Beautifull Revenge

Beautifull Revenge
Chapter 21-Beautiful Revenge


__ADS_3

Jangan Lupa Tinggalkan Jejak...


Like+Vote+Comment Nya Juga Yaa!!


Happy Reading...


Beautiful Revenge


©2020


Chapter 21


_____________________________________________


Sherkan and Sahara New Mansion, Ankara-Turkey. 7.14 PM


*************


Langkah kaki Sahara membawanya menuruni tangga. Ia barusaja selesai mengoleskan obat pada luka di dadanya. Kini Sahara hanya ingin ke dapur dan mulai menyiapkan makan malam. Sherkan sudah pergi dari mansion sejak Sahara datang ke kamarnya untuk mengajak suaminya itu sarapan pagi. Namun Sahara malah mendapati kamar Sherkan yang kosong. Sepertinya Sahara memang hanya perlu berusaha terbiasa dengan kondisi itu.


"Nyonya, Tuan Sherkan baru tiba."


Bibi Hediye berujar dengan nada bergetar, Sahara yang baru hendak memasang celemek ditubuhnya sontak menghentikan niatnya tersebut. Ia meletakkan celemek itu di dekat wastafel kemudian melangkah cepat menuju pintu utama. Mengabaikan rasa sakit di dadanya setiap kali luka melepuh itu bergesekan dengan pakaian yang ia kenakan.


Pertahanan terakhir Sahara runtuh, senyumnya yang semula mengembang juga akhirnya menghilang. Sherkan memang ada di mansion itu, tapi lengkap dengan sekretaris nya, Merald. Mereka melangkah bergandengan memasuki mansion dengan Paman Muratt dibelakangnya membawa sebuah koper berukuran besar. Bahkan saat pertama kali Sahara menginjakkan kakinya di mansion ini, Sahara masuk sendiri tanpa adanya Sherkan yang menggandeng tangannya.


Salahkan jika Sahara memandang kedua orang itu dengan tatapan cemburu. Tetapi Sahara masih kembali berusaha menampilkan senyumnya, mengabaikan rasa sakit hatinya melihat kemesraan yang tersaji dihadapannya saat ini.


"Nyonya Yassaran!" Merald berseru begitu melihat sosok Sahara yang berdiri didekat undakan tangga. Ia melepaskan tangannya dari gandengan Sherkan kemudian melemparkan senyum manisnya pada Sherkan yang dibalas dengan hal yang sama oleh Sherkan.


Sahara tidak bisa tidak merasakan sakit yang luar biasa merasuki hatinya, "Apa yang kau lakukan disini?" tanya Sahara begitu Sherkan menaiki undakan tangga perlahan hanya menyisakan Merald dan Sahara disana.


"Sangat sulit menjelaskannya, Nyonya!" senyum palsu itu kembali hadir disudut bibirnya.


Sahara memicing tak suka, jelas-jelas wanita ini seperti sedang mengolok-olok dirinya. Menganggap Sahara sebagai sebuah candaan. Ditambah dengan senyumnya yang memiliki maksud tersembunyi itu, sepertinya wanita itu memiliki rencana untuk membuat hidup Sahara dikemudian hari serasa seperti di neraka.


"Sherkan berpikir pekerjaan kami akan lebih mudah diselesaikan jika kami tinggal bersama." katanya dengan nada lembut yang dibuat-buat.


Sahara meremas ujung dress nya, "Tinggal bersama?" tanya Sahara.


"Ya, seperti itulah." Merald lagi-lagi tersenyum.

__ADS_1


"Dia pria beristri, Merald." balas Sahara penuh penekanan, "Yang kalian lakukan ini bukan demi pekerjaan." ujar Sahara lagi, to the point.


Merald terkekeh pelan, "Aku harap Anda tidak mencari masalah, Nyonya Yassaran."


"Kurasa kaulah yang mencari masalah!" tandas Sahara tanpa mempedulikan luapan emosinya.


Merald memutar kedua bola matanya dengan sangat tidak sopan, "Permisi, ada pria beristri yang harus saya puaskan." katanya berbisik ditelinga Sahara kemudian menaiki undakan tangga.


"Kau wanita murahan!" Sahara berucap pelan.


Hal yang barusaja ia ucapkan membuat langkah Merald yang baru menaiki undakan tangga ketiga terhenti seketika. Dengan cepat wanita berambut pirang itu berbalik dan mencengkram wajah Sahara dengan tangan kanannya.


"Tarik kembali kata-katamu!" desisnya didepan wajah Sahara yang seperti menahan rasa sakit.


Sahara sama sekali tidak pernah diperlakukan sekasar ini oleh seorang wanita dan sekarang ia tengah menerima penyiksaan itu. Dari seorang wanita yang hanya berstatus sebagai sekretaris suaminya. Betapa bodohnya Sahara jika ia tidak melawan. Maka dari itu kini Sahara mendorong tubuh Merald hingga menabrak pembatas tangga. Membuat wanita itu meringis kesakitan.


"Beraninya kau!" Merald berbalik marah.


Sementara Sahara mempertahankan posisi nya juga ego nya yang hampir tercela. Merald ingin melayangkan sebuah pukulan ke wajah Sahara tepat saat Sherkan menangkap tangan wanita itu. Entah sejak kapan Sherkan berada diantara mereka berdua. Yang jelas saat ini Sahara merasakan dadanya menghangat.


'Sherkan masih peduli!' ucap Sahara dalam hati, air matanya hampir menetes.


"Hanya aku yang boleh menyakitinya!" ketus Sherkan masih menggenggam jemari Merald dalam genggamannya.


"Ah, sudah kubilang. Aku tidak ingin melihat drama seperti ini, Sherkan!" Merald kini semakin berani, ia bergelayut manja di lengan Sherkan kemudian mencium rahang pria itu dengan amat mesra.


"Tunggu aku dikamar." bisik Sherkan parau. Tak lupa membalas kecupan-kecupan yang Merald berikan padanya.


Kedua orang itu seperti sama sekali tak menganggap Sahara berada disekitar mereka. Menatap mereka dengan hati yang terluka, "Apa maksudnya ini, Sherkan?" Sahara bertanya saat Merald sudah melayangkan langkahnya menaiki undakan tangga.


"Matamu sedang tidak berbohong, Princessa." Sherkan menyandarkan tubuhnya di pembatas tangga, "Kau bisa melihatnya sendiri. Matamu tidak buta, setidaknya belum." kata Sherkan sarat akan ancaman.


"Ijinkan aku bertanya! Kenapa aku harus terus disini bersama mu? Sedangkan kau sendiri tidur dengan wanita lain." Sahara tercekat setelah mengucapkan kalimatnya.


Air matanya terus tumpah membasahi wajahnya bahkan hingga menetes ke area dada nya yang terbungkus kaos berlengan pendek. Menyisakan rasa sakit dan perih akibat luka melepuh yang masih belum mengering.


"Karna kau tidak punya kesempatan untuk lari lagi." balas Sherkan dengan raut wajah menggelap, "Kau yang memilih takdir mu, Princessa. Aku sudah mencoba memberimu peringatan sebelum kau memilih melakukan pernikahan bodoh itu!" bentak Sherkan dengan emosi yang membuncah.


"Kenapa...,"


"Hentikan!" rahang Sherkan tampak mengeras, "Menyingkir dari hadapanku. Aku muak jika harus berbagi udara lebih lama denganmu!"

__ADS_1


Sahara menganggukkan kepalanya berulang-ulang, "Tentu, aku akan pergi. Aku akan pergi," Sahara mengusap air matanya, "Bibi Hediye!" panggil Sahara dengan suara serak.


Wanita paruh baya itu berlari tergopoh-gopoh mendekati Sahara, mata tua nya menatap wajah Sherkan takut-takut. Ia berhenti dan berdiri dihadapan Sahara dengan nafas tersengal-sengal, "Tolong kemasi barang-barangku." pinta Sahara lembut.


Bibi Hediye mengangguk patuh, "Ba-baik, Nyonya!" ucapnya, ia kembali menyeret langkahnya. Sedikit membungkuk saat melewati Sherkan yang berdiri di undakan tangga.


Sahara berjalan mendekati telpon yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri. Sahara baru menekan beberapa nomor saat Sherkan sudah berdiri di sisi Sahara kemudian menarik telpon itu kasar hingga kabelnya terlepas.


"Kau tidak akan pergi kemanapun!" bisik Sherkan.


Sahara menggeleng, ada rasa takut di dalam hatinya. Namun rasa sakit hatinya mampu mengalahkan rasa takut itu, "Aku butuh waktu sendiri, mungkin kau akan bahagia dengan sekretaris mu itu." jelas Sahara sembari hendak melangkah pergi. Ia ingin kembali kekamarnya membantu Bibi Hediye agar pekerjaannya selesai lebih cepat.


"Kau tidak akan pergi kemanapun!" bentak Sherkan dengan suara menggelegar.


Sahara sempat hendak menghentikan langkahnya, apalagi kini kakinya sudah bergetar ketakutan hanya dengan mendengar bentakan Sherkan. Namun Sahara memilih tetap melayangkan langkahnya, hatinya terlanjur terluka.


"Akh..." Sahara mengerang kesakitan, sesuatu yang amat sangat keras menghantam pahanya. Hingga dirinya terjatuh membentur lantai.


Dari posisi terbaring seperti itu Sahara dapat melihat dengan jelas Sherkan tengah berjalan cepat kearahnya dengan wajah geram. Sahara menyeret tubuhnya untuk mundur, kakinya terasa sakit saat digerakkan. Gerakan Sahara terhenti, tak ada tempat untuk mundur lagi.


"She-Sherkan, jangan!" cicit Sahara dengan air mata menggenang.


Sebuah hantaman membentur kepala Sahara, darah segar mengalir menutupi pemandangan Sahara yang sebelumnya memang telah terhalang oleh air matanya sendiri. Kepala Sahara terasa berputar, belum lagi saat hantaman lainnya menghantam tubuhnya secara berulang-ulang.


Sahara merasakan rasa sakit disekujur tubuhnya, suara jeritan Bibi Hediye yang memanggil-manggil suaminya juga terdengar memekakkan telinga. Wanita tua itu juga terdengar memohon-mohon agar Sherkan menghentikan ulahnya.


Tidak ada hantaman lagi menghantam tubuh Sahara, ia bangkit duduk. Tangannya yang bergetar meraba-raba mencari kaki Sherkan yang sejak tadi menghajar tubuh lemah Sahara. Sahara memeluknya erat, sebuah hangaman kembali membuat Sahara membentur dinding. Suara seseorang menjerit terkejut kembali terdengar sebelum kegelapan mengambil alih kesadaran Sahara.



************


To Be Continued (TBC)


Like.... Like...👍👍


Spam Next...


Maaf jika masih banyak typo berserakan.


Beautiful Revenge

__ADS_1


©2020


SOND13


__ADS_2