Beautifull Revenge

Beautifull Revenge
Chapter 6-Beautiful Revenge


__ADS_3

Jangan lupa tinggalkan jejak...


Vote+Love+Comment nya juga yaa!!


Hope You Enjoy it..


Beautiful Revenge


©2020


Chapter 6


_____________________________________________


Yilmaz Mansion and Suite. Beverly Hills, Los Angeles – California.USA   4.56 PM


************


Ia kembali memundurkan tubuhnya hingga membentur kepala ranjang. Meringkuk, dengan tubuh bergetar akibat tangis nya yang tertahan. Sahara semakin mengeratkan pelukannya di tubuhnya yang bergetar. Mata hijaunya sudah membengkak dan memerah karna menangis tanpa henti. Sahara tampak benar-benar kacau dengan rambut yang acak-acakan, begitupula dengan kamarnya.


Tak ada waktu baginya untuk berhenti menangis. Harapan karirnya yang sudah di ujung tanduk membuat Sahara merasakan sebuah ketakutan yang mencekam. Menyesal juga bukan hal yang pantas untuk di lakukan. Walaupun Sherkan tak menginginkannya, tidak mungkin Sahara harus menghancurkan harapan beserta reputasi orang tuanya.


Sahara kembali mengambil lembar tissue berikutnya, dan menyeka air matanya perlahan. Ia tak dapat mengendalikan emosi dan perasaannya, hanya dapat berharap tangisannya mampu membuat perasaan hatinya menjadi lebih baik. Sejak tadi Sahara menangis tanpa suara, takut-takut Kimberly yang sedang berada di depan pintu kamarnya dapat mendengar suara tangisannya.


"Nona Sahara sedang berada di kamarnya!"


Suara Kimberly dari luar kamar langsung membuat tubuh Sahara menegang, ia memundurkan tubuhnya kebelakang hingga kepalanya kembali membentur kepala ranjang yang keras untuk yang kesekian kalinya. Detik selanjutnya Sahara sudah meringis menahan sakit bertepatan dengan knop pintu yang terbuka.


Kini Feride sudah berdiri tepat di depan pintu kamar Sahara, matanya berkilat marah,


"Allah! Allah!" ia berseru seraya berjalan mendekat kearah Sahara yang mesih meringkuk di atas ranjang.


Feride merentangkan kedua tangannya serta memandang Sahara dan Kimberly bergantian, "Bukankah tugasmu hanya satu,Kim?" sinisnya.


"Mengapa kau biarkan putri ku menangis hingga matanya membengkak seperti ini?" Feride berseru dengan nada ramah dan senyuman yang dibuat-buat.


"Maafkan saya..." cicit Kimberly ketakutan.

__ADS_1


"Sudahlah! Kau bisa keluar sekarang. Tolong panggilkan suamiku!" Feride lantas memotong kalimat Kimberly tanpa berniat memandang wajah asisten pribadi yang sudah bertahun-tahun mengabdi pada putrinya itu.


Kimberly langsung menurut patuh, kini tinggal Sahara dan Feride yang berada di dalam kamar serba putih tersebut.


"Kau tidak seharusnya menangis seperti ini,Ara! Malam ini Sherkan akan datang, kalian akan memilih gaun pengantin!" Feride berucap lembut sembari mengelus rambut Sahara yang tampak berantakan.


"Anne! A-aku!"


"Sebenarnya aku tidak ingin mendengar bantahan, Ara!" Ia berujar dengan wajah mengeras, namun masih dilengkapi dengan sebuah senyuman yang dibuat-buat.


"Sherkan tidak menginginkanku. Aku masih ingin bekerja! Aku..."


Sahara tak mampu melanjutkan ucapannya, tubuhnya kembali bergetar ketakutan. Ditambah dengan ekspresi wajah Feride yang tampak tak senang mendengar kata-kata yang baru saja Sahara ucapkan membuat nyalinya langsung ciut.


"Omong kosong macam apa ini?" nada suara Feride tiba-tiba saja sudah meninggi. Ia memandang Sahara dengan wajah mengeras. Tepat seperti yang Sahara bayangkan, kini Feride sudah meledak-ledak penuh amarah,


"Aku ingin kalian membiarkanku, Anne! Aku merasa terbebani dengan semua ini!" Dengan segenap keberaniannya Sahara kini memandang Feride dengan air mata berlinang. Walaupun pada akhirnya Sahara tahu bahwa ia akan menyesali ucapannya. Namun lagi-lagi logika nya bekerja tak seiras dengan yang diinginkan oleh hatinya sendiri.


"Makhluk kurang ajar darimana lagi yang meracuni otakmu?" Feride masih belum berhenti dan malah semakin menjadi. Kini ia sudah kembali naik keatas ranjang Sahara dan mwncengkram pergelangan tangan putrinya itu sekuat tenaga.


"Apa kau tidak memikirkan akibat dari ucapanmu ini! Hah!"


"Feride! Apa-apaan ini?"


Kemal Yilmaz masuk kedalam kamar Sahara dengan tergesa-gesa dan langsung menepis tangan Feride agar tak melukai Sahara lebih jauh lagi. Rahangnya mengeras memandang Feride yang juga tengah menatapnya dengan wajah kelam.


"Aku membesarkannya, mencukupi semua kebutuhannya! Apa aku pernah memaksakan kehendakku pada putrimu ini? Apakah aku pernah melakukan itu?" ucap Feride dengan nafas terputus-putus. Matanya terasa memanas menahan tangis, hantinya hancur melihat putrinya meneteskan air mata. Namun lebih hancur lagi saat mendengar penolakan yang Sahara berikan.


"Kau tidak perlu mengungkit-ungkit seperti itu! Itu kewajiban kita, Feride!" kata Kemal dengan penekanan disetiap kata yang ia ucapkan. Mata tuanya melirik Sahara yang masih menangis pelan dengan air mata berlinang. Sebagai seorang ayah, hal itu pastinya membuat hati nya mencelos.


"Kau benar?" Feride mengangguk setuju kemudian memijit pelipis nya pelan, "Lalu apa kewajibannya sebagai putri kita? Apa dia sudah memenuhi kewajibannya!"


"Aku akan melakukan apapun, Anne! Tapi..."


"Kau tidak akan melakukan apapun, Ara!" ucap wanita paruh baya itu dengan nada suara yang dingin, " Kau akan menikah! Keputusanmu yang berubah-ubah membuatku muak!"


"Feride! Biarkan dia sendiri."

__ADS_1


Feride kembali berbalik marah seraya memandang Kemal yang berada tepat di sampingnya, "Kau terlalu sering memanjakannya. Lihat akibat ulahmu! Anak ini jadi pembangkang!"


Sahara terdiam tak dapat berbuat apa-apa, ia tak pernah berniat menyebabkan kedua orang tuanya bertengkar. Tapi lagi-lagi, Sahara selalu menyebabkna kedua orang tuanya bertengkar. Terlebih saat ayahnya kini membalas perkataan ibunya tak kalah sengit.


Kedua orang tuanya itu kini sudah bertengkar di hadapannya. Situasinya berubah semakin mencekam! Seumur hidupnya Sahara memang belum pernah melihat Kemal berlaku kasar. Bahkan saat adu mulut seperti sekarang ini ayahnya itu selalu mengalah dan memilih diam.


"Anne! Baba!"


"Kau sudah cukup puas sekarang?" Feride langsung membentak Sahara kuat, "Menikah atau kau tidur di jalanan!"


"Feride!" Kemal meninggikan suaranya, bahkan kini tangan kanannya sudah terangkat berniat menampar wajah istrinya sendiri.


Melihat hal itu, tentu saja membangkitkan amarah didalam diri Feride. Ia menatap tangan Kemal yang sudah ternagkat tinggi dengan nyalan. Kemudian meraih gangan suaminya itu dan dengan sengaja memukulkannya kewajah nya sendiri.


"Pukul, Kemal! Pukul!" serunya penuh amarah, air mata yabg sejak tadi berusaha ia tahan langsung menetes seketika.


"Baba hentikan!" Sahara beranjak dari tempat tidurnya dan berdiri tepat diantara kedua orang tuanya itu dengan kaki bergetar ketakutan, "Aku mohon! Aku akan melakukannya! Aku tidak akan berubah pikiran lagi."


Feride memandang Sahara sinis, "Tentu saja, kau akan menikah! Anne tidak akan pernah menanyakan keputusanmu lagi!" katanya sembari melangkah kesal keluar dari kamar Sahara.


Seperginya Feride, Kemal langsung terduduk lesu di pinggir ranjang. Susah payah ia mengumpulkan nafasnya yang muali memberat.


"Maafkan aku, Baba!"


Kini Sahara sudah memeluk tubuh tua Kemal yang tampak ringkih, air matanya terjatuh membasahi jas hitam yang di kenakan sang ayah. Di dalam hatinya Sahara benar-benar menyesal, entah penyesalannya yang keberapa kalinya. Sahara tak pernah menghitung nya sama sekali. Terlalu banyak hal yang harus ia sesali.


"Sudahlah, Ara! Jangan salahkan dirimu." Kemal akhirnya buka suara setelah berhasil mengatur nafasnya.


Jemari nya mengelus rambut Sahara pelan dilengkapi dengan senyjman diwajah tuanya yang tampak lelah, "Baba, harus pergi sekarang!" Ia beranjak pergi setelah sebelumnya mengecup kening Sahara sekilas.


Sahara masih terduduk di pinggir ranjang memperhatikan tubuh rinhkih ayahnya perlahan menghilang di balik pintu. Rasa penyesalannya yang kesekian kembali menghampiri pikirannya. Bagaimana bisa ia memberikan beban yang begitu berat pada tubuh tua ayahnya itu? Dia benar-benar putri yang buruk!


*********


To Be Continue


Beautiful Revenge

__ADS_1


©2020


SOND13


__ADS_2