
Jejak... Jejak... Jejak... Jangan Lupa Tinggalkan Jejak!!
Vote+Love+Comment Nya Juga Yaa..
Happy Reading
Beautiful Revenge
©2020
Chapter 19
_____________________________________________
Yassaran Company, Istanbul - Turkey. 8.47 AM
*********
Hampir satu minggu sejak Sherkan pergi meningalkan rumah di hari pertama mereka sebagai suami-istri. Pria bermata biru itu tak pernah lagi muncul di hadapan Sahara hingga detik ini. Tentusaja Sahara merasa khawatir,rindu,risau dan perasaan tidak mengenakkan lainnya. Niatnya untuk melaksanakan tugas nya sebagai istri yang berbakti juga belum terlaksana, Ia tidak pernah merasakan bagaimana rasanya memasangkan dasi dileher Sherkan saat suaminya itu pergi bekerja atau bahkan memilihkan stelan untuk dikenakan.
Belum, bukan tidak akan pernah. Sahara selalu memiliki optimisme yang tinggi, walau sudah tahu hasil akhirnya akan jadi seperti apa. Tetapi Sahara tidak akan pernah berhenti untuk mencoba. Untuk itulah kini Sahara berada disebuah mobil yang dikemudikan oleh, Paman Murat. Pria tua yang menjadi pelayan di mansion beserta istrinya Bibi Hediye yang menemani Sahara mengerjakan urusan rumah tangga. Sudah sekitar empat jam lebih mereka berkendara, sebentar lagi mereka akan segera tiba di Istanbul.
Sahara kembali membuka kotak bekal yang ia persiapkan, Ia bahkan rela bangun pagi-pagi sekali untuk memasakkan sebuah bekal sarapan pagi untuk Sherkan. Berada terlalu lama di mansion membuat Sahara menjadi jenuh, jadi apa salahnya dia pergi keluar untuk mengunjungi suaminya sendiri.
"Nyonya." suara panggilan Bibi Hediye menyentak lamunan Sahara.
"Ah, ya!"
"Kita sudah sampai, Nyonya."
Kini Paman Murat meng infokan, mobil sudah berhenti tepat di depan basment. Logo Yassaran yang terpampang di plat mobil tentu dapat membuat security langsung bergerak membukakan pintu penumpang untuk Sahara.
Sahara keluar dari dalam mobil, mata hijau nya bergerak memperhatikan bangunan Yassaran Companny yang menjulang tinggi. Perusahaan terbesar di Eropa itu sudah berdiri sejak berpuluh tahun yang lalu. Seluruh interior nya di lapisi warna perak, seolah menegaskan bahwa sang penguasa merupakan seseorang yang menyukai hidup dalam kemewahan dan arogansi yang tinggi.
"Nyonya Yassaran!"
__ADS_1
Sahara berbalik menatap seseorang pria paruh baya dengan mengenakan setelan jas yang rapi tengah berdiri di samping Paman Murat yang hanya mengenakan jacket tua berwarna hitam. Perbedaan kedua nya tampak kontras.
"Saya Phural Namli, tangan kanan Keluarga Yassaran!" Ia membungkuk sopan di hadapan Sahara.
"Aku ingin bertemu, Sherkan." balas Sahara cepat tak sabaran.
Phural menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, "Tentu, Nyonya. Mari ikut saya," katanya setelah berbicara pada Paman Murat dan Bibi Hediye dalam bahasa Turki.
Sahara membalas lambaian tangan wanita tua yang sudah menjadi temannya itu sambil tersenyum. Mata Sahara terus menatap kepergian mobil hitam dengan logo Yassaran pada plat nya itu hingga menghilang di balik gerbang perusahaan yang megah.
"Mari, Nyonya!"
Sahara mengangguk pelan kemudian mengikuti langkah Phural dari belakang. Disepanjang jalan banyak pegawai yang melontarkan senyum padanya, Sahara sampai kelelahan membalas senyuman itu satu persatu.
"Nyonya." panggil Phural.
Pria paruh baya itu sudah berdiri disamping pintu lift yang terbuka. Sahara melangkah tergesa memasuki lift itu dengan genggaman yang menguat pada kotak bekalnya. Menghitung detik demi detik sambil membayangkan ekspresi wajah Sherkan saat bertatapan dengannya. Juga membayangkan mata birunya yang berpendar dibawah cahaya yang menyilaukan. Mungkin Sherkan akan terkejut selam beberapa saat, setelah itu Sherkan akan memakan bekal nya dengan lahap dan Sahara akan memperhatikannya dalam diam.
"Silahkan, Nyonya!"
Phural telah melangkah melewati pintu lift yang terbuka. Sahara melakukan hal yang sama, dilantai itu hanya ada satu ruangan dengan pintu marmer yang tampak kokoh berwarna abu-abu.
Sahara menganggukkan kepala nya, menghela nafas pelan. Kemudian melangkah dengan mantap kearah ruangan itu yang pintunya telah dibukakan oleh Phural. Pegangan tangannya pada kotak bekal mengerat sebelum akhirnya kaki jenjang Sahara yang dibalut sepatu hels berwarna hitam melangkah anggun memasuki ruangan.
Pintu tertutup menyisakan Sahara yang berhadapan dengan ribuan buku yang tertata rapi di beberapa rak yang cukup tinggi. Ada beberapa figura foto di dinding, menampilkan foto beberapa orang tua, juga Alyan di urutan ke-enam dan Sherkan diurutan ke-tujuh.
Mungkin nanti foto putranya dan Sherkan juga akan terpajang di dinding itu. Juga putra Alyan dan Tuvana bahkan Defne juga. Sahara tersenyum senang saat membayangkannya dengan keyakinan nya yang tak pernah luntur sejak dirinya dan Sherkan bertemu di kafe dimalam perjodohan.
"Ah, Nyonya Yassaran."
Sahara memutar tubuhnya menatap figur seorang wanita dengan rambut blonde yang ia biarkan, setelan berwarna pink muda melekat ditubuhnya.
Ada tanda kemerahan yang mengitari leher nya bahkan di bagian pahanya yang tak tertutup rok mini juga tampak bekas kemerahan yang sama. Sahara pernah melihat bekas kemerahan itu dimalam ia bersama ketiga sahabatnya yang lain. Tepat dua hari sebelum pernikahannya, Sherkan bersama dengan seorang wanita penghibur yang memiliki bekas kemerahan yang sama dengan wanita yang kini berdiri tepat dihadapan Sahara.
__ADS_1
"Anda siapa?" tanya Sahara. Alih-alih menyuarakan pertanyaan yang terkumpul di otaknya, Sahara malah menanyakan identitas wanita itu.
Wanita itu bergerak mendekati Sahara lalu berdiri tepat di depannya. Dari jarak sedekat ini Sahara dapat mencium dengan jelas aroma parfume pria di tubuh nya. Sinyal bahaya berdengung di kepala Sahara, ia sungguh tidak siap mental jika harus mendapati perselingkuhan lainnya yang dilakukan oleh Sherkan.
"Saya, Merald Ozgan. Sekretaris, Tuan Yassaran!" Ia berkata penuh percaya diri sambil mengulurkan tangannya mengajak bersalaman.
Sahara menerima uluran tangan itu, "Sahara Yassaran." balas Sahara. Ada rasa senang saat menyebutkan nama belakang nya itu. Bukti bahwa Sahara adalah istri sah Sherkan Yassaran, tak ada yang dapat memungkiri hal itu. Bahkan Sahara berani melawan wanita didepannya ini, jika ia memang merupakan ancaman bagi hubungan rumah tangganya.
"Saya turut berbahagia atas pernikahan, Nyonya dan Tuan Sherkan. Siapapun tidak dapat memungkiri bahwa pesta itu sangat mewah." kata wanita itu kembali berbasa-basi.
Sahara jelas tahu ekspresi senang nya itu adalah ekspresi yang dibuat-buat. Wanita ini seperti ular dan Sahara tahu dia memiliki maksud lain di balik senyum anehnya, "Terimakasih!" balas Sahara singkat, "Aku ingin mencari suamiku!" ada keangkuhan dalam nada suaranya.
Wanita itu tampak mengepalkan tangannya masih dengan senyum nya yang mengembang, "Ah. Maaf, Nyonya! Tuan Yassaran sedang ada rapat yang tidak dapat ditinggalkan."
Sahara mengerutkan keningnya bingung mata hijaunya langsung menyipit menatap wanita itu tak percaya dengan hal yang barusaja ia ucapkan, "Tapi Phural mengatakan padaku, Sherkan ada didalam."
Dengan tenang nya wanita itu menampilkan senyumannya lagi, "Saya sekretaris-nya, Nyonya! Saya lebih tahu jadwal, Tuan Yassaran. Lebih dari siapapun," jelas nya panjang lebar dengan penekanan disetiap kalimat yang ia ucapkan.
Sahara menghela nafas lelah, "Baiklah. Tolong berikan ini padanya!" kata Sahara pada akhirnya sembari menyodorkan kotak bekal itu kearah wanita yang Sahara bahkan sudah melupakan namanya.
"Akan saya sampaikan." balasnya sopan.
Sahara mengangguk kemudian berbalik kearah pintu. Dengan cepat wanita itu mengikuti Sahara dan membukakan pintu untuknya, "Sampai jumpa, Nyonya Yassaran!" katanya dengan maksud terselubung.
Sahara mengangguk, matanya beralih menatap Phural yang berdiri didepan pintu sembari sedikit membungkuk kearahnya. Sahara melangkah kearah lift disusul Phural yang berdiri dibelakangnya, sementara wanita itu masih berdiri didepan pintu yang terbuka menatap Sahara dengan senyum anehnya. Pintu lift tertutup, membawa Sahara beserta beberapa pertanyaan di kepala cantiknya.
**********
To Be Continued
Tekan Love Nya Yaa...
Beautiful Revenge
__ADS_1
©2020
SOND13