
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak...
Like+Vote+Comment Nya Juga Yaa!!
Happy Reading...
Beautiful Revenge
©2020
Chapter 24
____________________________________________
Anadolu Medical Center, Istanbul-Turkey. 8.27 PM
***********
Sahara membaringkan tubuhnya diatas sebuah ranjang rumah sakit berwarna putih. Bau antiseptic menyeruak mendominasi indra penciumannya. Seorang dokter berdiri di sisi Sahara sambil memasang sarung tangan karet dan masker diwajahnya. Mata coklatnya yang dibingkai alis tebal itu menyipit begitu memandang Sahara. Ia tengah tersenyum, otomatis Sahara membalas senyuman itu.
“Selamat malam, Nyonya Yassaran.” Ia menyapa Sahara dengan ramah sambil menyuntikkan sebuah cairan berwarna kusam dilengan kanan Sahara.
“Saya rasa lukanya sudah cukup membaik.” Ia berkomentar dengan mata menelusuri luka diwajah dan lengan Sahara yang mulai mengering.
Sahara menganggukkan kepalanya, “Sudah tidak terlalu sakit lagi.” Sahara menambahkan.
“Tidak terlalu sakit!” Dokter itu mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian dengan cekatan mulai membuka perban yang melilit kepala Sahara dengan gerakan perlahan.
“Saya, Emre Sahin.” ucapnya sembari menggunting perban yang baru dengan sebuah gunting yang terbuat dari bahan stainless.
“Kurasa sesi perkenalan tidak ada dalam jadwal praktek mu.” Sherkan menyela dengan pandangan yang masih terfokus kearah handphone nya. Pria itu duduk disalah satu sofa tak jauh dari ranjang tempat Sahara berbaring.
Kalau bukan karna paksaan dari Tuvana, Sherkan tidak akan pernah sudi mengantar kan Sahara ke rumah sakit itu. Pria itu pasti akan lebih memilih menghabiskan waktunya bersama Merald. Daripada menemani Sahara yang hanya membuat wajahnya tidak pernah menampakkan sebuah senyuman. Merald seperti alasan bagi Sherkan untuk tersenyum, sementara Sahara merupakan kebalikannya.
“Apa Anda merasa terganggu, Nyonya?” tanya dokter muda itu menatap wajah Sahara yang tampak murung.
Sahara langsung mengembangkan senyumnya, “Sama sekali tidak.” jawabnya tidak ingin meyakiti perasaan sang dokter.
Sahara dapat mendengar Sherkan mendengus pelan dari tempat duduknya, tampaknya pria itu tidak menyukai apa yang barusaja Sahara lakukan. Sahara meneguk ludahnya kasar, sehabis dari Rumah Sakit ini Sherkan pasti akan langsung melampiaskan kemarahannya pada Sahara.
“Sudah selesai.” Dokter muda itu berujar mengenyahkan lamunan Sahara dari berbagai bayangan aneh yang bermunculan di otaknya.
__ADS_1
Perban itu sudah terlilit sempurna dikepala Sahara, sebuah perban baru. Sahara menatap dokter itu sambil tersenyum, “Terimakasih!” ucap Sahara riang.
Dokter Emre membalas senyum Sahara sambil menganggukkan kepalanya, “Apakah bagian dada masih terasa sakit?" Ia kembali bertanya.
Sahara terkesiap, “Sudah tidak sakit lagi.”
“Baiklah, saya rasa hanya perlu rutin mengoleskan obatnya.” Ia berucap lagi, “Tapi jika Nyonya berkenan, bisakah saya…,”
“Tidak perlu!” Sherkan memotong. Entah sejak kapan pria itu berdiri disamping ranjang tempat Sahara berbaring. Mata birunya menatap wajah sang dokter dengan rahang mengeras.
“Baiklah, Tuan Yassaran. Tidak perlu cemburu seperti itu,” Ia kemudian terkekeh pelan dan membuka sarung tangan karet juga masker yang menutupi sebagian wajahnya.
‘Sherkan cemburu?’
“Ayo kita pulang!” ajak Sherkan sembari membantu Sahara untuk bangkit berdiri.
Sherkan memegang pinggang Sahara cukup erat, tak lupa suaminya itu juga menggenggam tangan kanan Sahara. Tentu kedekatan seperti ini membuat Sahara merona, wajahnya memanas. Kakinya bahkan terasa seperti jeli, tak dapat menapak lebih lama. Semoga saja Sherkan tidak keberatan jika harus menangkap tubuh Sahara yang luruh kelantai.
“Allah, akan memberikan kesembuhan bagi Anda.” ucap sang Dokter dari tempatnya berdiri. Mata coklat nya berbinar memandang Sahara dengan senyum yang tampak tulus tersungging disudut bibirnya.
“Ya, semoga Allah juga memberikan kesehatan bagi mentalmu.” balas Sherkan sarkas, tanpa memberikan Sahara kesempatan untuk sekedar membalas senyuman dokter yang sudah mengobatinya itu.
Sherkan terus memapah Sahara menuju pintu keluar, membuat Sahara agak kesusahan mengikuti langkah Sherkan yang lumayan cepat. Seharusnya tadi Sahara membawa tongkatnya daripada harus di tarik-tarik seperti ini. Walaupun ia merasa senang dan merasakan perasaan berdebar yang menyenangkan memenuhi rongga hatinya. Namun tetap saja hal yang Sherkan lakukan itu terasa menyakitkan. Apalagi kaki Sahara belum sembuh benar, masih sering berdenyut sakit. Sebaiknya besok Sahara meminta dokter tadi memasang penyangga di kakinya, atau mungkin Sahara bisa meminta kursi roda.
“Sherkan!” panggil Sahara agak terpekik akibat pegangan Sherkan dipinggangnya telah berubah menjadi sebuah cengkraman yang menyakitkan. Hal itu pasti sudah meninggalkan bekas kemerahan.
“Masuk!” sentak Sherkan.
Sahara memejamkan matanya kaget, ia segera masuk kedalam mobil yang pintu nya sudah terbuka tersebut tepat saat cengkraman Sherkan di pinggangnya sudah terlepas. Pintu mobil ditutup perlahan, Phural berjalan mengelilingi mobil sebelum akhirnya mendudukkan dirinya di kursi pengemudi.
“Jalan!” perintah Sherkan pada Phural, seketika mobil langsung bergerak membelah malam.
Sherkan telah duduk tepat disamping Sahara. Jarinya bergerak menekan sebuah tombol didekat jendela. Hingga sebuah sekat muncul dihadapan mereka, memberi pembatas antara kursi pengemudi dan kursi penumpang.
‘Apa yang akan Sherkan lakukan?’ batin Sahara bertanya takut-takut sembari menangkup tangannya didepan dada.
Sherkan membuka jas yang ia kenakan dengan kasar, kemudian melemparkan jas itu kesembarang arah dengan wajah berang. Hingga jas itu mendarat tepat dibawah kakinya, ia kemudian memijit pangkal hidungnya pelan dengan mata tertutup.
Jantung Sahara berdebar kencang menyaksikan hal itu, memikirkan segala kemungkinan terburuk yang mungkin akan menimpa dirinya.
“Mengapa kau tidak bisa berhenti bersikap seperti wanita murahan?”
Sahara mengerutkan keningnya, darahnya berdesir hebat mendengar pertanyaan sarat akan hinaan yang Sherkan lontarkan kepadanya. Pria itu memang selalu mempunyai cara utuk menghancurkan perasaannya, “Aku tidak mengerti?” Sahara balas bertanya.
__ADS_1
Sherkan berdecak geram, “Kau membuatku semakin membencimu. Bertingkah sok polos seperti itu! Kau pasti bisa menggoda pria-pria bodoh diluar sana.” komentarnya sarkas.
“Jika kau memang membenciku, seharusnya kau tidak perlu merasa cemburu seperti ini.” balas Sahara tanpa memikirkan dampak dari ucapannya, “Aku hanya mencintaimu, Sherkan.” ungkap Sahara dengan pipi merona.
Detik selanjutnya dahi Sherkan langsung mengerut, “Kau berpikir aku cemburu?” Sherkan kembali bertanya dengan senyum mengejek. Sepertinya pria itu akan segera melancarkan serangan kata-katanya.
Sahara terdiam tak mampu menjawab, ia menggigit bibir bawahnya cukup kuat. Memejamkan matanya, tak sanggup menahan malu akibat kepercayaan dirinya yang terlalu tinggi. Perkataan yang ia ucapkan tak dapat lagi ditarik. Sahara terpaksa harus membiarkan dirinya dipandang aneh oleh mata biru sang suami.
“Entah bagaimana pola pikirmu? Aku sama sekali tak mengerti.”
“Maafkan aku.” Sahara berucap lirih.
Sherkan menggeleng, “Aku tidak akan pernah merasa cemburu, Princessa!” ucapnya pelan, namun bukan jenis suara yang terdengar menenangkan.
Jemarinya bergerak mencengkram dagu Sahara membuat mata hijau Sahara memandang wajah Sherkan dengan raut kesakitan. Salah satu pemandangan yang paling Sherkan sukai, “Butuh waktu seribu tahun bagimu untuk membuatku merasa cemburu pada pria yang menyentuhmu, Princessa!” desis Sherkan kemudian melepaskan cengkraman tangannya kasar.
“Hentikan mobilnya!” perintah Sherkan dengan suara lantang.
Laju mobil langsung berhenti, Sherkan segera membuka pintunya dengan kasar dan membantingnya hingga tertutup. Ia tampak berbincang dengan seseorang melalui telpon, memasukkan benda itu kedalam saku dan berbicara dengan Phural yag duduk dibelakang kursi pengemudi. Disekitar mereka sekarang hanya ada kegelapan, jalanan iu sangat sunyi hanya ada pemandangan padang rumput sejauh mata memandang.
Mobil kembali melaju, membawa Sahara yang masih belum dapat memahami situasi yang sedang terjadi. Ia menoleh kebelakang memandang Sherkan yang perlahan menghilang dibalik kegelapan. Sahara segera memencet tombol didekat jendela mobil itu, hingga sekat yang menghalangi pandangan ke kursi pengemudi segera menghilang.
“Kenapa kau membiarkan sherkan sendirian disana?” Ia bertanya panik.
“Ini perintah, Nyonya.” Phural menjawab, “Zach Marshall akan segera menjemput, Tuan Yassaran. Anda tidak perlu khawatir,” jelasnya mencoba menenangkan wajah panik Sahara.
Sahara menghela nafas lelah, ia menyandarkan dirinya disandaran kursi mobil. Menatap kedepan, kearah jalanan yang meliuk seperti ular. Hari ini memang cukup melelahkan, maka dari itu Sahar memilih memejamkan matanya. Berharap alam mimpi segera menjemputnya.
************
To Be Continued (TBC)
Like.... Like...👍👍
Spam Next...
Maaf jika masih banyak typo berserakan.
Beautiful Revenge
©2020
SOND13
__ADS_1