Beautifull Revenge

Beautifull Revenge
Chapter 3-Beautiful Revenge


__ADS_3

Jangan lupa tinggalkan jejak....


Vote+Love+Comment nya juga yaa!!!


Hope You Enjoy It..


Beautiful Revenge


©2020


Chapter 3


______________________________________________


************


Angin malam berhembus kencang menerbangkan anak rambut Sahara begitu dirinya menginjakkan kakinya di rooftop restaurant tersebut. Disampingnya ada Sherkan yang berdiri sembari menepuk-nepukkan tangannya yang berdebu. Beberapa menit yang lalu Sherkan membuka paksa pintu atap rooftop itu dengan tangan kosong. Hingga debu dan karat itu menempel di tangan pria 24 tahun itu.


Dengan langkah lebar Sherkan berjalan menuju pagar pembatas rooftop yang menyajikan pemandangan kota Istanbul dan Danau Bosphorus di malam hari. Sahara juga segera melangkah mengikuti Sherkan dan berdiri tepat disamping calon suaminya tersebut.


Dalam diam Sahara memperhatikan cara Sherkan berdiri, mulai dari cara Sherkan menyimpan kedua tangannya di dalam saku jas yang ia kenakan. Hingga mata biru Sherkan yang berpendar indah.


Semua hal itu tak lepas dari pantauan Sahara, memperhatikan Sherkan bagaikan candu baginya. Terlepas dari rasa kagumnya, Sahara mulai menggigil kedinginan dan memeluk dirinya sendiri dengan bibir yang sudah bergetar.


Dalam lubuk hatinya Sahara berharap Sherkan akan menanggalkan jas nya dan memakaikannya di tubuh Sahara yang sudah bergetar kedinginan. Namun sepertinya semua hal itu hanyalah bayangan semata, toh nyatanya Sherkan masih betah dalam posisinya dan larut dalam pikirannya sendiri menganggap eksistensi Sahara sama sekali tidka berada disekitarnya.


Hal ini tentu membuat Sahara mendesah kecewa, bayangan adegan drama romantis yang selalu ia tonton tidak dapat menjadi kenyataan.


"Apakah si Yilmaz itu yang memintamu melakukan hal ini?" Sherkan berbalik memandang Sahara dengan tatapan membunuh tak lebih lama dari sebuah tarikan nafas. Ia kemudian kembali membuang wajah kedepan, memandang cahaya yang berkilauan yang memantul indah dari danau.


Sahara tercekat, matanya tiba-tiba memanas. Bagaimana bisa Sherkan bicara tidak sopan seperti itu mengenai ayahnya. Orang yang dulu selalu ia panggil dengan sebutan Abi dengan sangat sopannya.


"A-aku tidak mengerti apa maksud ucapanmu!"

__ADS_1


Sherkan menaikkan ujung bibir nya hingga menampilkan sebuah senyum meremehkan. Kini mata birunya benar-benar memandang ke mata hijau Sahara tanpa ragu sedikit pun.


"Kalian memang paling pandai berpura-pura!"


'Berpura-pura?' Sahara mengulang kalimat yang baru saja di ucapkan Sherkan dalam hati.


Sherkan bergerak mendekat kearah Sahara dan menghimpit tubuh Sahara hingga merapat ke pagar pembatas, "Apakah kau tidak tahu kalau aku membenci kau dan keluargamu. Ku sangat-sangat membenci Kemal Yilmaz dalam setiap hembusan nafasku!" Sherkan kemudian menghembuskan nafas perlahan dengan mata terpejam dan alis yang mengerut.


Dari jarak sedekat ini Sahara dapat menghirup aroma tubuh Sherkan dengan jelas. Perpaduan antara mint dan musk mendominasi indra penciumannya juga bau asap rokok. Memabukkan sekaligus mematikan, Sahara tidak tahu bagaimana cara menghindar. Bahkan ia tidak dapat lagi memahami apa yang baru saja Sherkan ucapkan.


"Dan aku tidak akan pernah bisa memberikan kebahagiaan seperti yang kau harapkan jika kau mengatakan 'Ya!' pada Alyan dan yang lainnya!"


Kali ini nada bicara Sherkan terdengar serius dan penuh ancaman, "Kau hanya memiliki satu kesempatan, Yilmaz!"


Sahara terkesiap, Sherkan mengancamnya dan ancaman itu terasa sangat nyata. Seolah-olah Sahara sudah dapat merasakan konsekuensi bagi kehidupan rumah tangga nya di masa yang akan datang. Namun hal yang keluar dari bibir Sahara yang mulai mengering sangat jauh berbeda dengan apa yang ada di dalam otaknya.


"Satu kesempatan untuk menikah dengan orang yang kucintai!"


Keberanian itu datang tanpa diminta, Sahara sudah terlanjur mengatakan dengan gamblang bagaimana perasaan nya tidak pernah berubah untuk Sherkan. Bahkan setelah tujuh tahun berlalu, ras aitu makin besar saat ia memandang senyuman Sherkan saat di meja makan tadi.


Sherkan menggeleng perlahan dan tertawa sumbang, "Jangan bodoh, Yilmaz! Aku tidak pernah menginginkanmu!"


"Tapi kau yang melamarku, Sherkan!" lirih Sahara merasa di lecehkan. Entah kenapa penolakan Sherkan terasa sangat menyakitkan.


Sherkan terdiam tak mampu menjawab, rahangnya sudah mengeras menahan amarah.


"Alyan!" ucapnya sangat pelan, ada emosi dalam nada suaranya.


"Sherkan! Hujan!" Sahara kembali berucap saat merasakan satu tetes air hujan sudah terjatuh membasahi pipinya.


Cahaya kilat mulai mengambil alih kegelapan malam dengan angin malam yang semakin berhembus kencang. Sahara benar-benar ingin segera kembali kedalam restaurant untuk segera terlepas dari rasa dingin yang menyerang tubuhnya.


Sherkan diam tak peduli, ia masih mengurung Sahara dengan kedua lengan nya di pagar pembatas. Kemudian tangan kanannya bergerak menyugar rambutnya dengan gerakan perlahan.

__ADS_1


"Kau akan menyesal!"


Nada suara rendah Sherkan lagi-lagi terdengar menakutkan dan mendebarkan di saat yang bersamaan. Namun, Sahara sepperti tak mengindahkan ancaman itu dan lebih memilih tenggelam kedalam mata biru Sherkan yang semakin menggelap.


"Aku akan membuatmu mencintaiku. Tidak perlu ada orang yang merasa kecewa!"


Alibi itu sebenarnya untuk menjadi alasannya untuk menghindari amukan Feride. Tidak mungkin Sahara mengatakan tidak, sementara ibunya itu pasti akan memarqhinya habis-habisan. Dan jika dilihat dari ekspresi keluarga Yassaran yang tampak gembira seperti tadi. Tentu saja membuat Sahara tidak tega menghancurkan harapan mereka semua. Tidak bisakah Sherkan melihatnya dari segi itu.


Lagipula Sahara merasa Sherkan tidak memiliki alasan untuk membencinya. Sahara tidak pernah melakukan kesalahan, harusnya kini Sahara memarahi Sherkan karna meninggalkannya tanpa kabar. Bukannya malah mendapatlan ancaman seperti ini.


"Aku tidak akan pernah mencintaimu selama aku masih bernafas!"


Sahara terdiam tak mampu buka suara, kalimat Sherkan terlalu kasar untuk di terima. Menyakitkan rasanya menerima penolakan secara berulang-ulang.


"Kalau begitu aku juga tidak akan pernah berhenti mencoba membuatmu mencintaiku selama aku masih bernafas!"


Sahara tersenyum bahagia saat potongan masa lalunya bersama Sherkan menghampiri ingatannya. Dulu dirinya dan Sherkan selalu mendebatkan hal-hal tidak penting. Seperti makanan yang baik dan tidak baik untuk di konsumsi. Sampai susunan warna sampul buku yang menarik minta pembaca di sebuah toko buku yang dulunya sering mereka singgahi.


"Terserah. Lakukan apapun yang kau inginkan!" ucap Sherkan seraya berbalik pergi.


Sherkan melangkah lebar menuju pintu rooftop dan langsung menghempas pintu besi yang sudah berkarat tersebut sekeras yang ia bisa. Suara berdebam itu membuat Sahara tersentak kaget.


Sahara memandang kepergian Sherkan dengan perasaan hampa, sikap sok kuatnya tadi langsung berubah seperti sedia kala. Sahara yang tidak pernah tebiasa dengan penolakan dalam bentuk apapun. Kini Sherkan menolaknya berulang-ulang. Hanya Sherkan yang dapat melakukannya.


Perlahan rintik hujan mulai  turun membasahi kota Istanbul malam itu. Sahara melangkah pelan tepat saat butiran-butiran air hujan itu menetes membasahi rambutnya. Kembali menyusuri tangga spiral yang temaram dan membawa sebagain hatinya yang terluka dan bahagia di saat yang bersamaan.


**********


To Be Continue


Beautiful Revenge


©2020

__ADS_1


Sond13


__ADS_2