
Jejak.. Jejak... Jangan Lupa Tinggalkan Jejak
Vote+Love+Comment nya juga yaa!!
Hope You Enjoy It...
Beautiful Revenge
©2020
Chapter 13
_____________________________________________
1 Day Before a Wedding Day......
Yassaran Grand Mansion, Istanbul - Turkey. 5.43 PM
***********
Tanpa terasa besok adalah hari pernikahannya,hari penyatuan dua keluarga. Itulah sebabnya Sahara kini berada di Istanbul, tepatnya di mansion Yassaran. Menatap puluhan orang yang mengenakan seragam sebuah perusahaan Wedding Organizer ternama di kota Istanbul tampak lalu-lalang di halaman Mansion Yassaran sore itu.
Garden Party yang di inginkan Sahara untuk menjadi tema pernikahannya hampir rampung. Orang-orang dari perusahaan Wedding Organizer tersebut bekerja dengan sangat telaten. Semua tampak sempurna, mulai dari air mancur dengan lampu hijau yang berkelip, tatanan bunga mawar putih nya yang memenuhi setiap sudut, kursi yang terbuat dari kayu mahoni, semua tampak sempurna.
Benar-benar sempurna untuk sebuah pernikahan dengan orang yang dicintai. Tanpa sadar Sahara mengulum sebuah senyuman. Ia tengah berdiri di undakan tangga teratas mansion Yassaran bersama dengan Defne yang berdiri di sisinya sambil terus mengoceh tentang pilihan tinggi sepatu yang akan Sahara kenakan.
"Kakak ipar kuberi dua pilihan!"
Lagi-lagi Sahara menoleh kearah Defne. Panggilan 'Kakak ipar' yang di ucapkan Defne mampu membuat Sahara memerah. Ingin rasanya Sahara mencegah Defne memanggilnya dengan sebutan itu, setidaknya jangan sekarang.Namun sepertinya Defne adalah tipe remaja keras kepala yang menginginkan semua permintaannya terpenuhi.
Maka dari itu Sahara hanya mampu melemparkan senyuman tak enak pada Defne, tiap kali gadis itu memanggilnya dengan sebutan 'Kakak ipar'. Terlebih lagi jika posisinya di depan keluarga Yassaran. Pada saat-saat seperti itu Sahara benar-benar tidak tahu dimana ia harus menyembunyikan wajahnya yang memerah. Mungkin jika posisinya memang sudah menjadi istri Sherkan, Sahara pastinya tidak akan sungkan di panggil seperti itu.
"Kakak ipar?" Suara panggilan Defne kembali membuat Sahara menoleh, gadis tujuh belas tahun itu memandang nya dengan bibir mengerucut.
"Kakak ipar tidak memperhatikanku ya?" bibirnya semakin maju kedepan.
"Ah,itu!"
"Sudahlah! Kakak ipar hanya punya dua pilihan!" Defne berseru memotong kalimat Sahara cepat seraya mengangkat dua sepatu berbeda warna di kedua tangannya.
Sahara menatap kedua sepatu tersebut bergantian, antara yang berwarna putih dan hitam. Keduanya memiliki tinggi heels yang keterlaluan, sangat tidak manusiawi jika Sahara harus berdiri seharian dengan sepatu bertumit tinggi seperti itu.
__ADS_1
"Pilih yang mana? Putih atau hitam? Keduanya sama-sama sepuluh senti!"
Sahara menelan ludah mendengar tinggi heels kedua sepatu tersebut. Defne sebenarnya sama sekali tidak memberinya pilihan. Hanya warna yang membedakan kedua sepatu tersebut, ukuran heels nya sama saja. Sama-sama bisa menyebabkan kaki Sahara lecet seketika.
"Itu terlalu tinggi, Defne." Sahara berucap pelan berusaha memberi pemahaman pada Defne yang kini memandang nya penuh harap.
"Ayolah!" Defne mulai merengek, bahunya melemas tak mampu menerima penolakan dari Sahara. Hal ini tentu saja membuat Sahara tak mampu mengatakan tidak, lagipula permintaan Defne hampir tidak dapat di tolak.
Sahara hampir menganggukkan kepalanya, tepat saat Tuvana datang menghampiri mereka dan memukul bahu Defne pelan.
"Jangan ganggu kakak iparmu, Defne!"
Tuvana berdiri diantara kedua gadis berbeda warna rambut tersebut. Sahara langsung tersenyum penuh rasa syukur saat Tuvana menginterupsi pembicaraannya dan Defne.
Sedangkan, Defne hanya dapat menampilkan ekspresi tidak senang saat Tuvana melemparkan tatapan garang kearahnya.
"Kakak ipar harus memakai sepatu pilihanku. Aku tidak mau tahu!" serunya seraya berlari masuk setelah sebelumnya memberikan kedua pasang sepatu tersebut kedalam pelukan seorang maid yang kebetulan lewat di sekitar mereka.
"Yassaran tidak pernah suka di bantah!" Tuvana hanya dapat bergumam lirih sembari menatap Defne hingga gadis itu menghilang di balik pintu mansion.
"Kau harus terbiasa dengan mereka!" pandangan Tuvana kini beralih kearah Sahara yang juga tengah menatapnya.
"Ah, tentu!" ucap Sahara pelan dengan wajah yang lagi-lagi merona merah.
"Tidak perlu malu seperti itu, Ara!" katanya seraya menatap lurus kearah para pekerja yang tengah sibuk di halaman mansion Yassaran.
"Kedua orangtuaku sudah meninggal saat aku berusia tujuh tahun. Begitupula dengan Alyan.."
Tuvana terdiam sebentar seperti sedang berusaha mengumpulkan pecahan memori yang berseliweran di otaknya, "Kami mengurus pernikahan kami sendiri. Semua kami lakukan tanpa bantuan orang lain, sangat sulit!"
Sahara terdiam mendengarkan, sembari berusaha menemukan kata yang tepat untuk menanggapi curahan hati calon kakak iparnya tersebut.
"Apalagi dengan kondisi ku! Aku sempat tidak percaya Alyan akan mau melamarku." Tuvana meneruskan kalimatnya dengan mata berkaca-kaca.
"Tapi dia melakukannya!" Sahara menimpali dengan sebuah senyuman.
"Ya! Dan sejak saat itu aku berjanji untuk menjadi kakak ipar sekaligus sosok ibu untuk Sherkan dan Defne."
Ada senyum dalam suara Tuvana walau suara wanita tiga puluh tahunan itu terdengar bergetar, "Senang rasanya bisa melihat Sherkan akhirnya menikah dengan mu! Rasanya seperti melihat anakku sendiri yang akan menikah."
Setetes air mata luruh dari mata coklat Tuvana, dengan segera ia mengusap air matanya. Namun butir-butir berikutnya kembali berjatuhan. Hingga akhirnya ia membiarkannya saja, sementara Sahara langsung mendekat dan memeluk calon kakak iparnya tersebut. Sahara memang tidak tahu bagaimana rasanya jika berada di posisi Tuvana.
Namun mengingat usia pernikahan kakak iparnya yang sudah menginjak usia lima tahun dan masih belum di karuniai keturunan. Hal itu tentu membuat Tuvana merasa sedih jauh di balik senyuman yang selalu ia pamerkan.
__ADS_1
"Allah pasti akan segera menjawab doa-doa kakak!" Sahara berujar pelan mencoba menguatkan Tuvana yang terlihat sangat rapuh.
Calon kakak iparnya yang selalu tampak tersenyum itu kini menampilkan sisi lain dalam dirinya yang lemah dan tak berdaya,
"Kekuatan doaku setara dengan kekuatan kanker yang menggerogoti rahimku,Ara!" tangisnya terus dengan suara tercekat.
Sahara langsung terkejut mendengar penuturan Tuvana yang sama sekali tak terduga olehnya. Sahara mengelus punggung Tuvana yang bergetar karena tangisnya, di posisi mereka yang masih berdiri di teras mansion.
"Kakak tidka boleh menyerah seperti itu!"
Tuvana mengangkat wajahnya dan langsung mengusap air matanya yang berlinang di pipi.
Ia memaksakan sebuah senyuman, sebelum akhirnya mengusap pipi Sahara perlahan, "Maafkan aku,Ara!" ucapnya penuh penyesalan, "Tidak seharusnya aku bersedih saat akan menyambut hari bahagia mu dan Sherkan."
Sahara tersenyum menanggapi ucapan Tuvana, walau mata hijaunya sudah berkaca-kaca hendak ikut terlarut dalam kesedihan Tuvana yang tersembunyi di balik senyum hangatnya itu.
"Berusahalah untuk selalu bahagia, Ara!"
Sahara mengangguk kan kepalanya setuju, "Aku akan berusaha!" katanya penuh semangat.
Tuvana memeluk Sahara erat kemudian melangkah memasuki mansion. Sahara memperhatikan kepergian kakak iparnya itu dengan perasaan tak karuan. Tak pernah terbersit di pikiran nya bahwa Tuvana sedang menanggung kesedihan sedalam itu. Kakak iparnya itu terlalu pandai bermain peran dan meyakinkan semua orang bahwa ia baik-baik saja.
Sahara barusaja hendak melangkah masuk kedalam mansion tepat saat mata hijau nya menangkap sosok Sherkan sedang berdiri di balkon lantai satu. Pria yang akan segera berstatus sebagai suaminya itu tampak memandang ke halaman mansion dengan wajah datar.
Sahara sontak mengikuti arah pandangan Sherkan dan mendapati beberapa orang berseragam perusahaan Wedding Organizer itu tengah memasang sebuah figura foto dirinya dan Sherkan saat sesi prewedding yang mereka lakukan kemarin.
Wajah Sahara langsung memanas saat menatap kedekatan antara dirinya dan Sherkan lewat foto tersebut. Matanya kembali beralih kearah balkon bermaksud kembali menatap siluet tubuh Sherkan yang sempurna saat di sinari cahaya rembang petang.
Entah suatu keberuntungan atau suatu kesialan. Kini Sherkan juga memandang Sahara dari arah balkon, selama sepersekian detik mereka bertatapan. Hingga Sherkan yang lebih dulu memutus kontak mata diantara mereka dengan ekspresi tidak nyaman.
Sahara mengukir sebuah senyuman untuk Sherkan yang langsung berhasil membuat pria itu bergerak menjauhi balkon dan menghilang dari pandangan Sahara.
'Berusahalah untuk selalu bahagia, Ara!'
Rasa optimisme muncul dalam dirinya, Tuvana seperti memberinya sebuah kekuatan baru untuk meyakinkan dirinya dapat bersanding bersama Sherkan. Ya, tentu saja! Sahara pastinya akan meraih kebahagiaan nya dan Sherkan adalah sumbernya.
**********
To Be Continued...
Tekan Love Nya Yaa!!
Beautiful Revenge
__ADS_1
©2020
SOND13