Beautifull Revenge

Beautifull Revenge
Chapter 8-Beutiful Revenge


__ADS_3

Jangan lupa tinggalkan jejak..


Vote+Love+Comment nya juga yaa..


Hope You Enjoy It..


Beautiful Revenge


©2020


Chapter 8


_____________________________________________


Tiga Hari Menuju Pernikahan......


Anderson Ave, Manhattan-NYC. USA 3:56 PM


***********


"Terimakasih sudah mau meluangkan waktumu,Sean! Aku tau kau sangat sibuk."


Sahara langsung berujar begitu ia sampai di depan sebuah meja di salah satu kopi shop ternama di kota New York. Didepannya ada Sean yang tengah menatap nya dengan tangan bersedekap di depan dada. Dahi pria tampan berusia 24 tahun itu mengerut dalam, gurat wajahnya tampak kebingungan.


"Kenapa kau jadi sangat formal? Apa si 'Yassaran' itu yang mengajarkannya?" tanya Sean jenaka.


Sahara melemparkan selembar tissue yang sudah berubah bentuk menjadi gumpalan bola kecil tepat kerh Sean. Gelak tawa Sean langsung berderai begitu menatap wajah Sahara yang sudah merona merah. Sean tmpak sangat senang menggoda Sahara hingga Sahara bersungut kesal karenanya.


"Hentikan!" ucap Sahar pelan sambil menangkup kedua pipinya yang sudah memanas.


"Kau sama sekali tidak berubah! Sherkan selalu bisa membuatmu merona!"


Sahara menundukkan wajahnya dalam, pipinya terasa semakin memanas. Dalam hati ia sedikit menyesal mengajak Sean bertemu, yang Sahara inginkan dari Sean adalah beberapa cerita tentang Sherkan selama beberapa tahun belakangan. Bukannya malah jadi bahan ejekan sepupu calon suaminya itu.


"Aku pulang saja!" Sahara berujar ketus, kemudian menyambar tas tangan nya diatas meja.


Tepat saat Sahara hendak melangkah pergi Sen langsung menyambar pergelangan tangan Sahara. Sean memandang Sahara dengan wajah menahan tawa sedangkan Sahara masih bertahan dengan wajah garang yang dibuat-buat.


"Jangan pergi sepupu. Kumohon!"


Sahara melemparkan tatapan bengis sebelum kembali mendudukkan dirinya di kursi kayu yang berwarna kecoklatan tersebut. Mendengar panggilan 'sepupu' dari Sean membuatnya semakin merasa menjadi bahan ejekan.


Sean bukan tipe orang yang suka bercanda, bahkan untuk sekedar tersenyum saja sangat sulit baginya. Namun melihat Sean yang tertawa dan bisa bercanda seperti sekarang ini merupakan suatu kesempatan yang sangat langka. Jadi Sahara akan membiarkannya saja walaupun ia merasa malu setengah mati.


"Baiklah! Aku akan berhenti." Sean berdehem pelan sambil membuka buku menu dengan kedua tangannya, "Kopi atau teh?" tanyanya dengan mata memandang kearah Sahara dari balik buku menu.

__ADS_1


"Teh saja!"


"Baiklah!" Sean bangkit berdiri kemudian bergerak menghampiri seorang wanita paruh baya bertubuh gempal yang berdiri di balik meja kasir.


Sahara masih memperhatikan Sean yang kini tengah berbincang akrab dengan wanita bertubuh gempal itu hingga tatapan kagum sekelompok remaja wanita yang duduk melingkar disebuah meja terarah kearah Sean sejak sahabatnya itu bergerak menuju meja kasir. Para remaja itu berbisik sekilas pada teman-temannya kemudian tertawa cekikikan.


Beberpa saat kemudian Sean kembali ke meja mereka dengan membawa sebuah nampan berisi dua gelas minuman dan beberapa dessert dengan berbagai topping. Lagi-lagi para remaja itu memandangi Sean dengan pandangan memuja yang dangat terang-terangan. Sahara jelas risih akan hal itu, baginya mereka seharusnya merasa malu dengan tingkah seperti itu.


"Mereka memandangi mu!" ujar Sahara begitu Sean meletakkan nampan yang ia bawa diatas meja.


Sean mengedikkan bahu tak peduli kemudian menyesap kopinya perlahan, "Mungkin mereka kurang asupan vitamin!" balas Sean acuh tak acuh.


"Mereka menggeliat seperti cacing kepanasan!" Sean melanjutlan ucapannya sambil kembali menyesap kopi hitam yang ia pesan.


Sementara Sahara mulai memasukkan beberapa sendok gula kedalam teh yang masih mengepul. Kemudian mengaduk teh itu dengan gerakan perlahan, memilih tak mengacuhkan remaja-remaja yang sedang mengalami masa pubertas dan terus memuji Sean dengan suara berbisik sedari tadi.


"Bagaimana persiapannya? Semua sudah beres?" Sean kembali buka suara, pandangannya terfokus kearah Sahara yang tengah meyesap teh didalam gelasnya.


"Semua baik-baik saja! Keluarga Yassaran yang menangani semua nya!" balas Sahara setelah meletakkan tehnya kembali keatas meja.


"Alyan?"


"Ya! Dan kak Tuvana. Dia sangat baik!"


Sahara menutup bibirnya dengan telapak tangan, "Kau punya list?"tanyanya dengan nada suara yang terdengar penuh canda.


"Kau mau tahu yang paling aku tidak sukai?" Sean menaikkan alisnya dengan sengaja.


Sahara mengibaskan tangannya di depan wajah, dalam hatibia sudah tahu jawaban Sean. Dan Sahara yakin seratus persen bahwa jawabannya itu adalah sebuah kebohongan. Sean tidak memiliki alasan untuk itu, dia memiliki hubungan darah dengan Keluarga Yassaran.


"Apa yang dilakukan Sherkan belakangan ini?" Sahara mulai bertanya sembari terus menjaga ekspresi wajahnya agar tidak terlihat terlalu penasaran.


Namun pastinya Sean menyadari hal itu, pria itu kini mendekat kearah meja dan menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Sejenak alisnya terangkat dengan ekspresi berpikir.


"Bekerja!"jawab Sean pelan.


Sahara kembali menyesap teh di dalam gelasnya. Tampak tenang, namun didalam hati ia tengah mengutuk Sean yang sepertinya sengaja mempermainkannya. Sean jelas tahu apa yang Sahara maksudkan. Tapi sepertinya pria itu sengaja membuat Sahara mengerang frustasi.


"Selain itu?"pertanyaan yang bagus, Sahara tersenyum kecil.


"Maksudmu? Aku tidak mengerti?"tanya Sean dengan wajah bingung yang jelas dibuat-buat.


Sahara langsung memukul kepala Sean dengan gelas teh ditangannya perlahan. Ia menatap pria yang merupakan sahabatnya itu dengan wajah bengis.


"Jangan berpura-pura bodoh?"sergah Sahara pura-pura merajuk.

__ADS_1


"Aku benar-benar tidak tahu,Ara!" Sean berucap pelan, suaranya lembut menenangkan.


"Sherkan seperti menutup diri! Hanya Defne,Alyan dan Tuvana yang selalu mengunjungi kami." kata Sean panjang lebar, terdengar menyesal.


Sahara mengangguk pelan, "Benarkah?"ia bertanya lagi dengan suara melemah.


Sean menganggukkan kepalanya, "Tidak perlu khawatir,Ara! Tidak ada yang berubah. Sherkan tetap seperti itu." Sean berucap lagi sambil menggenggam tangan Sahara yang tergeletak diatas meja.


Tangan itu terasa dingin di genggaman Sean, apalagi kini Sahara tampak lemah kehilangan semangat, "Dengarkan aku, Ara!" kini Sean menangkup wajah Sahara dengan kedua tangan.


Hal ini tentu membuat Sahara membulatkan matanya panik. Mungkin Sean tidak memikirkan resikonya jika ada wartawan yang mengambil foto mereka secara diam-diam dan menyebarkan gosip dimana-mana. Bagaimana Sean bisa seceroboh ini, tapi walaupun begitu Sahara tak sanggup melepaskan tangan Sherkan yang berada di kedua pipinya. Karna sejatinya Sahara membutuhkan seseorang untukbia ajak bicara soal perasaan seperti ini dan hanya Sean yang dapat Sahara ajak bicara.


"Aku hanya takut, Sean! Sherkan sepertinya membenciku!" Sahara tak kuat menahan tangisnya, ia terisak perlahan.


"Princessa, jangan seperti ini! Lihat aku!"


Berhasil, kini Sahara menatap tepat kearah mata biru Sean dengan mata nya yang sudah berair. Sean mengusap air mata Sahara perlahan.


"Lihat bagaimana Tuhan membawa Sherkan kembali padamu? Ini yang dinamakan takdir, Ara. Sekuat apapun kalian mencoba untuk saling menjauh! Tuhan selalu memiliki cara untuk mempersatukan kalian kembali."


Sahara mengunggukan kepalanya, matanya sayu memandang Sean dengan berbagai emosi. Sean kemudian menjauhkan kedua tangannya dari wajah Sahara dan melemparkan senyuman kearah sahabatnya yang tengah berusaha menyeka air matanya.


"Yang disatukan oleh Tuhan tak dapat diceriakan oleh manusia!" Sean tersenyum setelah mengatakan beberapa kata tersebut.


Sahara mengangguk setuju dengan hati yang kini sudah merasa lebih tenang, "Terimakasih!" Ia berujar pelan.


"Kau sudah selesai?"


Sahara kembali mengangguk kemudian menggeser gelas tehnya menjauh. Sean kemudian melangkah kembali kearah kasir, dimeja mereka masih ada beberapa dessert yang belum disentuh. Nafsu makan Sahara sudah hilang begitu saja.


"Ayo!" Sean sudah kembali berdiri dihadapan Sahara dengan tangan terulur.


Sahara memandang Sean dengan wajah bingung, "Kemana?"


"Ayo!" Sean kemudian menarik tangan Sahara kemudian membawa Sahara keluar dari area kafe.


**********


To Be Continue...


Beautiful Revenge


©2020


SOND13

__ADS_1


__ADS_2