
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak...
Like+Vote+Comment Nya Juga Yaa!!
Happy Reading...
Beautiful Revenge
©2020
Chapter 23
_____________________________________________
Sherkan and Sahara New Mansion, Ankara-Turkey. 10.37 PM
*************
“Apa dia akan baik-baik saja?”
“Tentu, Tuan Yassaran! Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Suara-suara itu mengganggu tidur nyenyak Sahara. Entah siapa orang-orang yang tengah berbincang didekatnya saat ini. Yang jelas mereka sangat menjengkelkan, mengganggu tidurnya yang terasa baru beberapa menit. Tuvana barusaja pulang kembali ke Istanbul. Saat itulah Sahara mulai memejamkan matanya, guna mengurangi rasa sakit yang ia terima. Kini Sahara memang tidak merasakan rasa sakit itu lagi, tetapi perbincangan orang-orang itu amat sangat menganggu.
Dengan sangat perlahan Sahara membuka kelopak matanya yang membengkak, menyesuaikan cahaya lampu kamar yang menyilaukan. Sahara melirik dua orang yang tengah berbincang didepan kamarnya itu dari balik bulu matanya yang lentik. Disana ada Sherkan dengan seorang pria berseragam putih yang Sahara tidak kenal sama sekali.
Sahara menoleh kesamping tempat tidurnya, ada sebuah kantong infus terpasang disana lengkap dengan sebuah selang yang tertancap di punggung tangan Sahara. Membuat Sahara meringis kesakitan saat menggerakkan tubuhnya.
“Tapi luka melepuh didadanya tampak cukup serius.” kata pria yang mengenakan seragam putih itu pada Sherkan yang berdiri tepat dihadapannya.
“Kau melihat dada istriku?”
Sebuah pertanyaan terlontar dari bibir Sherkan, nada bicaranya terdengar dingin dan tegas. Rahang pria itu juga tampak mengeras. Gelenyar aneh muncul di dada Sahara, memunculkan semburat merah di pipinya. Ia memang sangat mudah merona, atas respon sekecil apapun yang Sherkan tunjukkan atas dirinya.
“Saya sangat professional, Tuan Yassaran.” balas pria itu sopan.
Sherkan terdiam dengan jemarinya yang terkepal disisi tubuhnya, “Pergilah!”
Pria itu mengangguk singkat kemudian berbalik cepat keluar dari kamar, Sherkan menatap kepergian pria itu dengan ekspresi aneh, “Hah! Apa yang kulakukan?” Ia bertanya pada diri sendiri terdengar menyesal.
“Sherkan!” sebuah panggilan yang terdengar sangat lemah itu membuat Sherkan berbalik menatap kearah ranjang.
Sahara sudah mendudukkan tubuhnya dikepala ranjang, melemparkan senyuman kearah Sherkan dengan harapan yang sama Sherkan akan membalas senyumnya. Namun Sherkan hanya menampilkan ekspresi datarnya kemudian mengambil langkah pelan kearah Sahara. Meletakkan sebuah tongkat disisi nakas, Sahara menatap benda itu dengan dahi berkerut.
__ADS_1
“Dia dokter yang dikirimkan, Kakak ipar.”
Sahara menganggukkan kepalanya dengan mata tertuju kearah manik biru Sherkan. Sayangnya suami nya itu sedang tidak berniat memandang Sahara, ia justru memalingkan wajahnya.
“Kak Tuvana sudah mengatakannya padaku tadi siang.” balas Sahara spontan.
Sherkan mengangguk, “Jangan pernah tatap mata dokter itu! Jangan pernah tersenyum padanya!” perintah Sherkan tak ingin dibantah.
“Iya.” hanya satu kata itu yang dapat Sahara berikan sebagai respon.
“Aku benci melihatmu masih bernafas.”
“Kau ingin aku..,”
Sahara tak mampu menyelesaikan kalimatnya, sementara Sherkan menghentikan langkahnya yang sampai didepan pintu kamar. Beberapa menit yang lalu Sherkan membuat Sahara merasa cukup bahagia atas sikap Sherkan yang terkesan protektif padanya. Namun sekarang Sherkan mengatakan hal yang mampu membuat Sahara merasakan rasa sakit didalam hatinya.
“Itu satu-satunya yang aku inginkan,” balas Sherkan tanpa berbalik memandang wajah istrinya tersebut.
Sahara meremas selimut yang menutupi sebagian tubuhnya itu dengan cukup kuat, “Aku..,”
“Kau tidak akan menyerah kan?” tanya Sherkan.
Sahara menganggukkan kepalanya dengan air mata yang luruh perlahan membasahi selimut tebal tersebut, “Tidak akan.”
“Sherkan!” panggil Sahara pelan, “Kenapa kau membenciku?” Ia bertanya dengan bahu bergetar menahan tangis.
Walaupun sebenarnya Sahara tahu hatinya tidak akan kuat mendengar jawaban dari Sherkan. Tetapi ia harus tetap melakukannya, selain untuk megetahui masalah itu. Sahara juga ingin menatap bahu tegap Sherkan yang dibalut kemeja biru tua itu lebih lama lagi. Juga mendengar suara baritone Sherkan serta menghirup aroma tubuh pria itu.
“Aku punya banyak alasan untuk itu.” ucap Sherkan dengan berbagai emosi dalam nada suaranya.
Sahara mengangguk, “Apa tidak ada kesempatan lagi bagi kita?”
“Tidak ada kata ‘Kita’!” Sherkan berseru seraya berbalik menghadap Sahara. Mata beriris biru itu menatap mata hijau jamrud Sahara yang sudah basah oleh air mata.
“Aku hanya berharap,”
Sahara tak sempat menyelesaikan kalimatnya, Sherkan sudah memotongnya dengan cepat. Tanpa memberikan Sahara kesempatan, “Jangan pernah berharap padaku!” kata Sherkan dengan suara yang terdengar parau, “Aku tidak akan pernah berbalik melihat kearahmu,”
Tak ada yang dapat Sahara lakukan selain menganggukkan kepala, lidahnya terasa kelu untuk berbicara atau sekedar kembali membuka suara. Bukankah yang dikatakan Sherkan sudah sangat jelas.
“Aku mengerti.” jawab Sahara singkat, perasaannya mendadak kacau dan lebih kacau lagi.
“Tapi kau tidak akan pernah berhenti?”
__ADS_1
Sahara mengangguk mantap. Hal ini memancaing Sherkan mendekat cepat kearahnya. Tidak ada jalan untuk mundur, Sahara membiarkan rambut coklatnya ditarik dengan kasar oleh tangan Sherkan. Menangis atau memohon ampun sudah tidak ada gunanya, Sherkan tidak akan pernah memberinya rasa belas kasihan.
“Aku membencimu! Apa itu belum cukup jelas?”
“Je-jelas.” Sahara terbata-bata, tarikan dirambutnya mau tak mau membuatnya meringis kesakitan.
“Aku sudah mengatakan itu berulang kali, Nyonya Yassaran!” Sherkan melepaskan tarikannya pada rambut Sahara. Menepuk-nepukkan kedua tangannya, seolah-olah hal yang baru ia sentuh adalah sesuatu yang menjijikkan.
Hati Sahara mencelos melihat hal itu, ia merapatkan selimutnya. Kembali meringis saat beberapa luka ditubuhnya secara tak sengaja bergesekan dengan selimut.
“Tuan.”
Sepasang suami istri itu sontak berbalik, didepan pintu kamar ada Bibi Hediye. Wanita tua itu tampak kelelahan, ia semakin merapatkan baju hangat yang sudah kusam ketubuhnya yang sudah renta.
“Ada apa?” tanya Sherkan dingin. Sherkan memalingkan wajahnya tanpa berniat memandang lawan bicaranya. Ia justru menatap beberapa luka yang terdapat ditubuh Sahara, menyusurinya perlahan dengan mata birunya yang menawan.
“Nyonya Merald meminta saya memanggil anda, Tuan.” ucap Bibi Hediye takut-takut. Mata keriputnya kemudian beralih memandang Sahara dengan ekspresi tak enak.
‘Nyonya Merald?’ Sahara membatin tak percaya.
Bersamaan dengan itu, Sherkan langsung melangkah cepat keluar kamar. Tanpa mengatakan sepatah kata pun. Sahara menatap kepergian suaminya itu sendu. Ia beralih kearah Bibi Hediye yang sduah mendekatinya dengan wajah panik.
“Apakah Nyonya baik-baik saja?” tanyanya.
Sahara menganggukkan kepalanya, “Siapa wanita itu, Bibi Hediye?” Ia balas bertanya dengan air mata yang kembali mengalir.
Banyak pertanyaan di otak cantiknya yang sama sekali tak dapat terjawab. Entah sampai kapan Sahara menunggu untuk mendapatkan semua jawaban-jawaban itu. Mungkin hingga semua nya berubah dan berbalik menyerangnya.
“Nyonya tenanglah. Ini hanya sementara,” ucapnya berusaha menenangkan hati Sahara yang dilanda kekalutan.
Sahara menganggukkan kepalanya pelan, mencoba sebisa mungkin untuk menenangkan dirinya sendiri. Bibi Hediye membantu Sahara membaringkan tubuhnya kembali keatas ranjang, kemudian memasangkan selimut tebal itu ditubuh Sahara. Dengan perlahan Sahara mulai memejamkan matanya, mencoba tidur dengan isak tangis yang masih terdengar. Dalam keadaan seperti ini kegelapan terasa lebih baik.
*********
To Be Continued (TBC)
Likee.... Like....👍👍
Jejaknya... Jangan Lupa!!
Beautiful Revenge
©2020
__ADS_1
SOND13