____________________________________________
Tujuh Tahun Lalu....
Sherkan Erdogan Yassaran, remaja tujuh belas tahun dengan wajah khas orang-orang timur tengah itu meraih headphone dari tas ranselnya dan mulai memasang benda elektronik tersebut di kedua telinganya. Dengan perlahan suara musik mulai memenuhi indra pendengaran Sherkan, cukup berguna untuk menyingkirkan suara klakson yang saling sahut menyahut di tengah kemacetan jalanan kota New York siang itu.
"Ada kecelakaan di depan, Tuan Muda." Phural yang berada di kursi pengemudi tiba-tiba berseru.
Sherkan mematikan musik yang mengalir lewat headphone nya dan menatap kedepan tanpa semangat, sejauh ini yang dapat ia lihat hanyalah puluhan mobil yang tengah berdesakan tak sabar hendak segera terbebas dari kemacetan.
Detik berikutnya, mata birunya yang di bingkai alis hitam tebal itu beralih kearah jendela, menatap sebuah mustang yang sangat familiar tengah terparkir rapi di sisi toko kue. Sherkan menangkap sosok Sean, sepupunya tengah duduk disalah satu meja di toko kue tersebut dengan Kendall yang tengah memakan cake di hadapannya dengan wajah sumringah.
"Mereka itu benar-benar," Sherkan bergumam sembari menggeleng pelan.
Mobil kembali berjalan pelan saat antrian mobil lainnya juga berjalan seiringan. Sherkan kembali menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Masih menatap jendela dengan pandangan menerawang. Hingga sebuah mobil keluaran BMW berwarna silver yang sudah hancur tak berbentuk di bawa oleh sebuah mobil derek mengalihkan perhatiannya.
"Hal seperti itulah yang paling ditakutkan Tuan Yassaran saat Anda ikut balapan liar seperti kemarin, Tuan Muda." ucap Phural.
Mau tak mau Sherkan kembali menoleh kearah Phural mencoba memahami sindiran halus yang di lontarkan oleh pria tiga puluh delapan tahun yang merupakan asisten pribadi ayahnya tersebut.
"Aku hanya ingin segera istirahat. Dan kau mengemudi seperti wanita tua!" sinis Sherkan dengan pandangan mata kearah jam tangannya.
"Ma-maaf kan saya, Tuan Muda." ucap Phural gugup sembari menginjak pedal gas dan meningkatkan laju mobil yang ia kendarai.
Sepuluh menit kemudian, BMW XXV itu mulai memasuki kawasan mansion dengan logo YASSARAN berwarna hitam yang membingkai gerbang utamanya. Butuh waktu sekitar lima menit untuk melintasi halaman luas yang ditumbuhi beragam tanaman hias hingga sebuah mansion berwarna abu-abu tua berdiri megah di tengah-tengah lapangan yang menghijau.
__ADS_1
Phural menghentikan mobil tepat di depan tangga yang langsung terhubung dengan pintu utama Mansion. Phural yang tadinya hendak bergerak membukakan pintu untuk Sherkan langsung mengurungkan niatnya. Sherkan sudah keluar dari dalam mobil dan menghempas pelan pintunya hingga tertutup. Sementara Phural langsung melaju menuju garasi.
Sherkan kini berdiri dengan wajah bingung tepat disamping sebuah mobil Pajero Sport yang terparkir di depan tangga. Kernyitan di dahi Sherkan semakin tampak nyata saat iris birunya menangkap sosok Kemal Yilmaz yang merupakan sahabat ayahnya sekaligus orang tua dari kekasihnya tengah berlari tergesa-gesa menuruni tangga.
Sherkan langsung melangkah menaiki tangga dan melemparkan sebuah senyuman tepat saat ia berpapasan dengan pria yang kerap ia panggil Abi tersebut.
"Kemal Abi!" panggil Sherkan.
Pria empat puluh tahunan itu langsung menoleh dan menatap Sherkan sekilas tanpa ekspresi. Kemudian ia memasuki mobil Pajero Sport tersebut dan melesat pergi.
Masih dengan tanda tanya besar di dalam benak nya, Sherkan memilih melanjutkan langkahnya dan masuk kedalam mansion melalui sisi pintu yang terbuka.
Ia benar-benar ingin membaringkan tubuh lelahnya di atas ranjang kamarn yang empuk. Kemudian berniat meminjam salah satu mobil Sean untuk menjemput Sahara malam ini dan memperbaiki hubungan mereka yang sempat goyah. Sesuai dengan anjuran sahabat-sahabatnya di kafetaria pagi tadi.
Sherkan baru saja hendak menaiki tangga saat ia menyadari sesuatu yang aneh. Para maid yang biasanya berlalu lalang melaksanakan tugasnya tak terlihat sama sekali. Mata birunya beralih kearah ruang keluarga yang tampak berantakan.
Dengan langkah-langkah lebar Sherkan segera beranjak menuju ruang keluarga, dan benar saja. Ruangan itu benar-benar berantakan dengan pecahan meja yang terbuat dari kaca berhamburan di lantai, beberapa furniture juga tampak berserakan. Dengan gemetar tangan Sherkan bergerak memungut sebuah kertas yang menarik perhatiannya dari lantai.
Suara tembakan dari arah kamar kedua orang tuanya membuat Sherkan tersentak kaget. Hingga tiga kali suara tembakan yang terdengar memekakkan telinga. Sebelun semuanya berubah senyap. Kemudian di iringi suara tangisan anak perempuan.
"Defne?" seru Sherkan, ia yakin betul suara tangisan itu milik adik kecilnya.
Sherkan segera berlari tergopoh-gopoh kearah kamar kedua orang tuanya dan langsung mendorong pintu berwarna abu-abu tua tersebut hingga terbuka lebar. Di kamar bernuansa merah maroon itu Sherkan dapat melihat Ayaz Erdogan Yassaran sedang berdiri kaku dengan sepucuk pistol di tangan kanannya. Di hadapannya terbujur jasad istrinya yang terbaring di lantai dengan tiga tembakan yang bersarang di dahi, dada dan perut.
"Baba?" panggil Sherkan dengan suara bergetar dan air mata yabg mulai mengalir.
Ayaz Yassaran menoleh dengan wajah sendu dan rasa penyesalan yang tersirat melalui mata coklatnya. Pistol di tangannya sudah dapat menjelaskan semua yang terjadi, Ayaz Erdogan Yassaran menghabisi nyawa istrinya sendiri tepat di depan putrinya yang baru berusia sepuluh tahun.
"Baba! Apa yang kau lakukan?" ia melangkah dengan lutut gemetar hendak mendekat kearah jasad ibunya serta bermaksud menghampiri Defne yang masih menangis sesenggukan.
"Anne!" panggil Sherkan parau.
Hanya berjarak beberapa langkah sampai Sherkan dapat mendekat kearah tubuh tak bernyawa wanita yang selalu ia panggil ibu tersebut. Namun, suara pistol yang kembali dikekang membuat Sherkan terpaksa menghentikan langkahnya dan beralih menatap sang ayah yang kini sudah menodongkan pistolnya tepat kearah Sherkan.
__ADS_1
"Jangan bergerak, Sherkan!" perintahnya mutlak tak terbantahkan.
Sherkan langsung terdiam membeku di tempatnya berdiri dan memandang Ayaz dengan tubuh bergetar ketakutan. Dalam hati Sherkan mengumpat dirinya sendiri habis-habisan, ternyata memang benar. Dia benar-benar seorang pengecut.
"Katakan pada, Alyan!" ucapan nya terjeda sejenak kemudian menghela nafas perlahan, " Katakan pada Alyan untuk mengurus kalian berdua dengan baik!" pandangannya kini beralih antara Sherkan dan Defne bergantian.
Sherkan menggelengkan kepalanya tak percaya melihat ayahnya itu sudah mengarahkan pucuk pistol tersebut ke kepalanya sendiri.
"Apa maksud semua ini, Baba?"
Ayah dari tiga orang anak itu tersenyum sekilas, "Jangan membebani kakakmu lagi, Sherkan! Karna bebannya akan semakin berat setelah ini!"
"Aku tidak..."
Kalimat Sherkan terpotong oleh suara tembakan. Detik itu juga tubuh tegap seorang Ayaz Yassaran langsung jatuh kelantai. Ia menghembuskan nafas terakhir nya saat peluru panas itu menembus kepalanya.
"BABA!" Sherkan menjerit sekuat tenaga dan berlari menggapai tubuh ayahnya yang sudah tak bernyawa. Perlahan darah segar mulai mengalir membasahi kaki Sherkan yang bersimpuh di lantai. Sherkan juga merasakan Defne telah memeluknya dengan suara tangisan yang berderai.
Ia menatap jasad kedua orang tuanya secara. bergantian dengan mata yang memerah. Tangannya mengepal kuat menahan amarah. Satu yang Sherkan tahu, Kemal Yilmaz bertanggung jawab atas petaka yang menimpa kedua orang tuanya tersebut. Sherkan mulai menyimpan dendamnya.
Pusing, Sherkan merasakan sakit yang teramat sangat menghantam kepalanya. Suara tembakan-tembakan yang ia dengar tadi membuat kepalanya kini mulai bereaksi. Ditambah suara sirine mobil polisi dan ambulance yang saling bersahutan mulai bergerak mendekati mansion.
Sherkan semakin merasa pusing, solah-olah ia sudah kehilangan darah dari tubuhnya. Lemas dan sangat berat bahkan sekedar untuk menegakkan badan.
Hal terakhir yang Sherkan ingat pada hari naas itu adalah wajah kedua orang tuanya, mata Defne yang sudah membengkak akibat menangis, wajah panik Alyan di depan pintu kamar serta Phural dan sejumlah orang berseragam serba putih. Hingga semua nya berubah menjadi gelap dan kelam.
**********
To Be Continue...
Beautiful Revenge
©2020
SOND13
__ADS_1