
Jangan lupa tinggalkan jejak...
Vote+Love+Comment nya juga yaa!!
Hope You Enjoy it..
Beautiful Revenge
©2020
Chapter 5
____________________________________________
Empat Hari Menuju Hari Pernikahan...
Diamond Blue Design Inc, Los Angeles-California. USA 9.01 AM
**********
"Perasaanmu untukku adalah sebuah kesalahan. Hentikan! Sebelum kau menyesalinya."
'Hah!'
Sahara kembali menghembuskan nafasnya lelah. Kalimat Sherkan kemarin malam masih terasa berdengung di telinganya. Ia menangkup wajahnya di kedua tangannya yanv bertumpu di atas meja.
Semalaman Sahara tidak dapat tidur memikirkan acara makan malam itu. Ditambah dengan kenyataan bahwa pernikahan nya akan di laksanakan empat hari lagi tentu saja membuat pikiran Sahara semakin tak karuan.
Bagaimana bisa ia menikah dengan keadaan hati seperti ini. Dan bagaimana Sherkan bisa menjadi begitu menakutkan dan menggoda di saat yang bersamaan. Hal itu membuat pipi Sahara lagi-lagi bersemu merah. Ia memegang wajahnya yang memanas dengan perasaan berdebar. Selalu seperti itu!
Semua hal mengenai pernikahannya dan Sherkan akan di urus orang tua dan kakak iparnya. Keluarga mereka memang mengatakan akan mengurus semuanya sebaik mungkin.
Sherkan tentu saja tidak dapat membantu mengingat urusannya di perusahaan sangat mendesak dan tidak dapat di tinggalkan. Walau hal itu terkesan seolah-olah Sherkan lebih peduli tentang pekerjaannya daripada pernikahannya. Tapi tentu Sahara tidak akan mau membohongi diri sendiri, memangnya apa yang dapat diharapkannya. Sherkan memang tidak menginginkan pernikahan mereka.
Sahara kembali di buat bingung oleh satu pertanyaan yang singgah di dalam otaknya. Tentang siapa sebenarnya yang menginginkan pernikahan mereka. Keluarga mereka atau bahkan Sahara sendirilah yang menginginkannya. Sepertinya kedua opsi itu benar adanya, karna Sahara juga ikut andil dalam hal itu.
"Hey! Calon Nyonya Yassaran!"
Anna Weber, salah satu teman kerja Sahara tiba-tiba berseru mengagetkan Sahara dengan suara nya yang melengking. Sahara beralih memandang Anna tanpa ekspresi, sedangkan Anna hanya menampilkan cengiran menyebalkannya sambil mengibas-ngibaskan sebuah kertas undangan perpaduan antara warna coklat dan emas yang terlihat mencolok.
"Pergilah,Anna!" Sahara bergerak mendorong tubuh Anna dengan kedua tangannya.
__ADS_1
Berusaha menjauhkan wanita bertubuh gempal itu dari sisi meja kerjanya.
Sahara kemudian mendengus sebal saat akhirnya menyerah mendorong tubuh Anna yang tidak bergeser sedikitpun dari tempatnya. Seharusnya Sahara tahu dari awal bahwa yang ia lakukan hanya sebuah ke sia-siaan.
Kemudian Sahara memilih membereskan meja kerja nya dan kembali menyusun kertas gambarnya ketempat semula, dan mengacuhkan Anna yang masih memandang Sahara dengan senyum menyebalkan.
"Sebenarnya kami merasa tersinggung karena tidak mendapat undangan langsung dari tangan mu!" Ia kembali berseru seraya memandang kearah rekan kerjanya yang juga tengah memandang mereka sekilas kemudian kembali beralih pada pekerjaannya.
Mungkin hanya Anna orang di ruangan itu yang paling rajin dalam hal mengurusi urusan orang lain. Berbeda dengan teman-teman kerja nya yang lainnya, Anna adalah orang paling cerewet di perusahaan yang bergerak di bidang fashion tersebut.
"Kami akan merindukanmu, Ara! Lagipula untuk apa Mrs. Yassaran bekerja? Kau...."
"Mrs. Yassaran?" Sahara mengulang ucapan Anna dengan wajah bingung.
Ia menatap was-was rekan kerjanya itu, menanti kata berikutnya yang akan keluar dari bibir wanita bertubuh tambun tersebut. Ada pertanyaan tak terjawab di dalam otaknya. Namun sepertinya Sahara tidak perlu jawaban lagi. Mata hijau nya membelalak memandang kertas di tangan Anna. Jangan bilang itu adalah kertas undangan pernikahannya, dan jika memang hal itu benar. Mengapa harus mengundang rekan kerjanya? Sahara tidak pernah mau menjadi bulan-bulanan ledekan Anna selama empat hari kedepan. Wanita itu agak sedikit gila dan tidak dapat dipercaya.
Gosip-gosip murahan akan segera bertebaran secepat yang bisa disampaikannya. Anna akan langsung menyebar gosipnya setelah ini, Sahara seratus persen yakin akan hal itu. Pengalaman bekerja bertahun-tahun bersama Anna sudah cukup membuat Sahara sadar dan sekuat mungkin berusaha menjaga diri agar tidak menjadi sasaran gosipnya. Tapi sekarang keluarga nya lah yang menjadikannya bahan gosip murahan yang selama ini ia hindari.
"Ayolah! Tidak perlu berpura-pura kaget seperti itu. Lagipula wajah mu dan pewaris kekayaan Yassaran itu sudah di muat di majalah bisnis."
Mimpi buruk, Sahara tidak pernah suka menjadi pusat perhatian. Dia tidak pernah mau menjadi pusat perhatian, bahkan ia memilih bekerja di perusahaan asing yang bukan di bawah naungan perusahaan ayahnya adalah untuk tidak menjadi pusat perhatian. Pantas saja orang-orang memandanginya seperti tadi pagi saat ia melintas di koridor.
"Kau beruntung, Ara! Walaupun aku lebih terkesan pada Alyan Yassaran. Tapi sepertinya Sherkan lebih muda dan seksi!"
Kalimat ambigu Anna di sambut suara tawa genit beberapa karyawan wanita yang tengah sibuk bekerja di meja kerja mereka masing-masing. Wajah fokus mereka yang terpaku pada laptop ternyata hanya topeng semata. Karena pada nyatanya mereka sedang menguping pembicaraan Sahara dan Anna.
Sahara mengusap wajahnya frustasi, kini mata hijau nya beralih kearah surat undangan yang masih berada di tangan kiri Anna.
"Apa itu surat undangannya?" Sahara bertanya lirih seperti kehilangan suara.
"Ah,ya!" Anna langsung menyerahkan surat undangan itu.
Bibirnya bergerak pelan, membaca tiap kata yang tertera di dalam surat undangan itu dengan perasaan kacau. Tapi Sahara harus mengakui pilihan desain untuk surat undangan itu sangat indah, klasik dan menawan. Detail pada tiap sisi nya sangat indah, semua orang tentu akan mengetahui betapa mewah surat undangan itu dan Sahara tentu saja tak mampu untuk membayangkan harganya.
"Apa kalian akan datang?" Sahara bertanya pada akhirnya dengan suara yang semakin melemah.
Anna tertawa kecil, "Tentusaja! Jangan konyol. Kami tidak mungkin menyia-nyia kan dana yang sudah di berikan oleh kakak iparmu itu!"
"Calon, Anna!" Ray tiba-tiba berseru. Pria blonde dengan mata biru cerah itu melambaikan tangannya kearah Sahara dari balik meja kerjanya.
"Tapi aku tetap tidak habis pikir dengan kekayaan Keluarga Yassaran, Ara! Kekayaan mereka di luar nalar." Ray tertawa di akhir kalimatnya.
__ADS_1
"Itu karna kau tidak pernah membaca berita! Yang kau tahu hanya duduk menonton film kartun." Anna berkata sarkas sembari memandang Ray dengan mata mendelik.
"Lebih baik begitu. Dari pada menjadi tukang gosip seperti kau!" Ray membalas yang tentu langsung di balas dengan sebuah anggukan oleh Sahara.
Sahara menyetujui yang Ray ucapkan dalam hati. Tapi sebenarnya mereka harus segera di lerai, jika tidak pasti terjadi adu mulut yang membosankan. Dan Sahara sama sekali tak berniat untuk menjadi penengah perkelahian kedua rekan kerjanya tersebut.
"Dasar orang aneh!"
Tanpa di duga Anna menyerah begitu saja tak berniat meladeni ucapan Ray lebih jauh. Kini mata nya kembali berlaih kepada Sahara dengan senyuman di bibirnya.
"Aku tidak perlu menyebar gosip seperti itu, Ara!" Ia berucap lembut, "Untuk yang satu ini tugasku sudah di ambil alih majalah-majalah bisnis di luar sana!"
"Ya kau benar!" Sahara berucap lirih, Anna barusaja emngatakan hal itu beberapa menit yang lalu. Tidak mungkin Sahara melupakannya secepat itu.
"Ya, wajahmu sudah terpampang sebagai halaman utama. Mereka mengeditnya dengan foto Sherkan tepat disebelahmu!" Anna berucap kegirangan. Namun matanya masih memandang Ray sinis.
"Aku pergi dulu!" pamitnya seraya melangkah menjauhi meja kerja Sahara.
Sahara terus memandang kepergian rekan kerjanya yang bertubuh gempal itu hingga siluet Anna menghilang di balik pintu. Otak nya berpikir hal yang harus ia lakukan selanjutnya. Beberapa hal tercetus di otaknya, pulang kerumah dan mengurung diri di kamar pasti akan sedikit membantu.
Dengan segera Sahara membereskan meja kerja nya dan memasukkan beberapa barangnya kedalam tas. Ia harus segera pergi darisana sebelun wartawan mengejarnya, Feride memang benar. Seharusnya Sahara diam saja di mansion dan jangan pernah keluar.
Tak ada lagi yang dapat di harapkan, karir nya juga sudah hancur. Hal yang harus Sahara lakukan adalah menjadi ibu rumah tangga yang baik. Ingin rasanya Sahara menangis di tiap langkah yang ia ambil, langkah kakinya tetus membawa Sahara menjauh dari meja kerjanya. Bahkan panggilan Ray dibelakangnya sama sekali tak ia pedulikan. Pertahanannya langsung goyah, kini pipinya sudah dibasahi oleh air mata. Besok, pagi-pagi sekali Sahara harus segera mengirimkan surat pengunduran dirinya.
'Harus!'
_____________________________________________
"Menyesal? Hal itu tidak lagi berguna. Kau yang memilih takdirmu sendiri!"
**********
To Be Continue...
Jangan lupa tinggalkan jejak!!
Beautiful Revenge
©2020
Sond13
__ADS_1