Beautifull Revenge

Beautifull Revenge
Chapter 11-Beautiful Revenge


__ADS_3

Jangan Lupa Tinggalkan Jejak...


Love+Vote+Comment nya juga yaa..


Hope You Enjoy It...


Beautiful Revenge


©2020


Chapter 11


_____________________________________________


Dua Hari Sebelum Hari Pernikahan...


**********


Kilau cahaya matahari masuk melalui tirai jendela yang telah terbuka. Sementara kicau burung peliharaan Kemal Yilmaz terdengar heboh saling bersahutan memenuhi seluruh penjuru mansion pagi itu. Suasana seperti itu merupakan hal yang lumrah bagi seluruh penghuni mansion Yilmaz. Namun bukan kicau an burung ataupun cahaya matahari itu yang mengganggu tidur nyenyak Sahara. Melainkan siluet seorang wanita yang berdiri tepat di depan jendela.


Siluet itu tampak seperti sosok Tuvana Yassaran, tapi tidak mungkin calon kakak ipar nya itu berada di dalam kamarnya sepagi ini. Untuk apa Tuvana mau repot-repot datang dari Istanbul ke salah satu negara bagian Amerika ini. Untuk membangunkannya?


Pertanyaan gila itu cukup mengusik tidur Sahara, sebelum akhirnya ia kembali memutuskan untuk mengambil posisi nyaman meringkuk di atas ranjangnya. Sahara hampir terlelap saat ia menyadari satu hal.


‘Ranjang?’ Sahara bertanya dalam hati dengan mata yang sudah terbuka lebar. Seingatnya ia tertidur di undakan tangga di depan pintu utama. Lalu siapa yang membawanya kemari?


“Ara, kau sudah bangun?”


Suara lembut Tuvana membawa Sahara ke dunia nyata, ia langsung mendudukkan dirinya di atas ranjang. Sementara Tuvana berjalan mendekati Sahara dengan wajah khawatir. Jadi bayangan Tuvana di depan jendela kamarnya tadi bukan hanya khayalan nya semata. Tuvana benar-benar berada di kamar Sahara saat ini, duduk dipinggir ranjang dengan mata coklatnya yang tampak muram tengah menatap Sahara.


“Apa aku membangunkan mu?”


“Ah, tidak, Kak!” jawab Sahara cepat. Menatap wajah bersalah Tuvana membuat Sahara merasa tidak enak hati, “Memang sudah waktunya bangun. Calon ibu rumah tangga sudah seharusnya dibiasakan bangun pagi!” Sahara melanjutkan kalimatnya dengan maksud bercanda sambil tersenyum kikuk.


Tuvana masih belum bereaksi, bahkan candaan Sahara tak ia tanggapi sama sekali. Walaupun sebenarnya kalimat yang baru saja sahara ucapkan sama sekali tak terdengar seperti candaan. Tapi biasanya Tuvana akan menanggapi setiap ucapan Sahara dengan senyuman ramahnya.


“Ada apa, Kak?” tanya Sahara dengan tangan terulur kearah jemari Tuvana yang dibalut sarung tangan berbahan beludru yang sangat lembut.


“Aku sampai di sini pukul empat pagi!” Tuvana akhirnya buka suara, “Dan aku menemukan mu tertidur di undakan tangga!” tutur nya dengan suara yang semakin menghilang.


“Ah itu…”


“Kemal Abi langsung menggendong mu kembali ke kamar.”


“A-aku..” ucap Sahara terbata-bata, berbagai alasan tersusun di otaknya tapi tak ada yang terasa masuk akal.


“Apa ada sesuatu yang mengganggumu, Ara? Kau bisa bercerita padaku!” Tuvana semakin mengikis jaraknya dan Sahara agar bisa lebih dekat menatap wajah calon adik iparnya tersebut.


“Tidak ada, Kak! Aku baik-baik saja, itu hanya karna tangganya sangat dingin! Jadi aku memilih tidur disana sambil menatap bintang!”


Alasan yang bodoh, Tuvana tentu tak percaya. Malam itu sama sekali tidak ada bintang, yang ada hanya langit malam yang sangat kelam. Sepertinya Tuvana menyadari kebohongannya, terlihat dari ekspresi wajah Tuvana yang hanya mengukir sebuah senyuman simpul.

__ADS_1


“Kau sekarang adalah adikku, Ara! Kita keluarga.”


Sahara menganggukkan kepalanya, senyum manis terukir di bibir pucat Sahara.


“Maaf Nona!” Kimberly menginterupsi.


Asisten pribadi Sahara itu sudah berdiri di depan pintu kamar yang sedikit terbuka, “Nyonya Feride meminta Anda dan Nona Tuvana turun untuk sarapan!”


“Kami segera kesana!” jawab Tuvana yang langsung di angguki oleh Kimberly.


“Aku akan menunggumu disini!” ucap Tuvana dan mendorong tubuh Sahara kearah kamar mandi.


Beberapa menit kemudian Sahara sudah keluar dari walk in closet dengan mengenakan stelan coklat tua senada dengan stelan yang di kenakan Tuvana.



Rambutnya sengaja ia gelung keatas hingga hanya menyisakan beberapa helai anak rambut yang menjuntai indah melewati telinganya. Ia dan Tuvana berjalan beriringan menuruni tangga menuju ruang makan, saat ini sudah tak terasa canggung lagi bagi Sahara saat bersama dengan Tuvana.


Jauh berbeda saat mereka baru bertemu pertama kali, rasanya tidak terlalu sulit menyesuaikan diri dengan Tuvana yang terlampau ramah pada siapa saja. Bahkan para pelayan yang lalu lalang di depan mereka turut mendapat senyuman Tuvana. Tak heran Alyan Yassaran sangat mencintai istrinya tersebut, kecantikan Tuvana tak hanya tampak di luarnya saja tapi juga di dalam hatinya.


“Gunayden!” sapa Tuvana ramah begitu mereka tiba di ruang makan.


Kemal dan Feride menjawab ucapan selamat pagi dari Tuvana tersebut secara bersamaan, “Duduklah, Nak!”


“Kau baik-baik saja, Ara?” Kemal bertanya dengan mata memandang Sahara khawatir.


“Aku baik-baik saja, Baba! Maaf sudah membuatmu khawatir.”


Kemal menganggukkan kepala nya sambil tersenyum singkat, “Sudahlah! Mari lanjutkan makannya.”


Sahara tidak terlalu menyukai Menemen maka dari itu matanya kini beralih kearah Patasteli Yumurta variasi olahan telur yang dimasak dengan kentang juga Mantar. Olahan jamur yang ditumis dengan bubuk paprika dan lada hitam itu merupakan favorit Sahara hingga saat ini.


Patasteli Yumurta



Mantar



“Sherkan pastinya sudah menunggu kalian!” ucap Feride sedikit mencoba menarik perhatian Sahara setelah ia menyuapkan sesuap Menemen kedalam mulutnya.


“Ya, dia sudah sampai disana!” Tuvana menanggapi.


“Kalian ingin pergi?” Sahara bertanya sambil terus menyuapkan jamur dengan campuran bubuk paprika dan lada hitam itu kedalam mulut. Meninggalkan rasa pedas yang sangat ia sukai.


“Sebenarnya prewedding mu akan dilaksanakan hari ini, Sherkan juga sedang menunggu di lokasi!” jelas Tuvana setelah meletakkan alat makannya di atas piring dan menyesap teh di dalam gelas bundar di depannya.


‘Sherkan!’ Dadanya seperti di pukul oleh sebuah benda tak kasat mata. Namun hatinya pula yang mengatakan ia tak dapat membenci pria yang dua hari lagi akan bergelar sebagai suaminya tersebut.


“Tapi jika kau merasa kurang sehat, aku akan menelpon Sherkan dan membatalkan acara prewedding kalian!” tangan kanan Tuvana sudah mengelus punggung Sahara lembut.

__ADS_1


“Pernikahan seperti apa tanpa sesi prewedding?” Feride bertanya dengan senyum palsu.


“Tenang saja Bibi Feride! Banyak jasa penyedia rekayasa foto sekarang ini. Benar begitu, Kemal Abi?”


“Kalian yang paling mengerti hal seperti itu. Apa yang bisa paman lakukan?”


Tuvana tertawa kecil bersama Kemal sedangkan Feride lagi-lagi harus memaksakan senyumnya.


Sahara yang menyaksikan hal itu hanya dapat menunduk memikirkan kalimat Tuvana. Kali ini ia membenarkan ucapan ibunya itu, ‘Pernikahan macam apa tanpa sesi prewedding?’ ia mengulangi pertanyaan sang ibu di dalam hati.


Bagi Sahara pernikahan hanya terjadi sekali seumur hidup, dan ia ingin semuanya berjalan sebagaimana semestinya. Tak peduli akan rasa sakit hatinya pada Sherkan, jauh dalam hatinya ia merasa khawatir akan keadaan pria itu. Apalagi tidak ada satu pun dari mereka yang menghubungi Sahara seperti janji Dallas sebelum pergi dari halaman mansion tadi malam. Maka dari itu Sahara harus memastikan keadaan Sherkan sendiri.


Prewedding itu juga dapat menjadi salah satu kenang-kenangan di masa tuanya kelak. Membayangkan ia akan duduk di sebuah kursi kayu dengan tubuh yang sudah renta sambil memandangi foto prewedding nya bersama Sherkan berhasil membuat Sahara mengukir senyuman.


“Aku baik-baik saja!” Sahara berseru sambil menjauhkan piring sarapannya yang telah kosong.


“Kau yakin?” tanya Kemal memastikan.


Sahara mengangguk mantap, “Tentu saja, Baba. Jangan khawatir!”


“Kalau begitu aku akan menelpon, Phural!” Tuvana mengangkat handphone nya yang di balas dengan sebuah anggukan oleh Kemal.


“Sahara…”


“Putriku baik-baik saja, Kemal. Dia pasti menginginkan sebuah kenangan dari hari pernikahannya!” Feride memotong ucapan suaminya cepat, matanya menatap Sahara sambil tersenyum, “Bukan begitu, Ara!”


“Ya!”


“Phural sudah datang. Ayo!” Tuvana langsung menarik tangan Sahara agar berdiri dari kursi, “Kami permisi!” pamit nya masih menggandeng tangan Sahara erat.


“Biarkan aku mengantar kalian sampai kedepan!” Feride berseru kegirangan.


Mereka bertiga melangkah menuju pintu utama mansion. Sebuah Helikopter jenis Eucopter EC120B Colibri telah mendarat sempurna di lokasi Helipad yang terletak di halaman mansion bagian utara.



Sahara dan Tuvana melanjutkan langkahnya meninggalkan Feride yang berdiri di teras mansion. Tepat saat alat transfortasi udara itu mulai meninggalkan tanah, Feride langsung melambaikan tangannya bersamaan dengan senyuman di bibirnya.


Sahara masih memandang mansion tempatnya dibesarkan itu saat Helikopter sudah mengudara semakin tinggi.


“Kita akan sampai sekitar satu jam dari sekarang!” Tuvana berbisik di telinga Sahara sambil memasang earphone di telinganya.


“Baiklah!” jawab Sahara sambil mengikuti aksi Tuvana dan memasang benda tersebut di kedua telinganya


**********


To Be Continued


Tekan Love Nyaa..


Beautiful Revenge

__ADS_1


©2020


SOND13


__ADS_2