Beautifull Revenge

Beautifull Revenge
Chapter 14-Beautiful Revenge


__ADS_3

Jejak... Jejak... Jangan Lupa Tinggalkan Jejak


Vote+Love+Comment Nya Juga Yaa...


Hope You Enjoy It...


Beautiful Revenge


©2020


Chapter 14


______________________________________________


Night Before A Wedding Day.....


Another Yassaran Mansion And Suite, Istanbul-Turkey. 2.39 AM


**********



"Halo!"


Sahara masih bergelung di atas ranjang nya saat suara dering telpon mengusik tidur nya. Di luar kamar, Sahara dapat mendengar suara gerimis air hujan membasahi atap. Juga gemerisik angin yang menggoyangkan daun pohon palem yang berjajar rapi di sekitar halaman.


Beberapa menit berlalu dalam keheningan, Sahara hampir saja kembali terlelap hingga suara klakson mobil yang terdengar melalui telpon kembali membuatnya terjaga. Setelah itu semua kembali sunyi, tidak ada suara apapun lagi yang dapat Sahara dengar melalui sambungan telpon tersebut. Dengan geram Sahara mendudukkan dirinya di atas ranjang dan menatap kosong ke situasi kamar tempat nya terlelap yang temaram.


"Halo!" Sahara kembali berseru tepat di depan telpon yang telah mengusik tidurnya, kali ini lebih kuat dari sebelumnya.


Hening!


"Jika kau tidak bicara, aku akan menutup telponnya!" ancam Sahara sudah bersiap-siap mengembalikan telpon ke tempatnya semula.


Satu Detik... Dua Detik... Tiga Detik....


Sahara menghela nafas lelah, detik berikutnya ia kembali meletakkan gagang telpon tersebut di tempatnya. Kemudian tangannya bergerak menarik selimutnya yang sempat meluncur jatuh ke area kaki.


Mata hijau Sahara mengerjap beberapa kali, kini posisinya tengah berbaring menyamping. Hingga ia dapat dengan leluasa memandangi gaun pengantinnya yang terpajang di sebuah manekin di dekat meja rias.

__ADS_1


'Besok aku akan menikah!' Sahara membatin sambil memejamkan matanya.


Tak sampai semenit mata hijau Sahara kembali di paksa terbuka. Sesuatu yang berdering lagi-lagi mengusik tidur Sahara yang tak dapat di bilang nyenyak. Kini bukan telpon yang berdering melainkan handphone Sahara yang terletak di samping bantal.


"Yilmaz!"


Suara bariton seorang pria terdengar begitu Sahara menempelkan handphone nya di depan telinga. Otomatis Sahara langsung terduduk di atas ranjang, ia kenal betul dengan suara itu. Suara yang selalu membuat jantung Sahara berdebar hebat.


"Sherkan!"


Ya! Siapa lagi kalau bukan, Sherkan Erdogan Yassaran. Tanpa sadar Sahara mengulas sebuah senyuman. Mata hijaunya berpendar indah di dalam kamar yang temaram.


"Sherkan?"


Lagi, suara panggilan Sahara bergaung di dalam kamar. Hanya deru nafas Sherkan yang terdengar di seberang telpon. Pria itu seperti enggan bicara atau lebih tepatnya mungkin sedang menunggu waktu untuk mengutarakan kalimatnya.


Sahara baru saja berpikir untuk memanggil nama Sherkan untuk yamg ketiga kalinya. Tepat saat suara Sherkan terdengar dari sambungan telpon.


"Kau punya satu kesempatan terakhir!" Sherkan terdiam sejenak sebelum kembali berucap, "Mendekat ke arah jendela sekarang!" perintahnya.


Sahara menoleh kearah jendela yang tertutup gorden berwarna emas. Terlihat berpikir mengikuti perintah yang barusaja terlontar dari mulut Sherkan atau tetap berada di atas ranjangnya.


"Ya! Aku dengar." balas Sahara kemudian menyibak selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.


Ia berjengit kaget begitu kaki telanjangnya menginjak lantai yang dingin. Hujan gerimis di tambah dengan suhu pendingin ruangan yang menyala sepanjang malam nyaris membuat lantai itu terasa seperti balok es. Beruntung lantai yang dingin itu tidak membuat Sahara tergelincir, seperti balok es sungguhan. Kini Sahara sudah berdiri di depan jendela kamar, menarik gorden hingga separuh terbuka.


"Aku sudah ada di depan jendela!" lirih Sahara dengan gigi bergemelatuk kedinginan. Ingin rasanya ia kembali ke atas ranjang dan meringkuk di dalam selimutnya yang nyaman.


"Kau lihat mobil hitam di depan gerbang?"


Pertanyaan Sherkan sukses membuat Shaara mengarahkan iris hijau nya ke arah gerbang utama mansion. Penglihatannya terbatas akibat cahaya remang-remang dari lampu halaman yang kebanyakan memancarkan cahaya berwarna kuning seperti lampu neon. Ditambah dengan jendela kaca yang berembun dan di penuhi oleh tetesan air hujan yang semakin memperpendek jarak pandang Sahara yang tengah kesulitan mencari mobil yang Sherkan maksudkan.


Diseberang telpon Sherkan berdecak kesal karna tak kunjung mendapat jawaban dari Sahara, "Gunakan matamu, Yilmaz!" sinisnya dengan nada suara yang terdengar dingin. Lebih dingin dari lantai yang kini tempat Sahara berpijak.


"Aku melihatnya, Sherkan!" Sahara berseru terlalu bersemangat hingga suaranya terdengar seperti sedang memekik kegirangan.


"Mobil itu akan mengantarmu ke bandara. Aku sudah siapkan identitas baru untukmu!" ucap Sherkan masih bertahan dengan nada suaranya.


Sahara menampilkan ekspresi bingung dengan mata yang masih memandang kearah mobil hitam yang sepertinya merupakan mobil keluaran Pajero Sport tersebut dengan tanda tanya besar di kepalanya.

__ADS_1


"Aku tidak mengerti!"


"Larilah selagi kau bisa, Yilmaz!" Sherkan mendesis, "Pernikahan ini sebuah kesalahan."


Sahara memilih diam tak hendak membalas kalimat Sherkan. Ia mengakui semua yang baru Sherkan ucapkan dapat membuat Shaara merasakan hati dan matanya memanas.


"Aku tidak akan pergi kemana pun!" tegas Sahara menahan nafas. Ia meremas gorden jendela gugup, menunggu jawaban yang akan keluar dari bibir Sherkan.


"Kenapa kau sangat bodoh?" Sherkan bertanya, sejenis pertanyaan yang tak memerlukan jawaban. Karena sejatinya Sahara sama sekali tidak mengetahui jawabannya.


'Mengapa kau sangat ingin menyingkirkan ku?' Sahara bertanya dalam hati. Tak memiliki keberanian untuk mengutarakan pertanyaan nya di hadapan Sherkan.


"Kalau begitu..." Sherkan menjeda kalimatnya, "Kuharap kau tidak menyesal karna memilih untuk bersama ku, Sahara!"


'Aku tidak tau, Sherkan!" batinnya lirih, 'Terkadang aku ketakutan dan ingin lari. Namun sesuatu menahanku untuk tetap berada disini.'


Setetes air mata sukses jatuh dari kedua mata indah Sahara. Tangannya menggenggam handphone nya erat sambil terus berusaha keras menahan isak tangisnya. Memandang nanar kearah halaman mansion, kemudian beralih kearah mobil hitam yang sudah bergerak pelan meninggalkan area mansion.


"Semoga malam ini tidurmu nyenyak! Karna tidak akan ada tidur nyenyak lagi bagimu setelah malam ini."


Usai mengucapakan dua kalimat itu sambungan telpon langsung terputus. Sherkan yang mematikan sambungan telpon itu secara sepihak. Dan lama kelamaan mobil hitam tadi mulai menancap gas nya dan melesat pergi meninggalkan bunyi berdecit yang cukup nyaring akibat gesekan ban mobil dengan aspal yang basah oleh air hujan.


"Sherkan!" Sahara bergumam sedih. Sementara genggan tangannya pada handphone nya menguat. Ia menatap deretan angka yang ia yakini merupakan nomor ponsel Sherkan itu dengan ekspresi beragam.


Tubuh Sahara luruh ke lantai dengan bahu bergetar menahan tangis. Entah hanya perasaannya saja atau memang akhir-akhir ini ia menjadi begitu cengeng. Sahara hanya merasa semua hal yang menyangkut soal pernikahannya dan Sherkan selalu sukses membuat Sahara lagi-lagi harus berderai air mata.


Kalimat terakhir Sherkan kembali bergema di telinga Sahara, ia bergerak menarik gorden untuk menutupi tubuhnya yang kedinginan. Tidak perlu menunggu hingga setelah hari pernikahan, Sahara sudah pasti tidak akan dapat tidur nyenyak malam ini. Bagaimana mungkin Sahara bisa tertidur tanpa memikirkan kenyataan pahit yang tengah ia hadapi?


Malam sebelun hari pernikahan nya ini Sahara akan terus berdiam di depan jendela kamar yang berembun dan duduk di atas lantai marmer yang dingin. Tidak ada hal lain yang dapat di lakukan.


**********


To Be Continued..


Tekan Love Nya Yaaa


Beautiful Revenge


©2020

__ADS_1


SOND13


__ADS_2