Beautifull Revenge

Beautifull Revenge
Chapter 27-Beautiful Revenge


__ADS_3

Jangan Lupa Tinggalkan Jejak...


Like+Vote+Comment Nya Juga Yaa!!


Happy Reading...


Beautiful Revenge


©2020


Chapter 27


____________________________________________


Yilmaz Grand Mansion, Beverly Hills-California. USA. 10.57 AM


*********


'Rasa cinta mu padaku adalah sebuah kesalahan. Berhenti melakukan hal bodoh itu sebelum aku berbalik menyakitimu!'



Mengabsen deretan bunga berbagai warna yang tumbuh subur dihalaman mansion Yilmaz dengan mata hijau jamrud yang berbinar adalah kegiatan Sahara saat ini. Balkon kamar dengan semilir angin yang berhembus pelan adalah kombinasi yang tepat untuk menenangkan pikiran yang kacau. Terlebih bagi Sahara, tidak ada hal paling menenangkan selain bisa sendiri dalam dunia yang ia buat didalam otaknya.



Melamun memang terkadang lebih baik dilakukan daripada menghadapi realita dunia yang terlalu kejam. Setidaknya hal itu berlaku bagi Sahara sendiri, Sherkan pastinya tidak akan pernah mencari keberadaannya. Pria yang berstatus sebagai suaminya itu memang tampaknya tak peduli sama sekali.


Berpikir seribu kali pun sepertinya percuma, tidak ada cara memisahkan Merald dan Sherkan. Mereka seperti terlahir untuk bersama. Sementara Sahara hanya butiran debu diantara mereka. Tidak pernah memiliki tempat dan tak terlihat eksistensinya.


'Merald Ozgan! Sherkan Yassaran!' Sahara membatin, bahkan hanya dengan memikirkan nama kedua orang itu didalam hati sudah cukup membuat Sahara merasakan sebuah hantaman di relung hatinya.


Tangannya kemudian meraih segelas teh dingin dari sebuah meja kecil tak jauh dari tempat Sahara berdiri. Ia menyesap teh dingin itu hingga tenggorokannya merasakan rasa dingin yang menenangkan. Cukup berguna disaat matahari yang bersinar terik di pagi menjelang siang seperti saat ini. Namun hanya dapat mendinginkan tubuhnya, bukan hati Sahara yang serasa terbakar.


"Allah! Allah!"


Sebuah seruan dengan nada tinggi itu membuat Sahara berbalik kaget. Feride Yilmaz ada disana, berdiri di depan sebuah pintu menuju balkon kamar Sahara dengan tangan yang sudah berkacak pinggang. Ia tampak sedang kesal, hal itu terlihat dari ritme dadanya yang naik turun tak beraturan.


"Anne!" sapa Sahara riang, berusaha mendekati Feride sebelum wanita paruh baya itu menghentikan Sahara dengan kritikan pedas yang terlontar dari bibir tipisnya.


"Apa yang kau lakukan disini, Ara?" tanya Feride.


Sahara mengerutkan kening, pertama kali dalam hidupnya Sahara merasa diperlakukan seperti orang asing. Bukankah ini juga rumahnya namun mengapa ibunya kini melontarkan pertanyaan aneh. Lagipula untuk apa Sahara harus memiliki alasan hanya untuk berada dirumahnya sendiri. Rumah yang sudah ia tempati sejak lahir. Berpuluh tahun Sahara habiskan masa kecilnya dirumah ini.

__ADS_1


"Aku merindukan kalian." lirih Sahara pada akhirnya.


"Dimana suamimu? Dimana Sherkan?" Feride kembali bertanya, terdengar tak sabaran. Bahkan ia sampai tidak berniat menjawab luapan rasa rindu yang Sahara utarakan.


"Sherkan sedang berkerja, Anne. Dia hanya menitip salam untuk kalian," ucap Sahara dengan sebuah kebohongan kembali mengalir. Ia terpaksa melakukannya, tidak ada yang boleh mengetahui masalah rumah tangganya.


Tidak satupun, bagi Sahara itu merupakan rahasia yang harus dijaga baik-baik. Juga merupakan aib tersendiri, orang-orang mungkin akan berfikir bahwa Sahara adalah wanita yang tiba-tiba datang ke kehidupan Sherkan dan langsung menghancurkannya pada detik pertama.


"Kau sekarang memiliki suami, Sahara! Kau tidak bisa duduk melamun disini dengan segelas teh dingin ditangan mu." Feride berujar panjang lebar, "Kau harus berada disisi suamimu,"


"Apa aku harus selalu berada disisi, Sherkan?" Sahara bertanya dengan suara tertahan. Tertahan oleh kenyataan yang harus ia terima.


'Sementara Sherkan tidak menginginkanku.' lanjutnya dalam hati.


"Harus!" Feride berkata penuh penekanan.


Sahara menghela nafas, "Anne, kumohon...,"


"Apakah kalian bertengkar?" tanya Feride memotong kalimat yang belum sempat Sahara selesaikan.


Sahara langsung menggeleng kuat, "Kami baik-baik saja! Sangat baik." tandas Sahara mencoba meyakinkan.


"Baguslah! Semoga kalian bisa segera memberikan kami seorang cucu." senyuman terbit dibibir Feride menimbulkan keriput yang tampak di sudut matanya, "Anne dan Baba sudah cukup tua, Ara."


Tidakkah ibunya itu tahu bahwa Sahara masih menyandang status sebagai seorang gadis hingga detik ini. Sherkan tidak pernah menyentuhnya sama sekali, bahkan pria itu sepertinya tidak tahan memandang wajah Sahara lebih dari satu menit.


"Tapi tetap saja!" Feride kembali berseru, "Seharusnya kau memberi kabar terlebih dahulu, jika kau memang ingin datang."


"Mengapa aku harus melakukan itu, Anne? Anne membuatku merasa seperti orang asing." Sahara berujar menyuarakan isi hatinya yang sejak beberapa menit yang lalu ia pendam.


Alis Feride yang sengaja diukir dengan pensil alis berwarna hitam itu terangkat naik, "Bagi seorang gadis yang sudah menikah, rumah orangtuanya memang terasa seperti tempat yang asing. Kau juga akan menjadi tamu dirumah ini!"


Sahara terdiam memandangi mata hijau ibunya dengan sorot sendu. Tersadar akan kesalahan yang ia lakukan, "Maafkan aku, Anne. Tapi aku hanya merindukan kalian, sekaligus ingin menjenguk Sean."


"Sepupu Sherkan?" tanya Feride dengan suara datar, "Bukankah sebaiknya kau pergi dengan suamimu. Anne, rasa tidak baik jika wanita bersuami pergi menemui pria lain!" itu sebuah sindiran, sindiran halus.


"Aku dan Sean sudah bersahabat sejak Junior High. Tidakkah Anne mengingatnya?" Sahara menyanggah berusaha mempertahankan keyakinannya.


"Sudah saatnya kau memberi jarak untuk kedekatan itu! Fokus pada suamimu dan...,"


"Cukup Feride. Tinggalkan putriku sendiri!"


Kemal Yilmaz hadir ditengah perdebatan ibu dan anak tersebut. Dengan stelan berwarna biru tua dan sepasang sepatu berwarna hitam yang membawanya bergerak mendekati Sahara dan Feride. Berdiri ditengah-tengah keduanya dengan pandangan mata menelisik.

__ADS_1


"Pertama kau menyuruhnya berhenti dari pekerjaan dan menikah! Sekarang kau mulai menyuruhnya untuk menjauhi sahabatnya. Apa ini yang kau ajarkan, memutus tali silaturahmi?" Kemal Yilmaz kembali buka suara.


Feride mendengus tak suka, "Hentikan, Kemal! Kau terlalu memanjakannya."


"Kurasa kau lah yang terlalu menekannya!" Kemal membalas.


"Anne, Baba!" Sahara berusaha melerai, ia berdiri diantara keuda orang tuanya. Mencoba menghentikan tatapan sengit keduanya, "Aku tidak mau menjadi pemicu perkelahian diantara kalian."


Kemal mengelus rambut Sahara pelan, tetapi matanya menatap mata hijau Feride, "Bukankah kau harus menemui wanita-wanita sosialita dengan perhiasan melilit tubuh mereka itu?"


"Teruslah memanjakannya!" seru Feride tertahan sembari berlalu dari balkon kamar yang dialiri semilir angin yang menyejukkan tersebut.


"Maafkan aku, Baba! Seharusnya aku memberitahu kalian lebih dulu jika aku ingin berkunjung." sesal Sahara.


"Jangan dengarkan, Anne mu! Kau tidak perlu melakukan itu, Princessa. Ini rumahmu, tempatmu untuk pulang." kata Kemal dengan suara bergetar.


Setetes air mata mengalir di pipi Sahara, ia segera memeluk tubuh Kemal. Menenggelamkan wajahnya di dada sang ayah. Menghirup aroma yang ia rindukan selama beberapa bulan terakhir dengan senyum merekah. Hal ini membuat Sahara kembali menjadi gadis kecil. Gadis kecil yang selalu dimanja oleh seorang Kemal Yilmaz.


"Kudengar kau akan menemui Sean?"


Sahara melerai pelukan ditubuh Kemal dan langsung menganggukkan kepala sembari mengusap air matanya.


"Pergilah! Ahmet akan mengantarmu. Kudengar kecelakaan itu cukup parah, beruntung keluarga Walker tidak kehilangan salah satu pewarisnya."


Sahara mengangguk, "Baiklah!"


"Kalau begitu Baba akan keluar! Jangan pulang terlalu larut."


Sahara tersenyum lebar mengiringi langkah kaki Kemal yang menjauhi nya menuju pintu kamar. Kalimat yang barusaja dilontarkan Kemal adalah kata-kata andalannya saat Sahara memohon izin untuk keluar untuk bermain dengan para sahabatnya. Senang rasanya bisa mengulang memory itu.


**********


To Be Continued (TBC)


Like.... Like...👍👍


Spam Next...


Maaf jika masih banyak typo berserakan.


Beautiful Revenge


©2020

__ADS_1


SOND13


__ADS_2