Beautifull Revenge

Beautifull Revenge
Chapter 22 - Beautiful Revenge


__ADS_3

Jangan Lupa Tinggalkan Jejak...


Like+Vote+Comment Nya Juga Yaa!!


Happy Reading...


Beautiful Revenge


©2020


Chapter 22


_____________________________________________


*************


Sakit, rasanya sangat menyakitkan. Sekujur tubuh Sahara merasakan rasa sakit yang luar biasa. Sahara terbaring dikamar nya, perban melilit kepalanya yang terluka, ada bercak darah disudut bibir Sahara juga beberapa memar disekujur tubuhnya. Bibi Hediye ada disana, air matanya terus menetes memandang luka-luka yang didapat oleh majikannya itu. Sementara tangan keriputnya membersihkan luka Sahara dengan air hangat.


Sahara mengerjapkan matanya, beberapa kali hingga retina hijau jamrud itu bisa menerima cahaya mentari pagi yang masih melalui jendela yang tirai nya sudah terbuka. Sahara menoleh memberi keterkejutan pada bibi Hediye yang membersihkan luka ditangan kanan Sahara.


"Nyonya!" panggil Bibi Hediye serak, "Nyonya, sudah bangun." ucapnya dengan penuh suka cita.


Sahara mengangguk kemudian berusaha mendudukkan dirinya dikepala ranjang. Meringis saat luka ditubuhnya memberikan sensasi tak enak, "Apakah luka nya parah?" tanya Sahara pelan sembari memperhatikan tangan dan kakinya yang tidak tertutupi selimut. Ia hanya mengenakan kaos lengan pendek dan celana tidur bermotif garis.


Bibi Hediye terdiam tak dapat menjawab, ia menatap Sahara sendu. Sahara kembali melirik Bibi Hediye kemudian mengelus bahu ringkih wanita paruh baya itu pelan. Berusaha menenangkan agar wanita itu menghentikan tangisnya.


"Aku baik-baik saja, Bibi Hediye!" ucap Sahara lembut.


Bibi Hediye mengangguk, "Nyonya akan selalu baik-baik saja." ucapnya kemudian.


Wanita paruh baya itu bergerak dari sisi Sahara dengan membawa sebuah baik dan wadah berisi air yang sudah berubah warna menjadi merah, "Saya permisi, Nyonya!" gumam wanita itu sembari berusaha menutupi barang bawaannya dari pandangan Sahara.


"Bisa aku minta teh hangat!"


"Tentu, Nyonya. Saya segera kembali!" ucapnya menyanggupi kemudian berjalan dengan sangat hati-hati keluar dari kamar.


Tepat setelah pintu tertutup, Sahara menyentuh luka diwajahnya pelan. Detik berikutnya Sahara meringis kesakitan sembari menjauhkan jari telunjuknya dari wajahnya. Setetes air mata mengalir jatuh dari kelopak mata Sahara dan memberikan sensasi perih di bagian luka di pipi dan sudut bibirnya.


"Nyonya!"


Sahara menoleh, Bibi Hediye berdiri didepan pintu disampingnya ada Tuvana. Mata Sahara langsung membola penuh keterkejutan.


Tuvana melangkah cepat mendekati Sahara mendudukkan dirinya kemudian memeluk tubuh Sahara erat. Wanita itu langsung menangis tersedu-sedu sambil mengucapkan kata maaf berulang kali.

__ADS_1


"Kak, aku baik-baik saja! Aku terpeleset di kamar mandi." kata Sahara menyisipkan sebuah kebohongan dalam kalimatnya.


Tuvana menggeleng, "Aku tau yang sebenarnya, Ara!" ucapnya dengan tangisan, "Sherkan sendiri yang menelpon ku!"


"Sherkan?" Sahara bertanya tak percaya.


"Dia bilang, dia hampir membunuhmu!" Tuvana kembali menangis.


"Ah, itu." Sahara terdiam tak mampu melanjutkan ucapannya. Hatinya kembali teriris sebuah pisau tak kasat mata. Sherkan mengakui perbuatannya didepan Tuvana, entah bagaimana Sahara harus menyikapi hal ini.


"Aku benar-benar tidak tau apa yang harus ku perbuat."


Tuvana masih terisak, Sahara mengelus punggungnya pelan. Berusaha menguatkan satu sama lain, meski seharusnya Sahara lah yang membutuhkan hal itu.


"Aku baik-baik saja." kata Sahara kembali memberikan kebohongannya.


Tuvana menatap wajah adik iparnya itu sendu, "Apa aku harus menelpon Paman Kemal dan Bibi Feride?" Ia bertanya.


Sahara menggeleng kuat hingga lehernya terasa sakit, "Tidak perlu, kak. Perkelahian seperti ini biasa terjadi!"


Tuvana tak bereaksi, mata coklatnya mengamati seluruh luka yang terlihat menghalangi aura kecantikan Sahara. Kulitnya yang semula putih bersih, kini dihiasi dengan beberapa luka lebam. Ditambah dengan mata hijau Sahara yang membengkak, Tuvana tak dapat membayangkan bagaimana rasa sakit yang dialami adik iparnya itu.


"Aku bisa menanggung semua ini sendiri, Kak. Ini masalah keluargaku!" ujar Sahara berniat meyakinkan Tuvana, meski ia sendiri ragu akan kalimatnya.


Tuvana menghela nafas, "Aku belum memberitahu, Alyan." lirih Tuvana, "Aku takut mereka bertengkar. Hubungan mereka berdua barusaja membaik setelah pernikahanmu dan Sherkan!"


Sahara dan Tuvana sama-sama terdiam menyelami pikirannya masing-masing. Hingga Bibi Hediye datang membawa sebuah nampan berisi teko teh hangat, dua gelas kosong dan obat-obatan.


"Bagian mana lagi yang terasa sakit?" Tuvana bertanya sembari menyambut uluran nampan yang diberikan Bibi Hediye.


Sahara memperbaiki posisi duduknya berusaha membuat dirinya senyaman mungkin, "Hanya ini." kata Sahara sembari mengangkat kedua tangannya yang dipenuhi lebam. Setidaknya hanya itulah yang dapat dilihat dengan jelas oleh mata Tuvana. Luka tersembunyi seperti bagian melepuh di area dadanya dan juga kakinya yang sepertinya terkilir tidak perlu diberitahu.


"Terimakasih, Bibi Hediye!" ucap Tuvana pada wanita paruh baya itu.


Bibi Hediye menganggukkan kepalanya kemudian pamit keluar kamar. Menyempatkan diri menatap Sahara sekilas kemudian melangkah pergi dengan air mata yabg menetes.


"Aku akan mengirim, Dokter pribadi." Tuvana menyodorkan segelas teh hangat pada Sahara, membantu adik iparnya itu minum.


Sahara menganggukkan kepalanya tak berniat menolak, "Terimakasih."


"Kabari aku setiap hari."


Sahara mengangguk, kemudian menyesap teh hangat nya. Sementara Tuvana mulai membaca aturan pakai obat-obat yang barusaja dibawakan oleh Bibi Hediye. Menelitinya satu persatu sebelum akhirnya menyerahkan obat-obat itu pada Sahara.

__ADS_1


"Jika kondisi sudah tidak terkendali," Tuvana menahan ucapannya, membiarkan Sahara meminum obat-obatnya tersebut.


Sahara meletakkan gelas air putihnya diatas nakas, menatap Tuvana dengan wajah penasaran. Tuvana menghela nafas kemudian menggenggam tangan Sahara yang terkulai lemas cukup erat, seolah memberikan kekuatan.


"Sebaiknya kau kembali ke LA."


Sahara membulatkan matanya, kalimat yang barusaja ia dengar itu tidak bisa tidak menyakiti hatinya. Setetes air mata membasahi pipi Sahara mengembalikan rasa perih pada sisi wajahnya yang memar saat bulir air mata itu mengalir turun. Sahara menggeleng, ia tidak dapat membayangkan jika hal itu sampai terjadi padanya.


"Aku tidak mau." isak tangis Sahara terdengar memilukan.


"Ara, dengarkan aku!" Tuvana mencoba memberi penjelasan. Namun Sahara tak membiarkannya melakukan itu.


Sahara menggeleng kuat, "Tolong hentikan, Kak!"


"Baiklah...," Tuvana memegang kedua bahu Sahara mencoba menghentikan tangisannya. Memilih tak melanjutkan ucapannya, takut kalimatnya semakin menyakiti perasaan Sahara.


"Kumohon!" cicit Sahara kembali terisak.


Dadanya terasa sesak, bukankah saat hari pernikahan ia dan Sherkan sudah berjanji tidak akan bercerai. Mengapa sekarang Tuvana seolah-olah meminta Sahara meninggalkan kehidupan Sherkan. Bukankah mereka juga yang sudah merencanakan pernikahan ini, lalu mengapa sekarang mereka seolah-olah menginginkan Sahara untuk menyerah. Kata itu tak pernah terlintas dipikiran Sahara. Tidak akan pernah, ia tidak ingin bercerai. Sehebat apapun siksaan yang ia dapatkan.


"Biarkan aku disini bersama Sherkan!"


Permohonan yang barusaja Sahara ucapakan mungkin terkesan konyol bagi sebagian orang. Namun tidak bagi Tuvana, ia sangat mengerti hal berat apa yang sudah dilewati adik iparnya itu untuk sampai di tahapan ini.


"Aku mengerti, Ara. Aku mendukung segala keputusan yang kau buat! Tetapi aku tak bisa berbuat banyak untuk menolong mu." Tuvana terdengar berat mengatakan hal itu.


Sahara mengangguk, "Aku baik-baik saja!"


Kebohongan yang sama. Entah sampai berapa kali dalam hidupnya Sahara harus mengucapkan kalimat itu dalam hidupnya. Yang jelas, Sahara akan selalu baik-baik saja meski berbagai luka menghiasi kulit pucat Sahara.


"Walau ada seribu alasan untuk menyerah!Tetapi akan selalu ada satu alasan untuk bertahan."



**********


To Be Continued (TBC)


Likee.... Like....👍👍


Jejaknya... Jangan Lupa!!


Beautiful Revenge

__ADS_1


©2020


SOND13


__ADS_2