
Jejak... Jejak...
Vote+Love+Comment Nya Juga Yaa!!!
Happy Reading
Beautiful Revenge
©2020
Chapter 17
______________________________________________
Yassaran Grand Mansion, Istanbul - Turkey. 10.33 AM
**********
Henna Night….
“Sherkan membatalkan acara bulan madu kalian!” ujar Tuvana memandang wajah Sahara dengan penuh rasa bersalah.
Saat ini mereka tengah berada di kamar bernuansa putih yang berada di dalam mansion kediaman keluarga Yassaran. Hanya dirinya dan Tuvana, beberapa penata rias telah keluar terlebih dahulu sejak gaun merah maroon dengan polesan beberapa pola indah di setiap centinya kini sudah membalut tuuh indah Sahara.
“Ke-kenapa?”
Ekspresi sedih di wajah Tuvana kembali hadir, “Dia berfikir hal seperti itu hanya membuang-buang waktu!”
Seulas senyum terbit di sudut bibir Sahara, “Mungkin sebaiknya memang begitu.” kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Sahara yang sudah di poles lipstick merah senada dengan warna gaunnya.
“Mungkin kau bisa membujuknya!”
Sahara menggeleng kuat-kuat, pipinya kontan memanas membayangkan situasi dimana ia mengajak Sherkan ber bulan madu. Tentu saja Sahara tidak akan pernah melakukan hal itu.
“Kalian akan langsung kembali ke mansion!” kini Tuvana membetulkan ujung gaun yang dikenakan Sahara dengan sangat hati-hati.
‘Mansion?’
Bagaimana Sahara bisa melupakan hal itu, seharusnya dirinya menanyakan ini jauh-jauh hari sebelumnya. Ia harus mengetahui dimana dirinya akan tinggal bersama Sherkan setelah mereka menikah. Sahara merutuki dirinya sendiri sampai suara Tuvana kembali terdengar.
__ADS_1
“Sherkan memiliki mansion pribadi di Ankara, kalian akan pindah kesana!”
“Apakah jauh dari Istanbul?” tanya Sahara yang dijawab dengan sebuah gelengan kepala oleh Tuvana.
“Hanya sekitar lima jam perjalanan dengan menggunakan mobil,” Tuvana menjeda ucapannya sejenak, “Aku akan berkunjung sesering mungkin!”
“Henna Night!”
Sahara tak sempat membalas perkataan Tuvana saat teriakan Defne menggema di dalam kamar, gadis tujuh belas tahun itu berlari dengan anggunnya melintasi kamar kemudian berhenti tepat di depan Sahara. Senyumannya mengembang dan mata birunya langsung menyipit hingga terbentuk seperti bulan sabit.
“Ayo kakak ipar. Henna Night!” ajaknya bersemangat sembari menarik tangan Sahara menuju pintu kamar.
Malam setelah resepsi memang di isi dengan acara Henna Night. Dimana pengantin wanita dan pria akan di tuntun ketengah-tengah acara kemudian melangsungkan acara memakai henna. Setelah itu pengantin akan segera meninggalkan resepsi, sebagai pertanda dimulai nya hidup baru.
Untuk itulah kini Sherkan menunggu Sahara di depan pintu kamar, sebuah kain brokat berwarna merah menyala menutupi kepala keduanya. Tidak ada pegangan tangan diantara keduanya, Sahara sebenarnya berniat meraih tangan Sherkan untuk ia genggam. Alasan utamanya adalah dirinya sangat takut akan jatuh tersandung dan alasan yang lainnya adalah untuk menghilangkan rasa gugupnya sendiri. Namun Sahara tidak mempersiapkan mental untuk menerima penolakan dari Sherkan.
Halaman mansion Yassaran telah berubah menjadi hamparan lilin dan bunga mawar berwarna merah. Ada ribuan lilin di setiap sudutnya menyaksikan alunan musik tradisional yang mengalun lembut. Tamu undangan semakin banyak berjejer di sepanjang karpet merah menuju sebuah pendopo yang telah di hias dengan sangat indah.
“Sherkan!” Sahara berseru tertahan saat Sherkan kini sudah duduk di hadapannya. Kokoh dan gagah, tidak tersentuh.
Sahara menoleh dan mendapati ibu dari sahabatnya Sean kini berada disampingnya dan Sherkan dengan sebuah nampan berwarna emas yang sudah di isi henna dan lilin yang menyala berada di tangan kanannya.
Dengan arahan dari Tuvana, Miranda memasangkan henna itu di jari manis Sherkan kemudian mengecup pipi Sherkan perlahan, “Jaga menantuku baik-baik!”
Sherkan mengangguk sekilas, mata birunya menyorot wajah Sahara dengan ekspresi tak terbaca, “Aku akan memberikan yang terbaik untuk pengantinku!”
Kalimat yang diucapkan Sherkan disambut dengan tawa bahagia para wanita yang tengah mengelilingi mereka. Sedangkan Sahara kini kembali menundukkan wajahnya.
“Keluarga kami sangat beruntung memiliki dirimu sebagai menantu!”
“Terimakasih!” tutur Sahara pelan.
Miranda meraih tangan Sahara dan meletakkan sebuah emas berbentuk persegi yang berkilauan. Kemudian ditutupi oleh henna yang sengaja dibentuk menjadi sebuah bulatan kecil. Kanan dan kiri, prosesi berakhir saat kedua tangan Sahara di tutupi sarung tangan yang terbuat dari bahan yang lembut.
“Anne mencintaimu!” bisik Feride ditengah riuhnya suara tepuk tangan para tamu undangan.
“Aku juga!”
__ADS_1
“Kakak ipar!” Defne lagi-lagi berteriak kencang, sebuah buket bunga ia sodorkan kearah Sahara.
Bersamaan dengan kedatangan Defne, kini Feride mulai menjauh dari kerumunan bersama Miranda dan Tuvana. Dari pandangan Sahara kini ketiga wanita itu bergerak kearah meja yang sudah di isi oleh Alyan, Kemal, dan Richard Walker yang tengah berbincang. Sementara dirinya dan Sherkan masih berada di area pendopo.
“Cepatlah! Aku ingin segala kekonyolan ini selesai.” bisik Sherkan, “Berada dalam jarak seperti ini denganmu membuatku muak!”
Sahara menerima buket bunga itu tanpa semangat kemudian membalikkan tubuhnya perlahan membelakangi barisan wanita yang kini berada dibelakangnya. Sherkan masih berdiri disisinya menunggu dengan sangat tidak sabar.
“Satu… Dua… Tiga!!” pada hitungan ketiga buket bunga itu terlempar dari tangan Sahara, ia langsung berbalik menatap kerumunan dengan senyuman mengembang diwajahnya.
Mia Adella Marshall menatap buket bunga yang kini sudah berada ditangan kanannya. Putri bungsu keluarga Marshall itu tersenyum manis dengan wajah memerah malu saat para gadis yang berada disekelilingnya menyorakinya terus-terusan. Sahara beralih menatap Sherkan kemudian beralih kembali kearah Mia yang kini memfokuskan eksistensinya kearah ke area meja yang diduduki oleh Sean dan yang lainnya.
‘Dia masih menyukai, Sean?’ tanya Sahara pada dirinya sendiri.
“Si bodoh itu masih belum menyadarinya?”
Sahara menoleh memandangi Sherkan yang berbicara pada dirinya sendiri, mata biru pria yang sudah berstatus sebagai suaminya itu terarah kepada Sean yang tengah sibuk memperhatikan ponsel ditangan kanannya. Tanpa mempedulikan tatapan kagum seorang gadis muda yang terarah padanya.
“Aku penasaran…”
“Jangan bicara padaku!” seru Sherkan dengan nada suara rendah.
Sahara terkesiap kaget, ia segera merapatkan mulutnya sebelum kata-kata lainnya menyusul keluar dari bibir Sherkan. Sahara hanya tidak menginginkan perkelahian terjadi di hari pernikahannya.
Namun sepertinya Sherkan masih belum berniat berhenti, mata birunya kini memandang Sahara dari atas kebawah dengan pandangan menilai. Amarah mengalir di tiap sorot matanya, “Kau tidak pantas menjadi pengantinku!” bisiknya ditelinga Sahara. Kemudian Sherkan melangkah meninggalkan area pendopo dan bergabun bersama Sean dan yang lainnya.
Sahara masih berada di pendopo saat tawa riang Zach menggema di udara, Sherkan juga tampak tersenyum tanpa beban sama sekali. Sangat berbanding terbalik saat bersama Sahara, Sherkan memang selalu tersenyum padanya. Namun senyumnya hanya senyum palsu yang dibuat-buat dan tidak ada ketulusan sama sekali.
Orang-orang disekitarnya mungkin tidak akan pernah menyadari bahwa kini Sahara merasa gamang untuk melangkahkan kakinya. Keputusan yang ia pilih secara suka rela seperti berniat menghianatinya. Entah takdir seperti apa yang harus Sahara jalani, tapi ia sangat tahu bahwa tidak ada jalan untuk lari ataupun berhenti. Biar Sherkan yang menentukannya, Sahara hanya ingin berada didalam kehidupan Sherkan, walau harus menjadi bagian gelap yang tak terlihat.
*********
To Be Contnued
Tekan Love Nya Yaaa...
Beautiful Revenge
©2020
SOND13
__ADS_1