Beautifull Revenge

Beautifull Revenge
Chapter 2-Beautiful Revenge


__ADS_3

Jangan lupa tinggalkan jejak..


Vote+Love+Comment nya juga yaa!!


Hope You Enjoy It..


Beautiful Revenge


©2020


Chapter 2


_____________________________________________


Olive Anatalion Restaurant. Sirkeci, Istanbul-Turkey.   8:02 PM


**********


Kilauan cahaya biru yang berpendar saat rombongan keluarganya mulai memasuki area restaurant membuat Sahara terpaksa memicingkan matanya. Seorang pelayan wanita langsung memimpin langkah mereka menuju sebuah ruangan private yang di dominasi warna coklat terang. Saat ini Sahara dapat melihat dengan jelas keluarga Yassaran sudah duduk mengelilingi sebuah meja makan yang merupakan satu-satunya di ruangan tersebut.


Alyan Yassaran bangkit berdiri beserta istrinya yang langsung menyalami Kemal dan Feride bergantian. Di ruangan itu tidak tampak sosok Sherkan dimanapun, Sahara terus mencuri pandang berharap menemukan Sherkan duduk di salah satu kursi dengan pandangan mengarah kepadanya. Namun Sherkan sama sekali tak ada disana, hal ini tentu membuat Sahara merasa kecewa,penasaran dan lega disaat yang bersamaan.


"Kau pasti Sahara!" Tuvana istri Alyan tiba-tiba berseru dan memandang Sahara dengan wajah berbinar senang.


Sahara hanya dapat mengangguk perlahan dengan tubuh yaang sudah membeku akibat menerima pelukan Tuvana yang sangat tiba-tiba. Sesaat kemudian Tuvana melerai pelukannya dan melemparkan sebuah senyuman hangat. Sahara lantas balas tersenyum walau agak sedikit terpaksa.


"Dia sangat cantik!" Tuvana berseru kearah Alyan yang ditanggapi suaminya tersebut dengan sebuah anggukan.


"Silahkan duduk!" Alyan mempersilahkan seraya mengambil tempatnya.


Begitupula dengan Sahara yang kangsung di boyong oleh Tuvana agar duduk tepat disampingnya. Sekilas Sahara dapat melihat sosok putri bungsu keluarga Yassaran tampak duduk disamping Alyan dengan wajah tanpa semangat. Mereka beradu pandang, mata biru gadis remaja itu menatap Sahara kemudian melemparkan senyumnya.

__ADS_1


"Maafkan kami! Sherkan sedang dalam perjalanan sekarang. Ada kendala yang membuat nya terpaksa datang terlambat!" Nada suara Alyan terdengar berat saat mengatakannya, begitupula dengan raut wajahnya.


Kemal menanggapi seadanya dan memaklumi hal tersebut. Detik berikutnya acara makan malam yang terpaksa harus di tunda beberapa saat itu mulai di isi dengan perbincangan hangat yang lebih di dominasi oleh Feride dan Tuvana. Sementara yang lainnya hanya menanggapi sesekali jika ada yang perlu mereka perjelas.


Sahara memilih membuang wajahnya kearah sebuah jendela yang di lengkapi pemandangan danau dengan cahaya berkilau di sekelilingnya. Beberapa kendaraan tampak seperti bola-bola api kecil di kegelapan malam. Jika disuguhi pemandangan seperti ini setiap malam, Sahara pasti akan tahan membuka matanya demi melihat keindahan ini setiap malamnya.


Perhatian nya kemudian tertarik pada Alyan yang sedang sibuk dengan ponselnya di bawah meja. Hal ini tentu membuat Sahara menebak-nebak jika mungkin saja Sahara tidak ingin menghadiri acara makan malam ini. Atau yang lebih parahnya lagi, Sahara di tolak sebelum bertatap muka. Ah, yang benar saja! Bukankah Sherkan yang melamarnya? Mengapa yang terjadi malah sebaliknya?


Keindahan danau yang berpendar tadi langsung musnah begitu saja tergantikan oleh rasa cemas berlebihan yang Sahara rasakan. Mungkin jika acara malam ini gagal,Sahara pastinya akan mengurung dirinya berhari-hari di dalam kamar. Salah nya sendiri karna sudah berharap terlalu tinggi dan malah merasakan perasaan senang yang berlebihan.


'Benar-benar memalukan!' Sahara merutuki kebodohannya sendiri di dalam hati.


Ingin rasanya ia menggali sumur yang dalam untuk mengubur dirinya sendiri. Jika acara ini benar-benar gagal, Sahara pastinya akan memikirkan kedua opsi tersebut dan memilah yang paling mudah untuk dilakukan.


"Maafkan keterlambatan saya!"


Sebuah suara baritone seorang pria yang seperti familiar baginya membuat tubuh Sahara langsung menegang. Perlahan aroma musk dan mint menghinggapi indra penciumannya, menegangkan sekaligus memabukkan disaat yang bersamaan.


Uluran tangan itu beralih kearahnya, Sahara otomatis mengangkat kepalanya. Iria hijau nya dna iris biru Sherkan berpandangan selama beberapa saat. Hingga Tuvana menyentakkan Sahara pelan dengan ekspresi jenaka. Dengan refleks Sahara lngsung membalas uluran tangan itu dengan dada berdebar.


Hanya beberapa detik jabatan tangannya dan tangan dingin Sherkan terjadi. Kemudian Sherkan langsung mendudukkan dirinya disamping Sahara.


Sahara memperhatikan Sherkan dari balik bulu matanya, rahang tegas dan beberapa bulu halus yang tumbuh liar di sekitar wajah pria itu semakin menambah karisma Sherkan dimata Sahara. Tanpa disangka perpisahan selama tujuh tahun malah semakin menambah rasa yang sejak lama di pendamnya untuk Sherkan.


Ini benar-benar gila, seolah-olah menatap Sherkan merupakan sebuah candu baginya. Rasa candu yang amat sangat memabukkan. Sahara tak bisa berpaling barang sedetik pun. Ia ingin terus-terusan menatap Sherkan bahkan sejak detik pertama. Rasa takut yang tadi nya ia rasakan akibat penolakan yang mungkin ia dapatkan lagi-lagi bertukar menjadi rasa senang yang terlampau berlebihan.


Lagipula mungkin Sahara pantas memandang Sherkan sama seperti tujuh tahun yang lalu. Dan Sahara sama sekali tak melihat aura membunuh seperti yang terakhir kali Sherkan perlihatkan padanya. Mungkin semua itu hanya imajinasinya saja, akhirnya Sahara bisa bernafas lega.


'Sherkan tak pernah membenciku!' Sahara berteriak girang di dalam hati.


"Yassaran memang ahli membuat orang jatuh cinta. Tapi biarkan dia yang mencintaimu lebih dulu!" bisikan Tuvana ditelinganya membuat Sahara hampir terlonjak kaget.

__ADS_1


Wajahnya langsung merona merah, Sahara hanya mengangguk singkat kemudian menundukkan wajahnya tak berani menatap wajah Sherkan lebih lanjut. Ia tak ingin semua orang di meja makan itu memergokinya sedang menatap Sherkan seperti tadi. Sangat tidak etis!


"Jadi kita ingin makan terlebih dahulu atau langsung ke inti masalahnya saja!" Kemal Yilmaz berujar tiba-tiba mencoba keluar dari topik mengenai perusahaan yang sedari tadi mereka bahas.


Sahara benar-benar ingin menggelengkan kepalanya menahan malu akibat ucapan ayahnya barusan. Entah hanya perasaan nya saja atau memang pihak wanita lebih tampak tidak sabaran masalah perjodohan ini. Terkesan terlalu terburu-burh. Entahlah!


Sherkan menampilkan sebuah senyum indah di wajahnya, "Terserah Kemal Abi saja!"


"Bagaimana,Ara?" Alyan Yassaran kemudian beralih menatap Sahara yang langsung tampak gelagapan.


"A-aku. Aku bersedia!"


Sahara tercekat diakhir kalimatnya, ia masih terdiam hingga ia menyadari satu hal yang sangat fatal. Bersedia? Bersedia untuk apa? Ya ampun memalukan sekali. Pantas saja semua orang di meja makan itu menampilkan ekspresi tak terbaca. Padahal kan pertanyaan Alyan bukan kearah sana, bahkan mendekati pun tidak. Seharusnya ia memberikan jawaban yang sama seperti yang di lontarkan Sherkan.


"Ma-maaf! Aku..."


"Bisakah aku dan Sahara berbicara sebentar!" Sherkan memotong ucapan Sahara dengan sebuah kalimat permintaan yang terdengar sangat sopan dan sulit untuk di tolak.


Dan benar saja, Kemal langsung menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan Sherkan tanpa memberi Sahara kesempatan untuk berbicara sedikitpun.


Sherkan lagi-lagi menampilkan sebuah senyuman dan meraih jemari Sahara dan membawanya pergi dari ruangan itu.


*********


To Be Continue...


Beautiful Revenge


©2020


SOND13

__ADS_1


__ADS_2