Beautifull Revenge

Beautifull Revenge
Chapter 18-Beautiful Revenge


__ADS_3

Jejak... Jejak... Jejak... Jangan Lupa Tinggalkan Jejak!!


Vote+Love+Comment Nya Juga Yaa..


Happy Reading


Beautiful Revenge


©2020


Chapter 18


_____________________________________________


Sherkan & Sahara New Mansion, Ankara - Turkey. 11.13 AM


***********



Suara kucuran air shower terdengar begitu Sahara melangkahkan kakinya memasuki kamar beraroma maskulin dan didominasi warna putih dan biru tua. Sahara menoleh kebelakang memandang seorang pria tua yang membawakan dua koper nya yang berukuran cukup besar.


“Saya permisi, Nyonya.” pamit pria tua itu setelah meletakkan koper tersebut disisi Sahara.


Sahara menganggukkan kepalanya dengan sebuah ucapan terimakasih. Walaupun sebenarnya Sahara hendak bertanya mengapa pria tua itu seperti enggan memasuki kamar tidur tersebut. Tapi Sahara terlalu lelah untuk itu.


Setelah pria tua itu menghilang menuruni undakan tangga Sahara langsung melangkah pelan memasuki kamar dan menggeret dua kopernya di kiri dan kanan. Sebenarnya tangan Sahara terasa sangat pegal karna tertidur di dalam mobil. Ia bahkan tidak mengetahui pukul berapa ia dan sherkan sampai di Ankara. Untung pria tua yang menolong Sahara membawa koper tadi mengetuk kaca jendela mobil hingga akhirnya Sahara terbangun.


Ya, Sherkan meninggalkannya dalam kondisi tertidur di dalam mobil. Entah berapa lama dirinya tertidur dalam kondisi duduk, ia tak dapat membayangkannya. Yang jelas kini Sahara hanya ingin segera merapikan barang-barangnya dan segera mengambil posisi nyaman untuk tidur diatas kasur king size yang daritadi telah mengundang Sahara untuk melompat keatas nya.


Suasana kamar mendadak hening, suara kucuran shower telah berhenti. Punggung Sahara mendadak menegang, takut-takut ia menoleh kearah pintu kamar mandi yang masih tertutup.


‘Bagaimana ini?’ jerit Sahara dalam hati.


Matanya masih terfokus kearah pintu kamar mandi saat otaknya memberi instruksi untuk segera membuka isi koper. Suara resleting koper yang terbuka pelan tak mampu menetralkan degup jantung Sahara, ia benar-benar gugup. Sahara menghirup nafas pelan berusaha untuk membuat dirinya lebih tenang.


Ceklek!!


Baru saja Sahara merasakan ketenangan selama beberapa detik hingga suara pintu kamar mandi yang terbuka kembali membuat tubuh Sahara menegang. Namun dengan bodohnya Sahara malah membalikkan badannya, hingga kini ia dan Sherkan berpandangan. Sherkan berdiri di depan pintu kamar mandi yang terbuka hanya mengenakan celana jeans dan handuk yang tersampir dibahunya.


__ADS_1


“She-Sherkan!”


Pandangan Sahara turun dari mata biru Sherkan kearah rahang kokoh nya yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Kemudian bergerak kearah dada bidang Sherkan yang tampak basah dialiri air yang belum sepenuhnya mengering. Terus turun hingga kini mata hijau Jamrud nya terpaku kearah perut Sherkan yang berkotak-kotak. Seumur-umur Sahara belum pernah menyaksikan Sherkan seperti ini, bahkan saat mereka dulu berpacaran.


Sahara menjilat bibirnya yang mengering, kemudian menundukkan pandangannya dan menatap kakinya sendiri yang di hiasi sepatu berwarna biru muda.


‘Bagaimana ini?’ batin Sahara menjerit serasa ingin menangis, ‘Ini kan masih terlalu pagi! Apa mungkin, Sherkan menginginkannya?’


Sahara menggeleng kuat, ‘Hentikan, Ara? Sejak kapan kau menjadi sangat mesum seperti ini?’ batinnya lagi.


“Apa yang kau lakukan disini?”


Sahara langsung mengangkat wajahnya mengabsen keindahan fisik Sherkan hingga kini mata hijaunya sudah kembali bertatapan dengan iris biru Sherkan yang tampak kelam. Lagi-lagi Sahara menjilat bibirnya, “Aku baru saja hendak membereskan barang-barangku!” Sahara menghentikan ucapannya sejenak merasa kurang nyaman dengan tatapan tajam yang Sherkan berikan padanya.


“Dimana aku harus menyimpan ini?” tanya Sahara sembari menunjuk kedua koper yang ia bawa.


Tapi perhatian Sherkan sama sekali tak beralih dari mata hijau Sahara, saat ini Sherkan menyandarkan tubuh tegapnya di samping pintu kamar mandi.


“Keluar!” usir Sherkan.


“Keluar?”


“KELUAR!” teriak Sherkan marah.


“Antara kau dan aku!” Sherkan berucap sambil menunjuk dirinya sendiri kemudian beralih kearah Sahara, “Tidak akan pernah ada kata ‘kita’!” lanjutnya.


“Tapi…”


“Tidakkah kau melihat aku sangat membencimu?” Sherkan berjalan mendekati Sahara dan berhenti tepat di depan tubuh Sahara yang sudah bergetar ketakutan.


“Aku sudah dengar hal itu berulang kali!”


Sherkan menaikkan sebelah alisnya, “Kau tau, kau sudah tidak punya kesempatan lari lagi. Kau akan terus berada di neraka ini, bersamaku!” desis Sherkan dnegan suara baritone nya.


“Apa alasanmu membenciku?” Sahara memberanikan diri untuk memandang nyalang mata biru Sherkan yang berpendar.


“Kau hanya perlu merasakan siksaan ku, wanita ******!” tangan Sherkan sudah mencengkram dagu Sahara dengan wajah marah, “Kau tidak memiliki hak untuk bertanya.”


Cengkraman tangan Sherkan semakin menguat hingga Sahara meringis kesakitan karenanya. Sahara menyentuh tangan Sherkan pelan dengan jemari dinginnya, berusaha membuat Sherkan melepaskan cengkramannya.


“S-a-kit!”

__ADS_1


Sherkan melepaskan cengkramannya hingga Sahara terjatuh dan membentur lantai. Detik berikutnya Sherkan meraih tangan Sahara dan menarik nya kasar keluar kamar. Dengan sekali sentakan Sherkan membuka sebuah pintu berwarna coklat di sudut lorong, kemudian mendorong Sahara hingga kembali jatuh terjerembab.


“Jangan biarkan aku melihat wajahmu lagi!” kalimat itu mengudara bersamaan dengan langkah kaki Sherkan yang perlahan menjauh.


“Sherkan! Sherkan!” Sahara bangkit berdiri hendak mengejar Sherkan yang berjalan melewati lorong. Ia sama sekali tak menghiraukan langkahnya yang sudah tertatih-tatih. Mungkin kakinya sudah terkilir akibat mencoba mengikuti langkah kaki Sherkan yang terlalu cepat.


“Sherkan!” Sahara berseru tepat saat pintu kamar Sherkan sudah tertutup rapat. Sahara menatap pintu itu dengan perasaan hancur.


Barusaja Sahara hendak berbalik pergi, pintu itu terbuka dan Sherkan keluar dari dalam kamar dengan mengenakan jacket setelan serba hitam. Sahara berbalik terseok-seok mengejar langkah Sherkan hingga keujung tangga.


“Mau kemana?” Sahara dapat merasakan rasa sakit hati membuncah di dalam dadanya.


“Bukan urusanmu!” Sherkan menepis tangan Sahara yang bertengger di pundaknya, “Menyingkir dari jalanku!” bentak Sherkan saat Sahara kini sudah berada di depannya.


“Aku minta maaf! Aku mohon, jangan pergi.” air mata mulai merembes mengaliri kedua pipinya.


“Menyingkir, Nyonya Yassaran. Sebelum aku berbuat kasar!” ancam Sherkan sama sekali tampak tak terpengaruh oleh tangisan sang istri.


“Jangan pergi dalam keadaan marah seperti ini, Sherkan!” Ia terus memohon, bahunya bergetar akibat tangis.


“Aku bilang menyingkir, Princessa!”


“Aku akan bersikap lebih baik lagi. Ayo duduk dan kita bicarakan dulu!” Sahara terus berucap masih dengan isak tangisnya.


Sherkan yang melihat hal itu masih bertahan dengan ekspresi datarnya. Ia mendorong tubuh Sahara kesamping, kemudian mengambil langkah lebar menuruni tangga. Meninggalkan Sahara yang sudah bersimpuh di lantai, menangisi kebodohannya sendiri.


‘Anne-Baba!’


Air mata itu kembali bergulir jatuh, perasaan hatinya tidak akan dapat diperbaiki dalam waktu yang singkat. Sahara hanya membutuhkan hal yang tak dapat ia genggam. Merutuk juga bukan hal yang baik untuk di lakukan. Terlebih lagi kini Ia sudah menghancurkan segalanya.


‘Aku memang bodoh!’ batin Sahara sambil membaringkan diri di lantai yang dingin.


*********



To Be Continued (TBC)


Tekan Love Nya Yaa..


Beautiful Revenge

__ADS_1


©2020


SOND13


__ADS_2