
Jangan lupa tinggalkan jejak...
Vote+Love+Comment nya juga yaaa..
Hope You Enjoy It...
Beautiful Revenge
©2020
Chapter 9
____________________________________________
NS2M Basecamp, New York City - USA 8.26 PM
************
"Kau yakin kita akan masuk ke bawah sana?" Sahara bertanya untuk yang kesekian kalinya pada Sean yang berdiri disebelahnya.
Sean mengangguk mantap kemudian menarik tangan Sahara menuruni undakan tangga yang gelap disekelilingnya. Tidak ada udara lembap seperti yang Sahara bayangkan, tapi lorong itu terasa sangat sunyi. Mereka seperti semakin jauh menuruni tangga itu, hingga akhirnya Sahara dapat menarik kesimpulan bahwa Sean membawanya menuju sebuah ruang bawah tanah.
"Kita sampai!" Sean berseru saat mereka sudah berdiri di depan sebuah pintu yang cukup lebar dengan ukiran-ukiran aneh disekelilingnya. Sahara masih memperhatikan ukiran di pintu itu saat pintu tersebut tiba-tiba terbuka.
Menampilkan sebuah ruangan coklat yang luas dan tampak hangat. Satu set sofa terletak ditengah-tengah ruangan, televisi layar datar, meja billiard, grand piano dan perlatan lainnya tampak tertata rapi memenuhi ruangan itu.
"Ara?"
Seruan seseorang dengan nada penuh tanda tanya berhasil membuat Sahara menoleh seketika. Di sofa itu ada Zach yang tengah sibuk memasukkan cemilan kedalam mulutnya. Mata coklatnya berbinar memandang Sahara. Sedangkan Sahara hanya melambaikan tangannya kearah Zach yang sudah menampilkan senyum lebar.
Zach William Marshall, pria berdarah Amerika-Filipina itu langsung bergerak kearah Sahara dan memeluk Sahara erat, "Bagaimana kabarmu?" tanya Zach tanpa melepas pelukannya.
"Aku baik!" jawab Sahara dengan suara tercekat.
Zach otomatis melepaskan pelukannya saat sebuah bola billiard terlempar kearah kepalanya. Ia mendelik kearah Axcel yang tengah duduk manis di depan grand piano.
"Kau berniat membunuhnya!"
Pernyataan bukan pertanyaan yang barusaja Axcel lontarkan berhasil membuat Zach mendelik memandang Axcel. Hingga kini Axcel sudah berdiri diantara Zach dan Sahara.
"Aku merindukanmu, Ara!" ucap Axcel lembut sambil mengelus rambut Sahara pelan. Sahara tersenyum manis membalas tindakan Axcel, Axcel selalu manis seperti biasanya.
Zach yang melihat hal itu langsung mencebik tak suka, ia segera menarik Sahara kearah sofa. Memilih duduk disamping Sean yang tengah sibuk mengganti siaran televisi.
"Sebenarnya aku agar sedikit tersinggung, Ara!" Axcel beucap lagi setelah kembali duduk di depan grand piano sembari menekan tuts piano perlahan. Memenuhi ruangan berwarna coklat keemasan itu dengan alunan musik yang lembut.
"Soal apa?" Sahara bertanya dengan dahi berkerut.
"Aku seharusnya menerima undangan langsung darimu atau Sherkan. Tapi yang datang malah suruhan keluarga Yassaran!" Axcel berkata sedih seolah-olah hal itu benar-bemar menghancurkan perasaannya.
Sahara terdiam tak dapat menjawab ucapan Axcel. Dalam hati ia sedang berusaha menebak-nebak sebanyak apa undangan yang sudah di persiapkan keluarga Yassaran.
"Axcel...!" ucapan Sahara terhenti, matanya memandang Axcel tak enak. Sedangkan mulutnya sudah di isi oleh cemilan yang terbuat dari campuran kacang yang barusaja di suapi oleh Zach. Sahara tak dapat protes dan mulai mengunyah cemilan yang berada di dalam mulutnya.
"Jangan pedulikan dia. Pantas saja dia masih sendiri sampai sekarang, tidak ada gadis yang mau dengan pria yang terlalu emosional!" kata Zach panjang lebar yang tentu mendapat lemparan dari Axcel.
Sahara terkikik geli melihat Zach yang bersungut-sungut memunguti kaleng soda yang baru saja di lemparkan Axcel padanya. Namun pada detik berikutnya wajah Zach bersinar kembali dengan cepat ia membuka kaleng soda tersebut dan menyodorkan nya kearah Sahara.
"Terima kasih!" ujar Sahara kemudian mulai meneguk soda itu pelan.
__ADS_1
Situasi langsung berubah hening tak ada yang bersuara, mereka berempat lebih memilih mendengarakan suara alunan piano yang dimainkan Axcel walaupun suaranya beradu dengan televisi yang sengaja di setel dengan volume rendah. Hingga suara piano Axcel tiba-tiba berhenti, calon dokter itu tengah memandang Sean dengan wajah panik.
"Kendall!" suara Sean pelan, seperti sedang berbisik. Mata birunya terfokus kearah televisi.
Sahara ikut memandang televisi yang tengah menampilkan foto seorang gadis cantik yang pastinya dikenali oleh semua orang diruangan itu. Dia adalah Kendall Alicia Hawkins, kekasih Sean sejak Junior High School. Dan sekarang gadis itu sedang berada di pelukan seorang pria berkulit hitam bahkan ada beberapa foto yang menampilkan adegan ciuman antara Kendall dan pria itu.
Televisi yang berubah gelap dan remot yang terlempar kearah meja embuat Sahara tersentak kaget. Sean menangkup wajahnya dengan kedua tangan, sedangkan Zach dan Axcel tengah memandang Sean dengan khawatir. Bahkan kini Axcel sudah meninggalkan grand pianonya dan bergabung dengan Sahara,Sean dan Zach di atas sofa.
"Sean!" panggilnya khawatir.
"Aku tidak apa-apa!" Sean menyingkirkan tangannya dari wajah dan memandang langit-langit kamar dengan mata yang sudah memerah.
"Dasar ******!" Zach mengumpat pelan dengan tangan yang mengepal geram.
"Kau ingin minum?" Sahara bertanya sambil menyodorkan kaleng soda nya kearah Sean.
Sean menerima kaleng soda itu dengan sebuah senyuman. Kemudian menyesapnya perlahan, Sahara memandangi Sean dengan senyuman. Tadinya ia sempat khawatir Sean akan mengamuk, namun sepertinya Sean akan menyimpan amarahnya saat Sahara sudah tidak berada disekitar mereka lagi.
Sahara tahu betul kalau Sean sebenarnya bukan seseorang yang ampang meluapkan emosinya. Sean akan lebih memilih menyendiri jika ada sesuatu hal yang menganggu pikirannya.
Sahara masih memandangi Sean dengan senyuman diwajahnya, hingga suara erangan dan tawa tertahan membuat senyuman Sahara terhenti seketika. Sean juga langsung meletakkan kaleng soda itu diatas meja, bersamaan dengan Zach dan Axcel yang sudah bangkit berdiri.
"Dallas?" tanya Axcel dengan wajah tanpa ekspresi.
Zach menggeleng, "Dia masih di jalan menuju kemari."
Axcel menelan ludah, "Sherkan?"
Zach lagi-lagi menggeleng kali ini sambil mengangkat bahu, "Aku tidak tahu!"
"Bagaimana bisa kau tidak tahu, kau yang pertama datang kemari!" bentak Axcel.
"Ara!" panggilan Sean membuat Sahara menghentikan pergrakan tangannya yang sudah terulur kearah kenop pintu.
Kini ketiga pria itu sudah beridiri disekitar Shaara dengan ekspresi tak terbaca. Bahkan Zach sudah menarik bahu Sahara bermaksud membawa gadis itu keluar dari ruangan serba coklat tersebut.
"Lepaskan, Zee!" teriak Sahara tertahan, hatinya tiba-tiba sakit memikirkan hal yang mungkin Sherkan lakukan bersama seorang wanita asing di dalam sebuah kamar.
"Kita keluar saja, Ara! Ayo cari udara segar!" Zach terus membujuk Sahara sembari terus berusaha menarik Sahara agar ikut bersamanya.
Pintu ruangan itu terbuka, hingga Zach melepaskan genggaman tangannya pada pergelangan tangan Sahara. Sahara menutup mulutnya dengan telapak tangan, matanya memandang seorang wanita yang mengenakan miny dress dan tatanan rambut berantakan yang baru keluar dari ruangan itu dengan mata berkaca-kaca.
Di dalam kamar itu juga ada Sherkan yang hanya mengenakan celana dengan bagian atas tubuhnyanyang ia biarkan terbuka. Pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu tampak sedang duduk diatas ranjang yang sudah berantakan dan tengah berusaha mengenakan jam tangannya.
"Hai,Zach!" Wanita itu melambaikan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya sedang berusaha keras menarik resleting minny drees yang ia kenakan.
"Oh! Ada Sean dan Axcel juga!" ucapnya dengan ekspresi terkejut.
Sementara itu Sahara masih memandangi gadis itu dengan air mata yang hampir tumpah. Ada beberapa tanda kemerahan di lehernya, juga paha nya yang ter ekspos.
"Bisa tolong bantu aku?" Wanita itu tiba-tiba berujar pada Sahara meminta pertolongan dengan resleting dress nya yang masih terbuka.
Sahara mengangukkan kepalanya lemah membuat wanita itu langsung berbalik memunggungi Sahara, ada beberapa tanda merah. Dengan tangan bergetar Sahara menarik resleting dress itu hingga kembali tertutup.
"Terima kasih!" ucap wanita itu tanpa memandang Sahara. Ia terus melangkah kearah pintu besar yang barusaja Sahara lewati beberapa menit yang lalu.
"Dallas!"
Sayup-sayup Sahara dapat mendengar wanita itu berteriak girang. Juga suara Dallas yabg sangat dikenali Sahara ikut terdengar menyapa wanita itu tak kalah antusias.
__ADS_1
"Sherkan ada disini?" tanya Dallas dengan nada terkejut.
"Tentu saja! Kalau tidak, buat apa aku ada disini! Aku masih ada pelanggan, aku pergi dulu."
Kalimat itu mengiringi kepergian wanita itu di iringi suara hentakan sepatunya yang bergema menapaki undakan tangga.
Dada Sahara terasa semakin sesak, 'Siapa wanita itu?' tanyanya dalam hati.
Matanya yang sudah berlinang air mata kini beralih kearah Sherkan. Pria itu tengah memakai kembali kemeja biru gelap yang baru saja ia ambil dari atas lantai.
"Sherkan!" panggil Sahara lirih, penglihatannya mengabur akibat air matanya yang terus saja mengalir.
Sherkan menatap Sahara tak lebih lama dari sebuah helaan nafas, ia kemudian mengalihkan pandangannya lagi masih dengan ekspresi tidak nyaman yang ia tunjukkan tiap kali memandang Sahara.
"Siapa yang membawa perempuan ini kemari?" tanya Sherkan dengan nada dingin.
Pintu langsung tertutup rapat hingga menghilangkan siluet Sherkan dari pandangan mata hijau Sahara. Sean menarik kenop pintu hingga kembali tertutup dan menimbulkan suara berdebam yang sangat keras. Sahara kini sudah menangis tersedu-sedu, bahunya bergetar hebat. Ia membiarkan isakan nya terdengar.
"Ara, sudahlah!" Sean mendekati Sahara mencoba menarik gadis yang tengah menangis itu kedalam pelukannya. Namun Sahara langsung menepis tangan Sean dan memilih melangkah kembali kearah pintu.
Sean dan Zach mengejar Sahara sementara Axcel memilih mendudukkan dirinya siatas sofa dan memijit pangkal hidungnya. Sahara sudah sampai di depan pintu dan berdiri di depan Dallas yang ikut-ikutan memandang Sahara dengan wajah panik.
"Princessa! Ada apa?" tanya Dallas khawatir dengan kondisi Sahara yang measih menangis sesenggukan.
"Antarkan aku pulang!" cicit Sahara sembari membenamkan wajahnya di pelukan Dallas.
Dallas memandang Sean dan Zach dengan wajah heran, "Ada apa?" tanya Dallas tanpa suara.
"Sherkan!" balas Zach pelan.
"Yassaran sialan!" Dallas mendesis sebelum akhirnya melerai pelukan Sahara pada tubuhnya, "Aku akan mengantarmu pulang!"
"Biar aku saja!" Sean menawarkan sambil mencoba menarik tangan Sahara dan membawa gadis itu dalam genggamannya.
Namun lagi-lagi Sahara menolak, ia bahkan tak berniat menatap wajah Sean dan yang lainnya. Hanya mampu menampilkan wajah memohon pada Dallas berharap sahabat tomboy nya itu segera membawanya pergi dari ruangan tersebut.
"Baiklah. Ayo!" Dallas kemudian menuntun Sahara kearah undakan tangga yang di isi oleh kegelapan.
**********
NS2M List :
✓Dallas Clarissa Dissick✓
✓Zach William Marshal✓
✓Sean Allan Walker✓
✓Sherkan Erdogan Yassaran✓
✓Axcel Troy Mendoza✓
To Be Continue (TBC)
Jangan lupa tinggalkan jejak...
Beautiful Revenge
©2020
__ADS_1
SOND13