Beautifull Revenge

Beautifull Revenge
Chapter 16-Beautiful Revenge


__ADS_3

Jejak... Jejak...


Vote+Love+Comment Nya Juga Yaa!!!


Happy Reading


Beautiful Revenge


©2020


Chapter 16


______________________________________________


"Womans and Wedding! It's a simply beauty that the universe ever have!"


Yassaran Grand Mansion, Istanbul - Tukey. 10:16 PM


**********


"Aku ingin ini berakhir bahagia!" bisikan Sahara terdengar lirih.


Laju mobil berhenti di sambut pintu yang terbuka pelan. Angin berhembus pelan membawa aroma bunga mawar putih yang kemarin sore telah ditata sedemikian rupa hingga memenuhi setiap sudut halaman mansion Yassaran. Seseorang meraih tangan Sahara dan membantu Sahara keluar dari dalam mobil. Sherkan!


Sahara menyimpan tangannya di dalam gandengan kokoh Sherkan saat alunan musik lembut mulai terdengar mengalun. Menghembuskan nafas pelan sebelum mengikuti langkah Sherkan perlahan. Jantungnya berdetak cepat, dapat dipastikan kini pandangan para tamu undangan di sana sudah terpaku kearah kedatangan dirinya dan Sherkan.


Entah apa yang kini tengah Sahara pijaki, mungkin karpet atau hamparan rumput hijau di halaman mansion Yassaran. Sahara hanya bisa menebak-nebak dalam hati, tapi kelembutan area yang tengah ia jalani kini membuat Sahara kembali bersyukur. Jika saja yang ia pijaki kini adalah butiran batu kerikil atau yang sejenisnya. Dapat dipastikan Sahara akan jatuh tersandung berkali-kali saking gugupnya. Dan mungkin Sherkan akan langsung meninggalkan dirinya saat itu juga. Atau mungkin Sherkan akan menolongnya dan menggendong Sahara hingga sampai ke pelaminan.


Andai tangan kirinya tak memegang buket bunga yang di berikan Sherkan saat menjemputnya di salah satu mansion megah Yassaran setengah jam yang lalu. Mungkin sekarang tangan kirinya itu sudah bergerak menepuk kedua pipi putih Sahara yang sudah kembali merona. Sungguh memalukan untuk berpikir liar seperti itu. Dan bagaimana mungkin Sahara bisa mengkhayal demikian.


'Memalukan sekali !' Sahara membatin.


"Tangga!" nada suara Sherkan terdengar memperingatkan.


Sahara otomatis mengangkat kakinya, menaiki undakan tangga satu-persatu. Tidak terlalu tinggi dan hanya tiga undakan tangga. Kemudian Sahara dapat mendengar suara decit kursi yang digeser pelan.


Sahara mendudukkan dirinya di iringi dengan alunan musik yang langsung terhenti. Kain merah itu terbuka, Sahara mngerjapkan matanya beberapa kali. Kemudian menoleh kesamping tepat saat suara kursi berdecit pelan. Sherkan mendudukkan dirinya di kursi itu, tampak gagah dalam balutan jas dan celana hitam dengan bahan mengkilap.

__ADS_1


Untuk sepersekian detik Sahara terpana, hingga Sherkan beralih memandang Sahara tanapa senyuman. Dengan cepat Sahara membuang wajahnya kedepan.


Ribuan tamu undangan sudah duduk berjajar di atas kursi yang terbuat dari kayu mahoni di bawah naungan tenda megah yang di hiasi ribuan bunga mawar putih dan dedaunan hijau yang menambah indah tampilan tenda tersebut.



Sahara terpaku memandangi orang-orang yang datang ke acara pernikahannya itu satu per satu. Beberapa wajah orang yang kerap muncul di berbagai majalah bisnis juga turut duduk di barisan tamu-tamu lainnya.


Ingin rasa nya Sahara membuka mulutnya tak percaya, ini benar-benar di luar ekspektasi nya. Ini terlalu banyak, Sahara tidak akan sanggup melewati acara ini tanpa berwajah semerah tomat.


Dengan perasaan campur aduk, Sahara mengangkat tangannya membalas lambaian tangan yang Tuvana berikan dari deretan bangku paling depan. Disampingnya ada Alyan, Defne dan Mr. Richard Walker berserta istrinya Mrs. Mirand Walker. Kedua orang tua Sean itu tampak memukau dengan stelan berwarna senada.


Dan diseberang deretan bangku yang di tempati oleh keluarga Yassaran, Sahara dapat melihat kedua orang tua nya tengah duduk bersisian sambil berpegangan tangan. Perasaan Sahara langsung menghangat.


Seorang pria dengan rambut yang sudah memutih dan mengenakan jubah merah memasuki area pelaminan dan mendudukkan dirinya di sebuah kursi yang terletak di samping kanan meja putih besar di hadapan Sahara kini. Di belakangnya ada seorang pria yang lebih muda yang mengenakan stelan jas hitam. Sedangkan di sebelah kanan ada Sean, Axcel, Zach dan Dallas yang mengenakan jas hitam senada dengan jas yang di kenakan Sherkan.


"Kalian harus mengucapkan janji pernikahan di depan banyak orang!"


Sebuah instruksi dengan bahasa Inggris terdengar tepat saat Sahara barusaja hendak membalas senyuman Zach. Ternyata tugas si pria yang lebih muda itu adalah sebagai penerjemah dari pria tua ber jubah merah tersebut. Sahara melemparkan senyuman kearah Tuvana, ia yakin hal ini pasti ide kakak calon kakak iparnya tersebut.


Suara si pria tua yang menggunakan bahasa Turki kembali terdengar, kemudian si penerjemah kembali bersuara.


'Efet!' Sahara mengulang kata itu dalam hati. Ia kerap mendengar kata itu dari kedua orang tuanya, juga dari video resepsi yang ia tonton beberapa hari yang lalu.


Sahara menjilat bibirnya yang terasa mengering kemudian menarik nafas perlahan, "Efet!" rona merah menjalari pipi Sahara perlahan.


Suara tepuk tangan terdengar riuh memenuhi area resepsi itu. Kemudian kembali senyap saat si pria berjubah merah memberikan instruksi selanjutnya.


"Tuan Sherkan Yassaran! Bersediakah Anda menerima Nona Sahara Yilmaz dan tidak akan bercerai"


"Efet!" jawab Sherkan tanpa ekspresi, tetapi Sahara dapat melihat kepalan tangan Sherkan menguat di bawah meja.


"Para saksi mendengar dan menerimanya?"


Zach mengangkat jarinya membentuk angka, Satu... Dua... Tiga...


"Efet!" jawab keempatnya kompak. Walau hanya Zach yang tampak bersemangat, sedangkan ketiga sahabatnya yang lain hanya mengulas senyum singkat. Jawaban yang di berikan oleh keempat saksi pernikahan Sahara dan Sherkan di akhiri dengan suara tepuk tangan, siulan dan sorak sorai bahagia beberapa tamu undangan.

__ADS_1


Sherkan tampaknya tak merasa terganggu akan hal itu, namun tangan nya bergerak memijit pelipis nya pelan. "Kenapa aku harus bersahabat dengan mereka?" desis Sherkan pelan.


Sahara menahan senyumnya mendengar keluhan dari mulut suaminya tersebut. Suami! Sahara tak dapat menghitung berapa kali ia merona pada hari pernikahannya tersebut.


"Jadi sekarang aku sah kan dokumen pernikahannya. Semoga Allah memberkahi pernikahan kalian!" suara penerjemah itu kembali terdengar bersamaan dengan uluran sebuah dokumen pernikahan berwarna maroon.


Seorang wanita berambut pirang meminta Sahara membubuhkan tanda tangannya begitu pula dengan Sherkan. Mereka langsung bersalaman dengan pria berjubah merah dan penerjemahnya. Sebelum akhirnya kedua orang itu bergerak meninggalkan meja pelaminan.


"Aku masih tak menyangka kau yang duluan menikah di antara kita!" gumam Axcel saat ia memeluk tubuh Sherkan.


Sherkan tak membalas ucapan Axcel, hanya tangannya yang bergerak menepuk bahu sahabatnya itu perlahan. Zach memeluk Sherkan bergantian dengan Dallas dan Sean yang terakhir. Sean seperti membisikkan sesuatu yang di balas dengan anggukan oleh Sherkan. Dalam hati Sahara bertanya bagaimana hubungan kedua sepupu tersebut. Tapi sepertinya hubungan mereka tampak baik-baik saja.


"Nyonya Yassaran!" seru Dallas saat ia menarik Sahara kedalam pelukannya. Hanya Dallas yang melakukan hal itu, sementara Zach,Axcel dan Sean hanya melemparkan senyuman.


"Dallas!" seruan Sean terdengar.


Tepat setelah itu wanita berambut pirang tadi kembali dengan membawa buku pernikahan berwarna merah maroon dan mengulurkannya kearah Sahara. Sahara menerimanya setelah Dallas melerai pelukan mereka. Keempat sahabatnya itu sudah menuruni pelaminan bersamaan dengan kilauan lampu blitz yang mengabadikan momen kebersamaan kedua pengantin tersebut.


Pandangan Sahara beralih kearah ribuan tamu undangan, menatap keluarganya yang duduk di bawah naungan tenda yang di hiasi ribuan bunga mawar putih. Bahkan Feride sudah menghambur ke pelukan seorang Kemal Yilmaz dan terisak di dada suaminya tersebut. Tuvana juga sama hal nya dengan Feride tapi ia masih menatap Sahara walau air matanya mengalir. Bahagia!


Detik berikutnya tarikan lembut Sherkan membawa Sahara mendekat ke sisinya. Membuat mereka kini saling menghadap dan bertatapan. Entah ini hanya ke pura-puraan atau sejenisnya. Sahara tetap merasakan jantungnya semakin berdebar tak karuan, entah berapa banyak lagi rasa berdebar yang sanggup ia tahan.


"Selamat datang di neraka, Sahara Princessa Yassaran!"


Kalimat itu terucap pelan dari bibir Sherkan yang kini menampilkan senyuman. Sahara membeku di tempatnya berdiri dengan mata membelalak kaget. Bibir Sherkan ******* bibir sensual Sahara perlahan, lembut, dan dalam. Seakan bibir merah merona yang di hiasi lipstick berwarna merah muda itu merupakan candu baginya. Bagai kokain, Sherkan terus ******* bibir Sahara hingga suara tepuk tangan membuat Sherkan menciptakan jarak di antara mereka.


"Jangan berharap pada kebahagiaan!" Sherkan berucap pelan sambil menarik pinggang ramping Sahara dalam pelukannya, "Kau tidak pantas mendapatkannya!"


Rasa bahagia itu seketika menguap, tergantikan oleh rasa takut yang semakin menjadi-jadi. Air mata Sahara kembali bergulir melewati pipi nya yang tak lagi memancarkan rona merah, warna pucatlah yang kini menghiasi wajah Sahara. Kamuflase yang tepat untuk membuat orang-orang berpikir bahwa dirinya menangis bahagia di hari pernikahannya.


**********


To Be Continued


Tekan Love Nya yaaa...


Beautiful Revenge

__ADS_1


©2020


SOND13


__ADS_2