
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak
Love+Vote+Comment Nya Juga Yaa!!
Happy Reading
Beautiful Revenge
©2020
SOND13
_____________________________________________
Sherkan & Sahara New Mansion, Ankara-Turkey. 1.29 AM
**********
'Tuan Sherkan meminta saya mengganti furniture kamarnya, Nyonya. Sepertinya Tuan Sherkan akan kembali ke mansion malam ini!'
Lagi, Sahara membasahi bibir bawahnya dan menyelipkan anak rambutnya kebelakang telinga. Remasan tangannya pada ujung gaun tidurnya semakin menguat, kini Sahara berada di ruang keluarga, duduk di sebuah sofa menghadap perapian yang didominasi warna merah api yang menyala.
Siaran berita mengenai kebakaran hutan di wilayah Los Angeles yang dibawakan oleh pembawa acara itu sama sekali tak dapat menarik perhatian Sahara. Mata hijaunya sejak tadi terus mencuri pandang kearah pintu utama mansion yang sejak tadi tertutup.
"Mungkin Sherkan tidak akan pulang!" cicit Sahara, ambisi nya untuk menunggu kepulangan Sherkan sejak empat jam yang lalu langsung hilang begitu saja.
Hal itu dikarenakan jam dinding yang sudah menunjukkan pukul satu dinihari. Sangat sedikit kemungkinannya bahwa Sherkan akan muncul di depan pintu mansion yang terbuka.
Sahara meringis, membayangkan hal yang kini tengah Sherkan lakukan bersama sekretarisnya itu. Mungkin mereka tinggal bersama atau mungkin Sherkan memang sudah menjalin hubungan dengan wanita itu sebelum pernikahan mereka, makanya Sherkan menjadi sangat membenci pernikahan ini.
"Aku tidur...,"
Sahara yang baru bangkit berdiri dari sofa menghentikan ucapannya. Suara pintu yang terbuka lah yang menjadi penyebab hal itu, sontak Sahara menoleh. Matanya menangkap sosok Sherkan tengah berjalan melintasi ruangan setelah berhasil kembali menutup pintu utama mansion. Tampak gagah disetiap langkah yang ia ambil. Berbeda dengan Sahara yang melangkah cepat hampir berlari menyusul Sherkan yang hampir menaiki undakan tangga.
"Sherkan. Mau makan malam?" Sahara menawarkan takut-takut, meski begitu senyum manis tak lepas dari bibirnya.
"Tidak!"
Satu jawaban singkat meluncur dari bibir Sherkan sebelum akhirnya pria itu kembali melangkah menaiki undakan tangga. Bahkan tanpa menoleh kearah Sahara sedikitpun. Tetapi hal itu sama sekali tidak membuat Sahara menyerah ia kembali membuka bibirnya hendak kembali buka suara.
"Kalau begitu aku akan buatkan kopi. Aku akan mengantarnya ke kamar!" Sahara berseru, tepat saat Sherkan menutup pintu kamarnya.
__ADS_1
"Ya, kopi!" Sahara bermonolog, kemudian membawa langkah kakinya menuju dapur.
"Nyonya, ada yang bisa saya bantu?"
Bibi Hediye berdiri di depan meja makan, mata tuanya tampak mengantuk. Wanita tua inilah yang selalu menemani kegiatan Sahara selama di mansion tersebut. Bersama suaminya pria tua yang menolong Sahara membawa koper beberapa hari yang lalu. Mereka berdua sudah berkerja di mansion ini lebih dari separuh umur mereka.
Sahara menggelengkan kepalanya sambil menunggu air kopi memenuhi gelas, "Tidak masalah, Bibi Hediye. Sherkan, hanya ingin kopi!" Sahara tentu menyadari ia menampilkan senyum lebar saat mengucapkan kata-kata itu.
"Baiklah, Nyonya. Saya permisi!" pamitnya ikut-ikutan tertular senyuman yang bertengger diwajah Sahara.
Sahara mengangguk pelan sambil memandangi kepergian wanita itu dari area dapur. Kemudian beralih memasukkan beberapa sendok gula kedalam cangkir kopi serta meletakkan beberapa kue kering buatannya diatas sebuah piring kecil, lalu Sahara menata semuanya didalam nampan.
"Semoga Sherkan suka!" kata Sahara penuh harap, pegangan nya pada nampan sangat kuat. Takut jika bawaannya itu terjatuh dan berserakan di lantai marmer yang dingin. Apalagi saat menaiki undakan tangga, detak jantung Sahara menggila hanya dengan membayangkan reaksi yang akan diberikan Sherkan padanya.
"Sherkan!" panggil Sahara didepan pintu kamar yang tertutup, "Aku membawakan kopi!"
Pintu terbuka, Sherkan berdiri disana masih mengenakan setelan kemeja hitamnya sementara jas nya sudah tidak melekat di tubuh pria itu. Sherkan menatap Sahara dengan senyuman, ini pertama kali sejak Sahara melihat senyuman Sherkan dihari pernikahan mereka. Melihat hal itu tentu Sahara ikut balas tersenyum, sementara tangannya bergerak menyodorkan secangkir kopi didalam nampan tersebut.
"Sebenarnya tidak baik minum sambil berdiri." Sahara mengingatkan begitu iris hijau nya menangkap aksi Sherkan yang menyesap kopi buatan nya.
Alis Sherkan mengerut sebentar, "Kau benar! Kenapa kita tidak duduk didalam dan minum?"
Sahara menganggukkan kepalanya, "Baiklah!" bisik Sahara pelan sama sekali tidak merasa janggal dengan sikap Sherkan yang berubah drastis. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya Sahara justru merasa senang mendapat perlakuan seperti sekarang ini.
"Ya," sahut Sherkan begitu mendudukkan dirinya di sofa.
"Aku membuat beberapa kue kering juga!" kata Sahara menginfokan dengan kepala tertunduk.
"Bentuknya cantik!" komentar Sherkan.
Sahara semakin merona, ditatapnya mata biru Sherkan dengan perasaan membuncah senang. Mungkin kepedulian nya karna membawakan sarapan ke kantor Sherkan pagi tadi mampu meluluhkan hati suaminya itu. Jika hal itu memang benar adanya, pasti Sahara sudah membawakan sarapan ke kantor Sherkan sejak beberapa hari yang lalu.
"Kenapa kau tidak ikut makan?" tanya Sherkan pelan.
Otomatis Sahara meraih sebuah kue dan menyuapkannya kedalam mulutnya, menyicipi rasa manis dari kue itu. Serta mencoba sebisa mungkin untuk tidak menimbulkan bunyi yang terlalu keras saat dirinya mengunyah kue tersebut.
"Enak." komentar Sahara untuk kue buatannya sendiri, semburat merah masih setia singgah di pipinya.
"Kau sudah cukup bahagia?" Sherkan bertanya sinis dengan cangkir kopi yang mengepul masih berada ditangannya.
__ADS_1
Sahara mendongakkan kepala menatap Sherkan bingung. Ia menelan kue yang masih berada didalam mulutnya, terasa serat saat melewati tenggorokannya yang belum dibasahi air setetes pun.
"Kau senang?" Sherkan mengulang pertanyaan nya. Nada dingin dan ekspresi datarnya kembali seperti sedia kala.
"Tentu," jawab Sahara penuh keraguan.
"Tentu!" Sherkan mengulang perkataan Sahara sembari bangkit berdiri. Masih dengan secangkir kopi ditangannya, Sherkan menyesap kopi itu pelan. Namun mata hijaunya kini menatap Sahara tidak suka.
"Ada...,"
Panas!
Kalimat Sahara terhenti, Sherkan menyiramkan kopi panas dengan uap yang masih mengepul itu keatas dada Sahara yang hanya dibalut pakaian tidur beebahan satin yang halus. Sherkan melemparkan gelas kopi yang sudah kosong dengan kasar ke sudut kamar. Sementara Sahara sibuk mengibas-ngibaskan bajunya agar dapat mengurangi sedikit rasa panas yang ia rasakan.
"Aku membenci senyum jelek diwajahmu." desis Sherkan pelan.
Pria itu selalu sengaja menghancurkan Sahara, menohok perasaannya dan menciptakan air mata yang menggenang di kedua bola mata hijau jamrudnya yang indah itu.
"Sherkan, panas." kata Sahara mengadu dengan isak tangis perlahan.
Dengan perasaan malu yang teramat sangat, Sahara menyingkap baju tidurnya dibagian dada. Berharap hal yang ia lakukan dapat sedikit mengurangi rasa panas yang ia rasakan. Sahara kembali menangis saat melihat kulit di sekitar dada nya yang terbungkus sebuah bra berwarna hitam itu kini sudah memerah. Mungkin besok akan melepuh, lebih sakit lagi.
"Jangan pernah berani datang ke kantorku lagi! Aku tidak ingin kau ikut campur dalam kehidupanku." ancam Sherkan sambil meraup wajah kesakitan Sahara dengan kedua tangannya.
Sahara menganggukkan kepalanya, sambil terus menahan rasa sakit di dada,wajah dan tentusaja dihatinya. Sherkan selalu bisa membuat Sahara merasa senang dan sedih disaat hanya dalam hitungan menit.
"Keluar!" bentak Sherkan keras.
Pria itu berjalan cepat kearah pintu kamar dan membuka pintu itu selebar-lebar nya. Tak butuh waktu lama bagi Sahara untuk melangkaah gontai kearah pintu. Ia menyempatkan diri melirik Sherkan dari balik bulu matanya, menikmati kesempurnaan Sherkan yang tak pernah tergapai.
"Selamat malam, Sherkan!" lirih Sahara di depan pintu yang tertutup rapat.
**********
To Be Continued (TBC)
Tekan Love Nya...
Beautiful Revenge
©2020
SOND13
__ADS_1