
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak...
Like+Vote+Comment Nya Juga Yaa!!
Happy Reading...
Beautiful Revenge
©2020
Chapter 25
____________________________________________
**********
Hari demi hari berlalu, luka ditubuh Sahara mulai membaik. Tetapi tidak dengan hatinya, setiap hari mata hijau jamrud Sahara selalu disuguhi dengan pemandangan Sherkan dan Merald yang semakin intim. Mereka selalu bermesraan tanpa peduli situasi dan kondisi. Tanpa mempedulikan Sahara yang tanpa sengaja menangkap aktifitas mereka tersebut. Sebenarnya Sahara sudah terlalu jengah melihat kondisi seperti itu.
Kini kedua sejoli itu tengah memulai makan malamnya di meja makan, sementara Sahara tengah berdiri disamping kulkas. Memandangi kedua nya dari kejauhan dengan handphone yang melekat didekat telinganya.
“Apa semua baik-baik saja?” Tuvana bertanya, suaranya mengalir lewat sambungan telpon.
Sahara menelan ludahnya yang terasa pahit, “Baik, Kak.”
“Benarkah?” Tuvana kembali bertanya seolah-olah tidak mempercayai hal yang barusaja Sahara ucapkan padanya.
“Ya,” Sahara menjawab dengan suara bergetar, mencoba menekan rasa sakit hati yang berkecamuk di dadanya.
Tuvana mendesah lega, “Kondisimu sudah lebih baik?”
Sahara mengangguk membuat Bibi Hediye yang tengah mencuci beberapa peralatan dapur yang kotor di wastafel menatap Sahara sekilas, “Sudah lebih baik, Kak.”
“Syukurlah.”
Sahara tersenyum, matanya masih memandangi Sherkan yang juga menampilkan senyuman sambil menatap wajah Merald yang sepertinya tengah merajuk. Pria itu kemudian memeluk wanita itu erat dan memberikan beberapa ciuman di pipinya. Tanpa sadar hal itu membuat Sahara meremas handphonenya cukup kuat.
“Ara, kau masih disana?”
“I-iya. Aku disini, Kak!” Sahara menjawab dengan sedikit gelagapan.
“Kami ada kejutan untukmu.” Ucapnya dengan senyuman didalam nada suara nya.
Sahara menebak, Tuvana memang sedang tersenyum saat ini. Ada suara Defne juga disana, Sahara dapat mendengar gadis itu sepertinya sedang merengek ingin berbicara dengan nya juga. Namun Tuvana melarang gadis itu, membuat Defne sedang menampilkan merajuk.
__ADS_1
“Kejutan?” Sahara bertanya berusaha terdengar antusias.
“Kau akan segera tahu.” ujar Tuvana dengan nada jenaka, Sahara menganggukkan kepalanya sebagai balasan.
“Dimana Sherkan?”
“Sedang makan malam.”
“Oh, maafkan aku. Aku tidak tahu kalian sedang makan malam!” Tuvana berseru dengan rasa bersalah, “Aku akan tutup telponnya. Sampai ketemu saat kejutan,” Ia berucap seraya mematikan sambungan telpon.
Sahara terdiam dan menjauhkan telpon itu dengan gerakan perlahan, ‘Aku tidak sedang makan malam, Kak.’ Ia membatin.
Pandangannya beralih kembali kearah meja makan, tidak ada siapa-siapa disana. Yang ada hanya Bibi Hediye yang sedang membereskan sisa makan malam. Wanita tua itu mendekati Sahara dengan setumpuk piring kotor ditangan kanannya.
“Tuan Sherkan sudah pergi dari ruang makan beberapa menit yang lalu, Nyonya.” Bibi Hediye meng infokan menjawab pertanyaan yang menari-nari dikepala Sahara.
Sahara menganggukkan kepalanya berjalan kearah meja makan dan membantu Bibi Hediye membereskan semua piring-piring kotor tersebut. Hal ini semata-mata Sahara lakukan agar bisa terhindar dari pikirannya yang terus menerus memikirkan Sherkan. Lagipula tidak ada salahnya jika Sahara membantu pekerjaan wanita tua itu. Mengurus mansion sebesar ini tentu amat sangat sulit dilakukan.
“Tuan Sherkan juga meminta dibuatkan kopi, Nyonya!” Bibi Hediye kembali berujar saat Sahara meletakkan beberapa piring kotor didekat wastafel.
“Biar aku yang membuatkannya.” Sahara berucap riang dan langsung membasuh tangannya dengan air mengalir. Dengan senyuman ia menuang bubuk kopi hitam kedalam gelas.
Beberapa menit kemudian segelas kopi hitam dan kue kering dengan bentuk yang sama seperti yang Sahara pernah sajikan untuk Sherkan sudah tertata rapi diatas nampan. Pria itu pernah memuji kue kering buatan Sahara. Walaupun Sahara tidak tahu apakah Sherkan benar-benar tulus memujinya atau hanya bualan saja. Tetapi pujian itu membuat Sahara merona tiap kali mengingatnya.
‘Kenapa aku masih saja berdebar-debar?’ Sahara bertanya dalam hati. Ia sudah dalam perjalanan menuju ruang kerja Sherkan yang berada didekat ruang keluarga. Pria itu pasti ada disana, duduk didepan laptopnya.
Sherkan memang ada disana, lengkap dengan Merald yang duduk dipangkuan nya. Sahara menghembuskan nafasnya samar, menguatkan lagi hatinya yang berantakan. Ia sudah biasa melihat hal ini, seharusnya sudah tidak terlalu menyakitkan lagi.
“Nyonya Yassaran!”
Sahara memaksakan senyumnya, memandang muak wajah Merald yang selalu setia dengan senyum palsu. Kemudian beralih kearah Sherkan yang sedang menyugar rambutnya kebelakang, tanpa melirik wajah Sahara sedikitpun.
“Maaf mengganggu kalian, aku hanya mau mengantar kopi.” Sahara melontarkan kata-kata itu dengan nada datar.
Ia segera bergerak mendekati meja kerja itu, ada beberapa pakaian dalam wanita yang tergeletak disana. Sahara baru menyadari bahwa tubuh bagian belakang Merald hanya ditutupi oleh rambut pirangnya yang ia biarkan tergerai.
“Kukira wanita tua itu yang akan mengantarnya.” Merald bertanya dengan mata yang menatap wajah Sherkan dengan mata menelisik.
“Sudahlah.” Sherkan menghentikan sambil memijit pangkal hidungnya pelan.
Merald mengedikkan bahunya kemudian kembali berbalik menatap Sahara, “Senang melihat Anda baik-baik saja, Nyonya.” Merald kembali membuka suara.
“Terimakasih!” ucap Sahara sebagai tanggapan.
__ADS_1
Wanita itu jelas sedang mengolok-olok nya saat ini. Ia pasti merasa kesal melihat Sahara dalam keadaan baik-baik saja dan masih bisa berdiri dihadapannya. Sahara tidak pernah suka menjadi bahan ejekan, terlebih oleh wanita yang sedang duduk diatas pangkuan suaminya itu.
“Kau juga terlihat lebih baik.” komentar Sahara memfokuskan pandangan iris hijau nya kearah mata Merald yang berwarna biru kusam.
Merald tersenyum, senyuman mengejek. Entah kenapa wanita itu sangat suka melakukannya, “Tentu, Nyonya!” ada maksud tersembunyi dalam suaranya.
“Nikmati malam kalian.” Sahara mengucapkan kedua kata itu sembari berbalik pergi. Tepat saat itulah wanita itu kembali menghadapkan wajahnya kearah Sherkan.
“We will.” ucap wanita itu dengan suara tertahan.
Sahara segera memalingkan wajahnya, menekan dadanya yang berdebar kesakitan. Ia melangkah cepat kearah pintu menyentaknya cukup kuat kemudian menutup pintu itu dari luar dengan gerakan perlahan. Ia menangkup kan nampan didepan dadanya yang berdebar, nafasnya juga terasa sulit untuk diambil. Pengalaman berminggu-minggu ternyata belum cukup membuat Sahara bisa menyesuaikan dirinya. Ia masih merasakan rasa sakit itu.
‘Kau orang paling bodoh, Ara!’ Sahara membatin. Menghina diri sendiri lebih baik sebelum dihina oleh orang lain.
Dengan langkah lemah Sahara kembali ke dapur sambil membawa nampan yang sudah kosong. Memilih menyingkir dari area ruang kerja Sherkan yang sudah di dominasi oleh suara desahan wanita dengan senyum palsu itu. Jangan tanyakan rasa sakit hati yang Sahara rasakan, tidak ada seorang pun yang akan memahaminya.
“Nyonya, makan malamnya mau saya antarkan ke kamar?” Bibi Hediye bertanya saat Sahara melangkah pelan kearahnya.
Sahara mengangguk, “Saya minta teh hangatnya juga,” ucap Sahara seraya meletakkan nampan tadi di dekat wastafel.
“Saya akan segera mengantarkan nya, Nyonya!” ucap wanita itu sopan.
Lagi-lagi Sahara mengangguk, “Terimakasih, Bibi Hediye.”
Bibi Hediye membalas ucapan Sahara dengan sebuah senyuman seraya mengangguk perlahan. Sahara segera melangkah meninggalkan area dapur itu, diiringi tatapan Bibi Hediye dengan mata keriputnya.
************
"Isn't it crazy how we can look back a years ago and realize how much everything has changed? But, that feelin'? Doesn't!"
To Be Continued (TBC)
Like.... Like...👍👍
Spam Next...
Maaf jika masih banyak typo berserakan.
Satu kata untuk Merald Ozgan!!
Beautiful Revenge
__ADS_1
©2020
SOND13