Beautifull Revenge

Beautifull Revenge
Chapter 4-Beautiful Revenge


__ADS_3

Jangan lupa tinggalkan jejak...


Vote-Love+Comment nya juga yaa


Tolong tinggalkan komentar dibawah yaa, supaya aku makin semangat!!!


Hope You Enjoy It...


Beautiful Revenge


©2020


Chapter 4


___________________________________________


***********


Iris hijaunya memandang keluarganya yang tengah duduk di depan sebuah meja makan di tengah ruangan. Kekalutan melanda dirinya saat melihat wajah penasaran Feride dan Tuvana yang memandang nya dengan senyuman. Entah jawaban macam apa yang akan Sahara berikan, ia membasahi bibir nya yang terasa mengering.


Sherkan langsung meraih tangan Sahara dalam genggamannya. Sahara jelas terkrjut dengan aksi Sherkan, barusaja beberpaa menit yang lalu Sherkan menunjukkan rasa tidak sukanya terhadap Sahara. Namun kini pria itu tiba-tiba menggenggam tangannya debgan amat sangat mesra.


Perubahan sikap Sherkan membuat Sahara menampilkan ekspresi bingung yang sangat nyata. Berbanding terbalik dengan ekspresi keluarga mereka yang sedang menunggu di meja makan. Semuanya menampilkan ekspresi penasaran, terutama Tuvana dan Feride yang tengah memandang Sahara secara terang-terangan.


Sherkan menarik sebuah kursi untuk Sahara begitu mereka berdua sudah tepat berada di depan meja makan tersebut. Sebuah senyuman terlontar dari bibir pucat Sahara yang tampak menggigil kedinginan.


"Kalian sudah membuat keputusan?" tanya Feride antusias tanpa memberi Sahara kesempatan untuk menarik nafas.


Sahara terdiam tak dapat menjawab. Perasaannya masih berantakan setelah mendengarkan ancaman Sherkan. Namun hal itu tetap tidak mengubah tekadnya sedikitpun, ia akan tetap menerima Sherkan sesuai dengan keinginan orang tuanya dsn tentu saja sesuai dengan keinginannya sendiri.


Sahara mengulum sebuah senyuman, baginya mengatakan 'Ya' untuk Sherkan selalu memancingnya untuk tersenyum secara otomatis.


Namun selang beberapa menit setelah pertanyaan Feride terucap, Sahara dan Sherkan masih diam seribu bahasa. Mereka berdua seperti sedang menunggu satu sama lain untuk berucap lebih dulu. Mengundang tanda tanya di wajah Feride dan Tuvana yang terlihat semakin penasaran.


Sherkan berdehem sembari membenarkan posisi duduk nya, "Aku bersedia mengikuti pertunangan ini selama Sahara juga mau menerimaku!" mata biru Sherkan menatap Sahara saat mengatakannya.

__ADS_1


Hal itu menimbulkan debaran menggila di dada Sahara, walau ia tahu semua yang dikatakan Sherkan adalah sebuah kebohongan. Namun hal jtu tak dapat mencegah Sahara untuk merasakan kebahagiaan memenuhi rongga dadanya. Kebohongan yang keluar dari bibir Sherkan terlalu manis untuk di sesali.


"Jadi semuanya aku serahkan pada Sahara! Jika masih ada keraguan, sebaiknya kami mundur dari pertunangan ini sebelum terlambat."


Sherkan menekan kan kalimat terakhir yang ia ucapkan tanpa memutus tatapannya terhadap mata hijau Sahara. Ia seperti hendak kembali menekankan agar Sahara memilih keputusannya dengan baik. Dan tentu saja Sahara sangat paham akan hal itu, terlebih setelah melihat mata biru Sherkan ya g masih memandang nya smeakin menggelap di liputi oleh amarah.


"Aku besedia!" Sahara menjawab dalam satu tarikan nafas, Ia langsung membuang muka kembali kearah meja makan setelah memberikan jawabannya kepada seluruh anggota keluarga Yilmaz dan Yassaran yang berada di meja makan tersebut.


Mendengar jawaban Sahara membuat bahu Sherkan menegang dengan rahang yang mengeras. Tapi sebisa mungkin ia memaksakan sebuah senyuman pada Kemal Yilmaz yang tengah memandang Sherkan dengan wajah haru.


Pandangan mata mereka bertemu, Sherkan menampilkan sneyumannya sementara Sahara memandang Sherkan dengan mata berkaca-kaca. Ada sebersit ketakutan dalam hatinya, hanya sedikit dan masih mampu di kalahkan oleh rasa senangnya yang berlebihan. Namun tetap saja, mata biru Sherkan yang berpendar kelam membuat Sahara takut.


"Kita akan adakan pesta yang meriah!" suara pekikan Tuvana yang terdengar kegirangan terdengar memcah keharuan di meja makan itu.


Alyan dan Kemal masih tampak saling merangkul penuh kegembiraan. Sementara Feride tengah mencoba menyeka air matanya dengan tisu. Kebahagiaan mereka! Sahara tidak mungkin dapat menghancurkan kebahagiaan itu karena rasa takut yang tiba-tiba menghinggapi relung hatinya.


Lagipula ini adalah mimpinya sejak senior high school. Tidak ada yang perlu di sesali. Ya benar! Tidak ada yang perlu di sesali.


"Kurasa kita tinggal menentukan tanggal pernikahan!" seruan Alyan Yassaran membuat seluruh mata di meja makan itu tertuju kepadanya.


"Ya, tentu! Pamanmu sudah menentukan tanggal nya. Bukankah tanggal sembilan adalah tanggal yang pas?" Ferride ikut menimpali sambil tersenyum sumringah.


"Lima hari lagi?" Tuvana angkat bicara mencoba memastikan pendengarannya.


Tuvana langsung tersenyum bahagia begitu mendapat anggukan dari Feride yang tampak bersemangat. Ia menggamit lengan Alyan manja, kemudian melwmparkan sebuah senyuman kepada suaminya tersebut.


Sahara menjilat bibirnya yang terasa mengering, lima hari lagi bukanlah waktu yang lama. Dan Sahara masih belum siap untuk itu, entah mengapa ia tiba-tiba merasa gugup. Membayangkan berada di dalam satu rumah yang sama bersama Sherkan cukup mendebarkan.


Sahara tiba-tiba saja merasakan genggaman tangan Sherkan di tangan kanannya. Pria itu menggenggam tangannya dengan kekuatan yang tak main-main. Hal ini membuat Sahara mau tak mau menoleh memandang Sherkan dengan wajah kesakitan. Sementara Sherkan tampak menatap Alyan yang duduk di depannya dengan rahang mengeras.


"Sher-kan!" cicit Sahara dengan mata berkaca-kaca.


Genggaman tangan Sherkan mengendur, ia melepaskan genggaman nya perlahan masih dengan mata yang memandang Alyan.


Sahara mengusap jemarinya yang sudha memerah, ingin rasanya Sahara langsung menangis kesakitan. Atau mungkin memukul Sherkan dengan tas tangannya adalah pilihan yang tepat. Tapi Sahara tidak mungkin melakukan kekerasan itu terhadap calon suaminya. Tidak akan pernah!

__ADS_1


"Aku sangat membencimu!"


Lagi-lagi Sherkan berbisik sensual di telinga Sahara. Menyebabkan bulu kuduk Sahara meremang karena hembusan nafas Sahara yang terasa di lehernya. Pengaruh Sherkan terlalu besar untuk dapat di terima oleh nalarnya.


"Bisakah aku dan Sahara keluar sebentar!" Sherkan bangkit berdiri dengan senyuman sembari memandang Kemal memohon ijin.


"Tentu saja, Nak!"


Sherkan kembali mengulum senyuman, "Ah, sebenarnya. Aku akan mengajak Sahara berjalan-jalan melihat-lihat! Apakah Kemal Abi keberatan jika aku yang mengantar Sahara kembali ke apartement?"


Pertanyaan itu di lontarkan Sherkan dengan nada bicara yang sangat sopan. Mata biru nya menghangat penuh kepalsuan saat memandang Sahara yang juga memandang nya dengan wajah bingung.


"Sebaiknya..."


"Tidak masalah Sherkan, Abi percaya padamu!" Kemal langsung memotong kalimat Alyan yang sepertinya tengah berusaha mencegah Sherkan membawa Sahara.


Tapi mungkin hanya perasaannya saja, Sahara seperti melihat kepanikan yang berusaha di tutupi calon kakak iparnya itu. Tidak akan hal buruk yang akan terjadi, ia bersama Sherkan. Sherkan tidak mungkin berani menyakitinya. Dan mungkin saja Sherkan hanya ingin membawanya ke suau tempat untuk berbicara berdua saja dengan Sahara.


Tidak ada yang perlu di khawatirkan, Sahara harus segera meyakinkan dirinya sebelum perasaan aneh itu menganggunya lebih dari ini.


"Ayo!"


Sherkan mengulurkan tangan, sebuah senyum palsu terukir di ujung bibirnya. Sahara menerimanya seraya mengukir sebuah senyuman. Senyum itu menulari seluruh orang di ruangan serba coklat itu. Mereka memandang Sahara dan Sherkan yang bergandengan keluar melewati pintu kayu yang tampak anggun dengan ukiran men detail di setiap sisinya.


*********


Mohon tinggalkan komentar, Love dan Vote nya yaa...


Terima kasih!!


To Be Continue


Beautiful Revenge


©2020

__ADS_1


Sond13


__ADS_2