
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak...
Like+Vote+Comment Nya Juga Yaa!!
Happy Reading...
Beautiful Revenge
©2020
Chapter 26
____________________________________________
**********
Marriot Dissick Hotel, Ankara-Turkey. 6.27 AM
Satu helaan nafas berhasil lolos dari sela bibir Sahara yang sedikit terbuka. Bibir yang sudah dipoles dengan lipstick berwarna peach itu sama sekali tak menampakkan senyum indahnya, yang ada malah raut wajah Sahara yang tampak cemberut. Dengan segera Sahara menjauhkan handphone persegi pipih itu dari telinga, kemudian terpaku menatap sederetan angka yang terpatri dilayar handphone dengan pikiran berkecamuk.
Sementara itu, disamping Sahara kini ada Dallas. Perempuan dengan style seperti seorang pria itu tengah menyesap minuman bersoda didalam sebuah cup bergaris merah dan putih yang berada ditangan kanannya. Tak lupa iris birunya memperhatikan setiap detail gerak-gerik Sahara dan perubahan ekspresi yang tampak diwajah sahabatnya tersebut.
"Sherkan masih belum mengangkat telponnya?" Dallas bertanya, tangannya melemparkan cup minuman bersoda yang telah kosong itu kedalam tong sampah.
Anggukan kepala Sahara berikan sebagai jawaban, sedangkan jemari nya tengah sibuk mengetikkan sebuah pesan singkat.
"Seorang istri tidak bisa pergi tanpa ijin suami kan?" Dallas bertanya meski dia sendiri sudah mengetahui dengan jelas jawaban dari pertanyaannya tersebut.
Sahara menoleh menatap Dallas dan memasukkan handphone nya kedalam tas tangan berwarna coklat, "Aku sudah mengirim pesan." kata Sahara sambil merapikan rambut dan kemudian membenarkan ujung dress biru tua yang ia kenakan.
Dallas manggut-manggut , "Jadi kita pergi sekarang?"
Ada keraguan diwajah Sahara, iris hijaunya melirik kearah sebuah motor besar yang terparkir disisi trotoar dan Dallas yang bersandar disisi motor besar tersebut.
"Aku tidak punya banyak waktu, Princessa. Seharusnya malam ini aku sudah sampai di Manila," Dallas berucap pelan mencoba mengikis keraguan dibenak sahabatnya itu.
"Kau menyesal? Aku bisa menelpon Sean atau yang lainnya." Sahara berkacak pinggang dengan wajah sok garang, membuat Dallas terkekeh pelan melihat hal itu.
"Ayo naik!" Dallas berseru sembari menaiki motor besar tersebut.
Sahara menatap hal itu sebentar, sebelum akhirnya ikut menaiki motor besar berwarna hitam itu dan langsung memeluk pinggang Dallas erat saat kuda besi itu melaju kencang.
"Apa Sherkan berbuat buruk?" Dallas bertanya, suaranya menjadi tak jelas beradu dengan suara angin disekitar mereka.
__ADS_1
Sahara menyandarkan dagunya dibahu Dallas, "Aku hanya butuh sedikit ketenangan." Sahara berujar mengeraskan suaranya.
Dallas terkekeh, hal itu membuat Sahara menepuk bahu sahabatnya itu pelan. Kemudian mengalihkan iris hijau nya kearah jalanan kota yang cukup ramai. Pagi tadi setelah menerima sebuah telpon dari sang ayah. Sahara langsung berniat ingin kembali ke mansion kedua orangtuanya. Sekedar untuk melepas rindu dihati, lagipula ia memang perlu menenangkan pikiran sejenak. Melihat kedekatan Sherkan dan Merald yang semakin intim sudah cukup membuat Sahara merasa jengah.
Tak lama kemudian Dallas menghentikan motor besarnya didepan sebuah hotel dengan bangunan pencakar langit yang tampak lengang. Ia turun dari atas motor dan mengulurkan tangan kanannya pada Sahara, "Ayo!"
Sahara menerima uluran tangan Dallas dan langsung berjalan pelan memasuki hotel tersebut, "Kenapa kita kemari?" tanya Sahara saat kakinya menapak memasuki sebuah lift.
"Ada helipad diatas." Dallas berujar pelan.
Sahara mengerutkan kening, "Kau tau?"
Dallas mengangguk, "Aku pemilik tempat ini, Ara. Bagaimana mungkin aku tidak tau?"
Sahara menganggukkan kepalanya. Satu hal yang ia tidak tahu dari keempat sahabatnya adalah mengenai pekerjaan mereka. Kecuali Axcel, menjadi dokter adalah cita-citanya. Pria beriris coklat dengan tingkat kejeniusan diatas rata-rata itu memang sering bercerita kepada Sahara mengenai cita-cita nya itu. Dia pria yang ambisius, Sahara kerap kali terpukau jika mendengar semua teori-teori didalam otak seorang Axcel Troy Mendoza.
"Pagi, Tuan Dissick!" sapaan seseorang membuat Sahara keluar dari lamunan indahnya.
"Pagi!" Dallas balas menyapa sembari menyambut uluran tangan pria berstelan hitam tersebut.
Dahi Sahara tidak bisa tidak mengerut melihat hal yang sedang tersaji didepan matanya itu. Seseorang memanggil Dallas dengan sebutan 'Tuan', tentu hal itu terdengar aneh.
"Selamat pagi, Nona!" Pria berstelan itu berbalik menyapa Sahara sambil mengulurkan tangan.
"Pagi!" balas Sahara singkat.
"Dia memanggilmu, Tuan?" Sahara sadar betul ada tawa didalam pertanyaan yang ia berikan.
Dalas memutar bola mata malas, "Sudahlah, jangan dipikirkan." sergah Dallas dengan raut tak nyaman.
Sahara mengedikkan bahu, mereka kemudian melangkah beriringan ketengah helipad. Dimana sebuah helikopter berwarna putih sedang bersiap untuk mendarat hingga akhirnya helikopter itu mendarat sempurna di area helipad.
Sahara menatap alat transfortasi udara itu ragu-ragu. Ia kemudian kembali mengeluarkan handphone nya mengecek notifikasi yang tertera dilayar. Tidak ada satupun pesan balasan dari Sherkan.
'Sudahlah, Ara. Hadir tidaknya dirimu di sisi Sherkan tidak ada makna nya sama sekali! Mungkin suami mu itu juga tidak akan peduli,' Sahara membatin.
"Kau sudah siap berangkat?"
Pertanyaan yang terlontar itu berhasil membuat Sahara memasukkan handphone nya kedalam tas tangan. Detik berikutnya Sahara menapaki tangga untuk menaiki helikopter itu dengan gerakan perlahan.
Seorang wanita yang mengenakan rok selutut dan kemeja putih polos membantu Sahara memasangkan seat belt ditubuhnya dengan sangat telaten.
Sementara Dallas masih berada diluar helikopter menatap kegiatan yang tengah dilakukan oleh Sahara dan wanita itu dengan seksama. Ia tampak bersandar di sisi helikopter dengan santainya.
__ADS_1
"Kau akan sampai di LA dengan satu kedipan mata!" Dallas berujar sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Kau tidak ikut?" tanya Sahara, ada sedikit nada tidak rela dalam kalimat sarat akan pertanyaan yang barusaja ia lontarkan.
"Aku harus ke Manila, Ara." ujar Dallas pelan mencoba memberi pengertian.
"Kenapa kau sangat suka berlibur keluar negeri?" Sahara mulai merajuk seperti anak kecil.
'Ini akan sulit!' gumam Dallas dalam hati.
"Kau sahabat perempuan ku satu-satunya." Sahara kembali buka suara.
"Aku sudah pernah mendengarnya!" Dallas merespon singkat.
"Ayolah! Kita bisa mengobrol sepanjang perjalanan," rayu Sahara.
Dallas bergidik membayangkan hal itu, "Zach menungguku, Princessa! Aku benar-benar harus pergi." tolak Dallas untuk kesekian kalinya.
"Kalian berkencan?"
Pertanyaan yang keluar dari bibir Sahara itu lantas membuat Dallas melotot tak percaya, "Yang benar saja! Kau ini," Dallas mengerang tak terima kemudian langsung menarik pintu helikopter hingga tertutup.
Sahara terkekeh pelan melihat wajah kesal Dallas, hingga akhirnya Dallas sedikit berlari kecil menepi ke sisi area landasan. Ia tampak berbicara sebentar kepada si pria berstelan hitam yang tadinya menyambut kedatangan mereka berdua.
Sahara masih memperhatikan interaksi Dallas dan si pria berstelan hitam sampai dering telponnya berbunyi nyaring mengagetkan. Ada pesan masuk dari Sherkan.
'Pergi kemanapun yang kau mau! Aku tidak peduli.'
Sahara membaca kata per kata yang tertera dilayar handphone nya itu. Serangan rasa sakit kembali merasuki hatinya. Padahal barusaja ia dapat tertawa beberapa menit yang lalu. Sherkan memang yang paling ahli Membolak-balikkan perasaan seseorang, terkhusus perasaan Sahara sendiri.
"Hubungi aku saat kau sudah sampai di Manila!" Sahara berseru mengabaikan rasa sakit dihatinya. Ia harus memaksakan senyuman didepan Dallas, setidaknya agar sahabatnya itu tidak merasa khawatir.
Dallas mengacungkan jempol kemudian melambaikan tangan. Tepat saat itulah helikopter mulai mengudara. Membawa Sahara meninggalkan kota Ankara menuju kediaman orangtuanya.
**********
To Be Continued (TBC)
Spam Next!!
Maaf jika masih banyak typo berserakan.
Beautiful Revenge
©2020
__ADS_1
SOND13